
"Sayang.. bukankah jalan ini menuju danau? Apa danau yang ingin kau tunjukkan pada ku? Kalau itu aku sudah tahu sayang. Di tempat itu untuk pertama kali aku melihat mu. Tentunya buat mu juga, pertama kali melihat tetangga mu", ujar Ivana sambil menyandarkan kepalanya pada dada Jose.
Keduanya berkuda dengan pelan menyusuri jalanan ladang Almiron yang luas. Sementara para pekerja sebagian masih ada yang bekerja di ladang sesuai dengan tugas mereka walaupun hari ini weekend.
Satu tangan Jose memeluk erat pinggang Ivana. "Sebenarnya aku sudah melihat mu beberapa hari sebelumnya dari kejauhan. Kau dan Lizzy sedang sibuk di ladang mu", ucap Jose memberikan pengakuan.
"Aku sempat mengumpat ketika tahu pemilik Nasviell gadis cantik. Aku tidak tahu ternyata kau adik Leo. Seharusnya Leo mengenalkan adiknya pada ku sejak dulu. Kenapa juga ia tidak mengenalkan kau pada ku sejak lama. Leo menyulitkan ku saja". Jose membawa dagu pada pundak Ivana yang tersenyum mendengar perkataan nya.
"Kakak ku ingin menguji calon adik iparnya. Lagian ketika kalian berteman Leo pasti tahu kamu sudah mencintai wanita lain, Jos", ujar Ivana sambil menolehkan kepalanya.
"Tapi setidaknya kita bisa saling mengenal. Aku tidak salah paham pada mu seperti saat kau tiba di Nasviell. Kalau tahu bagaimana dirimu, aku pasti akan melindungi bukan menganggap mu musuh seperti waktu itu", jawab Jose mengeratkan pelukannya dan mendarat kan sebuah kecupan ringan pada wajah Ivana.
Beberapa saat kemudian..
__ADS_1
"Kita sudah sampai", ucap Jose melompat dari punggung kuda. Ia juga membantu Ivana untuk turun.
Ivana memperhatikan sekitarnya. Danau. Dan ia sudah beberapa kali ke sana. "Jose...apa ini tempatnya? Kau sudah pernah mengajakku kemari. Huhh tidak ada yang mengejutkan aku kalau begini sayang".
"Kita harus menaiki kano sekarang. Lihatlah kano itu sudah di siapkan Adrian", ucap Jose sambil menunjuk sebuah kano berukuran kecil. Jose langsung mengajak nya ke sana dan membantu Ivana naik kano.
Ternyata di dalam kano terdapat keranjang makanan dan minuman juga. Juga kain alas.
"Kau akan tahu. Sebaiknya pakai pelampung itu. Semakin ke tengah, danau ini semakin dalam. Berbahaya untuk mu yang tidak begitu pandai berenang".
"Iya Jose", jawab Ivana patuh langsung memasang pelampung berwarna biru ke tubuhnya. Setelah selesai ia duduk dihadapan Jose dengan perasaan sedikit takut, kerana mereka semakin berada di tengah danau.
Namun pemandangannya semakin indah saja. Danau yang tadinya memiliki riak air sekarang lebih tenang bak telaga biru yang sangat indah di bawah pepohonan yang rindang.
__ADS_1
Hazel Ivana langsung tertuju ada pondok yang berdiri diatas air. Pondok yang selalu di lihatnya dari kejauhan selama tinggal di Almiron.
"Jos...apa kau mengajakku ke pondok itu?"
"Iya. Pondok itu di bangun kakek ku ketika aku dan Juan masih kecil. Pondok tetap aku jaga hingga kini. Tempat ini menjadi tempat bersejarah untuk ku. Terlalu banyak kenangan indah di sini", ujar Jose membantu Ivana turun dan mengikat kano pada penyanggah pondok.
Ivana begitu antusias melihat pemandangan di sekitar nya. Jose mengambil semua perlengkapan yang sudah di siapkan Hilda di kano.
Ia tersenyum melihat istrinya yang terlihat jelas menyukai tempat itu.
"Nanti saja menikmati pemandangannya sayang. Sekarang aku ingin menikmati Tres leches buatan mu di dalam", bisik Jose di telinga Ivana. Spontan bisikan mesra suaminya menyadarkan Ivana. Namun tersirat sebuah tuntutan.
...***...
__ADS_1