
"Apa yang di lakukan gadis itu? Bawa ia kemari!", ketus Gustave dengan wajah kesal ketika melihat keponakannya meliuk-liuk kan tubuh di lantai dansa, club miliknya dengan beberapa pria yang menggerayangi tubuhnya.
Ramirez menganggukkan kepalanya dan segera berlalu mengikuti perintah bos-nya itu.
Sementara Gustave menatap pengunjung club yang sedang melantai maupun hanya sekedar berbincang bersama rekan mereka dari dinding kaca berukuran besar yang ada di ruang kerjanya.
Laki-laki itu meneguk wine hingga tandas dari gelas yang sedari tadi ada di tangannya. Wajahnya mengisyaratkan sedang dilingkupi amarah.
Laki-laki bertubuh tambun itupun bisa melihat Angel menolak Ramirez untuk ikut bersamanya. Bahkan Angel menyiramkan segelas minuman ke wajah anak buahnya itu.
"Gadis sialan! Pembangkang! Kau sama persis seperti Leon tidak berguna itu", gumam Gustave mengeram.
"Danillo, katakan pada Ramirez bawa saja dengan paksa keponakan ku. Aku sudah muak dengan kelakuan gadis keras kepala itu!"
"Baik bos".
Beberapa saat kemudian Gustave bisa melihat Ramirez membawa paksa Angel, meskipun dalam keadaan memberontak. Tidak ada yang memperdulikannya.
Gustave menghisap cerutunya dengan sorot mata masih menatap pengunjung club malam mewah miliknya.
"Lepaskan aku, brengsek!"
"Brukk.."
__ADS_1
"Akh.."
"Dasar kau bajingan, Ramirez!", teriak Angel meringis kesakitan setelah tubuhnya di hempas dengan keras ke atas sofa.
"Kau sama tidak bergunanya dengan ayah mu, Angel. Apa kau sudah berhasil melakukan yang aku perintahkan, hah?", cecar Gustave membalikkan badannya menatap tajam gadis yang juga sedang menatapnya penuh kebencian.
"Jangan pernah memanggilku Angel. Aku ingatkan pada mu bajingan, aku Dulce Leonita, bukan Angel! Anak mu Angel sudah lama mati karena kesalahan mu sendiri."
Gustave mengeram sembari mengepalkan kedua tangannya.
Melihat gadis itu bicara kasar pada Gustave membuat Ramirez dan Danillo hendak menariknya.
"Jangan coba-coba kalian menyentuhku!"
Sorot tajam menghujam gadis muda yang berbicara menggebu-gebu dihadapan Gustave tanpa rasa takut sedikitpun.
"Kau berani mengancam ku...gadis sialan! Kau benar-benar tidak berguna seperti ayah mu!"
"Jangan sekali-kali kau menghina papa ku. Kau lah yang brengsek dan bajingan! Aku ingatkan pada mu, aku akan mengambil perusahaan dan semua milik papa yang kau kuasai. Cam kan itu!!"
"Kau dan papa ku bagaikan langit dan bumi. Papa selalu melakukan hal baik, sementara kau sebaliknya".
"Kau..."
__ADS_1
"Hahahaha, anak kemarin sore tahu apa kau. Dengan sekali jentikan jari, aku bisa membuang mu, gadis bodoh!"
Dengan wajah menahan amarah, Gustave membalikkan badannya. "Bawa pulang gadis pembangkang ini, kurung di kamarnya. Jangan sekali-kali kalian berani menentang perintahku!"
"Apa maksud mu brengsek. Kau dan anak buah mu tidak bisa memaksa ku. L-epaskan aku. Kalian jangan menyentuh ku! Atau kalian akan menyesal!"
Sekuat tengah Dulce memberontak, berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman pria-pria berbadan kekar anak buah pamannya.
Bahkan tubuhnya diseret dengan kasar oleh orang-orang Gustave hingga ke parkiran club milik Gustave.
Ramires menarik paksa tangan Dulce agar masuk ke dalam mobilnya. Sesaat laki-laki itu menuju kursi pengemudi, tiba-tiba Dulce nekad membuka kembali pintu mobil.
"Shitt... Angel kembali. Danillo kejar gadis itu. Ia kabur!"
"Shitt..."
*
Dengan nafas terengah-engah, Dulce berlari sekencang mungkin. Ia tahu orang-orang pamannya pasti mengejar tepat di belakangnya.
"Ya Tuhan tolong aku. Aku harus lari dari orang-orang itu".
"POM bensin, aku harus bisa masuk ke salah satu mobil itu. Semoga mereka tidak menemukan ku..!"
__ADS_1
...***...