
"Akh..."
Suara-suara merdu itu keluar dari bibir Ivana yang terus terbuka, mendesahh dan melenguh memenuhi kamar mewah bernuansa maskulin tersebut.
Bahkan saat pintu nya terbuka menyeruak aroma tubuh Jose, meskipun pemilik sudah lama tidak tidur di kamar itu.
"Ah Ivana, milik mu masih sangat sempit. Kau bagai candu untuk ku. Aku tidak bisa menahan diri sejak bersama mu, sayang", racau Jose dengan suara serak sembari menghentak kuat miliknya pada inti Ivana yang berada di bawah kungkungan tubuh atletisnya itu.
Sejak tadi keduanya bergumul di atas tempat tidur, saling menjamah dan menyusuri area sensitif tubuh pasangan.
"Akh sayang ..."
Tubuh Ivana menegang, jemari tangannya mencengkram kuat-kuat spray yang sudah berantakan akibat ulah keduanya.
Jose tahu istrinya sudah mendapatkan pelepasan. Jose membalik keadaan, ia di bawah dengan sedikit mengangkat tubuh Ivana.
"Woman on top. Bergerak lah sayang. Aku ingin merasakan kau memimpin bercinta kita kali ini", ucap Jose menatap wajah Ivana yang terlihat lelah namun masih memendam hasrat seksuall yang bergelora.
Ivana menatap Jose dengan tatapan sayu sambil mengigit bibir bawahnya. Pasrah. Namun tubuhnya bergerak sangat seksi di atas tubuh Jose yang merasakan kenikmatan luar biasa.
"Ah, shittt. Kau sangat menggoda ku Ivana.."
Jose menghentakkan miliknya dari bawah, sementara tangannya memeluk erat pinggang Ivana.
__ADS_1
"Akh .."
"Tunggu sebentar lagi sayang. Aku tahu kau lelah. Ini tidak akan lama lagi", bisik Jose yang kembali berada di atas tubuh Ivana.
Jose melumatt bibir istrinya. Keduanya saling mencecap hingga dalam lidah saling menyapu rongga mulut dan bertukar saliva.
Ivana semakin terbuai. Ia bisa mencium aroma mint mulut suaminya. Iv memejamkan matanya merasakan sensasi yang di berikan Jose. Meremas, memilin hingga mengulum puncak gunung kembar milik nya bergantian. Meninggalkan jejak-jejak merah.
Tubuh Ivana kembali mengelijang, bergetar hebat sementara bibirnya mengeluarkan suara dessahan dan lengguhan panjang. Berbarengan suara Jose yang mengeram.
Jose menekan miliknya pada gua kenikmatan Ivana yang menghisap miliknya dengan kuat.
"Ahh sayang, kau sangat nikmat. Aku sangat mencintaimu, Ivana", teriak tertahan Jose sambil mengenadahkan wajahnya menyemburkan cairan hangat miliknya.
"Aku berharap, bercinta malam ini bisa membuat mu segera hamil. Mengandung anakku di sini", ucap Jose mengusap perut rata Ivana sembari menarik perlahan miliknya dan terlentang di samping Ivana.
Ivana menyandarkan wajahnya pada dada bidang Jose, mengusap lembut bekas tembakan di dada itu.
"Jos...Apakah tidak terlalu cepat memiliki anak sekarang? Kita baru saja bersama, aku masih ingin menikmati masa-masa indah ini berdua dengan mu, Jose", ucap Ivana mendongakkan wajahnya menatap Jose. Nafasnya masih tersengal-sengal.
Jose mengusap lembut punggung polos istrinya.
"Meskipun kau mengandung, kita masih bisa menikmati saat indah berdua, tidak ada yang berubah. Aku sangat merindukan suasana ramai di rumah ku. Anak-anak yang lahir dari rahim wanita yang aku inginkan, wanita yang aku cintai. Buah kasih kita", ucap Jose sambil menaruh anak-anak rambut Ivana ke belakang telinga.
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa membayangkan betapa bahagianya keluarga kita jika memiliki keturunan. Anak-anak kecil berlari kesana-kemari, memanggil mu mommy. Memanggil ku daddy. Hidup kita akan semakin bahagia sayang".
Ivana terdiam mendengar penuturan Jose. Ia bisa merasakan betapa Jose mendambakan anak-anak.
"Usia ku sudah tiga puluh enam tahun. Usia matang untuk memiliki anak. Aku ingin melihat anak ku tumbuh. Tentu saja aku menginginkan hal itu terjadi ketika aku masih kuat. Aku masih menemani mereka bermain-main, bukan saat aku sudah tua".
Ivana tak bergeming. Namun jemari tangannya masih menggelitik perut sixpack Jose.
"Bukankah tujuan pernikahan itu agar memiliki keturunan. Buat apa kaya dan banyak harta jika tidak ada keturunan. Kecuali jika sudah takdirnya tidak bisa memilih anak, tentu saja itu hal yang berbeda".
Ivana terdiam, ia memikirkan perkataan Jose. Iya, ia sangat tahu bagaimana melihat paman dan bibinya yang tidak memiliki keturunan. Selalu nampak kesepian, apalagi di saat usia kian bertambah.
Ivana mengangkat wajahnya, sementara jemari lentik tangan nya mengusap rahang Jose.
"Aku siap menjadi seorang ibu. Ibu anak-anak mu. Kau benar, tentu saja aku tidak mau kesepian di usia senja nanti", ucap Ivana membenamkan wajahnya pada dada Jose yang mencium pucuk kepalanya.
"Sayang kau ingin memiliki anak berapa?"
Jose tersenyum mendengar pertanyaan Ivana. "Sepertinya seru jika bisa membuat tim kesebelasan. Aku akan membuat lapangan bola di Almiron", jawab Jose terdengar serius.
Ivana membelalakkan matanya, seketika wanita itu terduduk bahkan tubuh nya masih polos dan terekspos tanpa sehelai benangpun.
"Kau bercanda. Yang benar saja aku harus hamil tiap tahun kalau begitu", seru Ivana melototkan kedua matanya menatap Jose yang nampak acuh dengan keterkejutan istrinya.
__ADS_1
...***...