
" Gawat ini..." teriak Kakak pertama Adi ketika mendapat kan telepon dari kantor polisi bahwa saat ini adik nya sedang di tahan di sana.kali ini keluarga mereka benar-benar kehilangan pemasokan uang bulanan.meski tak bekerja lagi tapi nyata nya Adi masih sering memberikan mereka uang tambahan bulanan.
" Duh kenapa juga dulu si Adi bisa kenal sama yang nama nya Nina itu? Bikin hidup tambah sengsara aja deh tuh wanita." sungut Ida yang merupakan Kakak kedua Adi.terbiasa mendapatkan pertolongan dari Adi membuat para wanita ini beserta suami nya menjadi malas untuk usaha sendiri dan selalu mengandalkan adik lelaki nya.
Mereka yang awal nya sedang kerja sama membersihkan rumah mendiang ibu nya di kaget kan dengan pemberitahuan bahwa Adi sudah merencanakan pembunuhan dan penganiayaan kepada mantan simpanan nya dulu.tak banyak yang bisa kakak Adi lakukan karena mereka juga sedang kesusahan.bahkan untuk ongkos pergi ke kota saja mereka tidak sanggup membayar nya apalagi untuk bertahan di sana selama dua hari lama nya.
" Shella..." gumam kedua nya ketika teringat dengan adik ipar yang selalu ada di saat mereka membutuhkan.
Ida langsung mengambil ponsel nya untuk bergegas menghubungi nomer Shella yang masih tersimpan di layar ponsel nya.namun sayang nya sudah puluhan kali dia mencoba menghubungi nomer tersebut di sertai dengan mengirim beberapa pesan singkat,tapi nomer yang Shella pakai dulu masih juga tak aktif dan hanya ada suara operator wanita yang menjawab nya dari sebrang sana.
" Masa nggak aktif Mbak! Kayak nya dia udah ganti nomer deh! Terus gimana dong?" tanya Ida dengan rasa gelisah nya.entah seperti apa hidup mereka setelah ini jika Adi mendapatkan hukuman yang sangat lama di dalam penjara sana.
"Ya mau gimana lagi! Udah biarkan saja si Adi mengurus semua nya,Mbak yakin bentar lagi dia juga bakal keluar sendiri dari penjara." Kakak pertama Adi langsung pulang kerumahnya tanpa berniat melanjutkan pekerjaan yang sudah setengah jalan dia lakukan.biasa nya jika mereka mengatakan bahwa rumah mendiang Ibu mereka sudah bersih,maka Adi dengan cepat mentransfer sejumlah uang untuk mereka bagi dua hasil nya.tapi mungkin setelah ini sampai kedepannya nanti tak akan ada lagi yang mau membersihkan rumah ini tanpa ada pasokan uang dari Adi.
Setelah kepergian suami nya,Shella kembali masuk ke dalam kamar untuk membereskan kekacauan yang mereka ciptakan tadi malam hingga pagi tadi.Shella memilih mengganti sendiri sprai kasur nya tanpa harus meminta bantuan kepada art yang bekerja di rumah ibu mertua nya .wajah nya kembali memanas mengingat bagaimana nakal nya di bawah Kungkungan suami nya tadi malam.
Drt...Drt..Drt..
Bunyi dering ponsel dari meja nakas membuyarkan lamunan Shella yang sedang tinggi-tingginya .
" Ada apa calon pengantin?" goda Shella mengulum senyum.
__ADS_1
" Ckk, Panggilan apaan itu? " sewot Nindi tak terima.
" Nggak usah marah-marah ini masih sangat pagi untuk memulai hari buruk mu? Cepat katakan ada apa Kamu menelpon ku pagi begini?" hardik Shella yang sudah mengenal betul bagaimana sifat Nindi.
" Ini sudah sangat siang Bu Rivano! Maka nya jangan bergadang Mulu kerjaan nya!"membuat Shella merasa malu sendiri dengan ucapan nya barusan.
" Siapa yang sudah menjebloskan si bangsat itu kedalam jeruji besi?" imbuh Nindi to the point.
" Mas Rivan." jawab Shella singkat membuat Nindi mengacungkan jempol meski Shella sendiri tak bisa melihat apa yang dia lakukan di sana.
" Bagus deh! Aku bisa hidup tenang tanpa ada drama yang belum lulus sensor terjadi di depan mata ku.apalagi pemain nya itu terus saja mengumpat Aku dan memanggil nama mu dengan begitu kencang nya." sindiran halus yang Nindi berikan mendapatkan gelak tawa dari Shella yang masih duduk di tepi ranjang.
" Lah malah ketawa lagi! Aku sangat lelah dan bosan menghadapi kelakuan memalukan nya itu,bahkan nih ya pernah suatu hari Aku siram dia menggunakan air bekas cuci cetakan kue yang di dalam nya terdapat banyak tepung." imbuh Nindi juga ikut tertawa puas.
Tak ada orang yang benar-benar perduli dengan kasus penyiraman air keras yang di terima oleh Nina.Rivan yang awal nya memilih bungkam meski sudah mendapatkan barang bukti dari Rama,kali ini kembali lantang bersuara karena merasa hidup dan rumah tangga nya sudah di ganggu oleh Adi.hukuman penjara seumur hidup tentunya sudah menunggu Adi di persidangan nanti.semua barang bukti mengarah langsung kepada Adi tanpa bisa berkelit lagi.
" Jadi pengacara Rivano yang sudah menjebloskan Saya ke sini?" tanya Adi kepada salah satu pihak kepolisian yang sedang mengintrogasi nya.pagi-pagi sekali ketika Adi masih belum ingin beranjak dari ranjang empuk nya,gedoran di pintu apartemen membuat dia terpaksa membuka kedua mata demi melihat siapa yang sudah mengganggu tidur lelap nya.Adi di gelandang ke mobil polisi dengan memakai pakaian apa ada nya dan tanpa ada pendamping hukum di samping nya.seorang rekan Adi yang berniat ingin mengantarkan sesuatu ke apartemen pria itu, langsung berlari terbirit-birit dan membuang paket yang masih terbungkus rapi oleh kertas dan juga lem perekat ke dalam sebuah tempat sampah.
" Iya benar." jawab polisi singkat.
"Apa Saya bisa bebas dari tuntutan ini Pak? Korban nya juga sudah meninggal dunia dan Saya juga terpaksa melakukan penganiayaan itu karena dia ketahuan berselingkuh di belakang Saya?" ucap Adi berharap hukuman nya di ringan kan.
__ADS_1
Polisi yang duduk di hadapan Adi dengan cepat menggeleng kan kepala nya.
" Tidak bisa Pak Adi!Anda sudah terlalu banyak melakukan kejahatan yang merugikan orang lain, perzinahan dengan simpanan anda itu di saat anda masih sah menjadi suami orang lain, penganiyaan, rencana pembunuhan dan yang terakhir dan baru kami ketahui dari hasil penyelidikan kami sendiri bahwa anda sebenarnya juga terlibat dalam penyelundupan barang haram.buktinya sangat akurat dari rekan anda yang sudah ikut kami tahan dan juga Cctv yang ada di apartemen anda."
Degh...Aliran darah Adi terasa berhenti mengalir ke jantung nya membuat lelaki ini diam tak berani bersuara lagi.
" Sialan.." umpat Adi mengepal kan kedua tinjunya di bawah sana.
" Bawa tahanan kembali ke sel nya." titah penyidik kepada rekan nya yang lain.
" Siap Pak." Adi terpaksa di tarik masuk ke dalam bilik nya karena sejak tadi lelaki ini tidak merespon panggilan apapun yang mereka lakukan.
Adi mendengus sinis melihat selembar tikar usang yang akan menjadi tempat tidur nya tanpa ada bantal, selimut atau AC yang akan membuat tidur nya menjadi lebih nyaman.
" Kepada siapa lagi Aku meminta bantuan! Mungkin kah dia masih mau perduli dengan ku lagi?" batin Adi ketika nama Shella terlintas di benak nya.jalan pintas yang dia pilih sebagai penghasil uang di saat belum mendapatkan pekerjaan ternyata membuat hukuman nya menjadi lebih berat dan di pastikan akan menghabis kan sisa umur nya di dalam kamar pengap dan juga sempit ini.
Adi akhir nya mencoba membujuk pihak penjaga agar meminjam kan dia telepon seluler.cukup lama dia bernegosiasi hingga akhir nya mendapatkan waktu selama 10 menit.wajah Adi nampak berbinar bahagia menekan angka demi angka yang dia yakini merupakan nomer wanita masa lalu tapi masih mendiami hati nya sampai saat ini.
" Nggak aktif." batin Adi mendesah frustasi hingga percobaan selanjutnya pun masih tak juga membuahkan hasil.
" Kemana Aku harus mencari nomer dia sementara Aku saja harus terkurung di dalam sini." imbuh nya ketika jalan kebebasan itu benar-benar buntu untuk dia raih.waktu 10 menit yang dia dapat kan akhirnya harus berakhir dengan sia-sia tanpa mendapatkan pertolongan dari siapapun.
__ADS_1
Adi menyerahkan telepon seluler itu ke tempat semula dan masuk kembali ke kamar tahanan nya sambil terduduk pasrah.
Jangan lupa like ,Vote dan Komen ya guys 🥰🥰🥰