Perjalanan Cinta Di Campus Galaksi

Perjalanan Cinta Di Campus Galaksi
Episode 83


__ADS_3

Acara ulang tahun Erren pun telah usai. Sekarang para tamu pun juga sudah mulai berhamburan untuk pulang kerumah masing - masing, karena hari yang sudah tengah malam itu.


Sedangkan si tokoh utama dalam acara tersebut, malah sudah tidur di gendongan sang Papa tercinta sejak beberapa jam yang lalu itu.


" Ya udah Na. Kita pulang dulu yah, udah capek... " Pamit Ellina yang mewakili teman - temannya yang juga akan pulang itu.


" Oke thanks, udah mau dateng... " Kata Ellena pada mereka itu.


" No problem. Jangan lupa hadiah dari kita di buka, oke? " Kata Kanaya pada Ellena itu.


" It's okay. Bahkan hadiah Anniversary gw dari kalian ajah belum gw bukak... " Balas Ellena pada Kanaya itu.


" Hmm. Kita pamit dulu yah, jaga keponakan Kakak dengan baik... " Kata Sherly sambil mengelus lembut rambut milik Erren yang tertidur di gendongan Papanya itu.


" Assalamualaikum... " Kata mereka setelah berpamitan pada Elyon dan Elyon itu.


" Wa'alaikumsalam. Hati - hati kalian... " Kata Ellena lagi sambil melambaikan tangan nya kepada teman - temannya itu.


" Terus kita langsung pulang? " Tanya Ellena pada Elyon itu.


" Kata Papa sama Mama. Kita tinggal di hotel dulu, kasian Erren pasti udah capek..." Kata Elyon sambil mengelus rambut putranya yang masih tertidur lelap di gendongan nya itu.


" Hmm. Ya udah? " Balas Ellena yang mengangguk mengerti itu.


" Terus Orang tua kita ke mana, kok habis acar selesai aku ngak lihat? " Tanya Ellena sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari orang tua nya dan juga suaminya itu.


" Mereka udah pulang dulu? " Balas Elyon lagi itu.


" Ohh. Ya udah kita langsung ke hotel ajah. Kasian Erren... " Kata Ellena pada Elyon itu.


Elyon pun hanya berdehem untuk membalas perkataan Ellena. Lalu mereka pun mulai berjalan meninggalkan gedung dan pergi ke Gending hotel yang berada tepat di sebelah gedung acara ulang tahun putra mereka itu.


Di Kamar Hotel.


Elyon pun langsung meletakkan tubuh mungil Erren dia atas kasur agar tak menganggu tidur nyenyak balita itu.


Sedangkan Ellena sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa baju yang sudah bodyguard Elyon suruh untuk mengambil pakaian mereka itu.


Setelah Ellena mandi dan juga sudah rapi mengenakan baju tidurnya, Elyon pun bergegas memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah lengket karena keringat itu.


Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi pun terbuka dan Ellena yang sedang menepuk - nepuk bokong putranya pun langsung mengalihkan atensi pandangan nya ke arah pintu kamar mandi itu.


Pintu kamar mandi pun terbuka, dan terpampang lah Elyon yang hanya mengenakan handuk sepinggang untuk menutupi aset berharganya itu.


CKLEK...


Ellena yang melihatnya pun berusaha meneguk ludahnya dengan susah, serta jantung yang sudah mulai berdisko itu.


Apakah Elena terpesona? PASTILAH!!! Bagaimana tidak terpesona, dengan santainya Elyon memperlihatkan perutnya yang sixpack dan juga rambut nya yang basah. Jangan lupakan tetesan air yang jatuh dan mengalir di sekitar lehernya yang menonjol kan jakun itu.


Beberapa detik, Ellena tak bergeming menatap Elyon dengan mata yang kagum pada suaminya itu.


Elyon yang menyadari kelakuan istrinya pun hanya acuh dan mulai berjalan ke arah lemari untuk mengambil bajunya itu.


" Hkhmm... " Suara Ellena yang sudah tersadar dari rasa kagumnya pada suaminya sendiri itu.


" Kenapa? Terpesona? " Tanya Elyon yang dengan santainya melepas handuk di pinggangnya untuk berganti pakaian itu.


Ellena yang melihatnya pun langsung menoleh dengan tatapan yang melot dan bibir yang sudah berkomat - Kamit menyumpah serapahi suaminya yang tak tahu malu. Dan jangan lupakan wajahnya yang sudah merah padam karena malu atas kelakuan suaminya itu.


" Elyon! Bisa ngak sih, ganti baju di kamar mandi? Dasar mesum " Kata Ellena dengan suara yang sedikit keras, agar tak mengganggu tidur putranya itu.


" Otak kamu yang mesum. Buat apa kamu malu, udah lihat sumanya kan... " Kata Elyon yang sudah rapi dengan baju santainya dan mulai berjalan menuju istrinya yang berbaring di samping Erren yang sudah terlelap itu.


" Bahkan sampek dalam - dalamnya... " Bisik Elyon tepat di telinga kiri istrinya, dan jangan lupa senyum menyeringai yang terukir indah di bibir Elyon itu.


Ellena yang mendengar nya pun mendadak merasakan sensasi merinding di tubuhnya dan jantung nya pun berdisko lebih cepat dari pada beberapa saat lalu itu


" Ihh. El-lyon jangan bercanda deh, ini udah malem. Nanti Erren bangun ka-kamu yang tanggung jawab... " Kata Ellena yang mencoba berkata santai untuk menutupi jantung nya yang sejak tadi sudah berdisko itu.


" Haha. Bercanda, pipinya jadi sampek merah padam gituh. Kebanyakan blasson..." Kata Elyon yang sudah berbaring di samping Erren yang berada di tengah - tengah nya itu.


" Ngak usah mulai dehh... " Kata Ellena yang langsung menatap tajam ke arah suaminya itu.


" Oke. Udah malem tidur, good night... " Kata Elyon yang kemudian mencium kening istrinya dan juga anak nya itu.


CUP...


CUP...


" Good night jagoan Papa... " Bisik Elyon tepat di telinga putranya yang sudah tertidur dengan lelap itu.


Hal itu pun membuat Erren sedikit terusik dalam tidurnya dan dengan sigap Elyon pun menepuk - nepuk pelan bokong putranya untuk menabgkan kembali putranya yang terusik karena ulahnya itu.


" Tidur lagi yang anak Papa... " Kata Elyon sambil menepuk - nepuk bokong putranya itu.

__ADS_1


Ellena pun hanya tersenyum kecil menatap interaksi Ayah dan Anak, Ellena bersyukur Elyon menyayangi Erren dengan penuh kasih sayang yang tulus. Dulu Ellena pernh khawatir jika Elyon tak akan menerima keberadaan Erren yang notabenya adalah anak adopsi mereka itu.


Tapi sekarang Ellena tak perlu khawatir lagi, karena hal itu tak akan terjadi. Saat Ellena memantau interaksi Ayah dan Anaknya itu selama setahun penuh ini. Elyon tak pernah berbuat kasar kepada ank mereka. Bahkan Elyon tanpa ragu memberikan perusahaan untuk Erren tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan itu.


Beberapa menit kemudian, keluarga kecil itu pun telah tertidur nyenyak dengan damai tanpa memikirkan apa yang akan terjadi keesokan harinya itu.


Keesokan harinya.


Elyon dan Ellena tengah berada di kampus mereka, setelah mengantarkan Erren ke kediaman Kakek Devan dan Nenek Adelina tadi. Karena sepasang paruh baya tersebut yang sudah sangat rindu dengan cucu kesayangan mereka, padahal mereka baru saja bertemu saat acara ulang tahun Erren kemarin malam itu.


" Hai semua, selamat pagi " Sapa Kanaya kepada penghuni kelas nya sambil memasuki kelasnya itu.


" PAGI!!! " Balas semua penghuni kelas tersebut, terkecuali Elyon yang tetap fokus membaca buku nya itu.


" Hai Ellena, seneng banget hari ini? " Tanya Kanaya sambil duduk di bangkunya itu.


" Biasa ajah tuh... " Balas Ellena santai sambil membaca buku di depannya itu.


" Gimana rasanya? " Tanya Kanaya lagi dengan salah satu alisnya yang terangkat itu.


" Apanya??? " Tanya balik Ellena yang kebingungan menatap wajah Kanaya itu.


" Ish. Itu lho, unboxing nya... " Kata Kanaya dengan wajah yang kesal itu.


Sedetik kemudian, pukulan keras pun mendarat di lengan Kanaya dan sedanng kan pelakunya malah menatap Kanaya dengan tatapan sengit itu.


PLAK...


Suara pukulan tangan itu.


" Ihh. Kok malah di pukul sihh? " Kata Kanaya dengan wajah yang kesakitan sambil mengelus - elus lengan nya yang terkena pukulan maut dari Ellena itu.


" Emang gw pikiran? Ya ngak lah! " Kata Ellena dengan wajah tanpa dosa serta PD nya tingkat dewa itu.


" Ihh. Kalau Lo marah, berarti mantab dong rasanya... " Kata Kanaya dengan senyum menggodanya itu.


" Mulut Lo! " Kata Ellena dengan tangan yang ancang - ancanga kan memukul Kanaya kembali itu.


" Ehh. Ampun suhu! Cukup! Pukulan Lo itu kayak di pukul pakek besi paling berat di dunia. Tau ngak? " Kata Kanya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan nya agar terhindar dari pukulan maut dari Ellena untuk kedua kalinya itu.


" Sialan. Ngak usah LEBAY deh... " Kata Ellena yang memutar bola matanya dengan malas sambil menekan kata ' Lebay ' itu.


" Emang pakta kalik! " Kata Kanaya dengan nada tegas itu.


" Enak ajah Lo. Kalau gw ikut fakultas sastra, terus siapa yang mau nerusin perusahaan bokap gw. Babang! " Kata Kanaya yang tak terima itu.


" Gw mah bodoamat. Tapi inget, nama gw Ellena bukan BAMBANG. Mohon maaf beda jauh yah! " Kata Ellena dan tak lupa menekan kata ' Bambang ' itu.


" TERSERAH LO! Mumet yah debat sama Lo, ngak berfaedah dan ngak ada ujungnya... " Kata Kanaya yang langsung memalingkan wajahnya dari hadapan Ellena dengan perasaan amat kesal pada perempuan itu.


" Emang gw pikirin... " Kata Ellena dengan nada santainya itu.


Sedangkan Elyon sejak tadi hanya diam fokus membaca bukunya dan tak sedikit pun memperdulikan perdebatan non faedah istri nya dengan temannya itu.


Beberapa menit kemudian, Ellena pun nampak mencari tugas makalahnya yang dia kerjakan beberapa hari yang lalu dan tak lupa dengan bantuan dari Elyon itu.


" Ish. Kok ngak ada... " Kata Ellena sambil tangannya yang sibuk mengobrak - Abrik tas miliknya itu.


Ellena kemudian pun monoleh ke arah bangku Elyon, yang si pemilik bangku tersebut nampak masih fokus dengan buku di hadapan nya itu.


" Lyon! Kamu tau makalah aku ngak? " Tanya Ellena kepada Elyon itu.


" Di loker... " Balas Elyon dengan singkat tanpa menoleh sedikit pun kepada Ellena itu.


" Ohh iyah. Kok gw bisa lupa sih... " Kata Ellena yang menepuk jidatnya sambil merutuki dirinya yang pelupa itu.


Tanpa babibu, Ellena pun langsung berjalan keluar kelas untuk pergi ke tempat loker itu.


Setelah itu, Ellena pun langsung memasukkan kunci dan membuka pintu lokernya untuk mencari tugas makalah yang sedari tadi dia cari itu.


CKLEK...


Suara pintu loker yang terbuka itu.


" Yosh. Ketemu... " Kata Ellena yang kegirangan dan kemudian mengeluarkan tugas makalahnya dari dalam loker itu.


Alis Ellena pun terangkat saat pandangan nya menatap setangkai bunga matahari di dalam lokernya itu.


" Ini punya siapa? " Batin Ellena kebingungan saat terdapat setangkai bunga Matahari di dalam loker itu.


Ellena yang kebingungan pun mengambil bunga tersebut dan membuka sepucuk kertas yang tertempel di tangkai bunga itu.


Ellena yang penuh akan rasa penasaran di dalam hatinya pun mulai membaca sepucuk kertas tersebut itu.


Bunga Matahari itu istimewa, karena dia akan selalu mengikuti arah cahaya matahari bersinar saat di pagi hari :)

__ADS_1


By : Nata 💛.


" Apaan sih? Ngak jelas! Pasti cuma orang iseng nihh... " Kata Ellena yang menatap aneh pada tulisan di sepucuk kertas tersebut setelah membacanya itu.


Kemudian dengan tanpa dosa, Ellena pun langsung membuang setangkai bunga matahari tersebut ke dalam tong sampah itu.


" Gw benci, cowok yang cuma modal quotes.. " Kata Ellena yang memang sangat anti akan quotes - quotes omong kosong, apalagi qoutes para buaya darat itu.


Di sisi lain.


Tanpa di sadar, terdapat seseorang yang sejak tadi melihat gerak - gerik Ellena dari kejauhan itu.


" Huh. Ini baru awal... " Kata Orang tersebut dan kemudian berjalan pergi dari tempat persembunyiannya itu.


Di kelas Ellena.


Ellena pun duduk di bangkunya kembali dan tanpa sadar bel pun berbunyi. Tak berapa lama kemudian, Bu Rika selaku dosen di kelas tersebut pun masuk dan memulai pembelajaran untuk hari ini itu.


Waktu pun berjalan dengan cepat, lalu bel istirahat pun berbunyi itu.


TRING... TRING... TRING...


Suara bel yang menandakan waktu istirahat telah tiba itu.


Para penghuni di kelas Ellena pun mulai berhamburan menuju kantin di Campus Galaksi untuk memberi makan cacing - cacing di perut mereka yang sudah berdemo minta di beri makan itu.


Begitu juga dengan Elyon, Ellena, dan juga Kanaya yang berjalan bersama menuju kantin itu.


Saat Kanaya keluar dari kelasnya tanpa sadar pandangan nya pun menatap ke arah tong sampah di samping pintu kelas itu.


Wajah Kanaya pun berubah menjadi terkejut saat melihat setangkai bunga matahari yang di buang ke dalam tong sampah itu.


Kanya pun reflek berjalan menuju tong sampah tersebut, dan mengambil setangkai bunga matahari itu.


" Kenapa? " Tanya Ellena yang memang sedari tadi melihat gerak - gerik Kanaya, begitu juga dengan Elyon itu.


" Ini kok ada bunga matahari? Dari mana asal bunga ini? " Tanya Kanaya dengan bingung dan matanya pun menatap sepucuk kertas yang sudah di remas menjadi bola kecil dengan sigap dia pun mengambilnya itu.


Memang setelah membaca sepucuk kertas tersebut dengan wajah sedikit malas Ellena pun langsung meremas kertas tersebut dan membuangnya, beserta dengan setangkai bunga matahari itu.


" Ohh. Itu dari fans gw mungkin. Tadi gw nemuin itu di loket gw, jadi yah gw buang ajah. Gw juga ngak suka bunga matahari... " Kata Ellena yang menjawab kebingungan Kanaya itu.


" ****! " Gumam Kanaya setelah membaca sepucuk kertas yang sudah lusuh itu.


" Emang kenapa" Tanya Ellena pada Kanaya dengan raut wajahnya yang penasaran itu.


" N-ngak. Ngak papa, cumak aneh ajah, kok ada bunga matahari di dalem tong sampah... " Kata Kanaya yang kemudian memasukkan kembali setangkai bunga matahari juga sepucuk kertas tersebut ke dalam tong sampah itu.


" Ohh. Ya udah, yok ke kantin gw udah laper nih... " Kata Ellena yang langsung menarik tangan Kanaya dan berjalan berdampingan ke arah kantin di Campus Galaksi itu.


Elyon yang sedari tadi diam pun mulai melamjn sambil menatap penuh arti setangkai bunga matahari di dalam tong sampah tersebut itu.


Kemudian dia pun menyadarkan lamunannya dan langsung berjalan mengikuti langkah kaki Ellena yang mulai berjalan jauh itu.


" Apa maksudnya? " Batin Elyon yang bertanya - tanya itu.


" Sepertinya dia mulai ingin bertindak... " Batin Kanaya yang sedang menerka - mereka dalam pikiran nya itu.


Di kantin.


Ellena pun di buat terkejut saat melihat Luwis duduk di bangku kantin bergabung bersama dengan teman - temannya, serta Kakak laki - lakinya itu.


" Kok Lo ada di sini? " Tanya Ellena pada Luwis sambil bergabung dengan yang lainnya itu.


" Hai. Kayaknya ini pertemuan ketiga kita... " Kata Luwis dengan senyum yang mengembang di bibirnya itu.


" Ohh... " Kata Ellena yang hanya beroh-ria itu.


" Mulai sekarang Luwis bakal jadi teman kita dan satu kampus sama kita. Mulai hari ini... " Kata Kanaya yang membalas pertanyaan Ellena itu.


" Dia satu fakultas sama kita sama satu kelas sama Argara... " Kata Gerio yang menambahi sambil memaka baksonya itu.


" Ohh... " Kata Ellena yang beroh-ria kembali sambil menganggukan kepalanya paham itu.


" Ini kesempatan yang baik untuk terus deket sama Lo... " Batin seseorang yang sekarang sedang menatap Ellena dengan penuh arti itu.


Hal itu pun tak luput dari pandangan Kanaya yang sedari tadi menatap gerak - geriknya itu.


" Gw ngak akan biarin Lo macem - macem sama temen gw... " Batin Kanaya dengan tatapan tajam yang dia pancarkan untuk seseorang yang sejak tadi dia tatap itu.


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like, comment, vote, follow, and share. Yahh...😊💜


Annyeong...👋👋👋

__ADS_1


__ADS_2