Perjalanan Cinta Di Campus Galaksi

Perjalanan Cinta Di Campus Galaksi
Episode 95


__ADS_3

Keesokan harinya.


Tak terasa waktu berjalan cepat dan hari ini telah tiba di mana Erren akan berangkat mengikuti acara summer camp yang di adakan di kompleks perumahan nya itu.


Bahkan sejak tadi bocah lelaki hampir berumur empat tahun tersebut sudah bangun dengan semangat yang menggebu dan senyum bahagia karena tak sabar hadir ke acara summer camp yang telah lama dia tunggu - tunggu itu.


" Jika di sana jangan melakukan hal yang aneh - aneh Erren ingat pesan Mama, dan Erren harus tetap wajib bersama dengan kedua pengasuh Erren di mana pun dan kapan pun... " Kata Ellena yang sedang menasehati putranya sejak tadi itu.


Sedangkan Erren pun hanya bisa mendengarkan nya dengan malas karena sudah sejak tadi Papa dan Mama nya yang terus menasehati dirinya bahkan beberapa kali terulang - ulang lagi itu.


" Iyah Ma. Erren paham, jadi boleh sekarang Erren masuk ke dalam bus? " Tanya Erren yang memang mereka sudah berada di depan bus untuk mengantarkan anak - anak pergi ke summer camp itu.


" Ta-tapi... " Kata Ellena yang terpotong itu.


" Maaf Nona Muda saya menyela, saya akan menjaga Tuan Muda Erren dengan baik jadi Tuan Muda Elyon dan Nona Muda Ellena tak perlu khawatir lagi. Jadi apakah bisa kami masuk ke dalam bis sekarang? karena sebentar lagi bus akan berangkat... " Kata Bik Inah panjang lebar karena dia tahu jika Tuan Muda Erren nya tersebut sudah mulai jengah dengan ke posesifan kedua orang tuanya itu.


" Hufft. Baiklah, tapi tolong jaga dia dengan baik. Karena ini adalah kali pertama Erren mengenal dunia luar... " Kata Ellena sambil mengelus rambut putranya dengan lembut seperti belum rela jika dia akan pergi itu.


" Tentu Nona Muda. Kami akan menjaga Tuan Muda Erren dengan baik... " Balas salah satu pengasuh Erren yang ikut menjaga Erren bersama Bik Inah itu.


" Sekarang kalian boleh masuk... " Kata Elyon yang mengakhiri percakapan hari ini itu.


CUP... CUP...


Tanpa aba - aba Erren pun langsung mencium kedua orang tuanya tanpa perpisahan nya itu.


" Erren masuk dulu Ma... Pa. Dadahhh... " Kata Erren yang melambai - lambaikan tangan sambil mulai menaiki bus yang akan mengantarkan nya ke acara summer camp yang telah lama dia impikan itu.


" Bayy... " Kata Ellena yang membalas lambaian tangan putranya begitu juga dengan suaminya itu.


Mereka pun masih tetap setia menatap gerak - gerik Erren yang sudah memasuki bus dan jangan lupa di ikuti oleh kedua pengasuhnya sambil masih terus melambaikan tangan nya di depan jendela bus dengan senyum bahagia yang tak pernah luntur dari bibir nya itu.


Tak lama kemudian bus pun mulai berjalan dan meninggalkan Elyon dan Ellena yang masih menatap gundah ke arah bus yang mulai berjalan menjauh dari titik mereka berdiri itu.


" Semua akan baik - baik ajah kan? " Kata Ellena dengan gundah sambil masih menatap kosong ke arah bus yang mulai menjauh itu.


" Kamu semua kama baik - baik saja. Jadi percaya saja dengan itu semua... " Balas Elyon yang mencoba menenangkan istri yang terlihat gundah karena untuk pertama kalinya mereka melepaskan Erren untuk berpergian jauh dan melihat dunia luar itu.


Lima hari telah berlalu dengan rasa rindu yang membuncah di dalam hati Elyon dan Ellena kepada putra mereka itu.


Makhlumi lah karena hal ini adalah pertama kalinya Elyon dan Ellena berpisah jauh dengan jagoan kesayangan mereka itu.


BRAK...


Saat Elyon dan Ellena akan menjemput putra kesayangannya mereka tiba - tiba terdengar suara benda yang jatuh dengan keras ke lantai keramik di rumah mereka itu.

__ADS_1


" Tuan Muda!!! " Teriak Bik Inah dari ruang tamu rumah kediaman mereka itu.


Elyon dan Ellena pun saling memandang sekilas kemudian langsung berlari menuju ruang tamu rumah mereka itu.


" Ada apa ini? " Tanya Elyon dengan nada dingin yang memenuhi ruang tamu itu.


Kemudian tatapan Elyon dan Ellena pun terjatuh ke arah Erren yang seperti sedang menahan amarah dengan tas ransel nya yang tergeletak mengenaskan di atas lantai keramik ruang mereka itu.


" Maaf Tuan Muda dan Nona Muda. Saya juga gak mengerti kenapa Tuan Muda Erren tiba - tiba marah dan membanting tas ranselnya ke lantai... " Kata Bik Inah yang terlihat menundukkan kepalanya itu.


" Sebenarnya sudah sejak pulang tadi Tuan Muda Erren terlihat marah... " Lanjut salah satu pengasuh Erren yang ikut serta dalam acara Summer Camp itu.


" Huftt. Kalian boleh pergi... " Kata Elyon setelah menghembuskan nafas panjangnya itu.


Selang beberapa detik kemudian Bik Inah dan salah satu pengasuh Erren pun pamit undur diri untuk pergi menuju kamar mereka masing - masing dan tak lupa membawa tas yang di lempar oleh Tuan Muda mereka tadi itu.


Kemudian Ellena pun berjongkok untuk menyamakan tubuhnya kepada putranya itu.


" Erren kenapa? " Tanya Ellena kepada putra yang duduk di atas salah satu sofa di ruang tamu sambil seperti sedang mencoba menahan amarahnya yang bergejolak itu.


" Ma! Erren ngak suka kalau ada yang jelek - jelekin keluarga Erren! " Balas Erren dengan penuh nada emosi itu.


" Siapa yang bilang begitu?! " Tanya Elyon dengan nada yang tegas itu.


Karena Elyon tahu jika putranya sangat tidak suka jika mendengar orang lain berkata yang buruk atau menjelek - jelekkan keluarga nya yaitu keluarga besar Gorneo Aditya serta Carion Anggara itu.


Setelah itu Erren pun mencoba menceritakan kronologi kejadian yang membuat nya marah hingga saat ini itu.


" Ada temen Erren yang ngak suka sama Erren karena Erren bisa berhasil memenangkan semua perlombaan kemarin. Mungkin karena itu dia jadi benci sama Erren... " Kata Erren yang mulai menjelaskan kronologi kejadian yang membuat hampir meledak karena amarah itu.


" Erren ngak suka kalau mereka jelek - jelekin Papa sama Mama! " Kata Erren yang penuh emosi kembali itu.


" Kalau Erren yang di jelekin sekali pun, Erren masih terima tapi ini keluarga Erren. Jadi Erren harap, Papa kasih pelajaran ke anak ngak tahu diri itu... " Kata Erren dengan bola mata yang tiba - tiba menajam dan penuh akan dendam itu.


" Apa yang anak itu katanya pada Erren? " Tanya Ellena sambil mengelus halus rambut putranya bermaksud agar dapat mereda emosi putranya itu.


Erren pun hanya diam seperti ragu untuk menceritakan secara lengkap tentang kronologi kejadian tadi hingga membuat nya marah besar itu.


Perlu di ingat lagi jika Erren memiliki sifat yang sama dengan Elyon yaitu pemarah. Hati Erren sangat sensitif jika menyangkut tentang keluarga begitu juga dengan Elyon itu.


Namun Elyon dan Erren sangat berbeda dalam mengatur emosi karena Elyon sangat ahli dalam mengatur emosi karena dia sangat suka bermain bersih tanpa ahrus membalas orang tersebut secar langsung itu.


Sedangkan Erren sangat buruk dalam mengatur emosi, karena jika yang mengusik keluarganya pada hari itu juga dia akan langsung binasa di tangan Erren. Sebab Erren sangat suka menyelesaikan musuh - musuhnya dengan tangan nya sendiri itu.


Terkadang Erren juga di sebut sebagai dedemit kecil karena duplikatan dari seorang Elyon Deren Gorneo Aditya, walau berbeda darah namun mereka memiliki sifat yang hampir sama dengan satu sama lainnya itu.

__ADS_1


" Apa benar Erren bukan anak kandung Papa dan Mama? " Lirih Erren namun masih dapat di dengar oleh kedua orang tua nya itu.


DEG...


Elyon dan Ellena pun di buat terdiam saat mendengar pertanyaan dari Erren yang sangat mereka hindari sejak Erren masuk ke dalam keluarga mereka itu.


" Si-siapa yang bilang seperti itu Erren?! " Kata Ellena yang tiba - tiba nada suara menjadi gugup itu.


" Anak itu... " Balas Erren apa adanya itu.


" Itu semua omong kosong! Sekarang Erren pergi ke kamar mu!!! " Kata Elyon yang tiba - tiba dan tak lupa dengan nada suara nya yang dingin serta penuh ketegasan itu.


" Hmm. Ya Pa... " Balas Erren yang tak dapat membantah perkataan Elyon yang sepertinya tak ingin di bantah itu.


Ellena pun hanya bisa menatap gerak - gerik putranya yang mulai berjalan menuju lift untuk pergi ke kamarnya itu.


Namun langkah kaki Erren pun di buat terhenti saat mendengar perkataan yang di lontarkan oleh Papa nya itu.


" Erren! Apa pun yang terjadi kamu hanyalah anak Papa. Jangan pernah dengarkan perkataan orang - orang di luar sana... " Kata Elyon yang penuh akan emosional namun tanpa menatap ke arah sang putra itu.


Sedangkan Erren pun hanya tersenyum bahagia karena dia berfikir jika apa yang di katakan salah satu temennya tersebut tidak lah benar itu.


Lalu dia pun melanjutkan langkah kaki nya dan masuk ke dalam lift dengan hati yang gembira dan bahagia itu.


Selang beberapa detik kemudian Ellena pun tiba - tiba terisak karena pertanyaan Erren yang terus menerus terngiang - ngiang dalam fikiran nya hingga membuat ketakutan nya kembali muncul itu.


" Dan apa yang aku takuti terjadi hari ini, Lyon... " Kata Ellena sambil masih terus terisak dalam tangisnya itu.


Sedangkan Elyon pun hanya diam menatap kosong ke arah depan dan tanpa sadar salah satu tangan nya pun terkepal untuk menahan emosi yang mulai bergejolak di hati itu.


Setelah itu Elyon pun mengambil handphone di dalam saku celana nya dan langsung menghubungi salah satu bodyguard nya yang bertugas untuk menjaga Erren itu.


Elyon : Lakukan!


... : Kami sudah melakukan apa yang


harus kamu lakukan Tuan Muda.


Elyon : Huh. Bagus, buat mereka menderita!


TUT...


Lalu Elyon pun tiba - tiba mematikan sambungan telpon nya itu.


" Kalian akan habis kali ini, karena telah berani mengusik keluargaku... " Batin Elyon yang menatap tajam ke arah depan dan juga tanpa sadar dia meremas handphone nya yang masih berada dalam genggaman nya itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2