
"Bagaimana keadaan istriku Pablo? Apa yang terjadi padanya? Apa sakitnya parah? Apa perlu sekarang aku membawanya ke rumah sakit?".
Jose mencecar dokter yang sedang fokus memeriksa kondisi Ivana dengan teliti. Pablo tidak menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan temannya itu, ia bahkan berulangkali memeriksa Ivana seakan-akan ingin memastikan sakit apa yang diderita istri teman nya itu.
"Ahh shitt...kau membuatku gugup, Pablo!", umpat Jose kesal terlebih ia melihat wajah istrinya begitu pucat dan terdengar deru nafas Ivana yang tidak beraturan. Tubuhnya pun terasa panas.
Menit berikutnya, barulah Pablo menatap Jose dengan senyuman di wajahnya.
"Kau ini selalu saja tidak sabaran. Lagian bagaimana aku bisa memeriksa keadaan istrimu dengan baik kalau kau menuntut hasilnya tergesa-gesa, Jose".
"Aku sangat panik Pablo. Tiba-tiba istri ku sakit seperti ini. Sebelum nya baik-baik saja", jawab Jose.
Pablo tersenyum mendengar alasan temannya itu. "Itu wajar terjadi pada wanita hamil muda. Pengaruh hormon kehamilannya".
"What? Ivana hamil? Maksud mu istriku sedang hamil, Pablo?", teriak Jose tidak percaya yang membuat Ivana membuka matanya. Bahkan tubuh Jose sontak berdiri. Laki-laki itu mengusap dagunya. Dengan wajah sangat tak percaya mendengar perkataan Pablo barusan
Ivana pun tidak percaya apa yang baru saja di dengarnya. Dokter menyatakan ia hamil. Seketika Ivana bangun duduk bersandar di tempat tidur bahkan rasa sakit yang di rasakan nya hilang seketika berganti dengan perasaan campur aduk." Bahagia dan haru.
"Istri mu positif hamil. Aku perkirakan kandungan nya memasuki minggu ke enam".
Ivana menutup mulut dengan tangannya sendiri. Ia tak percaya apa yang di dengarnya.
"Oh my God, bagaimana mungkin kita tidak menyadarinya sayang. Kau dengar itu, di perutmu tumbuh anak ku", ucap Jose begitu bahagia.
Jose langsung mencium bibir Ivana. Keduanya berciuman mesra, bahkan tidak perduli saat ini ada Pablo bersama mereka yang sedang menulis sesuatu.
__ADS_1
Pablo hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat pasangan yang sedang meluapkan perasaan bahagia di hadapannya.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang, jangan lupa minum vitamin ini. Setelah keadaan istrimu membaik segera bawa ke rumah sakit Jos, untuk di periksa lebih lanjut".
Mendengar perkataan Pablo barulah Jose dan Ivana menghentikan ciuman keduanya. Ivana baru ingat bahwa masih ada dokter bersama mereka. Wajahnya langsung bersemu merah karena malu, bisa-bisanya tidak sadar seperti itu saking bahagia mengetahui ia hamil.
*
"Bagaimana bisa kita tidak menyadarinya. Di sini ada buah cinta kita", ucap Jose mengusap lembut perut istrinya yang masih rata.
Seharian Jose menemani Ivana di dalam kamar. Bahkan ia membatalkan semua pekerjaan nya hari ini.
Kabar hamil Ivana yang di terimanya begitu menyita perhatian laki-laki itu. Ia sangat bahagia.
Jose mendekatkan bibirnya pada perut Ivana, perlahan mengecupnya. "Sudah lama sekali daddy menantikan kehadiran mu sayang".
"Tidak ada yang membuat ku sebahagia ini, sayang. Mengetahui kau hamil sungguh membuatku sangat sangat bahagia. Apa kamu tidak melihatnya, hem?", jawab Jose mengangkat wajahnya mendekati Ivana yang terlentang di hadapannya.
Ivana tersenyum mendengarnya. Ia membingkai wajah suaminya. "Sekarang aku baik-baik saja, sayang. Kita harus memeriksa kandungan ku ke rumah sakit".
"Nanti sore saja. Sekarang sebaiknya kau istirahat. Kabar bahagia ini begitu mempengaruhi ku", ujar Jose mengecup lembut kening istrinya.
"Jos, kau belum mengatakan pada ku ada apa Hector menemui pagi-pagi sekali? Apa ada hal penting tentang perkebunan yang harus aku ketahui?"
Jose menghela nafas. Ia menarik Ivana agar bersandar pada dadanya, melingkarkan tangan berotot miliknya pada leher Ivana dari belakang.
__ADS_1
"Kau sudah janji akan jujur pada ku, tanpa menutupi apapun", ucap Ivana sambil mendongakkan wajahnya menatap Jose.
Jose mendaratkan sebuah kecupan ringan di wajah istrinya. "Hector mengingatkan kita untuk waspada. Lupe mengatakan bos besar yang ia maksud seorang wanita dan ia sangat terobsesi dengan mu, ingin menyakiti mu. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Siapa pun Angel, ia harus berhadapan dengan ku!", geram Jose.
"Angel? Siapa Angel?", balas Ivana menegakkan tubuhnya menghadap Jose yang bersandar di punggung tempat tidur mereka.
"Itulah yang akan kita cari tahu jawabannya. Siapa wanita bernama Angel yang sangat menginginkan mu celaka. Apa kau memiliki musuh di dunia bisnis?", tanya Jose sambil mencubit anak-anak rambut Ivana kebelakang telinganya.
"Aku sangat yakin tidak memiliki musuh selama ini.."
"Kamu yakin?"
Ivana terdiam. Sesaat ia berpikir dan mengingat-ingat aktivitas nya selama ini ketika masih memimpin perusahaan nya.
"Tidak usah terlalu di pikirkah, aku tidak mau karena kau memikirkan hal itu bisa berdampak pada anak kita. Makanya tadi aku ragu untuk mengatakan apa yang aku tahu pada mu, aku tidak mau kau stres memikirkannya, Ivana".
Ivana menatap Jose, raut wajahnya seketika berubah. "Apa dia Arciela, Jose? Seumur hidup ku, aku tidak pernah bermusuhan dengan siapapun. Apalagi menyakiti hati orang lain yang bisa menimbulkan dendam pada ku. Aku baru tahu siapa Arciela yang sebenarnya ketika menangkap basah perselingkuhan ia dan Marco".
"Saat itu, Arciela begitu emosional mengatakan sangat membenciku, karena memiliki segalanya. Malam itu, ia membuka mata hatiku siapa sesungguhnya dirinya".
"Huhh..."
Jose menarik tubuh Ivana ke dalam dekapannya. "Orang ku segera menyelidiki siapa Arciela sebenarnya. Jika benar ia Angel, ia akan berurusan dengan ku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh seujung rambut untuk menyakiti mu", tegas Jose memberikan kecupan di pucuk kepala istrinya.
Ivana merasakan kehangatan begitu damai dan tenang. "Aku merasa sangat terlindungi sayang. Kau selalu ada untuk ku. Aku sangat mencintaimu, Jose..."
__ADS_1
...***...