
"Lepaskan aku", lirih Ivana.
Terdengar derap langkah kaki mendekat. Sementara Ivana tidak bisa melihat siapa mereka, karena matanya ditutup dengan kain.
"Buka, kain itu! Bos besar ingin melihatnya!", terdengar seseorang memberi perintah kepada yang lainnya.
Seseorang yang diberi perintah membuka kain penutup mata Ivana. Perlahan Ivana bisa melihat sekitar nya. Meski siang hari tapi ruangan itu begitu gelap tanpa pencahayaan sedikit pun.
"Siapa kalian? Apa mau mu dari ku?", tanya Ivana mengerjakan matanya.
Dengan pandangan terbatas, Ivana bisa melihat lima orang pria bertubuh kekar berdiri di dekatnya.
"Prok..
"Prok..
"Prok ..
"Gadis naif, apa kabar mu? Kita lihat sekarang siapa yang menang. Hahhaa".
"Arciela?". Ivana terkejut siapa yang di lihatnya tepat dihadapannya saat ini. Ia berdiri di samping pria bertubuh tambun memiliki tatto di leher hingga lengannya. Ivana sama sekali tidak mengenal laki-laki itu.
Tepat berdiri di belakang Arciela itu, Lupe. Wanita itu tersenyum licik pada Ivana yang kaget dengan situasi saat ini.
Flashback kejadian sebelumnya..
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Wajah mu tidak asing bagi ku..."
Lupe tersenyum sinis mendengar pertanyaan Dulce. "Tentu saja kau mengenal ku. Aku kaki tangan Gustave, paman mu!", jawab Lupe sembari menodongkan senjata pada Ivana dan Dulce.
Ivana dan Dulce tersentak kaget melihat Lupe menodongkan senjata yang ternyata di bawahnya di dalam tas.
"Apa yang kau lakukan, Lupe?", teriak Ivana.
"Menembak gadis itu dan membawa mu pergi!"
"Dorrr"..
__ADS_1
"Akhhh...
Terdengar teriakan Dulce yang tertembak bahunya. seketika Dulce terkapar bersimbah darah segar.
"Tidak. Dulcee..."
"Lupe kenapa kau menembak Dulce. Apa yang kau inginkan dari ku?!"
Ivana hendak membantu Dulce, namun lengannya di tarik paksa Lupe. "Kau ikut dengan ku atau kau mati seperti gadis itu!", teriak Lupe beringas.
Mendengar suara tembakan dari dalam ruang kerja, membuat Hilda dan pelayan lainnya melihat apa yang terjadi. Betapa terkejutnya mereka melihat Lupe menodongkan senjata pada mereka dan menyeret Ivana keluar hacienda.
Ivana memberi isyarat pada Hilda dan pelayan lainnya agar tenang. Ia tidak berteriak, Ivana mengikuti Lupe.
Flashback off
"Kau tahu aku sudah lama merencanakan semuanya Ivana hahaa", ucap Arciela tertawa penuh kemenangan menatap nanar Ivana yang terikat di kursi kayu di ruangan lembab dan pengap itu.
Ivana berusaha menggerakkan tangannya, sambil mengeluarkan suara yang tidak jelas.
"Kenapa sayang, kau ingin melepaskan dirimu? suami tampan mu itu tidak akan bisa menolong mu lagi. Karena ia sudah mati! Anak buah Gustave telah menghabisi Jose kesayangan mu itu", ujar Arciela seraya berjalan mendekati Ivana.
"Menyiksa mu dan membuatmu menderita seumur hidup", ucap Arciela penuh percaya diri. "Hidup mu selalu beruntung, Ivana. Kau tidak ada apa-apa nya di banding aku. Tapi kau selalu beruntung. Semua orang menyayangimu".
"Dasar bodoh!"
"Plakkk..
Ivana memalingkan wajahnya. Arciela memberikan tamparan keras tepat di wajah Ivana. Ivana bisa merasakan asin darah segar di bibirnya.
Sementara Ivana juga bisa merasakan getaran handphone miliknya di saku dress hamil yang di pakainya. Ivana baru ingat, di saku ada handphone miliknya.
Tidak tahu siapa yang menghubungi nya saat ini, semoga bisa melacak keberadaan nya.
*
Jose dan orang kepercayaannya berada di dalam hacienda. Mereka bisa melumpuhkan orang-orang Gustave. Beruntung polisi datang tepat waktu dan segera membawa anak buah Gustave ke kantor polisi. Namun Jose terkejut begitu Hilda memberi tahu Ivana di culik Lupe. Dan Lupe menembak Dulce.
__ADS_1
Jose, Ellios, Adrian juga Hector berlari melihat apa yang terjadi. Betapa kagetnya melihat Dulce terkapar sambil meringis kesakitan. Sementara seorang pelayan membersihkan luka tembak dengan alkohol.
"Dulce dimana istri ku?", teriak Jose.
"I-vana bersama wanita jahat i-tu", lirih Dulce terbata-bata mengerang menahan rasa sakit.
"Brukkk.."
Dengan tangan terkepal Jose memukul kuat meja kaca hingga pecah. "Wanita iblis itu tidak berubah. Tenyata ini yang mereka rencanakan. Membuat kita lengah. Serangan itu hanya pengalihan saja. Brengsek kau Gustave...Lupe. Aku akan mencari mu ke lubang semut sekali pun", umpat Jose emosi.
"Brengsek kau Lupe!"
Jose mengeram. "Ahhh. Kurang ajar kau Lupe.."
Jose menghamburkan semua benda yang ada di atas meja kerjanya. Hingga jatuh berhamburan kelantai.
"Tuan, Lupe memakai mobil perkebunan bersama nona Ivana melalui gerbang belakang. beberapa penjaga yang tersisa di sana tidak curiga karena nona Ivana yang memerintahkan membuka gerbang itu", ujar Adrian yang baru saja mendapatkan informasi dari penjaga.
"Temukan segera istriku!"
Hector terdiam mendengar dan menyaksikan semuanya. Kedua tangan nya terkepal memendam amarah.
"Oh mama...kenapa kau tega sekali. Kali ini aku tidak akan memaafkan mu, ma. Kau benar-benar menyakiti perasaan ku. Mama", gumam Hector yang ikut membantu petugas medis membawa Dulce ke dalam mobil ambulan. Kedua mata laki-laki itu nampak berkaca-kaca memikirkan tindakan Lupe di luar nalarnya.
Beberapa saat kemudian...
"Tuan Jose, seperti nya nona Ivana membawa handphonenya. Jika benar kita bisa melacak keberadaan istri anda tuan", ujar Ellios menghampiri Jose dan memperlihatkan handphone miliknya yang sedang menghubungi nomor Ivana.
Raut wajah dingin dengan rahang mengeras nampak jelas di wajah Jose. Ia memijat pelipisnya dengan kasar. Jose berkacak pinggang sambil menatap lantai kamarnya. Ia berpikir keras untuk menyelamatkan istrinya.
*
"Bertahanlah sayang, aku akan segera menemukan mu. Aku mohon jagalah keselamatan mu dan anak kita, Ivana", ucap Jose sambil berkutat dengan Macbook miliknya mencari jejak Ivana. Bagi Jose sebagai pemilik perusahaan software, bukanlah hal sulit menemukan keberadaan Ivana. Seperti sekarang ia dan Ellios sudah menemukan posisi Ivana yang berada di perbatasan kota.
Ellios sudah menempatkan orang-orang mereka berjaga di sekitar lokasi, yang di duga tempat penyekapan Ivana.
"Aku akan menghabisi kalian berdua Gustave Lupe jika terjadi sesuatu pada istri dan anak ku..."
__ADS_1
...***...
To be continue