Perjalanan Cinta Di Campus Galaksi

Perjalanan Cinta Di Campus Galaksi
Episode 20


__ADS_3

Kemudian Mama Emely pun pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam, karena nanti malam akan kedatangan tamu dari calon besan dan calon menantunya itu.


Saat di dapur.


" Bik tolong bangunin Ellena buat siap - siap yah, sebentar lagi tamu nya datang. " Pinta Mama Emely kepada salah satu pembantunya yang berada di dapur itu.


" Baik, nyonya. " Jawab salah satu pembantu tersebut sambil menundukkan kepalanya itu.


Lalu pembantu tersebut pun kemudian pergi menuju kamar Ellena untuk menjalankan perintah dari majikan nya tadi itu.


Setelah berada di depan pintu kamar Ellena.


TOK TOK TOK....


Suara pintu yang di ketuk.


" NON!!! NON ELLENA!!! BANGUN!!! NON!!! " Kata pembantu tersebut dengan nada sedikit berteriak sambil mengetuk beberapa kali pintu kamar anak majikannya yang bercat pink itu.


Namun sayangnya, masih belum ada jawaban dari pemilik kamar tersebut, kemudian pembantu tersebut pun berinisiatif membuka pintu yang kebetulan tidak di kunci itu.


CKLEK....


Suara pintu yang di buka.


Pembantu tersebut pun lalu masuk ke dalam kamar Ellena dan menghampiri Ellena yang ternyata masih tertidur dengan lelapnya di atas kasur king size nya itu.


" Non, non Ellena bangun non. Sebentar lagi tamu nya akan datang. " Kata pembantu tersebut yang membangunkan anak majikannya dengan sedikit menggoyang - goyangkan tubuhnya itu.


" Emmhhh... " Gumaman Ellena sambil mencoba untuk membuka matanya perlahan itu.


" Bik, jam berapa sekarang? Hoamm... " Tanya Ellena yang masih memejamkan matanya untuk mengumpulkan nyawa itu.


" Sudah jam 3 sore, non." Balas pembantu tersebut sambil melihat jam dinding yang terpasang di kamar Ellena itu.


" Ya udah, Bibi boleh keluar sekarang. Ellena mau siap - siap. " Kata Ellena sambil meregangkan tangannya sebab otot - otot tangan yang terasa kaku itu.


" Baik, non. " Balas pembantu tersebut dengan menundukkan kepalanya itu.


Tanpa mengulur waktu pembantu tersebut pun pergi ke luar dari dalam kamar mewah milik anak majikannya untuk melanjutkan pekerjaan di dapur yang sempat tertunda tadi itu.


" Hoam! Mending gw mandi dulu aja biar seger... " Kata Ellena yang ternyata masih menguap itu.


Setelah mengumpulkan nyawa Ellena pun beranjak dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri itu


Di ruang makan.


Lain hal nya di di ruang makan Mama Emely sedang sibuk menata makan malam dengan menu makanan mewah untuk tamu spesial nya di atas meja makan itu.


Selang beberapa menit di depan pintu terdapat Ellen yang masuk ke dalam rumah setelah mengantarkan Sherly pulang ke rumahnya tadi itu.


" MAH!!! ELLEN PULANG!!! " Teriak Ellen sambil berjalan menuju Mamanya itu.


Saat di dapur.


" Bik, tolong selesaikan ini. Saya mau siap - siap dulu. " Pinta Mama Emely pada salah satu pembantunya itu.


" Baik, nyonya. " Jawab pembantu tersebut dengan sopan sambil menundukkan kepalanya itu.


Kemudian Mama Emely pun berjalan menghampiri anak laki-lakinya itu.


" Sekarang Abang siap - siap gih! Bentar lagi keluarga calon suami Ellena mau dateng. " Suruh Mama Emely kepada putra pertamanya itu.


" Hmm, Iyah ma." Jawab Ellen yang kemudian berjalan menuju lift itu.


Di susul oleh Mama Emely yang juga akan bersiap - siap untuk menyambut calon besannya itu.


Beberapa menit kemudian Papa Erlando pun ternyata telah pulang setelah letih mengerjakan tumpukan kertas di kantornya yang menggunung nya.


" Mah! Papa pulang. " Kata Papa Erlando dengan nada sedikit berteriak sambil berjalan memasuki rumah nya itu.


Tak berselang lama salah satu pembantu rumahnya pun datang menghampiri Papa Erlando itu.


" Selamat datang tuan besar, saya akan membawakan tas kerja anda. " Kata pembantu tersebut yang menghampiri Papa Erlando tadi dengan kepala yang menunduk itu.


" Tidak perlu." Tolak Papa Erlando dengan singkat itu.


" Dimana istri saya? " Tanya Papa Erlando dengan nada dinginnya sambil melonggarkan dasi yang melilit lehernya itu.


" N-nyonya berada di kamarnya T-tuan besar sedang bersiap - si-ap. " Jawab pembantu tersebut dengan nada yang gugup itu.


Tanpa menyia - nyiakan waktu Papa Erlando pun langsung meninggalkan pembantu tersebut dan berjalan menuju kamarnya itu.


" Tuan besar sifatnya dingin sama persis seperti Tuan muda. Huh, benar kata pepatah buah jatuh tidak kan jauh dari pohon nya " Batin pembantu tersebut dengan sedikit tertekan karena aura intimidasi dari majikannya tadi itu.


Setelah berperang dengan batin pembantu tersebut pun kembali kali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaan nya itu.


Saat di kamar Papa Erlando dan Mama Emely.


CEKLEK...


Suara pintu di buka.


Terlihat Mama Emely yang sedang merias diri di meja riasnya yang diatas nya berjejer rapi skincare mahal dan berkelas miliknya, kemudian menoleh ke arah pintu kamarnya yang di buka itu.


" Ehh, Papa. Sudah pulang. " Kata Mama Emely tanpa mendapatkan balasan dari sang suami itu.

__ADS_1


Tanpa memperdulikan hal tersebut Mama Emely pun menatap kembali ke arah cermin dan melanjutkan kegiatan nya yang sempat tertunda tadi itu


Sedangkan Papa Erlando berjalan menghampiri sang istri kemudian memeluknya dari belakang itu.


" Mah, jangan dandan cantik - cantik. Mama mau genit? " Kata Papa Erlando yang masih dengan posisi yang sama itu.


" Genit ke siapa? Kan nanti yang dateng temen kamu. Dia juga udah punya istri masak aku genit ke temen kamu itu. Papa ada - ada ajah deh." Kata Mama Emely yang tak habis fikir dengan sifat suaminya yang teramat posesif kepadanya itu.


" Tapi tetep ajah. Papa ngak suka! " Balas Papa Erlando yang masih teguh dengan pendirian nya itu.


" Udah deh, pa. Mending papa siap - siap nanti keburu calon besan kita dateng. " Suruh Mama Emely yang hanya di balas deheman oleh sang suami itu


Setelah itu Papa Erlando pun melepas pelukan nya yang memberikan satu kecupan di pipi sang istri dan lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri itu.


Sekarang hari pun berganti malam dan tiba saatnya para tamu Keluarga Carion Anggara datang ke kediaman mereka itu.


TING TONG....


Suara bel rumah yang berbunyi.


" Iyah, sebentar... " Kata Mama Emely sambil bergegas berjalan untuk membukakan pintu rumahnya itu.


" Hai Jeng Delina, pak Devan. Mari masuk. " Kata Mama Emely setelah membukakan pintu kemudian menggandeng calon besannya yang bernama Delina itu.


" Iyah, Jeng Mely. " Balas Mama Adelina yang saling menyapa dengan nama kesayangan mereka itu.


Para tamu pun memasuki rumah kemudian duduk di ruang tamu itu.


" Bik, siapkan minuman untuk para tamu saya." Pinta Mama Emely pada salah satu pembantunya itu.


" Baik nyonya." Jawab pembantu dan kemudian beranjak pergi melakukan apa yang telah di perintahkan oleh majikannya tadi itu.


" Sebentar yah, Jeng Delina dan Pak Devan. Saya panggilkan suami saya dulu... " Kata Mama Emely kepada mereka itu.


" Iyah, jeng Mely santai saja, sebentar lagi kan kita menjadi besan. Jadi tidak perlu sungkan seperti itu. " Kata Mama Adelina sambil tersenyum ramah itu.


" Hmm. Iyah Jeng Delina. " Balas Mama Emely yang ikut tersenyum ramah itu.


" Nyonya ini minumannya. " Kata pembantu tersebut sambil membawakan nampan yang berisi minuman untuk para tamu majikannya itu.


" Taruh saja di meja Bik. " Suruh Mama Emely memberikan perintah kemudian beranjak pergi untuk memanggil suaminya itu.


Tanpa menolak pembantu tersebut pun menjalankan perintah dari majikannya itu.


" Silahkan, di minum Nyonya, Tuan. " Kata pembantu tersebut pada Mama Adelina dan Papa Devan itu.


" Ahh, iyah terima kasih yah. " Balas Mama Adelina pada pembantu itu.


" Ini sudah menjadi tugas saya nyonya, kalau begitu saya permisi dulu. " Kata pembantu tersebut sambil membawa nampan yang kosong lalu pergi menuju arah dapur itu.


" Ihh! Papa dingin banget sih, ini rumah orang lho. Yang ramah dong." Kesal Mama Adelina Kepa sang suaminya itu.


" Huh. Dasar anak sama ayah, sama ajah sama - sama muka tembok. Huh, nasib - nasib." Batin Mama Adelina yang sedang meratapi nasib itu.


Tak selang lama Mama Emely pun kembali bersama dengan Papa Erlando di sampingnya itu.


" Maaf yah, Jeng lama... " Kata Mamah Emely.


" Iyah ngak papa, santai saja. " Jawab Mama Adelina yang masih mempertahankan senyum ramahnya itu.


" Bro, llama ngak ketemu. " Kata Papa Erlando kepada Papa Devan kemudian bertos ala laki - laki itu.


" Anak sulung kamu mana, Van? " Tanya Papa Erlando sambil menoleh ke sana - kemari untuk mencari calon mantunya itu.


" Ohh, lagi di perjalanan tadi nanti juga dateng. Kalo anak-anakmu mana? " Tanya Papa Devan balik itu.


" Bentar lagi juga kesini. " Jawab Papa Erlando pada Papa Devan itu.


" Ma, Ellen sama Ellena udah mama panggil belum tadi? " Kata Papa Erlando pada Istrinya itu.


" Udah kok pa, nanti juga turun anaknya." Jawab Mamah Emely yang sedang berbincang - bincang dengan Mama Adelina itu.


Beberapa menit kemudian Ellen dan Ellena pun terlihat menuruni tangga. Terlihat Ellen memakai style kemeja berwarna hitam dan sedang kan Ellena memakai dress berwarna pink yang panjang nya selutut dan di perpaduan dengan make up tipis yang menghiasi wajah nya itu.




" Nah itu mereka udah turun, sayang ayok sini." Suruh Mama Emely pada anak-anak nya itu.


Ellen dan Ellena pun berjalan ke ruang tamu yang terdapat orang tua mereka serta calon mertua Ellena itu.


" Nah, sayang perkenalkan ini temen Papa, yang ini nama nya Tuan Devan Gorneo Aditya dan di samping nya itu adalah istrinya. Namanya Nyonya Adelina Gorneo Aditya " Kata Papa Erlando yang memperkenalkan mereka kepada Ellen dan Ellena itu.


" Hallo om dan tante, salam kenal " Sapa Ellena dengan ramah yang seperti nya asing dengan wajah Papa Devan dan Mama Emely itu.


" Iyah, sayang. Kamu tambah cantik ajah yah, Ellena sayang, udah lama kita ngak ketemu yah... " Kata Mama Adelina dengan spontan sambil mengelus lembut pipi Ellena itu.


" A-ah, iya tante terima kasih atas pujiannya. tapi maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya." Kata Ellena sambil tersenyum ramah namun dengan pikiran yang berkecamuk itu.


" A-h... i-tu... Ah. Yang ini pasti Ellen yah, tambah ganteng ajah sih kamu." Kata Mama Adelina dengan nada yang gugup sambil berusaha mengalihkan pembicaraan itu.


" Huh. Aduh! Pakek keceplosan segala! " Batin Mama Adelina yang merutuki sikapnya tadi itu.


" Iyah, tante." Jawab Ellen sambil tersenyum tipis dengan arah pandangan yang menatap ke arah Ellena yang masih kebingungan itu.

__ADS_1


" Maaf. " Batin Ellen dengan perasaan yang amat bersalah kepada sang adik itu.


" Kayak nya ada yang di sembunyiin mereka dari gw deh? Hah, kenapa banyak banget teka - teki yang ngak gw ketahui jawabannya sih! " Batin Ellena yang mulai lelah dengan semua misteri yang datang sejak dia kuliah di kampus Galaksi itu.


TING TONG....


Suara bel rumah yang berbunyi.


" Bentar yah, kayak nya calon suami Ellena udah dateng tuh... " Kata Mama Emely yang nantik dari duduk nya untuk membukakan pintu rumahnya itu.


CKLEK...


Suara pintu yang di buka.


" Lho. Nak... Elyon udah dateng ayok masuk. " Kata Mama Emely sambil menggandeng tangan pemuda tersebut untuk mempersilahkan masuk ke dalam rumahnya itu.


" Iyah, tante maaf saya telat. " Balas Elyon dengan nada sedikit tidak enak pada calon mama mertuanya itu.


" Ngak papa kok, ayok masuk Nak Elyon. " Kata Mama Emely lagi.


Ternyata pemuda tersebut adalah Elyon yang memakai style kemeja berwarna abu - abu itu.



" Ellena sayang, nih calon suami kamu udah dateng. " Kata Mama Emely dengan nada yang kegirangan itu.


Ellena yang di panggil pun memandang ke arah Mamanya yang sedang menggandeng calon suaminya itu.


" Lah! ELO!!! " Teriak Ellena dan Elyon secara bersamaan itu.


" Kok dia sih yang jadi suami gw. Bentar - bentar kan tadi nama tante Adelina dan Om Devan ada nama marga Gorneo Aditya. Jadi yang pasti Elyon lah anak mereka yang bakal jadi suami gw. Ihh, dasar Ellena bodoh! Kenapa ngak nyadar dari tadi sih! " Batin Ellena dengan kesal sambil merutuki kelemotan otaknya itu.


" Kalian udah pernah ketemu? " Tanya Mama Emely dengan nada yang bingung itu.


" Mereka satu kampus ma, di kampus Galaksi." Jawab Ellen dengan santainya itu.


" Ohh, Iyah bener juga. " Kata Mama Emely itu.


" Jangan bilang Abang tahu tentang ini semua? " Tanya Ellena sambil menatap Kakak laki - laki nya dengan tatapan penuh intimidasi itu.


Namun sayangnya hanya di balas deheman oleh sang empu itu.


" Kenapa ngak bilang! " Kesal Ellena yang seperti ingin menguliti Ellen hidup - hidup itu


" Kan sekarang udah tahu kan." Balas Ellen dengan santai nya itu.


" Udah - udah. Ngak usah di permasalahkan. " Kata Mama Emely yang langsung melerai pertengkaran yang akan terjadi di antara kedua anaknya itu.


" Nah. Nak Elyon kan udah kenal sama Ellena, kalo Mama namanya Emely Alara Carion Anggara dan ini suami Mama dan juga papa Ellena namanya Tuan Erlando Kenzo Carion Anggara. " Kata Mama Emely yang memperkenalkan dirinya dan juga suaminya itu.


" Salam kenal tante dan om, saya Elyon Deren Gorneo Aditya. " Kata Elyon yang ikut memperkenalkan dirinya dengan ramah itu.


" Ya udah, kalo kalian udah kenal, jadi pernikahan nya kita percepat ajah gimana Jeng Delina? " Tanya Mama Emely pada Mama Adelina itu


" Aku setuju saja, gimana kalo seminggu lagi mumpung hari baik. " Saran Mama Adelina yang langsung dapat membuat Elyon dan Ellena terkejut itu.


" APA!!! SEMINGGU LAGI.!!! " Kata Elyon dan Ellena secara bersamaan itu.


" Ma, emang itu ngak terlalu cepet? " Kata Ellena pada Mama Emely itu.


" Ngak kok, mama malah setuju. Kan lebih cepat lebih baik ya ngak pah? " Kata Mama Emely yang meminta saran kepada suaminya itu.


" Kita para lelaki ngikut ajah apa kata kalian. " Kata Papa Erlando yang juga di balas anggukan kepala oleh Papa Devan itu.


" Gimana nak Elyon setuju ngak? " Kata Mama Emely pada calon mantu nya itu.


" Terserah saja. " Balas Elyon dengan tampang datarnya itu.


" Bagus kalo gitu, tapi jangan panggil tante lagi yah, panggil ajah mama dan papa ajah. Kan sebentar lagi kami akan jadi mertua nak Elyon." Kata Mama Emely dengan bahagia yang di balas senyum tipis oleh Elyon itu.


" Ellena juga sama yah, panggil Tante Adelina dan Om Devan. Mama dan Papa, okay?" Tanya Mama Adelina sambil mengelus lembut pipi Ellena itu


" Ah, iyah Mama Adelina dan Papa Devan. " Balas Ellena dengan nada terlihat canggung itu.


" Nah gitu dong! " Kata Mama Adelina raut wajah penuh kebahagiaan itu.


Ellena yang di perlakukan seperti itu pun hanya tersenyum bahagia dan bersyukur karena Ellena akan mendapatkan calon mertua yang baik seperti Mama Adelina itu.


" Ya udah kalo gitu yuk kita diskusikan rencana pernikahannya." Kata Mama Adelina sambil melepas tangannya dari pipi calon menantunya itu.


" Yuk jeng. " Jawab Mama Emely itu.


" Mah, boleh ngak kasih waktu buat Elyon sama Ellena ngobrol berdua? " Kata Ellena pada Mamah nya itu.


" Boleh kok sayang, kamu ngobrol ajah sama Nak Elyon di taman belakang. " Kata Mama Emely pada anak perempuan nya itu.


" Iyah ma, makasih. " Jawab Ellena sambil tersenyum kecil itu.


" Ayo Elyon! " Ajak Ellena pada Elyon itu.


Elyon yang di ajak oleh Ellena pun hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah kaki Ellena berjalan itu.


Ellena pun Elyon pun pergi ke taman belakang rumah Ellena untuk mengobrol berdua, sedangkan Para Orang tua dan Ellen masih ada di ruang tamu untuk membahas tentang rencana pernikahan Elyon dan Ellena. Tetapi tidak dengan Ellen yang hanya duduk memainkan handphone nya dan menyimak apa yang di bicarakan oleh para orang tua itu.


" Semoga kalian bahagia dan ingatan kalian kembali." Batin Ellen sambil menatap ke arah Handphone nya yang terpampang foto dirinya bersama Sherly serta Elyon dan Ellena yang sedang tersenyum bahagia itu.

__ADS_1


Sebenarnya foto apa itu? Apakah Elyon termasuk dalam masa lalu Ellena?Ada hubungan apa antara Elyon dan Ellena di masa lalu? Dan pada akhirnya hanya takdir yang mampu menjawab semua itu.


BERSAMBUNG....


__ADS_2