
Di Kamar Elyon dan Ellena.
Sekarang Erren sedang mengeliar bangun dari tidur nyenyak nya, sedikit demi sedikit Erren pun membuka matanya dan Erren pun terduduk dengan tatapan mata yang kosong untuk mengumpulkan nyawa itu.
Setelah mengumpulkan nya, Erren pun menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari Papanya itu.
Memang sudah menjadi kebiasaan untuk seorang Erren Aghanta Gorneo Aditiya untuk selalu menatap wajah sang Papa setiap bangun tidur itu.
Kemudian si kecil Erren pun menjauhkan guling yang berada di sisi kanan dan kirinya agar saat tidur dia tak terjatuh itu.
Dengan perlahan Erren pun menuruni kasur milik Papa dan Mama dengan hati - hati karena kaki kasus yang tinggi itu.
Setelah berhasil turun dari kasur, Erren pun tanpa sengaja menatap tumpukan baju sang Papa dan Mamamnya yang tertata rapi di atas pinggir kanan kasur itu.
Lalu Erren pun berjalan kecil menuju tumoykan baju tersebut. Kemudian Erren kecil pun tersenyum lucu karena terdapat ide konyol yang bersarang di otak kecil nan polosnya itu.
Erren pun mengambil daster sang Mama di atas tumpukan baju tersebut dan berusaha memakainya ke tubuh mungil kecilnya itu.
Setelah berhasil memakai nya, alhasil tubuh Erren pun tertutup daster besar milik sang Mama dan hanya memperlihatkan kepalanya saja itu.
Erren berjalan menuju kaca untuk menatap diri yang memakai daster kebesaran Milik Mamanya itu.
Erren pun tertawa kecil yang melihat tubuh mungilnya tertutup daster kebesaran Milik sang Mama itu.
" Hhihi... Antu... " Kata Erren yang berpura - pura menjadi hantu dengan tangannya yang tak terlihat karwna tertutup daster kebesaran milik sang Mama itu.
Lalu Erren pun berlari kecil keluar dari kamar sang Papa dan Mamanya dan tak sabar menperlihatkan dirinya yang memakai baju daster kebesaran milik sang Mama itu.
Dengan langkah kecil Erren pun memasuki lift untuk turun ke lantai satu itu.
Erren dengan pengetahuan yang di berikan Papanya yang pernah mengajarkan nya untuk menaiki lift, pun Erren praktik kan. Karena Elyon ingin Erren bisa memakai lift sendiri, jika sewaktu - waktu putranya mencarinya ke lantai satu itu.
Erren selalu di beri peringatan untuk tidak menaiki atau menuruni tangga dan mengajarinya untuk selaku menggunakan lift setiap menuju ke lantai satu itu.
Erren pun menaiki tangga kecil yang berada di dekat tombol di dalam lift, Erren pun berusaha untuk menggapai angka satu untuk menekan nya agar lift bergerak turun itu.
Setelah berhasil, Erren kecil pun menunggu hingga pintu lift terbuka sendiri itu.
Setelah pintu lift terbuka, Erren pun berlari kecil sambil berurasa mengangkat daster kebesaran yang dia pakai agar tak terjatuh saat berlari itu.
Kemudian Erren pun berjalan mencari orang tuanya yang ternyata sedang duduk bersantai di ruang keluarga dengan Papa yang masih mengejarkan pekerjaan kantornya yang masih menumpuk itu.
" MAMA!!! " Teriak Erren yang berusaha berlari ke arah orang ruanya, hingga hampir terjatuh karena menginjak daster kebesaran milik sang Mama itu.
Elyon dan Ellena yang mendengar suara teriakan putra mereka pun langsung menoleh ke arah sumber suara itu.
" ERREN!!! " Kata mereka dengan kaget karena melihat anaknya berlari dengan memakai baju yang kebesaran sambil tertawa kecil dengan penuh polosnya itu.
Elyon pun langsung menutup laptopnya dan menyingkirkan nya dari pangkuannya itu.
HAP...
Elyon pun menangkap tubuh mungil Erren yang jatuh dalam pelukannya itu.
" Anak Papa mulai nakal yah? " Tanya Elyon yang sudah pasrah dengan semua tingkah ajaib yang di lakukan putranya yang masih berusia akan menginjak 1 tahun itu.
Elyon akui, di umur Erren seharusnya belum mengerti apapun, tetapi sudah bisa mengerti dan berbeda dengan anak - anak seumurannya membuat hati Elyon menjadi khawatir itu.
Karena takut jika putranya suatu saat akan di manfaatkan oleh para musuhnya karena kelebihan yang di miliki putranya itu.
" Erren, kenapa lari - lari sih? Nanti jatuh gimana, terus ini kenapa pakai baju milik Mama... " Kata Ellena yang mulai mengomeli tingkah ajaib putranya itu.
" Elen... Adi... Antu... " Kata Erren sambil bersuara seperti kartun hantu yang selalu dia tonton di televisi itu.
" Hufft, tapi ngak gini juga sayang nya Mama. Terus Erren turunnya gimana tadi? Apa sama Nenek Inah? " Kata Ellena yang mulai khawatir dengan sikap Erren yang mulai tak wajar di umurnya yang masih sangat bayi itu.
" Ulun Dili... Akek lip... " Balas Erren sambil menggerak - gerakkan tangan yang tertutup baju milik sang Mama itu.
" Hufft. Lyon urus anak kamu nih... Udah mulai ngak wajah kelakuan nya... " Kata Ellena yang memijat kepalanya pening karena tingkah ajaib Putranya kesayangan itu.
Elyon yang tahu dengan sikap Ellena yang mulai khawatir dengan semua tingkah Erren pun langsung menatap putranya dengan lembut itu.
" Erren, terlepas dulu bajunya. Ini kebesaran buat Erren, nanti di marahin Mama lho " Kata Elyon dengan lembut untuk membujuk putranya agar mau melepas daster milik istrinya itu.
" Ndak au. Elen... Au... adi... Antu... " Kata Erren yang langsung menyembunyikan kepala di dada sang Papa itu.
" Hufft... Jagoan Papa. Nutur yah sama papa, Erren yang boleh nakal? " Kata Elyon yang masih berusaha untuk bersabar dengan tingkah Erren yang masih belum mengerti apapun itu.
" Ndak au... Papa... Ahat... " Kata Erren yang mulai menangis sambil memeluk Papanya itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengarlah suara isakan kecil Erren yang mulai menangis itu.
" Cup... Cup... Cup... Jagoan Papa kok nangis sih. Ya sudah kalau ngak mau di lepas bajunya ngak papa... " Kata Elyon dengan sabar sambil mengelus punggung putranya untuk menentukan putranya yang mulai menangis itu.
" Hiks... Papa ahat... Hikss... " Kata Erren di tengah - tengah isakan nya itu.
Ellena pun mulai turun tangan membantu sang suami untuk menangkan putranya itu.
" Sayang jangan nangis dong. Mam marah nih sama Erren... " Kata Ellena sambil mengelus rambut putranya itu.
Lalu Erren pun menatap Mama dengan wajahnya yang sudah berlinang air mata itu.
" Mama... Ngan... Alah... " Kata Erren yang tak ingin Mamanya marah padanya itu.
" Kalau ngak mau Mama marah. Jangan nangis, Mama ngak suka jagoan Mama nangis. Nanti ganteng nya ilang lho... " Kata Ellena sambil menghapus air mata sang anak yang mengalir di pipi gembul sang anak itu.
" Elen anteng. Ndak nangis Agi... Ma endong... " Kata Erren yang mengulurkan kedua tangannya untuk meminta gendong sang Mama itu.
" Iyah sini - sini Mama gendong... " Kata Ellena sambil mengambil alih tubuh mungil putranya dari tangan suaminya itu.
Elyon pun bisa menatap intiraksi dari kedua orang yang berarti dalam hidupnya itu.
" Lyon jamin bakal jagain kalian. Bahakan nyawa taruhannya... " Batin Elyon sambil menatap sayang Ellena yang sedang mengelus punggung putra mereka untuk menangkan Erren yang masih terisak kecil itu.
" Utututu... Kasian anak Mama. Capek yah nangis terus. Hmm? " Kata Ellena pada Erren itu.
" Pala elen... Using.. " Kata Erren yang merasa kepala berdenyut karena terlalu lama menangis itu.
" Utututu.... Kasian anak Mama... " Kata Ellena yang kasihan pada putranya itu
Kmudian Ellena pun memijat pelan kepala putranya yang Eren bilang terasa sedikit sakit karena terlalu menangis tadi itu.
" Jagoan Papa. Jangan nangis, katanya udah besar masak masih nangis. Dasar cengeng... " Kata Elyon yang sedikit menggoda putranya agar berhenti menangis itu.
" Elen Ndak engeng... " Kata Erren yang langsung menoleh sambil menatap Papanya dengan raut wajah kesal karena tak terima di katai oleh sang Papa itu.
" Hahaha... Kalau ngak cengeng, jangan nangis terus. Nanti papa ngak beli in Erren boneka hantu lho... " Kata Elyon sambil mengelus kepala sang anaknya dengan sayang itu.
Erren yang di goda sang Papa dengan boneka hantu pun langsung menatap binar sang Papa itu.
" Elen au oneka antu... " Kata Erren dengan penuh semangat itu.
" Kalau mau Ellen harus lepas dulu bajunya..." Bujuk Elyon pada sang putra itu.
Lalu Erren pun mengangguk setuju dan mencoba melepaskan baju yang dia pakai dengan bantuan Papa dan mamanya itu.
" Ayo Pa. Eli... Sekalang... " Kata Erren yang mengulurkan kedua tangannya kearah Elyon itu.
" Oke Let's Goo... " Kata Elyon yang langsung menggendong sang anak itu.
" Lena aku izin keluar... " Kata Elyon sambil berjalan cepat untuk keluar dari rumah itu.
" Iyah, tapi jangan sampek malem... " Kata Ellena yang memperingatkan Elyon agar tak oualbg sampai malam, karena memang hari yang sudah menjelang sore itu.
" Iyah, nanti jam enam kamu siap - siap aku mau ajak kamu makan malem di luar buat rata in hari Anniversary kita... " Kata Elyon yang meninggikan suaranya agar terdengar oleh istrinya, karena Elyon yang sudah menjauh dari hadapan Ellena itu.
" Dasar kasih surprise bilang - bilang... " Gumam Ellena yang sedikit menggelengkan kepalanya itu.
Kemudian Ellena pun berjalan menuju kamarnya untuk mempersiapkan baju yang akan dia kenakan untuk makan malam bersama dengan Elyon nanti itu.
Pukul 07.05
Ellena yang sudah siap dengan dress berwarna merah marun nya, pun sekarang sedang menunggu suami dan anaknya dengan cemas sambil duduk di kursi teras rumahnya itu.
" Elyon mana sih kok lama banget...? " Kata Ellena yang terus mencoba untuk menelfon suaminya yang tak bisa di hubungi itu.
DRET... DRET...
Suara telfon yang masuk itu.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara telfon yang masuk di handphone Ellena itu.
Ellena pun mengangkat bingung telfon dari kakaknya yang tak seperti biasanya menelfon dirinya malem seperti itu.
Ellena : Hallo ada apa kak?
Ellen : Elyon kecelakaan.
Ellena yang mendengra dua kata dari Kakaknya pun membuatnya langsung menutup mulutnya tak percaya dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya itu.
__ADS_1
Ellen. : Ellena... Ellena. Lo ngak papa kan?
Cepetan kerumah sakit, Elyon dan
Erren butuh Lo?
Kemudian telfon tersebut pun terputus dan meninggal pesan yang berupa alamat yang di kirim Ellen itu.
" Ini ngak mungkin, ngak mungkin... " Batin Ellena yang masih tak percaya jika suami dan putranya mengalami kecelakaan itu.
Kemudian pikiran Ellena pun melayang di saat anniversary ke 3 pacaran mereka yang membuat Elyon dan Ellena harus berpisah untuk kurun waktu cukup lama itu.
" Ngak aku ngak akan biarin ini semua terjadi... " Kata Ellena sambil mengusap kasar jejak air mata di pipi cantik nya itu.
Kemudian Ellena pun langsung berjalan menuju garasi dan menaiki mobil yang Papanya hadiahkan saat menjelang pernikahannya dengan Elyon itu.
Lalu Ellena pun langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata - rata dengan perasaan yang cemas bercampur khawatir dengan kondisi suami dan anaknya itu.
" Kalian harus bertahan. Ya Allah jangan ambil mereka lagi dari ku... " Batin Ellena yang senantiasa berdoa agar tak terjadi hal buruk pada suami dan anaknya itu.
Beberapa menit kemudian, Ellena pun sampai di alamat yang di kirim oleh Kakaknya tadi itu.
Lalu Ellena pun turun dengan wajah bingung bercampur cemas itu.
" Kenapa di sini? " Gumam Ellena yang bingung karena Lamat yang di berikan oleh Kakaknya malah membawanya ke tempat kampus yang selama ini dia tempati untuk mencari ilmu itu.
Yah, alamat tersebut membawa Ellena ke Gedung Campus Galaksi itu.
Ellena yang bingung dan cemas pun langsung melangkahkan kakinya memasuki pintu utama Campus Galaksi yang terbuka itu.
Setelah itu, Ellena pun mengedarkan matanya ke seluruh penjuru lorong tersebut yang gelap dengan minum pencahayaan itu.
Lalu Ellena pun tanpa sengaja melihat papan petunjuk arah yang bertuliskan sebuah kata itu.
~ Tempat pertama kali kalian datangi saat berada di Campus Galaksi ~
Ellena yang membacanya pun langsung berfikir apa maksud dari kata yang tertera di papan petunjuk arah itu.
Kemudian Ellena pun ingat jika tempat pertama mereka kunjungi di Campus Galaksi adalah balkon, yang di mana saat itu dia sedang menjalin hubungan saat duduk di kelas dua SMP itu.
Kemudian Ellena pun pergi ke atas balkon untuk mengikuti petunjuk dari jawaban teka - teki tadi itu.
Tetapi Ellena tak mendapatkan apapun di balkon dan hanya terdapat cahaya yang teras lampu di balkon itu.
" Ini sebenernya ada apa sih? Apa jangan - jangan gw di prank...? " Batin Ellena yang bertanya - tanya itu.
Lalu Ellena pun melihat selembar kertas yang tertempel di pagar pembatas balkon itu.
~ Tempat di mana kamu hampir melihat nyawa orang tersayangmu menghilang~
Ellena yang membaca pun memutar otaknya untuk berfikir itu.
Lalu Ellena pun terpikir suatu tempat, yang membuatnya hampir melihat nyawa putra kesayangannya menghilang dan tempat tersebut adalah taman belakang.
Kemudian Ellena pun bergegas turun ke taman belakang tepat di bawah balkon tersebut.
Saat Ellena sampai, yang dia lihat hanya kegelapan tanpa penerangan sedikit pun di taman tersebut.
Ellena pun berjalan pelan sambil berusaha melihat di dalam kegelapan itu.
" Ini apa sih yang gw injek? " Tanya Ellena yang merasa menginjak sesuatu yang berserakan di tanah itu.
Beberapa detik kemudian, satu persatu lampu di taman tersebut pun menyala itu.
" SURPRISE!!! " Kata mereka dengan serempak setelah semua lampu menyala itu.
Ellena yang melihatnya pun terkejut, karena taman tersebut sudah di desain dengan penuh indah dengan di hiasi oleh bunga mawar merah muda itu.
Yang paling membuat Ellena terkejut adalah terdapat red karpet yang di penuhi oleh tebaran kelopak bunga mawar merah dan dengan anggota keluarga juga temennya yang telah berdiri dengan senyum mereka di belakang meja bundar dengan kue tart yang menjulang tinggi yang di penuhi criem berwarna merah muda itu.
Ellena pun meneteskan air matanya saat melihat suami dan anaknya yang sudah lengkap dengan tuxsedo berwarna hitam yang senada itu.
" Syukurlah. Mereka baik - baik saja... " Batin Ellena yang bersyukur jika perkataan Kakaknya tadi hanya bohongan dan dengan air mata yang senantiasa mengalir di pipi cantiknya itu.
BERSAMBUNG....
Jangan lupa like, comment, vote, follow, and share. Yahh...😊💜
Annyeong...👋👋
__ADS_1