
Sore hari menjelang senja kembali Lizzy menuju tempat Sebastian di rawat.
Dari kejauhan ia yang fokus pada ruangan Tian meminta Maria berhenti mendorong kursi rodanya.
Seketika wajah Lizzy memutih dan tegang, saat melihat banyak orang di sekitar ruangan Sebastian yang menangis. Bahkan dari dalam ruangan tersebut terdengar suara jeritan histeris wanita.
Tubuh Lizzy membeku, kristal bening turun dengan sendirinya tanpa ia sadari. Tidak ada isakan, tidak ada seduh sedan yang keluar dari bibirnya yang tertutup dan bergetar.
Kedua netra bening itu berkabut menatap ruangan di mana Sebastian berada. "Sepertinya terjadi sesuatu di sana", gumamnya pelan menerka-nerka dengan perasaan tidak enak.
"Nona Lizzy apa yang anda lakukannya di sini? Anda belum boleh banyak bergerak nona. Mari saya antar ke kamar nona".
Tiba-tiba seorang perawat yang mengenali Lizzy langsung bertindak, karena mengetahui keadaan Lizzy yang harus banyak beristirahat. Tanpa menunggu jawaban Lizzy, perawat itu mengambil alih tugas Maria. Ia langsung mendorong kursi roda Lizzy kembali menuju kamar Lizzy.
Beberapa saat kemudian, Maria dan perawat tersebut membantu Lizzy naik ke atas tempat tidur.
"Nona Lizzy tidak boleh banyak bergerak dulu, karena retak tulang itu bukan hal tidak membahayakan. Bisa saja akibat nona terlalu banyak bergerak tulang yang retak semakin bergeser posisinya, mengakibatkan semakin lama penyembuhannya nona".
Lizzy memalingkan wajahnya. "Huhh...Iya, saya mengerti", jawabnya singkat tak bersemangat. Wajah gadis itu terlihat lesu.
"Aku hanya ingin mengetahui keadaan Sebastian. Aku merasa bersalah padanya walaupun sebenarnya keinginan nya sendiri untuk melindungi ku saat kejadian itu", batin Lizzy sedih.
__ADS_1
*
Keesokan harinya, di pagi hari yang cerah Ivana baru saja tiba di rumah sakit. Ia dan Jose memang rutin setiap hari ke sana melihat Sebastian dan Lizzy.
Hari ini sengaja memilih waktu di pagi hari karena, siang harinya Jose ada meeting.
Setelah menyempatkan waktu melihat Sebastian, Ivana langsung ke kamar asistennya itu. Sementara Jose masih di kamar Sebastian, karena sedang berbincang dengan ayah Tian.
"Ada apa dengan mu Liz. Kau terlihat tidak bersemangat. Apa kamu merasakan sakit lagi?", tanya Ivana.
"Tidak nona. Meskipun masih merasakan sakit, di bagian kaki, tapi saya baik-baik saja. Saya hanya memikirkan keadaan tuan Sebastian nona. Tapi dokter belum mengizinkan saya banyak bergerak", ujar Lizzy beralasan.
Ivana tersenyum mendengar nya. "Hm...ternyata kau sangat mengkuatirkan Sebastian ya".
"Saya hanya kuatir saja, nona. Bagaimana pun tuan Sebastian banyak berkorban pada saya", jawab Lizzy sedikit memalingkan wajahnya.
"Aku baru saja melihatnya, Liz. Kondisinya membaik. Sebastian sudah sadar dan dokter Ricardo sudah menyatakan masa kritisnya sudah di terlewati oleh Tian".
"Hah? Benarkah nona, Tian sudah sadar dan bisa melewati masa kritisnya?", ujar Lizzy langsung bereaksi setelah mendengar perkataan Ivana yang tersenyum melihat tingkahnya. Lizzy beringsut merubah posisi bersandar nya di ujung tempat tidur.
"Apa kau ingin melihatnya Liz? Aku bisa mengantar mu ke sana sekarang", ucap Ivana bernada menggoda Lizzy yang terlihat begitu bahagia karena tidak bisa menyembunyikan rasa syukur atas membaiknya kondisi Sebastian.
__ADS_1
"Oh...tidak usah nona. Mendengar tuan Tian sudah membaik saya ikut bahagia dan bersyukur. Lagi pula, saat ini pasti keluarga tuan Sebastian sedang bersamanya. Aku tidak mau mengganggu", jawab Lizzy.
Lizzy berbohong di depan Ivana. Sebenarnya ia sangat ingin melihat secara langsung keadaan Sebastian, namun ia tahu diri. Lizzy tidak mau membuat keluarga Sebastian salah paham padanya karena kehadirannya. Nyata-nyata ibu Sebastian tidak menyukainya dan menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa anak mereka.
"Kau yakin tidak mau melihat Sebastian sekarang? Aku harus kembali ke sana Liz", ujar Ivana menatap asistennya itu yang nampak ragu-ragu. Ivana tahu itu dari manik bening Lizzy. Gadis itu tidak bisa membohongi Ivana. Iv sangat mengenal Lizzy.
Lizzy terdiam untuk beberapa saat. "Iya nona. T-api bisakah saya menitipkan sesuatu padanya nona?"
Ivana tersenyum mendengar permintaan Lizzy. "Tentu saja. Apa yang akan kau titipkan pada ku untuk Sebastian?", tanya Ivana menelisik wajah asistennya itu.
"Ehh..."
Lizzy menolehkan wajahnya pada Maria yang sedang duduk di kursi sudut ruangan sedang menonton opera sabun kesukaannya.
"Maria...bisakah kau mengambil kan kertas dan pena dalam tasku? Aku membutuhkan nya sekarang".
Maria cepat melakukannya. Memberikan sebuah notebook dan pena pada Lizzy.
Gadis itu langsung menuliskan sesuatu di sana dengan senyuman yang terlukis di sudut bibirnya.
Ivana memperhatikan Lizzy dari tempatnya. Begitu pun wanita cantik itu tersenyum melihat tingkah asistennya tersebut.
__ADS_1
"Hm... Ternyata kejadian yang ia alami bersama Tian, membuatnya memiliki rasa. Aku tahu itu Liz. Kau tidak bisa membohongi ku", batin Ivana.
...***...