PERNIKAHAN PALSU IVANA

PERNIKAHAN PALSU IVANA
MENYIBAK TABIR


__ADS_3

Brugghh...


Brugghh...


"Katakan siapa yang menyuruh kalian menjadi penyusup di Nasviell!", teriak Adrian dengan suara lantang menggelegar memenuhi ruang berukuran luas yang tidak terpakai lagi itu.


Namun di tengah-tengah ruangan terdapat satu sofa mewah berwarna coklat tua yang terlihat sangat empuk, tepatnya di hadapan Oscar dan dua temannya duduk Jose dengan kaki menyilang dan wajah dingin berahang tegas menghisap cerutu yang terjepit di antara dua jari tangannya.


Sorot mata hitam kelam itu menghunus tajam seperti ujung pisau yang siap menancap pada apapun. Menatap dengan penuh intimidasi ketiga pria yang ketahuan sebagai pelaku teror di perkebunan Nasviell.


Ketiga pria itu sudah tak berdaya, berbaris sejajar di tengah-tengah ruangan dengan tangan terikat kebelakang. Namun ketiganya kekeuh tidak mau membuka mulut meskipun sudah terdesak seperti itu.


"Katakan, kalian bekerja pada siapa?", teriak Adrian lagi.


Oscar dan dua temannya, lagi-lagi menutup mulut. Sementara Hector dan beberapa orang dari perkebunan Nasviell berdiri tidak jauh dari tempat itu. Semua menyaksikan yang terjadi di sana dengan wajah kecut dan cemas. Berbanding terbalik dengan anak buah Jose yang terlihat biasa-biasa saja, karena bagi mereka yang sudah lama bekerja dengan Jose Miguel Almiron hal seperti itu bukan yang pertama bagi mereka.


Jose tidak akan mentolerir yang namanya pengkhianatan. Dengan tangan nya sendiri laki-laki itu akan menghabisi orang yang berkhianat padanya.


Meskipun jantung Hector berdetak semakin cepat, karena keterlibatan ibunya namun laki-laki itu teguh dengan pendiriannya. Ia pasrah jika Jose dan Ivana menuntut Lupe nantinya setelah Oscar membuka mulut dan menyebut keterlibatan Lupe.


Satu jam telah berlalu. Namun penekanan yang dilakukan Adrian masih belum membuahkan hasil juga. Jose nampak jengah. Laki-laki bertubuh atletis itu berdiri dari tempat duduknya. Menghampiri Oscar dan kedua tersangka lainnya.


"Kalian mau main-main dengan ku rupanya hah!"


Jose memberi isyarat pada Adrian. Adrian mengerti apa yang di inginkan bos-nya itu. Menyeret salah satu dari tiga tersangka maju kedepan.


Pria yang dipilih Adrian menatap nanar Oscar dan temannya. "Oscar... Osvaldo bantu aku. K-alian berdua yang tahu–"


"Berlutut!"


Teriak salah satu bodyguard Jose memberi perintah.


"S-aya tidak tahu apa-apa, tuan. O-scar dan Osvaldo yang lebih tahu", ujar pria muda itu ketakutan setelah ia di paksa berjongkok. Wajahnya yang sudah babak belur akibat pukulan Hector dan teman-temannya di tambah lagi orang-orang Jose, menambah darah yang sudah mengering kembali menetes.


Nampak seringai di wajah Jose sambil mencabut pistol di balik pakaiannya.

__ADS_1


Seketika wajah pria muda itu pucat pasi. Terlebih Adrian menutupi matanya dengan kain hitam.


"Ampuni saya tuan. Saya sudah mengatakan yang saya tahu. Sayang benar-benar tidak mengetahui siapa lagi yang terlibat".


"Apa kau terlibat juga pengerusakan rem mobil istri ku?".


"T-idak tuan. Saya tidak tahu sama sekali. Hanya pagi ini saja saya terlibat bersama Oscar dan Osvaldo, tuan", ucap pria muda itu dengan suara bergetar. Diantara ketiganya memang ia yang paling muda.


"Siapa nama mu?"


"Juan, tuan".


Mendengar nama itu, membuat Jose terdiam.


Kketekkk..


Terdengar suara pistol yang tinggal di tarik saja untuk di tembakkan.


Tubuh Juan gemetaran. Ketika merasakan ujung pistol di tempelkan di pelipis nya. "A-mpuni saya tuan. Saya janji tidak akan terlibat kejahatan apapun lagi, tuan". Ucapnya memohon.


Juan tertunduk lesu mendengar perkataan Jose. Pemuda itu tahu, hidupnya akan berakhir sekarang juga.


Oscar dan Osvaldo saling bertukar pandang.


"Juan bohong kalau tidak mengetahui tentang pengerusakan rem mobil itu tuan. Ia salah satu pelakunya", ucap Osvaldo.


"Kau yang bohong. Kau dan Oscar lah yang merencanakan dan terhubung dengan orang yang menyewa kita. Kalian berdua yang berbohong".


"Tutup mulut mu bajingan!", Teriak Oscar.


Pistol Jose semakin menempel di pelipis Juan. Jantung pemuda itu semakin kian berdetak kencang.


"Tembak saja pemuda tidak berguna itu tuan. Dia–"


Dorrr..

__ADS_1


Akh..


Tiba-tiba tubuh Oscar seketika jatuh. Peluru tepat mengenai keningnya. Darah segar perlahan menggenang. Bau anyir pun tercium ke penjuru ruangan.


Orang-orang yang menyaksikan langsung kejadian itu terdiam. Timah panas dari pistol Jose bersemayam di kepala Oscar.


Juan yang tidak melihat karena kedua matanya di tutup kain hitam. Namun ia tahu ada yang sudah tertembak. Sementara Osvaldo terdiam melihat Oscar terbujur kaku di dekatnya. Ia tidak menyangka, ternyata Jose memilih menembak temannya Oscar di banding Juan. Laki-laki itu tidak berani menatap Jose. Mendadak ludahnya kelu. Ternyata kabar yang mengatakan Jose Miguel Almiron kejam bukan lah cerita bohong belaka.


Bak eksekutor berdarah dingin laki-laki itu membunuh dengan sekali tembakan saja.


Hector yang menyaksikan semuanya, hanya bisa terdiam di tempatnya berdiri. Tidak bisa berbuat apa-apa.


"Buka tutup matanya". Perintah Jose pada orangnya agar membuka kain penutup mata Juan.


"Diantara kalian berdua, aku tahu siapa yang berbohong. Aku memberi waktu tiga puluh menit pada kalian agar mengaku, kalau tidak satu di antara kalian akan menyusul teman kalian Oscar. Namun kali ini aku akan melempar ke kandang singa", tegas Jose tidak main-main.


Juan dan Osvaldo terdiam. Tubuhnya bergidik mendengar ancaman Jose.


"Segera bersihkan tempat ini!"


Jose membalikkan tubuhnya hendak pergi dari tempat itu.


"H-ector tahu siapa yang membayar kami", ujar Osvaldo.


Langkah kaki Jose terhenti mendengar pengakuan itu.


Hector yang namanya di sebut Osvaldo tak bergeming.


"Hector tahu siapa orangnya. Saya tidak bohong tuan Jose".


Jose menolehkan kepalanya menatap tajam Hector yang sedari tadi berdiri di tempatnya. "Kau ikut dengan ku!"


...***...


Bila masih ada typo, nanti sore akan di revisi ya.

__ADS_1


__ADS_2