Perjalanan Cinta Di Campus Galaksi

Perjalanan Cinta Di Campus Galaksi
Episode 85


__ADS_3

Di kamar Elyon.


Setelah Elyon menghabiskan makan siangnya. Kemudian dia pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat itu.


Pada akhirnya, Elyon pun berbaring di kasur King size nya dengan Erren yang berbaring di atas dada bidang nya untuk menidurkannya itu.


" Apa Erren menanyakan hal tadi? " Tanya Elyon sambil menepuk - nepuk bokong putranya itu.


" Hmm. Tidak, aku sudah menjelaskan nya tadi... " Kata Ellena yang sedang berselonjor di samping Elyon dengan buku novel di tangannya itu.


Tak berselang lama, Elyon pun di kaget kan dengan bunyi nontifikasi handphone genggamnya itu.


TRINGGG...


Suara pesan yang masuk itu.


Elyon pun langsung mengambil handphone genggamnya yang berada di atas nakas untuk memeriksa pesan yang masuk ke dalam handphone nya itu.


Ellen : Gw udah cari data orang itu.


Ellen : Gw kirim lewat E-mail.


Elyon : Thanks.


Setelah membalas pesan dari Kakak iparnya, dengan hati - hati Elyon pun meletakkan kembali handphone nya di atas nakas dan membaringkan Erren yang sudah terlelap dengan perlahan di atas kasur miliknya itu.


Kemudian dia pun duduk dia atas sofa yang berada di kamarnya dan mulai membuka laptopnya yang sudah berada di atas meja untuk memeriksa file yang di kirimkan oleh Kakak iparnya itu.


Ellena yang melihat suaminya tengah fokus menatap laptop nya tersebut pun mulai beranjak dari kasur dan menghampiri suaminya itu.


" Kamu cari data tahu tentang bunga matahari itu? " Tanya Ellena yang menaruh kepalanya di pundak suaminya yang merasa tak terganggu dengan keberadaan nya itu.


" Mencegah lebih baik dari pada mengobati" Kata Elyon sambil membaca huruf - huruf yang berada di depan layar laptop nya itu.


" Huh. Ngak perlu kamu capek - capek ngelakuin hal yang ngak guna! Terus buat apa semua mata - mata yang terus ngawasin aku itu! " Kata Ellena dengan nada yang kesal pada suaminya itu.


" Cuma buat pajangan, IYA? " Kata Ellena kembali sambil menekan kata ' iya ' itu.


" Hufft. Please, ngertiin aku! Aku ngelakuin ini semua buat kamu Lena... " Kata Elyon sambil menangkup kedua pipi istrinya itu.


" Mereka di tugaskan untuk mengawasi kamu dan aku di tugaskan untuk mencari data orang - orang yang mencurigakan di sekitar kamu... " Kata Elyon yang kembali menatap layar laptop itu.


" Kamu khawatir? " Tanya Ellena pada Elyon itu.


" Bagaimana aku ngak khawatir? Kalau keselamatan keluarga kita akan terancam lagi. Ngak! Aku maka kan biarin ini terung lagi. Cukup sekali, ngak dua kali! " Kata Elyon dengan penuh ketegasan di setiap katanya itu.


" Aku baik - baik ajah. Aku udah memprediksi orang itu, dia ngak akan bisa mencelakan kamu ataupun Erren... " Kata Ellena sambil memeluk lengan kiri suaminya itu.


" Terus kenapa hanya diam? " Tanya Elyon yang tak mengerti tentang jalan pikiran Ellena yang santai - santai saja saat banyak hadiah misterius yang berdatangan padanya itu.


" Aku punya rencana, orang ini hanya sedang tak sadar akan perbuatannya. Jadi aku ngak perlu khawatir... " Kata Ellena yang ikut membaca huruf - huruf di layar laptop suaminya tersebut dengan posisi yang sama itu.


" Dia bisa saja, bertindak lebih jauh lagi... " Kata Elyon yang sedikit tak terima dengan rencana Ellena yang hanya diam membiarkan si pelaku berkeliaran di luar sana itu.


" No problem. Kamu ngak perlu khawatir, toh orang itu cuma mau kasih hadiah doang kan... " Kata Ellena yang kelewat santai itu.


" Hufft. Tap... " Kata Elyon yang terhenti karena terdengar suara ketukan pintu di kamar mereka itu.


TOK... TOK... TOK...


Suara ketukan pintu itu.


" Permisi. Maaf mengganggu, ini ada paket untuk Nona Muda Ellena... " Kata Bik Inah yang berada di balik pintu itu.


" Nah tuh kan. Orang itu udah mulai lagi... " Kata Ellena sambil tersenyum kecil ke arah suaminya yang seperti sudah memprediksi jika semua ini akan terjadi itu.


" Terserah... " Kata Elyon yang lelah menanggapi kelakuan istrinya yang kelewat santai itu.


" Iyah Bik. Sebentar... " Kata Ellena yang berjalan untuk membukakan pintu itu.


Ellena pun berjalan dengan kotak hitam di tangannya menuju Elyon yang masih mengotak - Atik laptopnya itu.


" Mari kita lihat. Apa isinya " Kata Ellena setelah mendudukkan bokong nya di sofa samping suaminya itu.


" Semoga bom! " Kata Elyon dengan penuh santai nya itu.


" Hahaha! Kamu cemburu dia kasih aku macam - macam barang dari bunga matahari... " Kata Ellena dengan senyum menggoda nya itu.


" Kecil kan suaramu. Putra kita sedang tidur dan untuk apa aku cemburu dengan seorang pengecut yang hanya bisa mengancam, juga menghancurkan rumah tangga orang lain... " Kata Elyon dengan di sertai senyum menyeringai nya itu.


" Hoho. Jadi Tuan Muda Lyon yang terhormat ini sedang tak cemburu, itu bagus... " Kata Ellena sambil menoleh dagu suaminya dengan senyum menggoda itu.


" Ngak usah senyum. Jatuhnya kayak Tante - Tante girang... " Kata Elyon yang jengkel dengan senyum menggoda milik istrinya itu.


" Walaupun aku Tante - Tante girang. Tapi ini istri kamu juga lho... " Kata Ellena sambil berkacak pinggang dengan PD tingkat dewa nya itu.


" I don't care! " Kata Elyon yang tak menggubris perkataan istrinya yang kelewat PD itu.


Ellena pun hanya mendumel dengan kesal kepada suaminya yang kelewat cuek itu.


Dengan perasaan kesal Ellena pun mulai membuka paket misterius tersebut dengan bantuan catter itu.


Saat membukanya, Ellena pun terperangah melihat pernak - pernik bergambar bunga matahari, seperti tas mahal branded, jam tangan,gantungan kunci, dan setangkai kecil bunga matahari di dalam kotak misterius tersebut.


" Lihat lah semua barang mewah ini. Sangat sayang jika dia buang bukan... " Kata Ellena yang matanya mulai tak bisa berpaling dari benda - benda mahal tersebut itu.


Di sisi lain Ellena bisa merasakan tatapan tajam Elyon yang menghunus tubuhnya hingga kelapisan terdalam itu.


" Hehehe. Lyon, aku simpan ini tas sama jam tangan ajah yah. Kan sayang kalau di buang... " Kata Ellena yang mencoba untuk membujuk singa yang mengamuk dan tak lupa jurus andalan puppy eyes nya itu.


Tanpa banyak kata, Elyon pun langsung mengambil kotak misterius tersebut dengan kasar dan langsung membuangnya di tempat sampah yang berada di samping nya itu.


" Kok dia buang sih. Kan belum aku baca suratnya, terus sayang tauk tas sama jam tangan nya... " Kata Ellena yang menatap nanar benda - benda tersebut yang sudah tergeletak di dalam tempat sampah dengan mengenaskan itu.


" Kamu lupa siapa suami kamu? " Kata Elyon pada Ellena yang seperti tak pernah melihat barang branded saja itu.


Elltpun langsung tepuk jidat, dia sungguh lupa jika suaminya ini adalah seorang pemuda terkaya di dunia. Jadi untuk apa menatap sedih barang - barang biasa seperti itu.

__ADS_1


Jika mau maka suaminya bisa saja membeli barang tersebut hingga pabrik - pabrik nya sekalian itu.


" Hehehe. Lupak, tapi kamu beli in yang lebih bagus dari itu oke? " Kata Ellena yang langsung memeluk lengan suaminya dengan mesra itu.


" Hmm... " Yang hanya di balas deheman oleh Elyon itu.


" Hore!!! " Kata Ellena yang amat senang seperti mendapatkan jak pot itu.


" Kekanak - kanak kan... " Kata Elyon yang menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan tingkah Ellena yang seperti anak kecil itu.


Seperti nya dia lupa, jika dia sudah punya anak dan bisa membuat anak kecil sendiri itu.


Erren yang terganggu dengan teriakan cempreng Mamanya pun menggeliat terganggu dalam tidurnya itu.


Elyon pun langsung menatap Ellena tajam karena membuat anak mereka terganggu dalam tidurnya itu.


Sedangkan sang pelaku pun hanya menyengir kuda dan langsung ngacir pergi menuju putranya untuk menenangkan balita lucu nan keras kepalanya itu.


" Cup... Cup... Cup... Maaf yah sayang. Mama ngak sengaja, keganggu yah tidurnya... " Kata Ellena yang menepuk - nepuk halus bokong putranya agar tertidur kembali itu.


Serasa Erren sudah terlelap kembali, bertepatan terdapat suara bunyi nontifikasi dari arah handphone genggamnya yang berada di nakas itu.


Dia pun langsung mengecek handphone genggamnya untuk memeriksa seseorang yang mengirim pesan itu.


081546×××××× : Gimana paketnya suka? Ku


harap begitu.


081546×××××× : Tunggu tanggal main nya.


Dan pada saat itu. Kamu


akan jadi milik ku!


Ellena : DASAR GILAK!


Ellena : Gw itu milik gw sendiri


bukan milik siapa pun.


CAMKAN ITU!


Ellena : Kecuali suami GW!


081546×××××× : Hahaha. Akhirnya kamu


balas pesan aku.


081546×××××× : Akan ada saatnya kamu


akan kembali sama aku.


Karena kamu harus tepatin


janji kamu!


Ellena : Gw ngak pernah kasih Jani


Ellena : DASAR PRIA GILAK!!!


Setelah membalas nomer tak di kenal tersebut, Ellena pun langsung memblokir kontak tersebut dengan perasaan kesal sampai ke ubun - ubun itu.


" Dasar pria Gilak! " Gumam Ellena dengan perasaan amarah dan kesal yang meledak - ledak di hati dan otaknya itu.


" Gimana dengan pengagum rahasia kamu? Pasti bahagia kan... " Kata Elyon yang menatap Ellena sekilas dengan senyum meremehkan itu.


" LYON! Ngak usah mancing emosi deh... " Kata Ellena dengan wajah yang mulai menggelap itu.


" Aku lagi duduk bukan mancing " Kata Elyon dengan santainya tanpa menatap ke arah istrinya yang sudah mencak - mencak penuh amarah itu.


" Hih Bodoamat!!! " Kata Ellena yang langsung keluar kamarnya dengan penuh emosi dan jangan lupa dengan suara pintu yang di tutup dengan kasar itu.


BRAK...


Suara pintu yang di tutup dengan keras itu.


Elyon pun hanya bisa menutup mata sambil mengelus dadanya dengan tingkah Ellena yang kelewat batas, dan tak lupa mengecek Erren jika terbangun karena ulah bar - bar Mamanya itu.


Untung saja bocah balita itu masih terlelap di alam mimpi sambil memeluk guling nya yang bergambar Ultraman itu.


" Ck. Dapet dosa apa gw? Punya istri bar - bar kayak gini... " Kata Elyon yang tak tahu dirinya meratapi takdirnya itu.


Padahal yang selama ini bucin akut dan posesif kepada Ellena dia sendiri orangnya dan sekarang dengan berani nya dia meratapi nasibnya mendapatkan istri seperti Ellena. Wahh, Elyon sungguh tak tahu diri dia. Ck ck ck!


Di sisi lain, Ellena sedang mendumel dengan kesal kepada si pemilik nomer tak di kenal dan juga suaminya yang malah menyiram minyak di atas api itu.


" Dasar ngak penguntit ngak suami sama ajah! Yang satu tukang ngeklaim milik orang, yang satu malah ngomporin orang. Ck... Ck... Ck... Pasangan yang pas... " Gumam Ellena yang kemudian menggeleng - gelengkan kepalanya sambil berdecak kesal itu.


Saat Ellena menuruni tangga terakhir, dia di kejutkan oleh para teman nya yang sudah duduk santai di ruang keluarga, bahkan terdapat Luwis juga yang bergabung itu.


" Lho kapan kalian ke sini? Kok ngak ngabarin? " Tanya Ellena yang berjalan menghampiri mereka itu.


" Baru ajah sampek. Tapi Bik Inah mau manggil Lo, tapi Lo udah turun duluan... " Balas Ellina sambil mengeluarkan peralatan belajar nya itu.


" Terus ngapain kalian ke sini? " Tanya Ellena sekali lagi sambil mendudukkan dirinya di karpet bersama yang lainnya di samping Kakak nya Ellen itu.


" Mau belajar bareng sekali - kali. Gw udah bilang sama Elyon, emang tuh orang ngak kasih tahu Lo? " Kata Gerio yang menjawab itu.


" Ngak tuh, Elyon ngak bilang apa - apa... " Kata Ellena yang mengangkat bahunya tak tahu itu.


Suasana pun mulai sunyi, dan beberapa detik kemudian terdapat suara lift yang terbuka itu.


TING...


Suara lift yang terbuka itu.


Dan keluarlah Elyon dengan peralatan sekolah di tangannya itu.

__ADS_1


" Kok kamu ngak bilang kalau yang lainnya mau ke sini? " Tanya Ellena pada Elyon yang menghampiri nya itu.


" Udah tau kan sekarang... " Kata Elyon yang membuat rasa kesal Ellena bangkit kembali itu.


" Terserah! Ngerjak ngelut aje sih kamu! " Kata Ellena yang kelewat kesal dengan Elyon yang hati ini selalu membuat hatinya terbakar dengan amarah itu.


Sedangkan Elyon pun tak menggubris perkataan Ellena dan mendudukkan bokongnya di samping istrinya itu.


" Sebenarnya gw juga mau kasih tahu info ke kalian? " Kata Ellen yang membuat atensi pandangan mereka pun menatap ke arah Ellen itu.


Sedangkan Sherly hanya menundukkan dengan wajah yang sangat bahagia itu.


" Kenapa? " Tanya Ellena yang mewakili perasaan bingung kepada Kakak nya Ellen itu.


" Bentar lagi Lo bakal jadi Aunty... " Balas Ellen dengan santai sambil membolak - balik kan bukunya itu.


" WHAT!!! " Teriak para kaum hawa yang berada di ruang keluarga itu.


" Aaaa! Selamat, akhirnya Erren punya adik jugak! " Kata Ellena dengan wajah yang kaget + bahagia itu.


" Selamat Sher. Moga gw juga ikut nyusul deh... " Kata Ellena yang langsung memeluk Sherly yang duduk di samping kanan nya itu.


" Iyah makasih semua nya! Gw doa in juga buat Lo Ellina, semoga cepet nyusul..." Kata Sherly sambil mengelus perut datarnya dengan penuh kasih sayang dan sedikit masih tak percaya jika terdapat nyawa yang bersemayam di dalamnya itu.


Sungguh setelah pulang kampus, Sherly tiba - tiba pingsan dan di bawa kerumah sakit oleh Ellen dengan perasaan cemas. Kemudian wajah cemas mereka pun berubah menjadi kebahagiaan saat mendapatkan kabar baik jika sebentar lagi akan ada malaikat kecil yang mengisi keluarga kecil mereka beberapa bulan lagi itu.


Mereka semua pun mulai mengucapkan selamat kepada pasangan Ellen dan Sherly yang sedang di liputi kebahagiaan itu.


" Lo juga cepet nyusul Ellena. Biar Erren cepet punya temen... " Kata Kanaya yang mulai menggoda Ellena itu.


" Nanti ajah setelah Lo. Gw nyusul... " Kata Ellena dengan wajah malasnya karena godaan dari Kanaya itu.


" Gw mah masih lama. Keburu Erren pingin lho... " Kata Ellina yang ikut - ikutan menggoda Ellena itu.


" Gw mah santuy, kalau di kasih yah allhamdulillah. Kalau ngak, yah emang belum rezekinya. Gw juga mau nunggu Erren besar dulu, ngurus anak satu yang keras kepala kayak bapaknya ajah sangatlah Masya Allah, apalagi nanti adeknya... " Kata Ellena yang mulai membuka buku miliknya itu.


" Iyah juga sih. Tapi Erren itu kan lucu masaka di bilang keras kepala, ibu laknat lu... " Kata Ellina yang tak terima jika keponakannya di hilang keras kepala itu.


" Bodoamat. Siapa suruh Lo manjain anak gw, kalau dia jadi pembangkang gw salahin kalian semua nanti. Awas Lo semua! " Kata Ellena dengan mata yang melorot itu.


" Apa salahnya manjain keponakan sendiri?" Kata Argara yang bersuara karena sejak tadi hanya menjadi pendengar pembicaraan antara temannya itu.


" Terserah! Gw masih sebelah yah sama kalian. Hadiah kalian itu bener - bener di luar nalar buat anak gw. Masih anak umur satu tahun udah Lo kasih restoran, tanah, rumah, taman bermain privat, terus mall. Gilak ajah Lo pada! " Kata Ellena yang kesel dengan hadiah luar biasa di luar nalar yang di berikan oleh teman - temannya untuk ulang tahun Erren kemarin lalu itu.


" Yah kan itu namanya. Jadi miliarder saat masih kecil, mantap kan? " Kata Gerio dengan santainya itu.


" Terserah. Tapi hadih kalian itu cuma nambah - nambah beban buat gw, masak gw harus suruh Erren ngelola itu semua sih? Ya ngak mungkin lah! " Kata Ellena yang kelewat kesal itu.


" Kalau mau kasih hadiah itu kayak Luwis dong, ngasih tuh tas, jam tangan, terus barang - barang lainnya. Bukan malah surat - surat kayak gini... " Kata Ellena yang seperti mengomeli anak - anaknya itu.


Lah emang surat sih ngak seberapa, tapi kalau surat harta kayak gini mau gimana ngak tambah kaya. Ellena ajah bingung mau di buang kemana semuanya uangnya, lha ini malah di jadi in pembuangan uang sama teman - temannya. Haduh.


Luwis yang tanpa sadar di puji oleh Ellena pun tersenyum kecil, entah kenapa hatinya merasa hangat mendengar Ellena yang untuk pertama kalinya memuji nya itu.


Ellena yang hendak ceramah kembali pun terhenti saat mendengar suara lift terbuka dengan sakura tangis dari seorang balita laki - laki yang berlari ke arahnya itu.


TING....


Suara lift yang terbuka itu.


" PAPA!!! Hiks... Hiks... Hiks... " Sakura Erren yang langsung berlari ke arah Papanya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya itu.


Semua orang pun langsung menghela nafas bersyukur jika Erren datang di waktu yang tepat dan mereka pun terhindar dari ceramah Ellena tujuh hari tujuh malam itu.


" Hiks... Hiks... Pa... Tok... Elgi... " Kata Erren yang sudah memeluk Papanya dengan erat dan di selingi suara tangisan nya itu.


" Ngak sayang. Udah dong jangan nangis anak Papa, kok anak Papa jadi cengeng. Hmm.... " Kata Elyon yang menentukan putranya itu.


Dia lupa jika dia meninggalkan putranya yang sedang tertidur lelap dan berakhir menangis mencarinya saat tak melihat Papanya di samping nya itu.


" Erren sini Uncle gendong. Uncle punya hadih lho buat Erren... " Kata Ellen yang membujuk keponakannya agar berhenti menangis itu.


" Adiah apa? Pecawat telbang? " Kata Erren yang langsung berpindah ke dalam gendongan Uncle Ellen nya itu.


" Nanti Uncle kasih tapi hari ini hadiahnya lebih spesial lagi... " Kata Ellen pada keponakan nya, sebenarnya dalam pikirannya sekarang sedang berfikir diabakn membelikan pesawat terbang pribadi untuk keponakan tersayang nya itu.


Ellena yang bisa membaca pikiran Kakaknya pun langsung melotot tajam menatap Kakaknya yang pasti akan memberikan hadiah di luar nalar lagi untuk Putra nya itu.


" Kak jangan macem - macem... " Kata Ellena dengan mata yang sudah melotot dengan sempurna itu.


" Ngak cuma satu macem... " Balas Ellen sambil mengelus sayang rambut keponakan nya itu.


Ellena yang ingin mengomeli Kakaknya pun dia urungkan karena pertanyaan balita kecil di tengah - tengah mereka itu.


" Adiah nya apa? " Tanya Erren kembali pada Uncle nya itu.


" Hadihnya itu ini... " Kata Ellen sambil menunjuk jarinya pada perut datar istrinya itu.


Erren pun memiringkan kepalanya bingung dengan apa yang di tunjukkan oleh Unclenya itu.


" Di sini ada dedek bayinya Erren. Nanti kalau dedek bayinya udah keluar nanti Erren jadi punya temen... " Balas Sherly yang menjelaskan kebingungan keponakan nya itu.


" Dedek Ayi? Tayak Elen? " Kata Erren dengan muka polosnya sambil menunjuk dirinya sendiri itu.


Dan sukses membuat semua orang menjadi gemas dengan tingkah lucu balita satu itu. Tapi itu semua tak berlaku untuk salah satu orang yang tak suka dengan keharmonisan yang berada di depannya itu.


" Iyah. Nanti dedek ayi nya lucu kayak Erren... " Balas Kanaya pada bocah kecil yang berada di hadapannya itu.


" Hole!!! Elen akal unya adik!!! " Teriak bahagia Erren sambil bertepuk tangan kecil karena kegirangan itu.


" Ma. Elen akal unya adik... " Kata Erren dengan bahagia memberitahu Mama nya itu.


" Iyah. Erren seneng? " Kata Ellena sambil mengelus pipi gembul putranya itu.


" Ceneng anget!!! " Kata Erren dengan penuh keantusiasan itu.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


Jangan lupa like, comment, vote, follow, and, share. Yahh... 😊💜


Annyeong...👋👋👋


__ADS_2