
Senyuman terlukis dari sudut bibir laki-laki itu. Ia menutup rapat pintu kaca yang terhubung dengan balkon.
Perlahan Jos menyusul istrinya, melepas jaket kulit dari tubuhnya. Laki-laki itu juga melepas jam tangannya.
Sementara Ivana tak berkedip sedikit pun memperhatikan gerak-gerik Jose dari atas tempat tidur mereka dengan tatapan sayu begitu menggoda. Jose tahu istrinya sudah di liputi gairahh yang membuncah. Jose sengaja memperlambat gerakan nya untuk membuka sabuk yang melingkar di pinggangnya.
"Ah sayang, kau sangat lambat sekali".
Ivana beringsut duduk di tepi tempat tidur. Ia mendongakkan wajahnya menatap Jose sementara jemari-jemari tangannya membukakan sabuk yang di kenakan suaminya.
Jose menundukkan kepalanya melumatt bibir istrinya yang terbuka, begitu menantangnya.
"Jangan pernah menggoda siapa pun seperti ini Ivana. Aku tidak akan membiarkannya. Kau hanya milikku. Milikku!", ucap Jose dengan suara serak penuh penekanan.
"Tubuh ku milikmu saat ini, sayang. Tapi saat kita memiliki anak kau harus berbagi dengannya. Terutama tempat favorit mu ini", ucap Ivana sembari membawa tangan Jose menyentuh dadanya.
"Itu hal yang berbeda–"
"Ah shittt. Kau selalu bisa membuat ku mengerang nikmat seperti ini, Ivana".
Jose memejamkan matanya ketika jemari lentik Ivana mengusap-usap miliknya. Tidak sampai di situ saja. Jose semakin mengerang nikmat ketika merasakan lidah basah Ivana mengulum miliknya yang berdiri tegak tepat di hadapan wajah nya.
Jose melepaskan lingerie hingga panties yang tersisa di tubuh Ivana.
__ADS_1
Jose mengusap lembut dada atas istrinya, menyusuri belahan dada yang begitu menantang itu. Memilin puncaknya.
Tindakan Jose membuat tubuh Ivana semakin meremang. Cuaca dingin di luar terasa begitu panas di dalam kamar mewah bernuansa coklat tua itu.
Tubuh Ivana semakin gelisah, ketika jari Jose menggelitik intinya, mengusapnya perlahan-lahan.
"Akh..sayang".
Ivana melenguh. Bahkan meracau tak karuan. Ia di pengaruhi minuman keras sekaligus buaian suaminya yang sangat tahu area tertentu bisa membuatnya mendesahh.'
Jose memegang miliknya, mengarahkan pada inti Ivana yang sudah sangat basah. Dengan sekali hentakan milik Jose melesat masuk sepenuhnya.
Ivana menjerit kecil ketika merasakan pusat tubuhnya seperti terkoyak. Namun rasanya begitu nikmat ketika Jose tanpa ampun bergerak semakin cepat dan keras.
Rintihan sakit seketika berubah menjadi rintihan kenikmatan. Kamar berukuran luas yang kerap menjadi saksi bisu malam panas pasangan yang saling mencinta itu selalu memberikan suasana romantis bagi Ivana dan Jose. Sejak pertama bercinta, melakukannya ditempat itu.
Malam semakin larut..
Jose mengusap punggung halus Ivana. Sementara Ivana menyandarkan wajahnya pada dada bidang laki-laki itu.
"Sayang, apa yang kau lakukan di luar tadi. Kenapa kau pulang lama sekali?"
Jose mengecup pucuk kepala istrinya. "Aku menginterogasi mandor mu. Sejak inciden yang di alami Sebastian dan Lizzy ia tidak bisa di hubungi. Aku curiga ia terlibat dalam kecelakaan yang di alami Tian dan Lizzy".
__ADS_1
"Apa kau sudah mendapatkan hasilnya? Apa ada keterlibatan Hector?", tanya Ivana sambil mengusap lembut dada bidang suaminya itu.
"Sepertinya Hector berkata jujur. Ia tidak terlibat. Namun aku tetap meminta orang ku mengawasi laki-laki itu".
Ivana mengangkat wajahnya. "Kalau ia tidak bersalah kenapa kau masih mencurigai nya. Selama ia bekerja bersama ku, ia laki-laki baik dan pekerja keras Jos. Lagian kenapa kau sangat membenci nya. Ada masalah apa di antara kalian sebenarnya?", tanya Ivana menatap lekat wajah suaminya yang terlihat tidak berminat untuk menjawab pertanyaan nya.
"Hector kaki tangan ibunya Lupe. Lupe adalah pelayan sekaligus orang kepercayaan kakek ku beberapa tahun yang lalu. Kakek sangat baik kepada keluarga itu. Bahkan Hector sudah di anggap seperti cucunya sendiri, sama seperti aku dan Juan".
"Tapi ternyata kebaikan kakek di salah artikan Lupe dan Hector mereka bekerja sama memalsukan tanda tangan kakek, ingin memiliki perkebunan ini seutuhnya. Beruntung pengacara kakek cepat mengetahuinya, dan memberi tahu ku sebelum keduanya bertindak lebih jauh".
Mendengar cerita Jose untuk yang pertama kalinya tentang Hector dan Lupe membuat Ivana duduk menyimak semuanya. "Lalu apa yang terjadi?"
"Hector sebaya dengan Juan adik ku. Sebenarnya kakek sudah menyiapkan kehidupan yang baik untuk nya namum keserakahan ibu dan anak itu membuat kakek ku kecewa. Beruntung mereka tidak di jebloskan ke penjara, namun mereka di haruskan pergi dari Almiron. Kakek masih berbuat baik untuk mereka di akhir hayatnya".
"Namun tidak dengan ku. Aku lebih keras pada keduanya. Bagiku kesetiaan melebihi apapun di muka bumi ini. Sejak Almiron menjadi milikku, aku melarang keduanya menginjakkan kakinya ke perkebunan ku".
"Dengan kekuatan yang aku miliki, aku menggagalkan semua usaha Hector. Semua pemilik perkebunan menolaknya. Aku ingin membuat efek jera pada laki-laki itu. Saat tahu ia bekerja bersama mu, aku sangat kesal dan marah. Kau mengacaukan semuanya. Kau seperti mau bermain-main dengan ku. Menantang ku", ucap Jose sambil mencubit puncak dada Ivana.
Ivana menyipitkan matanya, dan mencondongkan tubuhnya pada Jose. "Apa yang membuat mu kesal Jose Miguel? Apa kau cemburu pada Hector, hem?", goda Ivana tertawa.
"Ck. Tidak ada kata cemburu untuk seorang Almiron. Tapi aku tidak akan membiarkan milik ku di ambil orang lain", seru Jose sembari mendorong tubuh Ivana terlentang dan di bawah kungkungan tubuh atletisnya.
"Itu sama saja artinya kau cemburu, Jose. Mengaku saja. Hm...ternyata aku menikah dengan laki-laki pencemburu ya", ucap Ivana tertawa meledek suaminya yang kembali menyusuri tubuh polosnya.
__ADS_1
...***...
Tiga bab saja hari ini. Sampai jumpa esok hari.