
1 bulan telah berlalu, tidak terasa usia pernikahan Shella dan juga Rivan sudah memasuki bulan ke empat dan rumah tangga mereka terlihat begitu harmonis.Shella merasa begitu bahagia dengan pernikahan kedua nya bersama Rivan yang selalu memperlakukan dia dengan begitu baik.
" Sayang." ujar Rivan menyambut kedatangan istri nya ke kantor firma hukum milik diri nya sendiri.
" Kemana tamu Kamu tadi Mas?" tanya Shella yang sebenarnya sudah sejak tadi ingin masuk ke dalam ruangan suami nya tapi dia urungkan niat itu dan memilih berkeliling dengan di temani oleh wanita paruh baya yang bertugas sebagai office girl di perusahaan milik suami nya.
" Sudah pulang sayang! Apa Kamu sempat melihat nya tadi?" tanya Rivan curiga karena dia sama sekali tidak melihat istri nya masuk ke dalam ruangan nya sejak tadi.
" Iya cuman sebentar saja terus Aku langsung pergi karena tidak ingin mengganggu Kamu." jawab Shella sambil memejamkan mata duduk di sebuah sofa.
"Sudah 3 hari berturut-turut dia dan keluarga nya datang kesini.kasus mereka terlalu sulit karena lahan milik nenek moyang mereka di klaim secara paksa oleh pihak swasta yang akan membangun sebuah gedung pencakar langit."ucap Rivan menjelaskan sedang kan Shella menyimak dengan begitu seksama.
" Apa mereka benar pemilik sah nya? Mas sudah melihat bukti kepemilikan nya." tanya Shella yang sedikit banyak nya mulai mengerti dunia hukum sejak menjadi istri dari seorang Rivano prasaja Bakri.
" Sudah,memang mereka pemilik sah nya,tapi yang membuat Aku heran kenapa pihak swasta itu dengan begitu ngotot nya mengklaim tanah punya rakyat pribumi."tutur Rivan yang memang selalu suka bertukar cerita dengan istri nya yang selalu bisa membuat pikiran nya tenang.
" Kasihan mereka Mas! Semoga saja Kamu bisa membantu mereka mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik keluarga mereka." sahut Shella menahan rasa pusing di kepala nya.
" Aku juga berharap seperti itu sayang." balas Rivan yang langsung memeluk Istrinya dengan begitu posesif sehingga membuat kedua nya semakin lengket dan sangat intim.
" Bagaimana kabar Reni sayang? Apa dia jadi pergi ke luar negeri?" tanya Rivan yang sempat mendengar cerita istri nya kalau salah satu sahabat nya memutuskan untuk kembali melanjutkan sekolah nya karena terlanjur kecewa dengan sikap pacar nya yang tidak bisa tegas dengan masa lalu yang tiba-tiba saja datang mengusik hubungan mereka.
" Reni sudah berangkat tadi pagi Mas! Dia menitipkan salam sukses untuk Mas.kata nya harus jaga Aku dengan baik sebelum nanti dia akan membawa Aku untuk ikut bersama dia keluar negeri." celetuk Shella membuat suami nya melotot tajam.
" Aku bukan lelaki yang seperti pacar Reni yang tidak bisa menjaga perasaan istri ku.apa Kamu mau makan sesuatu sayang? Minum juga boleh?" tawar Rivan agar istri nya betah menemani dia bekerja sepanjang hari.hubungan antara Tomi dan Reni sudah kandas dengan Reni yang sebagai pemutus nya.Reni merasa sakit hati dengan sikap Tomi yang selalu mementingkan wanita masa lalu dan bahkan tega membohongi dia hanya ingin membuat wanita masa lalu nya kembali ceria.tanpa Tomi sadari bahwa Reni sudah pergi jauh tanpa berpamitan kepada Tomi yang masih belum menerima keputusan Reni yang ingin melanjutkan hidup mereka masing-masing.
Shella menggeleng dengan cepat,bahkan untuk membayangkan makanan itu saja dia tidak berselera apalagi untuk mengunyah nya.
" Aku lagi nggak mau apa-apa Mas! Aku pengen tidur aja." jawab Shella yang entah kenapa merasa ngantuk di saat matahari belum meninggi dari tempat nya.
" Baiklah,ayok Aku antar ke kamar sana atau mau di sini saja?" tanya Rivan.
" Disini kayak nya nyaman juga Mas! Aku udah pusing banget dan malas bergerak lagi." jawab Shella yang langsung mencari posisi ternyaman untuk tubuh nya.
Rivan langsung mengerutkan kening nya karena setahu dia selama ini istri nya bukan lah tipe wanita yang suka tidur di pagi hari dan selalu aktif bergerak meskipun sedang tidak enak badan sekalipun.hari ini istri nya terlihat tidak bersemangat dan bukan lah Shella yang dia kenal lagi.
Tidak ingin mengganggu waktu istirahat sang istri akhir nya Rivan mengalah dan kembali ke meja kerja untuk menyelesaikan sejumlah pekerjaan nya.baru juga satu detik dia mendudukkan bokong nya di atas kursi kebesaran nya sebagai seorang pengacara hebat,Shella tiba-tiba saja bangun dari tidur nya dengan terburu-buru dan langsung berlari menuju kamar mandi.
__ADS_1
Rivan yang merasa khawatir segera mengikuti langkah kaki istri nya ke kamar mandi.
"Sa..." sebelum Rivan menanyakan sesuatu,Shella sudah terlebih dahulu mengeluarkan semua isi perut nya.
" Hoek...Hoek...Hoek.."
" Perut Aku mual banget Mas! kayak nya masuk angin atau gara-gara Aku belum sarapan kali yah?" mendengar kata belum sarapan membuat Rivan mengeram kesal.bagaimana bisa istri nya melupakan sarapan padahal sejak pagi tadi dia sudah meminta Shella untuk segera sarapan.shella hanya mengiyakan dan berjanji akan makan setelah suami nya berangkat kerja,tapi nyata nya sampai jam 11 siang ini Shella sama sekali belum menyentuh makanan sedikit pun.
" Hoek.. Hoek..Hoek.." Bukan hanya satu kali saja Shella mengeluarkan isi perut nya.di saat Rivan hendak membantu mengelap mulut istri nya, tiba-tiba saja Shella kembali mual dan mengeluarkan sisa makanan yang masih tersimpan di dalam perut nya.
Begitu semua nya sudah selesai Shella keluar kan,Rivan langsung membantu mengelap kembali mulut istri nya sampai bersih dan mengambil tissue untuk mengeringkan area mulut istri nya.
Rivan langsung menggendong tubuh Shella ke dalam kamar Pribadi nya dan menidurkan di atas ranjang yang masih rapi.
" Sebentar ya sayang,Aku mau keluar dulu mengambil ponsel dan memesan kan makanan untuk Kamu." ucap Rivan yang hendak melangkah keluar tapi pergelangan tangan nya di tahan oleh Shella sambil menggeleng kan kepala.
" Aku belum lapar Mas,nanti saja makan nya." tolak Shella dengan lirih.
Rivan menghela nafas panjang nya.dan memilih duduk di sisi ranjang tempat istri nya beristirahat.
" Walaupun Kamu nggak lapar tapi Kamu tetap harus makan sayang,nanti kondisi Kamu bisa semakin lemah dan asam lambung Kamu juga naik."bujuk Rivan dengan lembut.seberapa khawatir pun dia sebagai seorang suami,tapi Rivan tak pernah meninggikan nada suara ataupun berteriak di depan wajah istri nya.lelaki ini begitu menjaga perasaan istri nya karena merasakan sendiri bagaimana berat nya perjuangan untuk mendapatkan sosok wanita seperti Shella. butuh waktu yang panjang dan tidak lah segampang membalikkan telapak tangan.
Beberapa menit kemudian makanan pesanan Rivan sudah datang dengan di antar langsung oleh Rama ke dalam ruangan nya.nasi goreng seafood beserta jus jeruk kesukaan istri nya menjadi pilihan Shella sendiri.
Baru saja Rivan ingin membuka bungkus nasi goreng tersebut.Shella yang duduk bersandar di dinding ranjang kembali merasakan mual dan berlari cepat masuk ke dalam kamar mandi.
" Hoek..Hoek..Hoek.." Tubuh Shella benar-benar terasa lemas dan pandangan nya gelap seketika.beruntunglah suami nya datang menyusul dengan cepat untuk membantu mencuci mulut dan membawa dia kembali masuk ke dalam kamar.
" Kita ke rumah sakit sekarang ya sayang?" Rivan takut terjadi sesuatu kepada Shella setelah melihat istri nya sejak tadi tidak berhenti mengeluarkan cairan meskipun isi perut nya sudah habis tak bersisa lagi.
" Nggak perlu Mas,Aku butuh istirahat sebentar dan setelah itu akan kembali membaik." Shella tidak ingin membuat suami nya khawatir dan kembali meninggalkan pekerjaan yang jelas-jelas sedang menumpuk di atas meja kerja nya.
" Kalau begitu makan dulu nasi nya." beberapa sendok nasi goreng akhirnya masuk juga ke perut Shella akibat paksaan dari Rivan.tapi entah kenapa aroma jus jeruk membuat Shella terasa semakin mual dan meminta suami nya untuk memindahkan jus jeruk itu dari hadapan nya.
" Sudah cukup Mas! Aku pengen.." Shella dengan cepat membungkam mulut nya dan berlari masuk kembali ke kamar mandi.
Hoek...Hoek..Hoek..
__ADS_1
Rivan yang merasa jika semua ini sudah tidak benar lagi langsung menggendong tubuh istri nya keluar dari kamar mandi menuju arah luar.
" Mas! Mau kemana?" tanya Shella cemas.
" Kita harus segera ke rumah sakit." tegas Rivan tak ingin di bantah lagi.shella akhirnya pasrah mengikuti kemauan suami nya karena dia juga merasa bahwa tubuh nya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
" Aku bisa jalan sendiri Mas." sergah Shella merasa malu harus menjadi tontonan karyawan suami nya.
" Kenapa harus pakai malu sayang? Kita ini suami istri dan tidak akan pernah ada yang berani mengejek Kamu di kantor ini." Rivan keluar dari ruangan nya menemui Rama untuk meminta menyiapkan sopir dan menitipkan pekerjaan yang masih tertunda di atas meja kerja nya.
Begitu sampai di lobby firma hukum nya.Rivan sudah di sambut oleh sopir pribadi yang berdiri sambil membukakan pintu mobil.
" Langsung ke ruangan sakit ya Pak." titah Rivan sambil memangku Shella di atas pangkuan nya.
" Siap Tuan muda." jawab sang sopir menginjak pedal gas meninggalkan bangunan pencakar langit menuju rumah sakit terdekat.
Sesampai nya di rumah sakit.Rivan kembali menggendong Shella masuk ke dalam dan langsung di minta menuju ruangan pemeriksaan karena sebelum nya Rama sudah mengurus semua pendaftaran untuk Shella sehingga mereka tidak perlu mengantri lagi.
Rivan langsung menidurkan istri nya di atas brankar poli umum sambil menunggu Dokter yang tengah menulis sesuatu di buku catatan nya.
Kedua nya terlihat sangat cemas dan gugup.tangan Rivan terus menggenggam jemari istri nya untuk memberikan dukungan.
" Semua nya akan baik-baik saja sayang.tarik nafas dalam-dalam lalu keluar kan melalui mulut." bisik Rivan mengecup kening Shella dengan begitu mesra.
Dokter datang menghampiri mereka berdua.Rivan segera berpindah untuk memudah kan Dokter agar bisa memeriksa kesehatan istri nya.mendengar keluhan yang Rivan sampaikan akhirnya mereka berdua di anjurkan untuk mendatangi poli kandungan.
Keringat dingin mulai berjatuhan di kening Shella ketika membayangkan tubuh nya harus menghadapi penyakit yang serius. Atau bahkan dokter akan memvonis dia tidak tidak akan bisa hamil selama nya.
Degh...
" Jangan sampai Aku mengecewakan suami dan mertua ku ya Rabb...Izinkan Aku untuk merasakan kebahagiaan kali ini saja." batin Shella meremas kuat jemari nya ketika brankar yang dia tiduri di dorong masuk ke dalam sebuah ruangan yang terdapat banyak alat-alat kesehatan.
" Selamat siang Bu Shella ,Pak Rivan." sapa Dokter wanita yang sudah menerima kartu nama pasien atas Shella.
" Siang Dok." jawab Shella lirih.
Kondisi Shella yang masih lemah membuat mereka terpaksa mengobrol sambil berdiri di samping Shella yang masih berbaring.
__ADS_1
Dokter tersebut langsung tersenyum dengan mengangguk kan kepala ketika mendengar semua keluhan yang Shella rasakan beberapa hari terakhir.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen ya guys 😍🥰😍