
Setelah selesai membayar semua, barang - barang belanjaan Ellena, serta kedua bodyguard nya itu.
Dia kemudian sadar jika dia tak mendapati putranya yang berdiri di sebelahnya tadi itu.
" Lho, mana Erren? Kalian tadi menjaga Erren kan? " Tanya Ellena yang mulai cemas pada kedua bodyguard nya itu.
" Maaf Nona Muda, sejak tadi kami berada di samping anda untuk memberikan barang belanjaan yang akan anda bayar... " Kata salah satu bodyguard yang menundukkan karena telah teledor saat menjaga Tuan Mudanya itu.
" Hah. TERUS ERREN KEMANA!!! " Kata Ellena yang panik saat tak mendapati putranya di dalam toko itu.
" CEPAT KALIAN CARI PUTRA KU!!! " Perintah Ellena pada kedua bodyguard suaminya itu.
Mereka pun langsung mencari Tuan Muda mereka dengan panik dan takut. Jika terjadi sesuatu kepada Tuan Muda mereka, maka nyawa mereka dapat di pastikan akan melayang oleh Elyon itu.
Ellena pun juga ikut mencari di sekitar toko serta dalam toko dengan hati yang gelisah itu.
" Erren kamu kemana nak? Jangan bikin Mama khawatir sayang... " Kata Ellena yang tanpa sadar air matanya jatuh di atas pipi cantiknya itu.
" ERREN!!! KAMU DIMANA, NAK!!! " Teriak Ellena sambil melayangkan pandangan nya di seluruh penjuru sekitar toko itu.
" MAAA!!! " Saat Ellena akan berjalan ke arah kiri, dia pun berbalik saat terdapat suara anak kecil yang memanggil nya dengan sebutan MAMA itu.
" ERREN!!! " Teriak Ellena yang terkejut saat mendapati Erren yang melambai - lambaikan tangan kepadanya dan sedang berada di gendongan seorang pria itu.
CUP... CUP... CUP...
Ellena pun langsung menghampiri putranya dan menggendong nya tak lupa menciumi setiap inci wajah putranya itu.
Sungguh hati nya masih sangat takut jika terjadi apa - apa dengan putranya itu.
" Sayang kamu kemana aja sih? Mama khawatir sama Erren... " Kata Ellena sambil mengelus pipi putranya dengan sayang itu.
" Amil... Alon... " Kata Erren sambil menunjukkan jari telunjuknya pada balon yang berwarna biru muda yang berada di tangan seorang pria yang menggendong nya tadi itu.
Arah pandang Ellena pun terarah kepada pria itu.
" Terima kasih. Karena sudah mau menolong anak saya... " Kata Ellena sambil sedikit menundukkan kepalanya kepada pria itu.
Pria itu pun hanya diam sambil menatap lekat ke arah Ellena tanpa membalas perkataan Ellena itu.
Ellena yang merasa aneh dengan pria itu pun langsung sedikit mendekat ke arah pria tersebut itu.
" Hallo... " Kata Ellena yang melambai - lambaikan tangan nya ke arah wajah pria tersebut untuk menyadarkan lamunannya itu.
Pria tersebut pun langsung tersadar dan langsung tersenyum kecil itu.
" Maaf... " Kata pria tersebut dengan lirih itu.
" Ohh tidak masalah. Sekali lagi terima kasih telah menolong anak saya... " Kata Ellena lagi pada pria tersebut itu.
" Tidak masalah. Saya bersyukur bisa menolong anak anda dan ini balon milik anak anda... " Kata Pria itu yang lalu menyodorkan tali balon yang di pegang nya itu.
Ellena pun hanya tersenyum kecil dan mengambil alih tali balon tersebut dari tangan pria baik yang telah menolong putranya itu.
Beberapa saat kemudian kedua bodyguard Elyon pun kembali dengan nafas yang tersengal - sengal itu.
" Maaf Nona Muda. Huh... kami tak dapat menemukan... Huh... Tuan Muda Erren... " Kata Salah satu bodyguard tersebut dengan nafasnya yang masih tersengal - sengal itu.
" Sudah tidak apa. Erren sudah ketemu... " Balas Ellena pada nya itu.
" Syukur lah... " Batin kedua Bodyguard tersebut dengan perasaan dan hati yang lega itu.
" Maaf. Apa yang bisa saya berikan kepada anda, sebagai balas budi? " Tanya Ellena pada pria tersebut, karena dia sangat tidak suka jika tak membalas kebaikan pria tersebut yang telah mau menolong putranya yang tersesat di mall tadi itu.
" Tidak perlu, saya tidak menerima imbalan..." Kata pria tersebut sambil tersenyum manis yang sangat tulus itu.
" Baiklah. Tetapi, saya terima kasih banyak telah mau menolong putranya saya... " Kata Ellena kembali itu.
" No problem. Dia anak yang manis, Tak akan ada yang tega untuk tidak menolongnya... " Kata Pria tersebut sambil tersenyum manis ke arah balita laki - laki yang berad di gendongan wanita di hadapannya itu.
Ellena pun tersenyum kecil kepada pria tersebut, saat dia melihat jam tangannya, dia pun terkejut jika jam menunjukkan sudah sore hari itu.
" Maaf saya tak bisa lama - lama. Tapi sungguh saya sangat berterima kasih kepada anda, kalau begitu saya pergi dulu. Permisi... " Kata Ellena yang mulai berjalan meninggalkan pria tersebut dengan di ikuti oleh kedua bodyguard di belakang nya itu.
Pria tersebut pun tersenyum manis sambil masih memandang punggung Ellena yang mulai menghilang itu.
" Aku menemukan mu... " Batin Pria tersebut seperti telah mendapatkan apa yang sudah dia nanti selama ini itu.
Pria itu pun mulai berjalan pergi untuk pulang ke rumah nya itu.
Di Rumah Elyon dan Ellena.
Di Ruang keluarga.
Setelah kejadian saat di mall tadi, Ellena pun mulai bersikap waspada. Dia sangat takut apalagi saat putranya menghilangkan itu.
" Kamu kenapa? " Tanya Elyon pada Ellena yang sejak tadi mengawasi dengan ketat Erren saat bermain di karpet bulu di depan televisi yang berada di ruang keluarga itu.
Sejak pulang dari mall, Elyon curiga dengan gelagat Ellena yang sangat tak bisa meninggalkan putra mereka barang sejenak itu.
Bahkan, saat Ellena mandi dia harus meneriaki namanya setiap satu menit sekali. Karena dia ingin memastikan jika Erren baik - baik saja saat Elyon menjaganya itu.
" Hufft. Tadi Erren sempat hilang saat di mall... " Kata Ellena yang menundukkan kepalanya mulai merasa bersalah, karena telah teledor menjaga putra mereka itu.
Elyon pun terkejut karena perkataan istrinya. Lalu dia pun langsung mengubah wajah terkejutnya dengan datar kembali itu.
__ADS_1
" Huh. Ngak papa, semuanya juga baik - baik saja. Erren jika ngak kenapa - kenapa kan, jadi kamu ngak perlu khawatir... " Kata Erren yang mulai menenangkan istrinya yang mulai meras bersalah itu.
Ellen pun langsung memeluk Elyon dengan Isak tangis dan juga menggunakan kata maaf kepadanya karena sempat teledor saat menjaga putra mereka saat di mall itu.
" Hiks... Maaf... I-ni se- semua. K-karena... Hiks... Ke-keteledo-doran ku... Hiks... Hiks..." Kata Ellena yang menangis dengan terisak - isak itu.
Ini yang akan terjadi pada Ellena, setiap apa yang terjadi pada Erren maka dia akan menyalahkan dirinya karena tak bisa menjaga putranya dengan baik itu. Ingat keadaan Erren adalah hal yang sangat sensitif bagi Ellena itu.
" Udah. Semua orang pernah melakukan kesalahan, jangan salahin diri kamu sendiri. Sekarang Erren baik - baik ajah, jadi aku ngak perlu khawatir. Jangan nangis lagi oke, masak Mama nya Erren cengeng sihh... " Kata Elyon yang mencoba menghibur Ellena sambil menghapus jejak air mata di pipi istrinya itu.
" Maa... " Kata Erren yang mulai berjalan ke arah Papa dan Mamanya yang sedang duduk di sofa yang berada di ruang keluarga di kediaman rumah mereka itu.
" Jagoan Papa sini... " Kata Elyon yang mulai menaruh tubuh mungil putranya di pangkuannya itu.
" Tuhh bilang sama Mama. Jangan nangis lagi Mama, nanti jadi jelek lho... " Kata Elyon yang menginterupsi putranya agar mengikuti perkataan nya sambil memainkan lengan tangan kanan putranya itu.
" Mama... Angan... Ngiss... Anti... Lek... Oo..." Kata Erren yang mulai mengikuti perkataan Papanya tadi itu.
Tanpa di duga, tangan kecil berisi Erren pun mulai menepuk - nepuk pelan pipi Mamanya itu.
Ellena yang di perlakukan seperti itu pun lantas tertawa kecil karena melihat tingkah putranya yang langsung dapat membuat hatinya menghangat itu.
" Ihhh. Anak siapa cihh? Kok ngemesin banget... " Kata Ellena yang langsung mengambil alih tubuh mungil putranya dari tangan suaminya itu.
Kemudian Ellena pun menggesek - gesekkan hidungnya pada pipi chubby milik anaknya dengan gemas itu.
Erren pun tertawa karena perlakuan Mamanya sambil memukul - mukul kecil tangannya pada wajah Mamanya, agar menjauh dari kedua pipi tembemnya itu.
Elyon pun menatap bahagia kegiatan Ibu dan Anak tersebut, dia hanya ingin menjadi penonton tanpa harus mengganggu kegiatan mereka itu.
" Hkhmm... " Suara Elyon pun membuat atensi Ibu dan Anak tersebut menatap ke arahnya itu.
" Malam ini ada acara ulang tahun Erren. Jadi mari bersiap - siap... " Ajak Elyon pada mereka itu.
" Oke Papa. Let's go... " Kata Ellena sambil memainkan lengan tangan kanan Erren itu.
" Ote. Le... go... " Kata Erren yang mengikuti perkataan Mamanya itu.
Ellena pun langsung berjalan menuju kamar Putranya untuk menyiapkan pakaian yang akan di gunakan putranya itu.
Sedangkan Elyon hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum bahagia saat melihat Ibu dan Anak tersebut.
Malam hari pun telah tiba, keluarga kecil tersebut sekarang sedang berada di gedung pencakar langit yang sekarang sedang di adakan pesta ulang tahun besar - besar untuk Cucu laki - laki dadi seorang pengusaha yang terbesar di dunia yang ke satu dan dua itu.
" ERREN!!! AUNTY DATENG!!! " Kata Ellina yang berlari dan di ikuti Gerio dengan wajah malas ke arah Erren yang sedang berada di gendongan Papa nya itu.
" Ihh. Aunty jadi tambah gemes sama Erren" Kata Sherly yang mencubit gemas pipi gembul keponakan laki - lakiny itu.
Bagaimana tidak gemas, sekarang Erren sedang memakai tuxsedo serta kemeja berwarna biru tua, yang persis seperti Papanya itu.
Begitu pun juga dengan Elyon yang memakai tuxsedo yang sma seperti milik Erren, tetapi yang membedakan terdapat sapu tangan saku di kemaja tuxsedo nya itu.
Sedangkan Ellena, dia memakai gaun panjang lengan pendek berwarna yang sama seperti suami dan putranya, serta dengan hiasan mutiara di sepanjang gaun nya. Tak lupa juga rambut nya yang di sanggul dan dengan jepit rambut yang berwarna senada dengan gaun nya itu.
Sungguh keluarga yang sangat kompak dan bahagia bukan, pasti semua orang akan merasa iri dan dengki saat melihat kebahagiaan keluarga kecil itu.
" Hai bro apa kabar? " Kata Gerio yang bertos ria ke arah Elyon itu.
" Hmm. Baik... " Balas Elyon dengan singkat itu.
" Pa. Nak... Ue... " Kata Erren yang menunjukkan ke arah kue tingkat tiga yang bergambarkan superhero itu.
" Nanti tunggu tamu datang dulu, oke? " Kata Elyon sambil mengelus rambut putranya dengan sayang itu.
Bibir Erren pun mencebik kesal kepada Papanya yang tak menuruti keinginan nya. Perlu kalian ingat Erren itu keras kepala, anak sultan mah bebas mau apa ajah memang harus di turuti.
" Au... Ama... Angkel... " Kata Erren ingin di gendong oleh Uncle Ellen, karena merasa kesal pada Papanya itu.
" Sini. Dasar ponakan uncle ini keras kepala yah... " Kata Ellen yang mengambil tubuh mungil Erren dari gendongan Elyon itu.
Elyon pun hanya pasrah dan membiarkan putranya di gendong oleh Kakak iparnya itu. Mau bagaimana mana lagi, kalau Erren nya kesal mau di paksa pun maka percuma. Kan emang keras kepala.
" Angkel... Papa... Ahat... " Kata Erren yang mengadu pada Unclenya itu.
" Tenang nanti Uncle marahin Papa oke? Sekarang Erren marah ajah terus sama Papa sampek bisa di beli in Mobil Lamborghini keluaran terbaru tahun ini... " Kata Ellen yang memprovokasi keponakan nya itu.
Ellena dan Elyon pun langsung melotot ke arah Ellen yang sudah meracuni otak polos putra mereka itu.
Sedangkan Ellen yang di tatap tajam oleh sepasang suami - istri itu pun hanya tersenyum kecil yang memperlihatkan deretan gigi putihnya itu.
" Kak Ellen. Jangan ngajarin aneh - aneh yah ke anak gw... " Kata Ellena yang menatap kesal Kakak laknatnya itu.
" Ngak aneh - aneh tuh. Kan biar dapet mobil, ya akan Erren? " Tanya Ellen pada keponakan nya itu.
Erren yang polos itu pun hanya menganggukkan kepalanya kepada Ellen itu.
" Tuhh. Anak Lo ajah ngak protes tuh... " Kata Ellen dengan senyum bangga nya itu.
Ellena pun hanya bisa memutar bola matanya malas begitu juga dengan Sherly yang menggelengkan kepalanya. Karena tingkah suaminya yang selalu memprovokasi keponakan nya itu.
" Hai semua. Maaf terlambat... " Kata Kanaya yang baru saja datang dengan Argara serta seorang pria yang berada di belakang mereka itu.
" Sans, masih bentar lagi kok mulainya... " Kata Ellena pada Kanaya itu.
Argara pun sedang bertos ria dengan Elyon, Ellen, dan Gerio yang sudah datang lebih dulu itu.
__ADS_1
" Ini siapa? " Tanya Gerio yang menatap seorang pria yang memakai tuxsedo berwarna hitam dengan dasi yang melingkar di lehernya itu.
" Ohh iyah lupa. Ini sesepupu gw dari Jerman, baru ajah datang kemarin... " Jelas Kanaya pada mereka itu.
Ellena pun tersadar jika terdapat seorang pria yang di kenalkan oleh Kanaya tadi itu.
" Lho anda!! " Kata Ellena yang kaget saat melihat pria tersebut, yang terdapat adalah seseorang yang telah menolong putranya yang tersesat di mall tadi siang itu.
" Hai... " Kata Persia itu sambil tersenyum manis ke arah Ellena itu.
" Lho kalian kenal? " Tanya Kanaya bingung begitu juga dengan yang lainnya itu.
" Iyah. Tadi siang dia yang nolong anak gw saat nyasar di mall... " Balas Ellena pada Kanaya itu.
" LHO?? KOK BISA ERREN NYASAR SIH!! " Teriak Ellina kaget itu.
Ellena pun menceritakan semua yang terjadi hingga bisa bertemu dengan pria itu.
Mereka pun hanya menganggukkan kepalanya paham dengan penjelasan Ellena itu.
" Ohh. Yah kenalin dong Kanaya... " Kata Ellina pada Kanaya itu.
Kanaya pun menyenggol lengan sepupunya memberi isyarat untuk memperkenalkan dirinya kepada teman - teman nya itu.
" Gw Luwis Zayn Adinata, kalau bisa manggil gw Luwis... " Kata Luwis yang memperkenalkan dirinya itu.
" Dan satu lagi. Kalian jangan pernah sekali - kali deket - deket sama dia , karena dia playboy cap kadal... " Kata Kanaya pada mereka itu.
" Apaan sih Lo... " Kata Luwis dengan kesal karena sepupu laknatnya yang telah mengumbar aib nya itu.
Setelah itu, teman - teman Kanaya pun mulai memperkenalkan diri mereka masing - masing itu.
Saat Ellena memperkenalkan diri, tatapan Luwis pun berubah saat mengetahui nama wanita yang dia temui saat siang hari di mall tadi itu.
Hal itu pun tak luput dari pandangan Elyon yang menatap Luwis sedang memandang penuh arti ke arah Ellena yang sedang bergurau dengan Sherly itu.
" Ellena... " Batin Luwis yang tersenyum penuh arti ke arah Ellena itu.
Kanaya yang menyadari tatapan aneh sepupunya saat melihat Ellena pun hati nya mulai merasa tak nyaman itu.
" Ikut gw! " Ajak Kanaya yang langsung menarik tangan kanan sepupunya dan mulai menjauh dari teman - temannya itu.
Argara yang melihatnya pun menaikkan alisnya bingung kepada Kanaya itu.
Di tempat lain.
" Gw harap Lo ngak akan berbuat macem - macem di sini... " Kata Kanya yang memperingatkan sepupunya itu.
" Heh. Ngak akan, tapi mungkin cuma satu macem... " Kata Luwis yang tersenyum menyeringai itu.
" Gw peringatan sekali lagi, kalau sampek Lo berbuat ulah. Gw akan suruh Tante buat balik in Lo ke Jerman... " Ancam Kanaya pada sepupunya dengan tatapan yang tajam itu.
" Bukannya udah bagus Lo di Jerman. Kenapa harus balik lagi sih? " Tanya Kanaya yang menatap remeh sepupunya itu.
" Gimana gw ngak balik. Kalau apa yang gw cari ada di sini... " Kata Luwis dengan angkuhnya sambil melipat kedua tangannya dia atas adanya dengan gaya yang sangat arogan itu.
" Inget mereka itu beda... " Kata Kanaya yang penuh penekanan itu.
" Huh. Gw ngak pedulik! " Kata Luwis yang mulai tersulut emosi karena perkataan sepupunya itu.
" Harusnya Lo nyadar. Kalo dia udah mati, dia pergi ninggalin Lo... " Kata Kanaya sambil berusaha menyadarkan sepupunya yang mulai tak waras itu.
" Gw ngak suka, Lo ngungkit - ngungkit masa lalu gw. Gw percaya dia masih hidup..." Kata Luwis mulai merasa tak terima dengan perkataan sepupunya itu.
" Terserah. Yang penting, gw ngak mau kalo sampek Lo berbuat macem - macem disini. Inget ancaman gw... " Kata Kanaya yang penuh penekanan itu.
Lalu kemudian dia pun pergi meninggalkan sepupunya yang masih setia menatap punggung nya yang mulai menghilang itu.
" Kita lihat ajah permainannya. Ngak akan ada yang bisa henti in gw, sekalipun itu sepupu gw sendiri... " Batin Luwis yang menatap kepergian Kanaya dengan senyum menyeringai yang terpancar di bibir seksinya itu.
Di aula acara.
Kanaya sudah kembali berkumpul bersama - teman nya dan mencoba bersikap baik - baik saja di depan mereka, seperti tak terjadi apa - apa itu.
" Lo kemana ajah? " Tanya Ellena pada Kanaya itu.
" Iyah. Terus sepupu Lo mana? " Tanya Ellina juga pada Kanaya itu.
" Sorry. Tadi ada hal penting yang harus di bicarain sama sepupu gw, dia lagi di toilet..." Kata Kanaya yang berbohong sambil tersenyum sedikit gugup itu.
Mereka pun mengangguk percaya dengan balasan Kanaya, terkecuali Elyon dan Argara yang menangkap gerak - gerik Kanaya yang seperti menyembunyikan sesuatu itu.
Beberapa menit kemudian, acara ualnag tahun Erren pun di mulai dengan tiup lilin dan potong kue, dan terakhir doa bersama untuk Erren itu.
Sekarang keluarga kecil itu sedang berbincang - bincang dengan salah satu kolega bisnis orang tua mereka itu.
Sungguh bahagia sekali keluarga kecil tersebut, canda tawa mereka yang tak luput dari pandangan orang - orang yang datang di acar tersebut itu.
Dan ada juga yang iri dan dengki ke arah keluarga kecil tersebut, seperti seseorang yang sedang menatap penuh kebencian di tangannya saat menatap keluarga kecil bahagia tersebut. Bahakan tanpa sadar tangan nya pun sudah mengepal dengan kuat itu.
" Ini hanya sebentar. Karena kamu hanya milik ku... " Kata Orang tersebut sambil mencoba bersikap biasa saja di depan para tamu itu.
BERSAMBUNG....
Jangan lupa like, comment, vote, follow, and share. Yahh...😊💜
__ADS_1
Annyeong...👋👋