
Keesokan harinya.
Di Rumah Elyon dan Ellena.
TOK... TOK... TOK...
Suara ketukan pintu itu.
Tiba - tiba terdengar suara ketukan pintu dengan keras di kamar Elyon dan Ellena itu.
Elyon dan Ellena yang masih tertidur karena kelelahan sehabis ritual mereka yang mereka akhiri pukul 3.45 tadi pun terbangun karena mendengar ketukan pintu yang sedikit keras itu.
" Hikss... Hikss... PAAA!!! " Kata Erren yang menangis sesegukan sambil mengetuk pintu kedua orang tuanya itu.
Saat Erren menginap di rumah Neneknya, dia pun langsung menangis saat mengetahui jika kamar Neneknya itu bukanlah kamar kedua orang tuanya itu.
Bahkan tangisan Erren pun semakin mengencang karena tak melihat Papanya di sisi ranjang itu.
Kakek dan Nenek nya pun mengecek keadaan cucu mereka yang suara tangisan hingga terdengar di lantai bawah itu.
Kemudian si kecil Erren pun meronta - ronta kepada Kakek dan Neneknya untuk mengantar kannya pulang itu.
Dan di sinilah Erren, di depan pintu kamar kedua orang tuanya dengan menangis keras sambil memanggil - manggil nama Papa nya dengan mengedor - gedor pintu kamar agar di buka itu.
Elyon dan Ellena pun terbangun karena suara tangisan sang anak yang berada di depan pintu kamar mereka itu.
" Aduhh gimana ini...? " Tanya Ellena yang bingung itu.
Ellena tak mau anaknya berpikiran tidak - tidak saat melihat kamar kedua orang tuanya yang berantakan, baju yang berserakan di mana - mana, guling dan bantal yang sudah tak berada di tempatnya, dan apalagi dengan Elyon dan Ellena yang masih telanjang bulat itu.
Elyon pun tampak santai dan beranjak dari kasur dan mengambil celana boxer nya yang tergeletak di bawah kasur karena pergulatan panasnya kemarin malam itu.
Ellena pun mencoba turun dari ranjang, tapi **** ********** sangat sakit hingga dia tak bisa berdiri karena pergulatan panas mereka itu.
Elyon yang peka dengan keadaan pun langsung menggendong sang istri ke kamar mandi itu.
" AAA!!! Kamu apa - apaan sih? " Tanya Ellena dengan gugup karena tiba - tiba Elyon menggendongnya itu.
" Aku gendong sampek kamar mandi... " Kata Elyon dengan santainya sambil berjalan ke arah kamar mandi mereka dengan istrinya yang berada di gendongan itu.
" Maluk... " Kata Ellena yang menelusup kepalanya di dada bidang milik suaminya itu.
Bagaimana Ellena tak malu, dia di gendong oleh Elyon dengan tubuh yang tak memakai sehelai benang pun.
" Buat apa malu? Aku udah liat semuanya" Bisik Elyon dengan suara beratnya dan tak lupa senyum smrik yang terpancar di bibir nya itu.
Setelah mengantarkan sang istri ke kamar mandi dan tak lupa membawakan pakaian istrinya ke dalam kamar mandi itu.
Elyon pun langsung memakai kaos yang berada di lemari pakaian dan langsung bergegas membuka pintu yang masih terdengar suara tangisan putra jagoannya itu.
Dan tak lupa membersihkan semua pakaian yang berserakan karena ulah nya itu.
CKLEK...
Suara pintu yang di buka.
Elyon pun melihat malaikat kecilnya yang terduduk di atas lantai dengan Isak tangisnya itu.
" Papa. Hiks... Hiks... " Kata Erren yang mendongak menatap Papanya itu.
Elyon pun langsung menggendong putranya dengan perasaan bersalah karena menitipkan sang putra ke orang tua istrinya itu.
Elyon tak mengira jika putranya akan menangis hingga seperti ini di saat tak melihatnya saat dia bangun itu.
" Papa... " Kata Erren yang mulai kembali menangis di dekapan Papanya itu.
" Maaf yah sayang, Papa tinggalin Erren di rumah Kakek sama Nenek... " Kata Elyon yang langsung membawa Erren ke dalam kamar nya itu.
Ellena yang sudah membersihkan dirinya dan memakai pakaian nya pun langsung keluar dari kamar mandi itu.
Erren yang melihat Mama menghampiri nya pun langsung meronta - ronta di gendongan sang Papa dan langsung berlari ke arah Sang Mama dengan tangisan itu.
" Mama. Hiks... Hiks... Hiks... " Kata Erren sambil memeluk kedua kaki Mamanya itu.
Ellena pun langsung menggendong sang anak yang pasti menangis karena tak melihat Papanya saat dia bangun itu.
" Cupp... Cupp. Erren kan anak baik jangan nangis lagi yah, Mama minta maaf oke... " Kata Ellena yang mencoba menenangkan sang putra sambil duduk di pinggir kasur di dekat Elyon itu.
" Papa ahat. Hiks... Hiks... " Kata Erren yang menunjukkan sang Papa tanpa menatapnya itu.
" Maafin Papa dong son... " Kata Elyon yang terkejut karena baru pertama kali Erren mengatakan dia jahat itu.
Ellena yang mengerti putranya sangat ketakutan saat tak mendapati Elyon di samping dan merasa asing di kamar orang tuanya pun hanya bisa menengkan putranya dengan mengelus punggungnya dengan lembut itu.
Sedangkan Elyon pun mencoba menatap wajah putranya tapi Erren selalu enggan untuk menatap sang Papa itu.
" Erren jagoan Papa. Jangan marah sama Papa yah? Papa janji ngak akan ninggalin Erren sendirian lagi. Papa bakal kasih apapun yang Erren mau, tapi jangan marah sama Papa yah? Jagoan Papa katanya sayang sama Papa... " Kata Elyon yang mencoba menengkan sang putra itu.
Erren pun masih memalingkan wajahnya dengan masih menangis di pelukan sang Mama itu.
__ADS_1
" Hufft. Sayang maafin Papa yah? " Kata Ellena yang membantu suaminya untuk meredakan kemarahan sang anak itu.
Tapi Erren pun menggelengkan kepalanya karena masih enggan memaafkan sang Papa itu.
" Hufft. Aku ngak bisa bantu, masih mau nitipin Erren sama Kakek dan Neneknya...? " Tanya Ellena yang tak habis pikir suaminya menitipkan sang putra, apalagi dengan posesifan sang anak yang tak bisa di pisahkan dengan Papanya itu.
" Ngak maaf. Kan aku ngak tahu kalau sampai kayak gini... " Kata Elyon yang menatap putranya dengan rasa bersalah itu.
Lalu tiba - tiba, Erren pun menatap Papanya dengan tajam sambil menghapus air matanya itu.
" Ata Nenek, Elen alus isa maapin Papa... " Kata Erren yang menatap Papa nya dengan wajah yang masih penuh air mata di itu.
" Tapi ada syalatna... " Lanjut Erren pada sang Papa itu.
Wajah Elyon pun langsung sumringah saat putranya akan memaafkannya, walau dengan syaratnya itu.
" Apa sayang? papa terima syarat apapun, yang penting Erren mau maafin Papa... " Kata Elyon dengan wajah sumringah nya itu.
" Elen au Papa. Kasih Elen kantol kayak milik Papa, ama mall yang kita datangin kemalin itu... " Kata Erren dengan entengnya pada sang Papa itu.
" Itu mah kecil little boss. Siap, asisten ini akan memenuhi syarat little boss Erren... " Kata Elyon sambil tangannya yang hormat kepada Erren itu.
Erren pun kegirangan sambil bertepuk tangan merasa bahagia karena keinginan yang sangat biasa menurutnya dapat di penuhi oleh sang Papa itu.
Sedangkan Ellena hanya bisa cengo dengan putranya yang sekalieminta syarat tak main - main itu.
Ellena juga sangat kesal karena dengan mudahnya Elyon mau memenuhi keinginan putra kecil jagoan mereka itu.
" Kamu gilak... " Bisik Ellena pada suaminya itu.
" Apa salahnya aku penuhi keinginan putra kita? Lebih baik aku miskin daripada jagoan aku marah dengan Papa nya... " Kata Elyon sambil mengelus rambut putranya dengan sayang itu.
Sesayang itukah Elyon kepada Erren? Hingga mau membelikan sebuah mall besar yang terkenal di ibu kota itu.
Bahkan dengan mudah nya dia memberikan perusahaan yang selama ini dia bangun sendiri dengan kerja kerasnya kepada putranya itu.
Sungguh kegundahan Ellena selama ini salah, dia tak perlu lagi khawatir jika suatu hari mereka memiliki seorang anak kandung. Elyon tak kan pernah membeda - beda kan mereka itu.
Lalu Elyon pun beranjak pergi mengambil handphone nya yang tergeletak di balas samping kasur kamar nya itu.
Elyon pun menelfon seseorang dan menyuruh bawahannya untuk memenuhi segala syarat yang di lontarkan sang little boss Erren itu.
" Sudah my boss. Sekarang Erren jangan marah lagi sama Papa... " Kata Elyon setelah mematikan sambungan telepon nya itu.
" Ote... " Kata Erren yang langsung memeluk Papanya itu.
Elyon yang bahagia karena putranya tak lagi marah padanya pun langsung menggendong nya dan memutar - mutarkan tubuh mungil jagoan nya itu.
" Udah - udah, sekarang kita ke bawah. Kita sarapan sekarang... " Kata Ellena yang menghentikan kegiatan ayah dan anak itu.
" Meluncurrrr... " Kata Elyon sambil berjalan cepat menuju lantai bawah dengan Erren yang tertawa dalam gendongannya itu.
Ellena yang di tinggal pun hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan senyum bahagia yang terpancar di bibir cantik nya itu.
Di lantai bawah.
Di ruang keluarga, terdapat kedua orang tua Ellena yang sedang memakan kue kering sambil menonton drama di televisi itu.
" Pagi ma... Pa... " Kata Elyon yang menggendong Erren pada kedua mertuanya itu.
" Too... " Balas mereka secara bersamaan itu.
" Pasti Mama kan yang meracuni anak Ellena, sampek mintak aneh - aneh... " Kata Ellena yang memang sudah mengerti tentang syarat Erren yang sangat luar biasa pasti karena hasutan dari Mamanya itu.
" Lena, ngak papa kok. No problem... " Balas Elyon yang mencoba membujuk Ellena agar tak kesel pada ibu mertuanya itu.
" Kamu sama ajah kayak Mama. Lyon, aku cuma ngak mau kalian terlalu memanjakan Erren. Aku takut nanti Erren malah jadi anak yang manja... " Kata Ellena yang takut akan masa depan Putranya nanti itu.
" Semua akan baik - baik ajah. Anak kamu itu jenius Ellena, untuk apa kau takuti hal itu. Dan tentang hal ini, Mama cuma bercanda kok, tapi semua aset yang Elyon punyak pada akhirnya juga akan jatuhpada Erren dan anak kamu nanti... " Kata Mama Emely dengan santainya itu.
" Mama mah ngak bisa ngerti in Ellena... " Kata Ellena yang mendudukkan bokong nya di sofa dekat Mamanya itu.
" Udahlah sayang apa yang kamu khawatir kan sih. Elyon pasti bakal kasih apa yang yang di inginkan Erren kan? Jadi untuk hal kecil ini, pasti Elyon sanggup kok. Benar kan nak Elyon? " Tanya Mama Emely pada menantunya itu.
" Bener kok mah. Lena, kamu ngak perlu khawatir, perusahaan memang pada akhirnya akan jatuh ke tangan Erren jugak kok... " Kata Elyon yang duduk di samping Ellena dengan Erren yang sedang menjilati hari tangan dalam gendongannya itu.
" Hufft. Terserah kalian, tapi kalau anak aku jadi manja. Karena hal ini, kalian harus tanggung jawab... " Kata Ellena yang sudah lelah berdebat dengan menantu dan ibu mertua yang bekerja sama itu.
Mama Emely dan Elyon pun tertawa kemenangan karena dapat mengalahkan Ellena dalam perdebatan kecil tentang mereka itu.
Ellena pun terfokus kepada Erren yang masih menjilati jari tangan dalam gendongan suami nya itu.
" Erren sayang, jangan di jilati dong jari tangan nak... " Kata Ellena yang menjauhkan tangan dari mulut putranya itu.
" Kayaknya, Erren mulai bisa makan nasi dehh... " Kata Mama Emely pada Ellena itu.
" Tapi gigi Erren masih belum lengkap Mah, Ellena juga heran kadang bayi udah memiliki gigi lengkap saat umur 6 - 9 bulan. Tapi Erren udah umur 1 tahun, kok belum punya gigi yang lengkap yah? " Kata Ellena yang sedikit bingung karena perkembangan fisik putranya yang lambat, dari pada perkembangan otak nya yang malah lebih cepat itu.
" Udah ngak khawatir, sebentar lagi gigi Erren juga lengkap kok... " Kata Ellena yang menenangkan putrinya yang cemas itu.
__ADS_1
Erren seperti paham dengan kecemasan Mamanya pun langsung menunjukkan deretan gigi kecil nya pada Mamanya itu.
" Tuhh lihat, gigi Erren udah tumbuh lagi. Jadi kamu ngak perlu khawatir... " Kata Mama Emely yang menunjuk pada Erren yang memperlihatkan deretan gigi kecilnya itu.
" Syukurlah kalau gitu, jadi sebentar lagi Erren bakal maka nasi. Horee... " Kata Ellena yang mengambil Erren dari gendongan suaminy itu.
" Hahaha... " Tawa Erren sambil bertepuk tangan karena melihat Mamanya tersenyum kembali itu.
Sedangkan Papa Erlando dan Elyon hanya menatap mereka dengan hati yang penuh kebahagiaan itu.
" Sekarang cucu Papa udah genap berumur satu tahun. Hari ini kita akan rayain ulang tahun Erren di hotel milik Papa, yang dulu pernah kalian jadikan tempat resepsi pernikahan kalian... " Kata Papa Erlando pada mereka itu.
" Makasih Pah... " Kata Ellena yang sangat bersyukur jika keluarga nya sangat menyayangi putranya dengan tulus, walaupun bukan cucu kandung mereka itu.
" Papa ngak pernah beda in Erren. Walaupun darah Erren tak mengalir keluarga Carion Anggara. Tapi Erren tetap cucu kesayangan Papa... " Kata Papa Erlando dengan penuh ketulusan itu.
Setelah perbincangan kecil tentang ulang tahun Erren, mereka pun sarapan bersama dengan penuh kebahagiaan itu.
Setelah itu, Elyon pun berangkat ke kantor bersama dengan sang Ayah mertuanya itu.
Sedangkan Ellena tak pergi ke kampus karena hari liburnya sama seperti Elyon itu.
Hari ini dia akan menyelesaikan tugas dari dosennya, lalu kemudian akan menghabiskan waktu dengan putra yang sedang bermain bersama Mama Emely yang akan menghampiri hari ini untuk bermain bersama Ellena juga cucunya itu.
Di siang hari.
Di kamar Elyon dan Ellena.
Ellena yang sudah mengerjakan tugas - tugas dari dosennya pun langsung meregangkan kedua tangannya yang pegal sehabis mengerjakan tugasnya selama tiga jam di dalam kamarnya itu.
Kemudian Ellena pun merapikan buku - bukunya dan berjalan menuju lantai bawah untuk menyiapkan makan siang itu.
Di ruang keluarga.
Erren sedang bermain sendirian di karpet bulu dengan di awasi oleh Bik Inah yang duduk di samping anak majikan nya itu.
" Bik Mama mana? " Tanya Ellena yang berjalan menuju putranya itu.
" Di dapur Nona Muda... " Kata Bik Inah sambil menoleh ke arah Ellena itu.
Ellena pun langsung menggendong Putra dengan hidungnya yang di gesek - gesekkan di perut bulat putranya itu.
" Rindu banget sama Erren " Kata Ellena karena hanya bisa bermain sebentar dengan Erren tadi pagi, kemudian mengerjakan tugas - tugasnya yang menumpuk hingga Erren hanya bisa bermain dengan Neneknya itu.
" Mah ain... " Kata Erren yang mengajak Erren bermain itu.
" Nanti yah, Mama harus buat makan siang sama Nenek... " Balas Ellena yang mencoba menolak dengan lembut permintaan putranya itu.
Erren yang mengerti ucapan Mamanya pun langsung menatap sendu Ellena, dengan mata yang berkaca - kaca dan bibir yang melengkung ke bawah itu.
" Haaaa... Ama ahat. Haaaa... " Kata Erren yang mulai menangis kencang itu.
Ellena dan Vik Inah pun di buat kelimpungan karena tangisan Erren, dengan sigap Ellena pun langsung mencoba menenangkan putra yang masih dalam gendongannya itu.
" Cup... Cup... Cup. Jangan nangis jagoan Mama, nanti Mama janji main sama Erren lagi setelah buat akan makan siang, yah... " Kata Ellena yang mencoba memberikan pengertian pada anaknya nya itu.
" Ada apa ini? " Tanya Mama Emely yang berjalan dari arah dapur dan menghampiri Ellena yang masih mencoba menenangkan Erren dalam gendongannya itu.
Bik Inah pun langsung berjalan menuju dapur untuk melanjutkan memasak makan siang, serta memberikan ruang untuk ibu dan anak itu.
" Ini lho mah, Erren ngak mau di tinggal. Tadi niatnya Ellena mau bantu Mama masak, tapi Erren malah nangis karena ngak mau tinggal... " Jelas Ellena sambil mengelus punggung putranya yang masih menangis dalam dekapan nya itu.
" Ohh cuma gitu toh... " Kata Mama Emely yang mulai tenang karena cemas tadi itu.
" Udah ngak perlu bantu Mama, makan siang biar Mama dan Bik Inah yang siapkan. Kamu jaga cucu Mama ajah, kasian tuh kamu tinggal sejak pagi tadi. Masaka mau kamu tinggal lagi... " Kata Mama Emely pada Ellena itu.
" Hufft. Ya udah dehh, Mah... " Kata Ellena yang pasrah pada perkataan Mamanya itu.
Mama Emely pun berjalan kembali ke dapur, meninggalkan Ellena yang sedang menenangkan Erren itu.
" Ya udah kita main yuk... " Ajak Ellena pada putranya agar tak menangis kembali itu.
" Ndak au... " Kata Erren dengan sesegukan itu.
" Terus Erren maunya apa? " Tanya Ellena yang mencoba sabar kepada putranya yang mulai meminta aneh - aneh itu.
" Ke antol Apa... " Balas Erren dengan masih sedikit sesegukan akibat menangis tadi itu.
" Ya udah, kita makan siang ke kantor Papa yah? Tapi Erren ngak boleh nangis lagi. Oke? " Tanya Ellena sambil menghapus jejak air mata di pipi putranya itu.
" Ote... " Balas Erren yang mulai tersenyum kecil itu.
" Nah gitu dong, senyum kan Erren jadi tambah ganteng. Ya udah Mama pergi siapin makan siang dulu buat kita kasih ke Papa di kantor. Oke boy? " Kata Ellena yang membujuk putranya agar dia bisa membantu Mamanya untuk menyiapkan makan siang itu.
Erren pun hanya menganggukkan sedikit kepalanya dengan fokus ke arah mobil - mobilnya yang baru kemarin lalu di belikan oleh Papanya itu.
Ellena pun mulai berjalan ke arah dapur, dan tak lupa menyuruh salah satu pelayan yang lewat untuk mengawasi Erren saat bermain itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan lupa like, comment, vote, follow, and share. Yahh...😊💜
Annyeong...👋👋👋