
Empat bulan pun berlalu dengan cepat dan suasana yang tenang, tanpa adanya gangguan dari para musuh itu.
Tepat pada malam hari ini, adalah acara pernikahan Gerio dan Ellina yang di adakan di hotel ternama di kota tersebut.
" Huh... Huh... Erren. Jangan lari - lari dong, aunty capek nih... " Kata Sherly yang kelelahan karena mengejar Erren yang berlari dengan cepat itu.
Yah sekarang, cucu kesayangan dari keluarga Gorneo Aditiya dan juga Carion Anggara sudah bisa berjalan dan tambah aktif. Seperti sekarang, Erren yang berpakaian tuxsedo yang seeang berlarian membelah keramaian di acara pernikahan Uncle dan Aunty nya itu.
Saat Erren berlari dia pun menabrak kaki panjang dari seorang pria di depannya itu.
" Dasar anak nakal... " Kata Ellen sambil menggendong Erren yang memberontak untuk di turunkan itu.
" Huh... Sungguh aku lelah mengejar. Keponakan mu yang sangat aktif ini... " Kata Sherly yang nafasnya naik turun karena mengejar kopanakan kesayangan itu.
Ellen yang melihatnya pun menatap kasihan pada istrinya yang kelelahan karena mengejar keponakan nakalnya itu.
" Hufftt... Erren minta maaf sama Aunty Sherly kasihan tuh, jadi capek gara - gara ngejar Erren... " Kata Ellen yang memberikan instruksi pada Erren untuk minta maaf itu.
" Maaf, Onty... " Kata Erren sambil menundukkan kepalanya karena merasa bersalah itu.
" Tidak papa ponakan kesayangan Onty. Tapi Erren janji ngak boleh lari - lari lagi, nanti kalau Erren jatuh gimana? Nanti pasti sakit kan? " Kata Sherly sambil mengusap wajah Erren yang berkeringat karena berlarian itu.
Badan Erren bukan malah bau, badan Erren malah semakin wangi karena parfum yang dia pakai semakin menyeruak karena keringat itu.
Kemudian Erren pun menatap Sherly dengan mata berkaca - kaca dan bibirnya yang yang dia lekukan ke bawah, bukan malah merasa kasihan wajah tersebut malah membuat semua orang semakin gemes dengan bayi mungil yang sekarang sudah hampir berumur satu tahun itu.
" Emmm... Imutnya ponakan aunty. Jangan nangis dong... " Kata Sherly sambil mengelus pipi gembul milik Erren yang mulai menangis itu.
" Papa... " Kata Erren yang ingin bersama Papanya itu.
" Tau dah yok. Uncle anter ke Papa Erren... " Kata Ellen yang berjalan menuju adik iparnya karena Erren yang mulai merengek ingin ke Papanya itu.
Di tempat pelaminan.
Gerio dan Ellina sedang berbincang - bincang dengan Elyon, Ellena, Argara, dan Kanaya itu.
" Hahaha... Dasar Lo Gar.... " Kata Gerio yang menertawakan Argara itu.
" Bener - bener lho. Masak sih Lo ngelamar Kanaya di depan kandang sapi, Hahaha ngakak sumpah... " Tawa Gerio yang terpingkal - pingkal itu.
Aragar pun mendengus kesal kerena di tertawakan oleh Gerio itu.
" Dasar kalau kayak gini, mending gw ngak cerita sama Lo Ger... " Kata Argara yang kesal itu.
" Hahaha... Habisnya ngakak sih... " Kata Ellina yang juga ikut - ikutan tertawa itu.
Memang nya ke dua pengantin baru ini sangat sebleng otaknya dan keunikan serta tanpa malu kedua pengantin ini lah yang membuat semua orang nyebut dalam hati itu.
" Dasar kalian yah, gw malah besyukur kalik. Daripada pada gw jadi perawan tua, gara - gara nunggu Argara ngelamar gw... " Kata Kanaya yang ikut kesal juga itu.
" Yank... Kok ikut - ikutan sih... " Kata Argara yang kesal karena Kanaya yang menyindirnya itu.
Sedangkan Elyon dan Ellena hanya dapat menatap mereka jengah, karena perdebatan yang tak berfaedah mereka itu.
" Udah, kenapa malah jadi berantem sih? Kalian kan udah tunangan, jadi ngak usah di ungkit - ungkit lagi. Pusing kepala gw denger kalian berantem terus... " Lerai Ellena pada mereka itu.
Mereka pun terdiam karena tak ingin lebih membuat Ellena marah lagi, kalian harus tahu rasanya di marahi sama emak - emak yang lagi emosi. Behh mantap lah...
" Papa... " Kata Erren yang berada di gendongan Ellen yang menghampiri mereka itu.
Kemudian Erren yang berada di gendongan Ellen pun meronta - ronta untuk di turunkan, setelah di turunkan Erren pun berlari menuju Papanya itu.
HAP...
" Anak Papa kok lari - lari sih? " Tanya Elyon yang menagkap Erren lalu menggendong nya dan menciumi pipi gembul putranya itu.
" Papa geli... Hahaha.... " Tawa Erren yang kegelian sambil mencoba menjauhkan wajah Elyon dari pipinya itu.
" Hmm... Habisnya gemesin sih... " Kata Elyon sambil menggesek - gesekkan hidungnya dengan hidung putranya itu.
" Lihat nohh... Ellena. Anak lho aktif banget sumpah, capek gw ngejar - ngejar anak lo terus... " Kata Sherly yang mengadu pada Ellena tentang kelakuan putranya itu.
" Emang kayak gitu kak. Kalau di rumah malah tambah aktif, kalau ngak di awasi bisa jatuh Erren. Jadi makhlumin ajah..." Jelas Ellena sambil mengelus rambut Erren yang sedikit basah karena berkeringat itu.
" Emang lho ngak kewalahan jaga Erren yang lagi aktif kayak gini? " Tanya Ellina pada Ellena itu.
" Yah mau gimana lagi. Di nikmatin ajah, karena bisa memperhatikan pertumbuhan anak itu hanya bisa kita lihat sekali dalam seumur hidup... " Jawab Ellena sambil tersenyum kecil itu.
Ellina pun menganggukkan kepalanya paham itu.
" Yank yok kita buat kayak Erren... " Kata Ellina yang tanpa melihat situasi dan kondisi itu.
__ADS_1
" Nanti tenang ajah. Kita buat dua puluh emjam deh pokoknya... " Kata Gerio sambil menarik turunkan alisnya dengan genit itu.
" Dasar pengantin baru sebleng... " Kata Sherly yang mulai geram itu.
" Iri bilang boss... " Kata Ellina pada Sherly.
" Gw iri sama lho, mohon maaf ngak yah. Gw masih mau menikmati pernikahan dan juga kuliah gw. Ya kan Byy...? " Kata Sherly sambil memeluk lengan suaminya itu.
" Iyah... " Jawab singkat Ellen sambil mengelus rambut istrinya itu.
" Terserah. Karena perempuan selalu benar" Kata Gerio yang memutar matanya malas itu.
" Nahh... Tuh tauk... " Kata Ellena, Sherly, Ellina, dan Kanaya secara bersamaan itu.
Dan para suami mereka pun hany bisa memasang wajah malas, karena tak betina membantah. Jika tidak maka sama saja mereka membangun singa betina itu.
" Paa... Elen. Lapell... " Kata Erren yang mengelus perutnya yang lapar sambil memecah keheningan itu.
" Utututu... Kasian anak Papa laper. Ayok kita ambil makanan... " Kata Elyon yang berjalan menuju tempat prasmanan itu.
" Gw ngak nyangka. Elyon udah berubah selembut dan sehangat itu... " Kata Argara sambil menatap punggung Elyon yang menggendong Erren dan mulai berjalan menjauh itu.
" Hmm. Gw juga ngak nyangka, Elyon bisa menjadi Papa yang baik untuk Erren... " Kata Ellena yang menatap kagum suaminya itu.
" Dulu saat dia SMA, dia anti banget sama yang namanya cewek. Tapi sejak ada Lo semua berubah, Ellena... " Kata Kanaya pada Ellena.
" Benarkah? Hahaa... Aku tidak tahu jika dia sedingin itu... " Kata Ellena sambil tertawa kecil itu.
" Ya udah, yok makan. Gw laper... " Kata Gerio yang mulai kelaparan karena sejak tadi berdiri untuk menyalami para tamu undangan itu.
" Yok... Let's Goo... " Kata Ellina yang semangat sambil berjalan pergi menuju tempat prasmanan dan meninggalkan yang lainnya itu.
" Dasar istri siapa sih? " Tanya Gerio yang malu karena tingkah istri yang mulai bar - bar itu.
" Yah... Istri Lo lah. Bego Lo... " Kata Kanaya sambil berjalan mengikuti Ellina itu.
Kemudian mereka pun hanya bisa menggelengkan kepala mereka, dan berjalan menghampiri tempat prasmanan itu.
Beberapa jam kemudian, mereka pun pulang setelah acara pelemparan rangkaian bunga di acara resepsi pernikahan Gerio dan Ellina tadi itu.
Di Rumah Elyon dan Ellena.
Mereka pun berjalan menuju kamar mereka untuk menidurkan Erren yang sudah terlelap di gendongan sang Papa itu.
" Hufft... Capek banget... " Kata Ellena yang menghempaskan tubuhnya di kasur kamar nya dengan Elyon itu.
Sedangkan Elyon menidurkan Erren dia kasur mereka dengan hati - hati itu.
" Kenapa melamun ko di tekuk? " Tanya Elyon yang mendudukkan dirinya di kasur samping putranya yang tertidur lelap, sambil mengelus rambutnya itu.
" Hufftt... Kenapa aku tadi ngak dapet rangkaian bunga nya sih...? Kesel dehh... " Kata Ellena dengan kesal karena tak dapet menangkap rangkain bunga tadi dan yang mendapatkannya adalah Argara dan juga Kanaya itu.
" Haha... Kekanak - kanakan... " Kata Elyon sambil tertawa kecil agar tak membangun jagoan kesayangannya itu.
" Nagk usah ngeledek. Aku itu cuma suka sama bunga mawar merah jambu di rangkaian bunga itu... " Kata Ellena yang mulai kesal itu.
" Bercanda... " Kata Elyon sambil melepas jas hitam yang melekat di tubuh tegapnya itu.
" Kok Erren kamu taruh sini. Ngak di kamar ajah, kamu kan kalau tidur ngak bisa diem..." Kata Ellena sambil mengelus rambut putranya dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang itu.
" Good Night, jagoan Mama... " Kata Ellena yang berbisik di telinga putranya itu.
" Nagk yah, aku ngak pernah kayak gitu. Kamu yang tidur ngak bisa diam... " Kata Elyon yang tak terima sambil melepaskan jam tangan mahal yang bertengger di pergelangan tangan itu.
" Terserah, taruh Erren di kamar. Kasian, nanti kalau ketindih kita gimana? " Kata Ellena yang merasa kasihan pada putranya itu.
" Ngak kok. Nanti aku kasih guling biar ngak ketindihan, kalau aku taruh kamar nanti nangis lagi bangunnya... " Kata Elyon yang berjalan menuju kamar mandi itu.
" Hufft... Dasar anak Papa... " Kata Ellena yang cemberut itu.
" Iri bilang babi. Hahaha... " Kata Elyon sambil tertawa kecil itu.
" Apa kamu bilang BABI...? " Kata Ellena yang mulai marah sambil menekan kata 'BABI' itu.
" Kamu salah denger, aku bilangnya Baby kok... " Kata Elyon yang berada dalam kamar mandi itu.
" Dasar suami laknat... " Kata Ellena dengan kesal itu.
Setelah terjadi pertengkaran kecil tersebut, Elyon pun keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, dan berjalan menghampiri istri dan anaknya yang telah tertidur lebih dulu itu.
CUP...
__ADS_1
CUP...
" Good night... Istri dan jagoan Papa... " Batin Elyon setelah mengecup dahi istri dan anak nya tadi itu.
Kemudian Elyon pun ikut membaringkan tubuhnya dan mulai memasuki alam mimpi nya itu.
Keesokan harinya.
" Papa... " Kata Erren yang berada di atas bidang dada Papanya untuk membangunkan Papanya yang masih tertidur itu.
Begitulah pagi mereka di mulai dengan Erren yang membangun kan Papa. Sejak anak itu dapat berjalan dan berbica dengan sedikit lancang itu.
" Papa... Angun... " Kata Erren lagi sambil menoel - noel pipi Papanya itu.
Elyon yang terusik pun membuka matanya perlahan dan pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah tubuh mungil putarnya yang berada di atas dada bidang nya itu.
" Emm... Anak Papa udah bangun... " Kata Elyon sambil mengucek matanya yang berair dan tangan yang satunya memegang tubuh mungil anaknya agar tak terjatuh itu.
" Molning... Pa... " Kata Erren yang mengecup pipi Papanya itu.
" Too.... " Balas Elyon yang mengecup pipi anaknya Kembali itu.
Setelah Elyon mengumpulkan nyawa, dia pun memdudukkan tubuhnya sambil memegangi tubuh mungil Erren agar tak terjatuh itu.
" Mama mana? " Tanya Elyon yang tak mendapati istrinya di samping kasur mereka itu.
" Di dapul... " Kata Erren yang memeluk perut Elyon itu.
Dasar anak itu, selalu saja bermanja - manja dengan Papanya saat di pagi hari itu.
" Dasar manja... " Kata Elyon yang gemes setiap anaknya bermanja - manja dengannya itu.
" Biarlin... " Kata Erren yang bodoamat itu.
" Ayok turun ke bawah? " Kata Elyon yang turun dari kasur sambil menggendong Erren yang meletakkan kepalanya di bahu sang Papa itu.
Elyon pun berjalan keluar kamarnya dan pergi menuju Ruang makan yang berada di lantai satu itu.
Di Ruang Makan.
Sedangkan Ellena sudah bangun sejak tadi. Karena setelah mandi dan menunaikan ibadah, dia pun langsung memasak dan menyiapkan sarapan di meja makan dengan di bantu oleh Bik Inah itu.
Berbeda jauh dengan Suami dan putranya, setelah mereka bangun untuk menunaikan ibadah. Maka mereka akan tidur kembali, memang anak dan ayah sama saja.
" Morning... " Sapa Elyon yang berjalan menuju mereka sambil menggendong Erren itu.
" Too... " Balas Ellena sambil meletakkan sepiring nasi goreng di meja makan itu.
" Mulai manjanya... " Kata Ellena yang tertuju pada putranya yang sangat manja pada Papanya itu.
" Seperti biasa... " Kata Elyon yang memang sudah terbiasa dengan kelakuan putranya yang sangat manja, setelah kejadian tempo lalu yang pernah menimpa putra kecil nya itu.
" Hufft... Seperti aku ibu atau tidak sih? " Tanya Ellena setiap hari, akrab merasa cemburu dengan kedekatan Putra serta suaminya yang lebih erat itu.
" Udahlah, masak kayak ginia ajah kamu cemburu... " Kata Elyon sambil mendudukkan putarnya di kursi khusus bayi miliknya itu.
" Mama, cembuluan... " Kata Erren yang memang bosan dengan kata - kata Ellena yang setiap hari selalu sama saja itu.
" Heh... Mulai berani sama Mama, yah...? " Kata Ellena yang berkacak pinggang itu.
" Hehehe, becanda mah... " Kata Erren sambil tersenyum yang memperlihatkan gigi kecilnya itu.
" Dasar siapa yang ajarin Erren kayak gitu? " Tanya Ellena sambil meletakkan bubur untuk sarapan putranya itu.
" Om Gelio... " Kata Erren dengan santainya sambil menyendok ubur yang di siapkan Mamanya lalu memakannya itu.
" Hufft... Dasar Gerio kamfrettt... " Gumam Ellena yang kesal karena ajaran sesat dari Gerio pada putranya itu.
" Gw bakal bunuh lo Gerio. Berani Lo ajarin ilmu sesat ke anak gw... " Batin Elyon yang kesal sambil menyumpah serapi Gerio itu.
Sedangkan Elyon tak tahu jika orang yang di sumpah serapi olehnya, sedang tertidur pulas setelah menikmati malam pertama nya itu.
Kemudian mereka pun sarapan bersama sambil mendengar celoteh Erren yang mengikuti di alog kartun - kartun yang di lihat oleh putra mereka di televisi itu.
Setelah itu, Elyon pun mandi untuk membersihkan diri. Lalu berangkat ke kampusbersama Ellena, dan seperti biasa setiap Ellena pergi ke kampus maka Erren akan di titip kan oleh Bik Inah dengan penjagaan yang sangat di perketan oleh Elyon.
Karena Elyon yang tak ingin kejadian tempo lalu terjadi lagi pada putar mereka. Tapi menurut Ellena itu semua sabar berlebihan karena di ruang mereka harus di jaga ketat oleh empat puluh lima orang, untuk apa orang sebanyak itu.
Jika Elyon sudah posesif atas keselamatan putranya, maka dia akan menjamin keselamatan putra dengan baik tanpa adanya kesalahan sendikit pun. Bahkan dia rela mengeluarkan uang banyak sekalipun, hanya untuk keselamatan putra kesayangannya itu.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Jangan lupa like, comment, vote, follow, and share. Yahh... 😊💜
Annyeong... 👋👋👋