Permainan Licik Suami Ku

Permainan Licik Suami Ku
Bab 62


__ADS_3

4 hari menuju hari pernikahan, Shella dan Rivan kembali mendatangi desainer yang menyiapkan pakaian pengantin untuk mereka berdua ,termasuk juga untuk seluruh keluarga dan para sahabat dari Rivan maupun sahabat dari Shella.kedatangan mereka kali ini adalah untuk yang terakhir kali nya sebelum pernikahan di laksanakan.


" Cantik sekali sih calon istri nya Rivan." puji Rivan ketika melihat Shella yang baru keluar dari kamar ganti dengan memakai baju kebaya putih yang ngepas di badan nya.


" Wajah tegas mu nggak cocok ngegombal seperti itu." ledek Shella mematut diri di depan cermin besar.sehingga membuat para karyawan yang bekerja di butik ikut kagum dengan kecantikan Shella.


" Tapi beneran cantik loh sayang! Mbak-mbak nya ini aja sampai ngences begitu gara-gara ngelihatin Kamu." Rivan tetap menampilkan wajah wibawa nya ketika semua mata karyawan menatap ke arah nya.


Selesai giliran Shella, kini giliran Rivan lagi yang masuk ke dalam kamar ganti,pria mapan ini terlihat semakin tampan dan sangat menghipnotis setiap mata yang memandang ke arah nya.


" Kita mau kemana lagi sayang?" tanya Rivan ketika sudah masuk ke dalam mobil.


" Ke toko perhiasan langganan Mama,kita belum beli cincin pernikahan Mas." jawab Shella ketika mengingat bagaimana cerewet nya sang mertua untuk memberitahu dia agar tidak lupa memesan cincin pernikahan.


" Baiklah,pakai sabuk pengaman nya." titah Rivan memutarkan kunci mobil menuju tempat yang di sebut oleh Shella tadi.


Setiba nya di sebuah toko perhiasan,mereka langsung di sambut baik oleh pemilik toko yang tidak lain adalah sahabat dari Bu Ela.


" Hai Mas Rivan,mau pilih-pilih cincin nikah ya?" tanya pemilik toko yang sudah di beritahu oleh sahabatnya.


" Iya Tante." jawab Rivan mengangguk.sedangkan Shella yang belum mengenal sosok wanita tersebut hanya diam menjadi pendengar setia.


" Ini pasti calon istri nya Mas Rivan ya? Cantik banget sih Mbak?" wanita ini tersenyum ramah kepada Shella yang masih di gandeng mesra oleh Rivan.sesekali kedua nya saling melirik dan tersenyum manis tanpa merasa canggung sama sekali lagi.


Pemilik Toko itu langsung mempersilahkan Kedua calon pengantin untuk memilih sendiri cincin yang menurut mereka cocok.semua koleksi terbaru berjejer rapi di atas etalase,Shella yang bingung memilih nya semakin di buat bingung lagi ketika pemilik toko mengeluarkan semua koleksi limited edition yang mereka punya.


Dengan di bantu oleh Rivan akhirnya Shella memantapkan hati kepada sepasang cincin mungil tidak terlalu besar dan sangat enak untuk di pandang mata.

__ADS_1


" Gimana pas atau belum?" tanya Rivan memastikan.


Shella dengan cepat mengayunkan dagu nya mengangguk kan kepala.


" Pas kok Mas? Kalau punya Kamu gimana?" tanya Shella balik.


" Udah pas juga." balas Rivan lagi.


Setelah selesai untuk urusan cincin,Rivan dan Shella kembali masuk ke mobil.mengurus pernikahan ternyata tidak segampang yang di pikirkan oleh Rivan, walaupun sudah di bantu oleh sang Mama tapi nyata nya tenaga mereka berdua juga ikut terkuras menentukan semua yang bersangkutan dengan acara pernikahan mereka.


" Huft...Capek nya ngalahin capek lagi sidang dan juga meeting ya sayang." gumam Rivan lirih merenggangkan otot kaku nya.


" Iya begini lah Mas! Ini untung di bantu sama Mama,kalau nggak kita bakal lebih ribet lagi dari ini, sekarang mau kemana lagi? Pulang?" tanya Shella.


"Kita makan dulu ya,soal nya Aku laper banget." jawab Rivan nyengir.


" Nanti Aku akan mengirim kan 2 bus besar yang akan membawa mereka ke hotel.jangan khawatir pokok nya impian Kamu akan Aku wujudkan tanpa Kamu minta sekali pun." dari jauh-jauh hari Rivan memang sudah memikirkan semua nya,bahkan dia sudah meminta Rama asisten kedua nya untuk mengurus semua nya sampai tuntas.


" Thanks calon suami." Shella kembali mengulang kata-kata yang di ucapkan oleh Rivan tadi.


" Sama-sama calon istri." Rivan yang tidak mau ketinggalan pun ikut membalas dengan panggilan lucu itu.


Sementara itu,Bu Ela yang baru keluar dari restoran tempat dia memesan catering dan segala macam nya,kembali di pusing kan dengan pesan yang masuk dari Bu Mala ,pesan itu selalu dikirim dengan penuh ancaman dan tekanan,semua masa lalu Shella terurai dengan jelas di dalam pesan itu termasuk juga tentang status nya yang hanya lah anak Yatim-piatu.


Bruk...


Bu Ela menutup pintu mobil lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi penumpang.

__ADS_1


" Langsung pulang ya Pak." titah Bu Ela kepada sopir pribadi nya.


" Siap Nyonya." jawab sang sopir yang langsung melajukan mobil menuju kediaman Bakri.


" Sebenar nya apalagi sih yang mereka cari? Bukan kah semua nya sudah sangat jelas dan Aku pun berulang kali menyanggah rencana busuk mereka ini? Kenapa mereka seakan-akan nggak ada kapok nya? Harus kah Aku meminta Papa untuk memberikan mereka pelajaran?" batin Bu Ela tanpa ragu lagi tidak pernah tertarik dengan hasutan yang di berikan oleh Bu Mala, karena sebelum mereka mengatakan nya pun Bu Mala dan juga Pak Hasan sudah terlebih dahulu mengetahui semua asal usul Shella dari orang kepercayaan mereka.


" Awas Kamu Mala! Berani-beraninya Kamu mengusik ketenangan ku." gumam Bu Ela lirih.


Bu Ela yang baru ingat jika dia sudah memiliki janji dengan pihak wo langsung meminta sang sopir untuk putar balik agar semua persiapan rampung hari juga dan besok mereka tinggal mempersiapkan diri saja.


Sementara itu,Nindi yang baru menyelesaikan semua pekerjaan nya langsung mengajak Satria menuju butik yang di beritahu oleh Shella tadi,Reni yang masih sangat sibuk di rumah sakit memutuskan untuk datang nanti sore saja dan tentu nya bersama sang kekasih hati.


" Gila ini butik keren banget ya Mas!" Nindi berdecak kagum melihat koleksi gaun yang ada di depan mata nya.


" Nanti Aku boleh nggak beli gaun disini?" imbuh nya dengan sangat antusias.


" Boleh! Sekarang ayok kita masuk dulu karena Aku sebentar lagi harus kembali ke rumah sakit?" ajak Satria dengan cepat sebelum Nindi mengeluarkan sifat asli nya.


" Ye...Kenapa sih Kamu suka banget ke rumah sakit itu? Jangan -jangan Kamu punya simpanan di rumah sakit itu ya?" tuduh Nindi cemburu, padahal dia masih ingin menghabiskan waktu berlama-lama dengan kekasih hati namun apa boleh buat sang kekasih sudah terlebih dahulu mengingat rumah sakit nya.


" Hus...Kamu ini ngomong nya ngawur aja terus." Satria menyentil kening Nindi dengan pelan.


" Akhh...Mas sakit." rengek Nindi mengusap kening yang lumayan terasa panas.


" Maka nya tuh mulut jangan suka nuduh sembarangan,setiap yang keluar dari mulut mu itu adalah doa dan jangan salah kan Aku jika itu benar-benar terjadi karena Kamu sendiri yang meminta nya."tandas Satria semakin menyeret Nindi menemui karyawan butik yang akan mengukur panjang baju mereka.


" Mas! Aku cuman nanya doang loh? Kenapa Kamu marah-marah deh..Muachh." Nindi membujuk dengan mengecup pipi Satria dan ternyata sangat ampuh membuat pria datar itu kembali tersenyum dan tanpa di sangka malah menunjuk ke pipi yang satu nya lagi, akhirnya Nindi mengikuti keinginan kekasih nya dari pada harus capek-capek minta maaf dan pada akhirnya mendapatkan kata-kata mutiara yang sangat mengganggu kuping nya.

__ADS_1


Jangan lupa Like,Vote dan Komen ya guys 😍🥰🥰


__ADS_2