
"Kenapa kau mengatakan kita sebagai kekasih di hadapan Marco Reus, apa maksudmu, hah? Aku minta penjelasan mu sekarang juga, Ivana!", tuntut Jose dengan tegas.
Ivana menghembuskan nafasnya. Ia tahu hal ini pasti akan menjadi pertanyaan Jose, dan meminta penjelasan nya. Ternyata tidak perlu berhari-hari, Jose langsung meminta penjelasan hanya hitungan jam saja pada Ivana.
Ivana tak bergeming, namun ia merasakan kepalanya semakin berdenyut-denyut seperti ada jarum yang menusuk kepalanya. Wajah Ivana pun terlihat memutih. Gadis itu memijat keningnya. Saat ini ia tidak sedang baik-baik saja.
Gerak gerik Ivana tak luput dari perhatian Jose. "Kau jangan banyak drama Ivana, cukup jelaskan saja kenapa kau pura-pura kita sepasang kekasih di hadapan Reus. Itu saja!".
Ivana tak menjawab apapun, tapi nafasnya terdengar menderu. Tiba-tiba tubuh Iv ambruk. Beruntung ia berada di hadapan Jose dan Jose siggap menangkap tubuhnya.
"Ada apa dengan mu Ivana?"
"Berhentilah bermain-main dengan ku! Kau kenapa?"
Jose menepuk wajah Ivana. Posisinya masih berdiri dan memeluk tubuh gadis itu yang terlihat begitu lemah.
Lizzy yang baru saja keluar dari kamar Ivana langsung berlari begitu melihat atasannya itu sepertinya tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Nona Ivana kenapa, tuan?", Tanya Lizzy panik.
"Sepertinya Ivana pingsan. Tubuhnya juga demam", ucap Jose yang merasakan langsung kulit gadis itu terasa hangat. "Di mana kamarnya?"
"Di sini tuan.."
Setengah berlari Lizzy menuju kamar Ivana dan membuka pintu lebar-lebar agar Jose yang mengangkat tubuh bos-nya itu leluasa masuk.
Jose langsung merebahkan tubuh Ivana di atas tempat tidur sementara Lizzy mengambil air hangat di pantry. Jose berdiri di samping tempat tidur memerhatikan wajah gadis itu nampak pucat. "Dia begitu inocent seperti bayi kalau begini. Tidak seperti biasanya yang selalu mengeluarkan umpatannya", ucap Jose tersenyum sembari memasukkan tangan ke dalam saku celana. Laki-laki itu tidak menyadari Lizzy melihatnya sedang memperhatikan Ivana.
"Ehem..."
Lizzy menganggukkan kepalanya. Sungguh ia terkesan dengan perhatian Jose. "Terimakasih untuk semuanya tuan".
"Hem. Katakan pada bos mu, jangan pernah minum alkohol lagi jika ia tidak kuat".
Lizzy tersenyum mendengarnya. "Iya tuan, maafkan nona Ivana sudah merepotkan anda", jawab Lizzy dengan tulus.
__ADS_1
Jose menghentikan langkahnya. Laki-laki itu terlihat membuka dompet dan memberikan dua buah kartu nama pada Lizzy. "Segera hubungi dokter Fernandes jika ada apa-apa pada bos mu. Kau juga bisa langsung menghubungi ku di nomor ini", ujar Jose pada Lizzy.
Lizzy cepat-cepat mengambil kartu yang di berikan Jose.
"Oh iya tuan. Terimakasih atas perhatian tuan pada nona Ivana", ucapnya dengan sopan sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Katakan ada Ivana jika ia sudah baik aku ingin bicara padanya".
"Baik tuan Jose, segera saya sampaikan pada nona Ivana".
Lizzy mengantar Jose kedepan pintu. Sesaat ia melihat laki-laki itu menuju mobilnya namun ternyata bukannya masuk ke dalam mobilnya. Lizzy melihat Jose menemui Héctor yang sedang berbincang dengan orang-orang yang bekerja di perkebunan.
Melihat kedatangan Jose, orang-orang itu segera pergi. Di sana tinggallah Jose dan Hector berdua saja. Nampak Jose bicara dengan nada tinggi, bahkan suaranya bisa Lizzy dengarkan. Liz cepat-cepat masuk dan memperhatikan keduanya dari balik jendela kaca.
Terlihat dengan jelas Jose menunjuk-nunjuk dada Hector yang sama sekali tak bergeming. Bahkan ketika Jose tiba-tiba mendorong tubuhnya sebelum laki-laki itu berlalu, Héctor tidak bereaksi untuk membalasnya.
Lizzy memperhatikan semuanya. "Ada apa sebenarnya antara Hector dan tuan Jose". Lizzy bertanya-tanya sendiri.
__ADS_1
"Aku harus mencari tahu sendiri jawaban nya", batin gadis itu.
...***...