PERNIKAHAN PALSU IVANA

PERNIKAHAN PALSU IVANA
TIDAK AKAN MEMBIARKAN


__ADS_3

Sesaat mobil yang di kendarai sopir Jose telah berhenti di depan rumah sakit. Jose segera turun diikuti Ivana. Dengan langkah cepat Jose dan Ivana masuk ke dalam menuju ruang ICU di mana Sebastian di rawat. Setelah mendapatkan izin dan memakai pakaian khusus.


Nampak beberapa orang Jose berjaga-jaga di sekitar ruangan.


Jose dan Ivana melihat Sebastian secara dekat. Keduanya berdiri di samping Sebastian.


Lidah Jose berdecak, begitu melihat kondisi temannya itu, sungguh memprihatinkan. Selang medis terhubung ke tubuhnya. Sementara bagian kepala terbalut perban. Beberapa luka di wajah akibat pecahan kaca dan benturan keras menyebabkan luka lebam membiru. Sebastian tergolek lemah di atas ranjang pasien. Matanya tertutup rapat.


"Kau harus kuat teman. Aku akan membalas siapapun yang telah menyebabkan mu seperti ini Tian", ucap Jose dengan tangan terkepal menahan amarahnya.


Begitu juga Ivana, ia tidak bisa menutupi rasa sedihnya melihat Sebastian seperti sekarang. Seharusnya ialah yang ada di mobil naas itu, bukan Sebastian. Tapi takdir berkehendak lain.


"Biarkan kami masuk! Aku ingin melihat anak ku..!"


Terdengar teriakan wanita di luar pintu.


Jose segera keluar ruang ICU di ikuti Ivana. Nampak wanita paruh baya begitu histeris sedang di tenangkan seorang laki-laki seumuran yang memeluk pundaknya.


"Jose... bagaimana keadaan putraku?", Tanya laki-laki itu saat melihat Jose keluar ruangan.


"Sebastian masih kritis. Ia banyak kehilangan darah, paman Andreas".


Mendengar jawaban Jose, membuat wanita itu semakin menangis dan histeris.

__ADS_1


"Aku tidak mau kehilangan anakku, Andreas. Segera pindahkan Tian ke rumah sakit yang lebih bagus!"


"Tenangkan diri mu Inez. Kita tidak bisa gegabah dan memaksa kan kehendak disaat seperti ini. Kita ikuti saja yang di katakan dokter. Jika kondisi Tian sudah membaik baru kita pindahkan ke kota", ujar Andreas dengan bijak.


"Tapi rumah sakit ini tidak memadai untuk anak kita, Andreas. Lihat sekeliling mu!", ketus wanita yang masih cantik di usianya itu.


"Bibi Inez, apa yang di katakan paman benar. Kita pindahkan Sebastian setelah kondisinya tidak kritis lagi.


"Kenapa Tian memakai mobil itu? Kenapa ia tidak memakai mobilnya sendiri atau memberi tahu Fergi agar menjemputnya", cercah Inez.


"Itu mobil Ivana istri ku. Tian sendiri yang ingin pergi mengantar asisten istri ku ke Cajititlan. Makanya aku menyuruh nya memakai mobil Ivana", ujar Jose menjelaskan.


"Bibi, sebaiknya kita duduk di sana. Aku akan menemanimu", ucap Ivana dengan lembut memeluk pundak Inez yang menatapnya sesaat. Kemudian Inez menganggukkan kepalanya. Ia menuruti ucapan Ivana duduk di kursi tunggu. Sementara Jose berbincang serius dengan Andreas.


Andreas memangut-mangutkan kepalanya sambil mengusap dagunya.


"Paman harap kau berhati-hati, Jose. Jangan pernah lengah. Ingat, Juan adik mu pernah terlibat masalah dengan kartel. Seperti yang kita tahu, orang-orang itu pasti tidak menginginkan siapapun yang terlibat dengan mereka masih berkeliaran di luar. Terus waspada nak. Jaga diri mu dan keluarga mu", ujar Andreas sambil menepuk pundak Jose.


"Iya paman".


*


Lizzy terlihat pucat. Sedari tadi ia tidak tenang memikirkan keadaan Sebastian. Saat ini ia sudah di pindahkan ke kamar rawat inap di temani Maria pelayan hacienda.

__ADS_1


Ketika melihat Ivana dan Jose masuk ke dalam kamar, gadis itu ingin duduk. Sungguh ia merasa tidak nyaman dengan posisinya sekarang.


"Liz...kau jangan bergerak. Rebahkan saja tubuh mu", ujar Ivana melarang gadis itu merubah posisi tubuhnya.


"Apa yang terjadi sebenarnya Liz?", tanya Ivana pelan sambil mengusap lembut lengan asistennya itu.


Tiba-tiba tubuh Lizzy gemetaran mengingat semua kejadian saat di mobil.


"Kejadiannya cepat sekali. Saat jalanan menurun tiba-tiba Tian tidak bisa menginjak rem-nya. Mobil melaju kencang. Aku sangat ketakutan. Namun..."


Lizzy terisak tidak bisa melanjutkan perkataannya. Ia mengingat bagaimana Sebastian melindunginya. Mendekap tubuhnya agar tidak terbentur keras.


"Liz tenangkan diri mu", ujar Ivana sambil mengusap lengan gadis itu.


"T-uan Sebastian melindungi ku. Ketika mobil melaju kencang. Karena tuan Sebastian a-ku tidak terluka parah".


Buliran-buliran bening jatuh menyentuh wajah pucat Lizzy. Ia ingat betul kejadian yang di alaminya bersama Sebastian. Tidak akan terlupakan seumur hidup nya. Sangat menakutkan.


"Sebastian masih kritis. Dokter berusaha melakukan yang terbaik untuk temanku itu. Kita berdoa saja agar Tian bisa melewati ini semua. Aku yakin temanku itu bisa melewatinya".


"Sepertinya ada yang ingin mencelakai Ivana dan aku. Kita akan segera mengetahuinya. Siapa dalang dari semua ini", tegas Jose.


"Aku tidak akan membiarkan pengkhianat berkeliaran di perkebunan. Melukai keluarga ku", tegas Jose dengan wajah terlihat memendam amarah.

__ADS_1


...***...


__ADS_2