PERNIKAHAN PALSU IVANA

PERNIKAHAN PALSU IVANA
KISAH JOSE


__ADS_3

Ivana mengerjakan kelopak mata, ketika sinar matahari pagi menyentuh wajahnya. Spontan tangan Iv menghalau pantulan cahaya terang yang menyilaukan itu.


Ceklek...


"Kau sudah bangun?".


Suara itu mengagetkan Ivana. Kesadarannya telah terkumpul. Ivana ingat semuanya. Cepat-cepat ia menarik selimut menutupi tubuh polosnya.


"Apa yang kau tutupi, aku sudah melihat semuanya", tanya Jose yang masih bertelanjang dada membawa table troy ke atas tempat tidur. Ia duduk di dekat Ivana.


Netra Ivana membulat. Wanita itu terlihat seksi dengan rambut acak-acakan, tubuh putih mulusnya banyak tanda merah. "Yang benar saja..."


"Kau cantik seperti ini".


Jemari Jose menarik dagu Ivana, memberikan kecupan selamat pagi pada Iv.


Jujur di perlakukan intim seperti itu saat ini membuat Ivana gugup.


"Aku membawakan makan pagi kita. Setelah bercinta sepanjang malam dengan ku, kau pasti kelaparan", ucap Jose menatap Ivana dengan penuh perhatian.


"Jose, aku ingin membersihkan tubuh ku dulu. Rasanya lengket semua".


Ivana mengeratkan selimut menutupi tubuh nya. Sungguh ia masih malu-malu di depan Jose meskipun semalam semalam sudah menghabiskan waktu berdua dengan laki-laki itu.


Ivana hendak berdiri namun pusat tubuhnya terasa begitu perih.


"Akh..."


Rasanya Ivana tidak kuat untuk berdiri dan berjalan ke kamarnya. Ivana kembali terduduk di tepi tempat tidur.


Jose memindahkan table troy ke atas nakas. "Apa masih begitu sakit rasanya, hem?"


Iv menganggukkan kepalanya sambil mengigit bibirnya.


Jose yang sudah berdiri di depannya mengangkat dagu Ivana. Ia menundukkan kepalanya melumatt bibir Ivana yang terbuka berdesis menahan rasa sakit di pusat tubuhnya. Iv memejamkan matanya.


"Maafkan aku karena membuat mu kesakitan", ucap Jose terdengar begitu lembut.


Tiba-tiba Jose mengangkat tubuh Ivana. Ivana kaget. "Jose...kau membawaku kemana", tanya Ivana menatap wajah laki-laki itu yang begitu dekat dengannya. Bahkan hembusan nafasnya pun bisa Ivana rasakan.


"Kata mu ingin mandi, kita mandi bersama".


"Tapi aku mau kembali ke kamar ku, Jose.."


"Mulai sekarang kau tidur di kamar ku. Hilda sudah memindahkan semua pakaian mu di ruang wardrobe ketika kau masih tertidur".

__ADS_1


Mendengar jawaban Jose membuat Ivana menyelusup kan wajahnya pada dada bidang Jose. Wajahnya nampak semakin merona.


*


Setelah hampir dua jam berada di kamar mandi, Ivana Jose menikmati makan pagi yang tertunda.


Saat mandi, Jose tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh Ivana. Keduanya kembali terbuai oleh hasrat dan gairahh.


Bercinta di bawah guyuran shower. Sama-sama saling menginginkan hingga terjadi percintaan panas selanjutnya.


"Uhh...aku benar-benar lapar. Kau membuatku kelelahan", cicit Ivana yang masih menggunakan bathrobe menutupi tubuhnya. Begitu juga rambut basahnya masih di bungkus handuk berwarna sama.


Jose tersenyum mendengar perkataan Ivana.


"Makanlah..."


Jose menyesap kopi susu miliknya.


"Apa kau selalu romantis seperti ini? Memberikan setangkai mawar pada pasangan bercinta mu?", tanya Ivana menatap Jose yang duduk di sampingnya di sofa kamar.


Jose menyendok kan sereal ke dalam mulutnya. "Tidak. Hanya kali ini saja"


Ivana menyipitkan matanya. "Artinya aku harus merasa tersanjung. Karena hanya aku yang kau perlakukan seperti ini, tuan Jose?", goda Ivana tertawa renyah sambil menyantap Quesadillas Fritas, tortilla yang di isi keju dan daging kemudian di siram saos salsa.


Jose mengusap lembut ujung bibir Ivana. Membuat Ivana terdiam. Tindakan spontan Jose selalu di respon tubuh Ivana.


Jose tersenyum mendengarnya. Laki-laki itu menyuapkan makanan ke mulut Ivana. Semakin membuat Ivana salah tingkah. Wajahnya semakin merona seperti buah Cherry merah. Ivana tersipu malu.


Keduanya menghabiskan sarapan mereka dalam suasana romantis saling menyuapi makanan dan berbincang, berbagi cerita tentang diri masing-masing.


"Jose...kau belum menceritakan, bagaimana kau mengenal kakak ku. Aku sama sekali tidak pernah mendengar Leo menyebut nama mu. Karena kami sangat dekat".


Jose menarik tubuh Ivana. Ivana menyandarkan tubuhnya pada dada Jose yang memeluknya dari belakang. Keduanya masih berada di atas sofa, berpelukan mesra.


"Leo pernah menyelamatkan hidup ku. Ketika itu adikku Juan terlibat dengan kartel narkoba. Sebenarnya Leo berteman dengan Juan mereka seumuran. Sementara aku tiga tahun di atas mereka. Juan memang berbeda dengan ku. Ia suka terlibat masalah. Kami sudah di tinggal kedua orang tua kami. Sejak kecil aku dan Juan di rawat kakek kami pemilik perkebunan ini".


Ivana mendengarkan cerita Jose. "Apa yang terjadi dengan Juan?"


"Adik ku terbunuh oleh orang-orang kartel. Saat itu aku sedang kembali dari Amerika untuk libur kuliah, ketika mengetahui keterlibatan adikku dengan orang-orang itu. Aku dan Leo ingin menyelamatkan Juan yang sudah mereka tangkap. Namun naas mereka membabi buta ingin menghabisi kami semua. Sialnya peluru mereka mengenai ku yang sedang membantu adik ku keluar gedung tua di mana Juan di sekap. Aku hampir mati kehabisan darah. Beruntung Leo memiliki golongan darah yang sama dengan ku. Ia mempertaruhkan nyawanya untuk membantuku karena saat itu sebenarnya Leo sudah sering sakit. Namun ia masih bersedia menyelamatkan hidup ku", ucap Jose mengenang masa kelam yang di lewatinya dulu.


Ivana terdiam mendengar cerita Jose. Yang terlihat begitu terluka.


"Sejak saat itu aku dan Leo semakin akrab. Bahkan ia membeli perkebunan Nasviell tepat di sebelah Almiron. Ketika itu ia mengatakan membeli Nasviell karena ingin membuat seseorang yang sangat di sayanginya bahagia. Leo tidak mengatakan secara mendetail siapa orang yang ia maksud".


"Beberapa saat kami lost contact, karena aku menetap di New york. Aku sangat terkejut mendengar Leo meninggal. Aku sangat sedih karena tidak bisa menemui nya. Pada saat yang sama aku harus menemani kekasih ku Ximena yang sedang di rawat di rumah sakit di New York. Yang pada akhirnya menambah kesedihan ku, karena lagi-lagi orang yang aku cintai pergi meninggalkan ku", ucap Jose dengan nada suara tampak begitu sedih.

__ADS_1


"Setelah Ximena meninggal, aku memutuskan kembali ke Almiron. Apalagi setelah menerima khabar dari pengacara kakek bahwa keadaan perkebunan sedang tidak baik-baik saja".


"Salah satu pelayan yang merawat kakekku memalsukan tanda tangan kakek yang sudah sakit-sakitan. Kedatangan ku tepat waktu. Tentu saja aku akan menyelamatkan perkebunan Almiron dengan jiwa ragaku. Di tahun yang sama kakek meninggal karena usia yang sudah lanjut. Ia mewariskan perkebunan ini untuk ku".


Ivana bisa merasakan kesedihan Jose, ia mengusap punggung tangan Jose yang melingkar di depan dadanya. Ivana tidak menyangka ternyata kehidupan Jose tidak jauh berbeda dengannya. Sendirian setelah di tinggalkan orang-orang yang mereka sayangi.


Sekarang Ivana menemukan jawaban yang ia inginkan beberapa hari terakhir. Lizzy benar, semua yang terjadi di Nasviell tidak mungkin Jose pelakunya. Justru Jose tulus.


"Maafkan aku Jos. Aku sempat mengira kau tidak ingin melihat Nasviell bangkit kembali".


Ivana membalikkan tubuhnya, menyandarkan wajahnya pada dada bidang Jose. Ivana mendongakkan wajahnya menatap Jose dengan lembut.


"Aku menuduh mu atas semua yang terjadi di Nasviell". Sesaat Ivana terdiam sementara jemari lentiknya mengusap lembut dada Jose. Ia bisa merasakan tiga bekas tembakan di dada bidang itu. Ivana mengusapnya pelan.


"Sebenarnya itulah tujuan ku menerima ajakan mu menikah, Jose".


Huhh ..


Terdengar helaan nafas Jose. Jari Jose mengangkat dagu Ivana agar melihatnya. Iv menuruti nya. Perlahan Jose mendekatkan bibirnya pada bibir ranum Ivana. Ivana membuka mulutnya memberikan izin pada Jose.


Keduanya berciuman mesra. Lidah saling membelit satu dan lainnya. Dengan nafas menderu Jose menghentikan ciuman itu.


"Aku sudah berjanji pada kakak mu Ivana, akan menjaga Nasviell. Sudah beberapa kali aku mengunjungi makam Leo. Beberapa kali juga mengirim orang ku memberikan penawaran pada paman mu untuk membeli Nasviell tapi selalu di tolak".


"Saat mendengar ada orang yang datang ke Nasviell dan mengaku sebagai pemiliknya, jujur saja membuatku sangsi. Aku dan Leo memang berteman, tapi tidak pernah bercerita tentang keluarga kami masing-masing. Aku tidak tahu ia memiliki adik seperti dirimu", ucap Jose tersenyum sambil mencubit ujung hidung Ivana yang membenamkan wajahnya pada dada Jose menghirup dalam-dalam aroma tubuh laki-laki itu yang sangat di sukainya.


Ivana mengangkat wajahnya menatap Jose. "Sekarang kau sudah tahu, apa yang akan kau lakukan?", tanya Ivana sambil menatap penuh selidik wajah Jose yang begitu dekat dengannya.


"Aku akan membawa mu kembali ke Mexico..."


Tiba-tiba wajah Ivana berubah. "Apa maksud mu?"


"Aku akan membawa mu pulang ke Mexico. Menemui keluarga mu dan mengatakan kita sudah menikah", jawab Jose dengan pasti.


"Ah Jose", teriak Ivana tertahan ketika Jose merebahkan tubuhnya tepat di bawah kungkungan tubuh Jose. Tangan Jose mengusap wajah cantik Ivana.


Tanpa ragu Ivana membingkai wajah tampan Jose. Sesaat keduanya bertatapan mesra. Detik berikutnya bepangutan penuh gairahh.


Jika seperti itu sulit untuk menghentikan nya. Jose mengecup lembut pundak Ivana. "Kau sangat cantik, Ivana. Aku mengumpati Leo kenapa ia mengirim mu ke Nasviell, karena kau menyita perhatian ku. Kau mengalihkan duniaku.."


Ivana tertawa mendengarnya. Jemari Ivana menarik tali bathrobe Jose. Keduanya bergelung, bergumul di atas sofa berwarna coklat hingga tuntas.


...***...


Bab ini panjang juga chapter nya. Bisa untuk 3 bab (1500 kata) di gabung jadi 1 biar puas bacanya 🤗

__ADS_1


EMILY ADA KARYA BARU YA "MENGGAPAI ASA" YUK BACA JUGA 🙏


__ADS_2