
"Iya. Aku melakukannya", jawab Lupe dengan tegas memastikan pertanyaan putranya.
Hector mengalihkan perhatiannya pada dinding rumah mereka sambil berdecah. Detik berikutnya menatap Lupe dengan amarah di wajahnya.
"Kenapa mama melakukan semuanya. Apa salah nona Ivana pada mu, mama.."
"Karena aku benci wanita itu menikah dengan Jose Miguel Almiron! Laki-laki arogan itu tidak berhak hidup bahagia setelah apa yang di lakukannya pada kehidupan kita Hector", ketus Lupe.
"Mama menginginkan mu yang menikah dengan Ivana Hector. Itulah kenapa mama bersusah payah agar wanita itu mau menerima mu bekerja di Nasviell".
Hector menghembuskan nafasnya. Sungguh perkataan Lupe membuatnya kaget. Hector menggelengkan kepalanya, tidak percaya ide gila mamanya.
"Jika kau menikahi wanita itu, kau akan menjadi pemilik perkebunan. Kedudukan mu bisa sejajar dengan Jose Miguel. Kita harus membalas semua perbuatan laki-laki itu pada keluarga kita. Apa kau lupa bagaimana ia memanipulasi semua pemilik perkebunan agar menolak mu?", ketus Lupe mengingatkan Hector.
Hector memejamkan matanya.
"Aku sedih melihat mu seperti ini. Mama sudah sangat jauh melangkah. Kali ini aku tidak akan mengikuti mu ide gila mu lagi, ma. Nona Ivana sangat baik dan percaya pada ku. Tuan Jose juga memberikan kesempatan pada ku untuk lebih baik lagi".
"Ini terakhir kalinya aku mengingat kan mama untuk sadar. Berubah lah menjadi baik. Lupakan ambisi gila mu itu sebagai pemilik perkebunan yang bukan hak mu, mama", ujar Hector dengan suara meninggi.
__ADS_1
"Huh...tidak akan. Pokoknya aku harus memiliki salah satu perkebunan di Jalisco", teriak Lupe. "Kau suka atau pun tidak, aku harus sebagai pemilik perkebunan".
Hector menggelengkan kepalanya. Ia hendak merengkuh wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini, namun Lupe membalikkan badannya menjauhinya.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menyadarkan mu, ma. Aku ingin membuat mu bahagia tapi bukan melakukan kejahatan. Maafkan aku tidak bisa mengikuti keinginanmu kali ini, mama", gumam Hector terlihat sangat sedih.
Melihat sikap Lupe seperti itu sungguh membuat batinnya bergejolak. Hector tidak mau mamanya dalam bahaya. Namun sangat sulit melunakkan hati Lupe yang sudah mengeras seperti batu.
*
Keesokan harinya...
"Nona Lizzy terlihat lebih segar sekarang", ucap Maria setelah mengikat rambut panjang Lizzy.
"Nona tidak perlu sungkan. Saya senang menemani pasien yang tidak menyulitkan seperti anda, nona Lizzy", jawab Maria tersenyum.
Tok..
Tok..
__ADS_1
Ceklek..
Lizzy dan Maria serentak menolehkan wajah mereka ke pintu. Seorang pria muda berdiri di depan pintu.
Lizzy tidak mengenalnya sama sekali siapa pria itu.
"Selamat pagi nona Lizzy, perkenalkan saya Fitto asisten tuan Sebastian. Saya–"
"Ada apa dengan Sebastian? A-pa keadaan nya memburuk?", ucap Lizzy panik. Seketika wajahnya pucat pasi.
Gadis itu hendak turun dari tempat tidur namun kakinya masih terasa sakit dan sulit di gerakkan.
Maria yang melihatnya segera melarang Lizzy turun dari ranjang pasien. Maria mencegah keinginan gadis itu.
Dengan sigap Fitto pun menghampiri Lizzy. "Nona, anda jangan bergerak dulu. Kondisi nona belum sembuh benar".
"Jangan pedulikan keadaan ku. Antar aku ke kamar Tian sekarang juga", ujar Lizzy begitu panik.
Bahkan kedua matanya terlihat berair. "Aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu padanya. Ia seperti itu karena melindungi ku..."
__ADS_1
...***...
KALIAN TINGGALKAN KOMEN DI BAB INI, NANTI EMILY UP LAGI 🙏