
Beberapa hari Kemudian di perkebunan Nasviell Ivana dan Lizzy sedang bersama insinyur pertanian memeriksa keadaan ladang agave yang kian hari semakin subur.
Iv puas melihat perkebunan Nasviell sekarang kembali menghijau, sama persis seperti foto yang di tinggalkan kakaknya Leo untuk ia lihat.
Semuanya berkat bantuan suaminya. Yang ikut memberikan masukan-masukan pada Ivana cara merawat tanaman agave yang tepat, agar kualitas hasilnya nanti baik.
Ivana menganggap Jose guru terbaik. Ia sangat percaya akan kemampuan suaminya itu. Apalagi setelah menghabiskan banyak waktu bersama. Ivana tahu siapa suaminya itu. Jose tidak menyimpan rahasia apapun lagi, ia kerap bekerja bersama-sama Ivana membahas cara mengembangkan potensi perkebunan yang di milikinya.
Setelah beberapa saat berkeliling perkebunan melihat para pekerja, Ivana dan Lizzy kembali ke hacienda.
"Nona sepertinya tuan Jose sudah datang", ucap Lizzy ketika melihat mobil yang biasa di pakai suami atasannya itu parkir di carport.
"Iya". Ivana melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya masih menunjukkan pukul dua siang. "Kenapa Jose cepat sekali datang, bukankah aku harus mengambil pesanan pupuk organik cair ke kota Cajititlan", pikir Ivana.
"Nona, tuan Jose menunggu anda di ruang kerja", ucap Maria pelayan hacienda ketika melihat kedatangan Ivana dan Lizzy.
"Iya. Liz ayo kita temui Jose. Kita tetap harus mengambil pesanan kita hari ini juga".
Lizzy menganggukkan kepalanya dan mengikuti bos-nya itu.
Ceklek..
Ivana tersenyum melihat laki-laki tampan itu sedang membaca berkas di meja kerjanya. Ia hanya seorang diri saja.
"Sayang kenapa kau cepat sekali datang menjemput ku. Sekarang baru jam dua. Aku dan Lizzy harus ke kota Cajititlan mengambil pesanan kami", ucap Ivana.
"Liz ayo masuk!"
Lizzy menganggukkan kepalanya. "Iya nona".
"Aku mengajak mu untuk menghadiri jamuan makan malam yang di adakan di perkebunan Alamoz. Pemilik baru perkebunan itu mengundang semua pemilik perkebunan di Jalisco malam ini ke perkebunan nya", jawab Jose menyandarkan punggungnya.
"Tapi aku dan Lizzy harus ke Cajititlan sekarang, mengambil vitamin-vitamin agave yang sudah di pesan dua minggu yang lalu. Mereka tidak bisa mengantarkan kemari hari ini, mereka baru bisa mengirim besok sore. Sementara kami membutuhkan vitamin-vitamin itu paling tidak besok pagi. Hector sedang berada di luar kota mengurus pekerjaan yang lain. Dan pihak pemasok tidak bisa memberikan pesanan itu pada orang lain. Mereka hanya akan memberikan pesanan itu pada ku dan Lizzy", ucap Ivana terlihat bingung.
__ADS_1
"Berikan nomor tempat itu, biar aku yang mengurus nya", ujar Jose beranjak dari duduknya menghampiri istrinya.
"Wah...aku tidak menyangka perkebunan ini bisa kembali menghijau dengan cepat Jos–"
Ivana dan Lizzy bertukar pandang. Ternyata Jose tidak datang sendiri, ia bersama Sebastian juga. Sebastian masuk dari beranda yang berada di samping ruang kerja Ivana.
"Hai Ivana. Perkebunan mu sangat indah sekali sekarang", ucap Sebastian sambil menatap Lizzy yang berdiri dengan wajah tampak lelah di belakang Ivana. Gadis itu lebih banyak mendudukkan kepalanya terutama saat mengetahui ada Sebastian juga di sana.
"Terimakasih Sebastian. Semuanya berkat bantuan suamiku", jawab Ivana tersenyum bahagia sambil memeluk lengan Jose.
"Sayang sepertinya aku tidak bisa menemani mu kejamuan makan malam itu. Tidak mungkin Lizzy pergi ke Cajititlan seorang diri. Sementara dua sopir perkebunan sekarang tidak standby di tempat karena sedang mengurus pekerjaan yang lain".
"Kalian pergi saja, biar aku yang menemani asisten mu. Cajititlan tidak aman bagi wanita", ujar Sebastian spontan menawarkan diri membantu Ivana.
Cepat-cepat Lizzy mengangkat wajahnya. "Oh tidak usah nona, saya bisa sendiri ke sana. Saya hanya butuh beberapa orang pekerja saja untuk menemani saya".
"Sebaiknya kau pergi bersama Sebastian saja, ia paham tempat itu. Kebetulan ia berasal dari Cajititlan juga".
"Tapi tu–"
"Aku pastikan kau aman besama Sebastian Lizzy, ia tidak akan mengganggu mu lagi. Kali ini ia akan berurusan dengan ku kalau masih berani macam-macam", seru Jose setengah mengancam Sebastian.
Lizzy menatap Ivana seakan meminta keputusan bos-nya itu.
"Tidak ada pilihan lain lagi. Memang sebaiknya kau pergi bersama Sebastian. Aku juga tidak mau mengambil resiko kalau kau pergi sendirian demi keamanan mu, Liz", ucap Ivana.
"Iya nona. Saya mengerti".
"Sebaiknya kalian pakai mobil Ivana saja. Jalanan menuju Cajititlan buruk dan cukup menanjak. Jangan lupa bawa pengawal, menjelang sore daerah di sana sepi dan rawan kejahatan", ucap Jose mengingatkan keduanya.
"Jangan kuatir, teman. Aku paham wilayah itu. Mungkin untuk sebagian orang menakutkan namun tidak untuk kami yang berasal dari sana. Tenanglah aku akan menjaga Lizzy sebaik mungkin".
*
__ADS_1
Sebastian melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Ia dan Lizzy hanya berdua saja dalam mobil itu. Sudah sepuluh menit berlalu. Lizzy hanya diam saja sembari menatap keluar jendela.
"Kenapa kau diam saja, Liz. Sejak tadi tak sepatah kata kau ucapkan. Kalau karena masalah waktu itu, aku minta maaf", ucap Sebastian menolehkan wajahnya pada Lizzy.
Lizzy merubah posisi duduknya. Gadis itu menundukkan kepalanya. "Lupakan saja. Semua yang terjadi bukan kesalahan mu sepenuhnya. Aku juga salah".
"Saat aku mencium mu, aku baru saja putus dari ke kasih ku. Tiba-tiba melihat mu masuk ruangan itu... entahlah tiba-tiba aku ingin menyentuh mu, Liz. Aku sadar betul kau bukan Rubi. Aku juga bingung kenapa aku bisa mencium mu".
Lizzy menolehkan wajahnya pada Sebastian. Sejak kejadian sore itu, Sebastian adalah orang yang ingin Lizzy hindari. Namun saat ini mau tidak mau mereka bersama dalam satu mobil dan sangat dekat.
"Lupakan kejadian itu, tuan. Aku tidak mau membahas nya lagi. Aku tidak mau membuat masalah dalam pekerjaan ku. Karena aku sangat membutuhkan pekerjaan ini".
Tidak ada jawaban Sebastian. Tapi wajah laki-laki itu nampak berubah.
"Kenapa mobil ini?! Rem nya tidak berfungsi", ucap Sebastian dengan serius. Berulangkali kakinya menginjak rem karena mobil melewati jalanan menurun. Namun mobil tidak bisa mengurangi kecepatan nya.
Lizzy menegakkan punggungnya. "Oh my God ada apa Sebastian. Apa rem-nya blong?"
Lizzy memejamkan kedua matanya menahan nafas dalam-dalam. Merasakan mobil melaju kian cepat. "Tian...Apa kita akan mati sekarang?"
Lizzy spontan menggenggam erat jemari tangan Sebastian. Ia begitu panik dan ketakutan. Tangan itu terasa dingin dan berkeringat.
Mobil kian melaju kencang tanpa terkendali, menukik menuruni tanjakan. Sebastian memejamkan matanya mencengkram setir mengarahkannya agar tetap berada di jalan dan berharap mampu melewati jalan turunan tersebut.
Spontan Sebastian membawa Lizzy dalam dekapannya. Sementara gadis itu sudah berteriak histeris dan menangis. "Kita akan mati...Kita akan mati..."
"Berdoalah...tenangkan diri mu. Aku akan melindungi mu.."
...***...
Apa harapan kalian pada Lizzy dan Sebastian?
Tulis di kolom komentar ya 🤗
__ADS_1