PERNIKAHAN PALSU IVANA

PERNIKAHAN PALSU IVANA
SUASANA HATI


__ADS_3

"Maria, Antar aku ke kamar Tian sekarang juga", ujar Lizzy begitu panik.


"Nona Lizzy, tuan Sebastian baik-baik saja. Saya kemari di suruh tuan mengantarkan ini pada nona", ujar Fitto memberikan kertas yang terlipat dengan rapi pada Lizzy.


Liz menatapnya. Dengan tangan gemetaran ia mengambil kertas itu dari tangan Fitto. "Apa ini?"


"Balasan tuan Sebastian atas surat anda untuk nya, nona. Itu saya yang menulis sesuai dengan kata-kata tuan Sebastian. Bos saya kondisinya sudah berangsur membaik. Bicaranya sudah semakin jelas. Hanya saja tubuhnya masih belum bisa di gerakkan. Masih harus beristirahat total dan belum bisa menemui nona".


Lizzy mengerjapkan kedua matanya menatap kertas yang masih terlipat rapi.


"Biar saya yang membantu nona membukanya ?", ujar Maria. Melihat Lizzy masih kesulitan menggerakkan tangan kanannya karena mengalami retak tulang di bahunya.


Lizzy menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu saya permisi mau ke kamar tuan Sebastian lagi, nona. Semoga anda cepat pulih nona Lizzy", ucap Fitto tersenyum.


"Terimakasih Fitto. Sampaikan salam ku untuk atasan mu".

__ADS_1


"Baik nona", jawab Fitto sebelum pergi dan menutup pintu kamar rawat inap Lizzy.


*


Wajah Lizzy nampak tersenyum setelah membaca surat Sebastian.


Maria yang sedari tadi memperlihatkan gadis itupun ikut tersenyum melihatnya. "Hm.. Sepertinya isi surat dari tuan Sebastian membuat hati nona berbunga-bunga ya", goda Maria.


"Aku senang karena mengetahui keadaan Tian semakin membaik Maria. Apa yang aku kuatirkan tidak terjadi".


"Nona Lizzy sekarang harus rebahan, sudah terlalu lama duduk seperti itu". Maria menurunkan sandaran kepala Lizzy.


Senyum masih terlukis di wajah cantik gadis bermata indah itu. Tangan kirinya masih menggenggam erat surat Sebastian.


Sementara Maria menikmati siaran televisi di sudut ruangan, Lizzy mengangkat kertas dengan tangan kirinya yang tidak cedera. Membaca sekali lagi surat dari Sebastian. Walaupun itu bukan tulisan tangan Tian namun menurut Fitto setiap kata keluar dari bibir Sebastian.


**Aku senang kau menulis surat untuk ku. Kamu harus tahu ini pertama kalinya aku menulis surat pada seseorang. Rasanya sangat aneh*

__ADS_1


*Aku baik-baik saja. Aku harap kau pun semakin membaik, Lizzy. Aku akan menagih janji mu untuk merawat ku, setelah keadaan mu semakin baik**


Lizzy tersenyum mencerna kata-kata itu. "Dalam keadaan sakit pun ia masih bisa bercanda", ucap Lizzy pelan.


*


"Bos, di bawah ada Lupe ingin bertemu dengan anda", ucap laki-laki bertubuh tambun yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerja bernuansa silver itu.


"Apa maunya wanita tua itu, jika tidak terlalu penting untuk ku lain kali saja ia menemui ku Guzman. Aku sedang tidak berminat menemui wanita tidak berguna itu!"


"Menurut Lupe ia ingin menyampaikan informasi penting bos".


Orang yang di panggil bos tersebut menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya. Sementara jemari tangannya mengetuk-ngetuk meja kaca di hadapannya.


"Biarkan wanita itu menemui ku sekarang Guzman. Periksa dengan detail tubuh dan barang-barang yang di bawanya. Aku tidak mau lengah!"


"Baik bos. Jangan kuatir saya sendiri yang akan memeriksa wanita itu. Tidak akan saya biarkan seorang mata-mata berada di sekitar anda. Orang-orang yang ada di sekitar anda adalah orang-orang yang tidak perlu di ragukan lagi kesetiaannya pada keluarga anda. Mereka orang lama yang sangat setia pada tuan Chapo ayah anda bos", tegas Guzman sebelum keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2