Perjalanan Cinta Di Campus Galaksi

Perjalanan Cinta Di Campus Galaksi
Episode 102


__ADS_3

Setelah sampai di kediaman keluarga Elyon, saat memasuki rumah Erren pun langsung di sambut hangat oleh Bik Inah di dekat pintu utama rumah itu.


" Selamat datang, Den. Bagaimana harinya tadi di sekolah? " Sapa Bik Inah dengan hangat itu.


" Seperti biasa, Papa ada? " Tanya Erren sambil melonggarkan dasi yang terasa mencekik dirinya itu.


" Tuan Besar belum pulang dari kantor, Den." Balas Bik Inah sambil tersenyum kecil hangat itu.


" Mama? " Tanya Erren kembali dengan singkat dan wajah yang masih datar persis seperti Papanya itu.


" Nyonya Besar sedang pergi ke kediaman Carion Anggara dan Nona Muda Ellana sedang istirahat di kamarnya. " Balas Bik Inah seperti sudah menduga jika selanjutnya Erren pasti akan bertanya tentang adiknya itu.


" Hmm. Erren ke atas Bik. " Kata Erren yang kemudian berjalan menuju lift untuk pergi ke kamarnya itu.


" Baik Tuan Muda, jangan lupa setelah bersih - bersih segera turun untuk makan siang. " Kata Bik Inah yang tidak mendapat balasan dari Erren itu.


" Huh. Tuan Muda Erren sangat persis seperti Tuan Besar dari sifatnya, perilakunya, bahkan muka datar nya. Emang yah Ayah dan anak sifatnya ngak beda jauh." Kata Bik Inah yang kemudian berjalan menuju dapur itu.


Di ruang kerja milik Elyon.


Sebenarnya Erren tidak pergi menuju kamarnya tapi menuju ruang kerja milik Papanya untuk mencari jawaban dari setiap rasa penasaran nya yang muncul sekarang ini itu.


Saat akan mencoba mengotak - atik laptop milik Papanya, tiba - tiba perhatian nya pun terfokus menatap ke arah map berwarna hitam di samping laptop berlambang Apple milik Papanya itu.


" Apa ini? " Gumam Erren dengan penuh tanda tanya itu.

__ADS_1


Tangannya pun berinisiatif mengambil map berwarna hitam tersebut kemudian mulai membaca tulisan di atas beberapa kertas yang berada di dalam map itu.


Bola mata Erren pun mulai terkejut dan memanas saat melihat isi dari map tersebut yang berisikan tentang syarat adopsi miliknya hingga meremasnya tanpa sadar itu.


" Pembohong! " Kata Erren dengan air mata yang tanpa sadar mengalir di atas pipi nya itu.


" Jadi benar perkataan wanita itu! Aku hanya seorang anak pungut. " Kata Erren sambil tersenyum kecewa itu.


" Semuanya pembohong! Dengan bodohnya aku terlena dengan semua kasih sayang dan kemewahan yang mereka berikan tanpa tahu kebenaran yang tersimpan! " Kata Erren dengan masih memasang senyum yang sama itu.


" Bodoh! Semuanya penipu! " Teriak Erren hingga melempar map yang sejak tadi dia remas ke atas lantai dengan penuh amarah itu.


" Tidak ada gunanya lagi aku di sini. " Kata Erren yang kemudian berjalan dengan gontai ke luar dari ruangan tersebut untuk pergi menuju kamarnya itu.


Saat memasuki kamar yang dominan warna hitam putih sekitar momeri dalam otaknya pun berputar tentang semua kenangan yang telah dia alami di rumah itu.


Kaki kecilnya tanpa sadar berjalan menuju nakas di atasnya terdapat bingkai foto dirinya beserta keluarga nya yang tengah tersenyum ke arah kamera untuk mengabadikan momen di mana Erren pertama kali memenangkan lomba speking English for Kid's Nasional saat usia menginjak umur 6 tahun itu.


" Andai Erren ngak tahu kebenaran ini, Erren pasti masih bisa tersenyum bahagia di antara kalian tanpa harus mengetahui kebenaran yang ada. " Kata Erren yang sukses menitikkan air matanya kembali itu.


Sedewasa dan secerdas apapun Erren tetap saja dia hanya seorang anak yang terlena dan haus akan kasih sayang yang telah di curahkan oleh seseorang yang dia anggap sebagai orang tuanya itu.


Wajar jika Erren akan kecewa dengan kenyataan yang ada, anak itu akan merasa di khianati karena orang yang telah membesarkannya ternyata tak memiliki dararah yang sama dalam tubuhnya itu.


Setelah puas menangis dalam diam Erren pun langsung memasang wajah datar dan menghapus jejak air matanya, kemudian membuka tas yang dia gendong tadi itu.

__ADS_1


Lalu mengambil dompetnya yang berisikan beberapa kartu kredit yang di berikan oleh Papanya dan mengeluarkan sebagian kartu - kartu tersebut kecuali kartu tabungan pribadinya yang telah dia kumpulkan secara sembunyi - sembunyi selama ini itu.


Bahkan Erren pun mengeluarkan semua barang - barang elektronik milik dari dalam tas kemudian mengambil beberapa baju dan barang - barang kebutuhan miliknya yang dia beli dengan uangnya sendiri ke dalam tas sekolah nya itu.


Kemudian Erren pun bergegas mandi dan berganti baju lalu menggendongnya tas sekolahnya. Saat akan berjalan keluar kamar tanpa sadar fokusnya pun mengarah ke arah pintu berwarna merah muda yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Ellana itu.


Tanpa sadar Erren pun tersenyum kecil saat mengingat di mana adiknya merengek kepada orang tua mereka untuk di buat pintu yang menghubungkan kamarnya dengan sang adik akibat iri terdapat pintu yang menghubungkan kamar Erren dengan kamar Elyon dan Ellena itu.


Erren tanpa sadar berjalan menuju pintu tersebut kemudian membuka pemandangan yang pertama kali yang dia lihat adalah sebuah kamar dengan nuansa merah muda dengan adiknya yang sedang tertidur pulas di atas kasur miliknya mungkin akibat kelelahan usai syuting setelah jam pelajaran pertama usai itu.


Dia pun berjalan menghampiri adiknya, kemudian dengan Erren pun mengelus rambut adiknya dengan sayang seperti nya dia ingin mengucapkan kata perpisahan itu.


" Maaf, kakak harus pergi. Kamu adik yang paling kakak sayang, walau kita ngak sedarah. Kakak beruntung pernah menjadi tempat kamu bergantung. Maaf... " Kata Erren dengan lirih lalu dia pun mencium sayang dahi adiknya yang masih menatap mata itu.


Dengan hati yang mencoba bertekad Erren pun keluar dari kamar sang adik dan mulai berusaha menyelinap kabur dari pengawasan para bodyguard Papanya itu.


" Terima kasih dan maaf Erren ngak seharusnya ada di sini, Erren sayang kalian." Kata Erren sambil menatap sendu bangunan yang selama ini menjadi tempat dia tumbuh setelah menyelinap keluar dari kediaman orang tuanya itu.


Dengan rasa kecewa Erren pun mulai melangkah jauh meninggalkan bangunan dan semua kenangan yang pernah dia rasakan di rumah itu.


Entah akan kemana Erren kali ini, selama ini keluarga yang dia anggap rumah ternyata hanyalah keluarga angkatnya yang mungkin membesarkan nya karena rasa kasihan itu.


Andai Erren tahu bahwa keluarga yang dia anggap berharga tersebut memanglah sangat tulus untuk membesarkannya, tapi mau bagaimana lagi hati kecil tetap belum menerima dengan semua kenyataan yang baru saja dia ketahui itu.


Sepertinya setelah ini akan terdapat kekacauan besar di kediaman Elyon karena kaburnya sang Tuan Muda di rumah itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2