
Hari mulai menjelang sore ketika mobil Jose masuk ke sebuah mansion mewah bernuansa coklat muda yang terletak di tengah kota Mexico.
Jose memarkirkan mobilnya di carport. Rumah besar itu terlihat sepi hanya ada beberapa keamanan yang terlihat berjaga-jaga. Mereka langsung mempersilahkan masuk setelah melihat Ivana yang berada di dalam mobil.
"Kita langsung turun saja menemui paman dan bibi", ucap Ivana.
"Oke. Apa kau tidak akan memberi tahu ku bagaimana paman mu itu orangnya".
"Kau takut?"
"Tidak ada yang membuat seorang Almiron takut, sayang", jawab Jose mencubit hidung Ivana.
"Atau kau gugup? Seperti kekasih yang meminta restu orang tuanya?"
Jose nampak ragu-ragu, mengusap dagunya.
"Iya.."
"Iya? Kau gugup bertemu paman ku?"
"Tidak..."
"Tidak? Kau tidak bohong kan?"
"Ayo kita temui paman dan bibi mu, kau akan melihat sendiri apa yang akan terjadi nanti".
"Ah kau pasti gugup. Aku bisa melihatnya dari wajah mu". Ivana menggoda Jose sambil bergelayut manja memeluk lengan laki-laki itu.
"Sedikit", jawab Jose sambil memberi simbol dengan jarinya. Membuat Ivana tidak bisa menahan tawanya. Keduanya melangkah bersama.
"Selamat sore nona Ivana, tuan dan nyonya sudah menunggu kedatangan nona". Seorang pelayan muda menyapa sopan Ivana.
"Sore Maty, apa kabar mu? Di mana paman Eduardo dan bibi Regina?"
"Kabar saya baik nona. Tuan dan nyonya ada di kamar mereka. Apa perlu saya beritahu mereka ke datangan nona?"
"Tidak perlu. Paman dan bibi sudah tahu aku datang, kau lanjutkan saja pekerjaan mu", jawab Ivana tersenyum.
Ivana mengajak Jose duduk di sofa. Ketika seorang pelayan lainnya membawakan cemilan ke atas meja.
__ADS_1
Ivana menyandarkan kepalanya pada dada Jose yang memeluknya dari belakang, sesekali keduanya nampak tertawa melihat video lucu yang di perlihatkan Jose dari handphone miliknya. Sesekali saling menggoda satu sama lainnya.
Sampai-sampai Ivana dan Jose tidak menyadari pemilik rumah sudah bersama keduanya di ruangan itu sedari tadi.
"Ehem..."
Ivana membetulkan posisi duduknya. Melihat Eduardo dan Regina bergantian.
"Paman...bibi"
Ivana berdiri dan memeluk keduanya bergantian dengan hangat.
"Apa kabar mu, nak?", Tanya Regina mengusap lembut wajah keponakan kesayangan itu.
Regina menelisik penampilannya Ivana. "Kamu terlihat sangat berbeda, semakin cantik dan ceria. Apa ada yang ingin kau ceritakan pada bibi, sayang?", Tanya Regina penuh perhatian seperti biasanya.
Regina menatap sekilas Jose yang juga berdiri. "Siapa pria tampan ini, sayang?"
Ivana tersenyum dan menarik tangan Jose. "Paman, bibi...ini Jose Miguel Almiron suami ku–"
"Apa...?"
Seru Eduardo dan Regina berbarengan. Wajah keduanya sangat terkejut mendengar pengakuan Ivana.
Menit berikutnya, Eduardo dan Regina nampak sudah bisa lebih tenang.
"Sebaiknya kita duduk", ujar Eduardo menyandarkan punggungnya pada sofa. Diikuti semuanya untuk duduk juga.
"Bukankah kau pemilik JMA groups? Perusahaan software terkenal itu?", Tanya Eduardo menatap Jose yang duduk di samping keponakannya.
"JMA groups?". Kedua mata Ivana membulat sempurna. "Sayang?"
Wanita itu seakan meminta penjelasan pada Jose.
Jose mengusap punggung tangan Ivana yang berada di atas pahanya.
"Iya paman", jawab Jose singkat.
"Benar paman, aku pemilik JMA groups".
__ADS_1
"Apa kau pernah mendengar nama itu?", Tanya Jose pada Ivana yang menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Jadi...aku menikah dengan pemilik JMA groups. Oh my God. Kenapa kau tidak menceritakan semuanya pada ku Jos? Tentu saja aku tahu perusahaan mu. Perusahaan yang luar biasa sekali pertumbuhannya. Tapi bagaimana mungkin....oh my God".
Ivana menggelengkan kepalanya, tak percaya ternyata Jose merupakan CEO perusahaan ternama. "Yang aku tahu JMA di pimpin laki-laki seusia paman Eduardo. Bukankah ia bernama Miguel juga?"
"Itu orang ke percayaan ku. Semenjak waktu ku lebih banyak aku habiskan di perkebunan, orang-orang lebih mengenal nya sebagai pemimpin JMA", jawab Jose.
.
"Bibi kenapa mereka lama sekali di dalam. Kenapa paman justru mengajak Jose bicara empat mata di ruang kerjanya", tanya Ivana yang sedari tadi hilir-mudik di depan Regina.
"Ivana jangan seperti itu, sayang. Kemari lah". Regina mengusap pahanya, agar Ivana mendekat.
Ivana menuruti nya, ia langsung merebahkan dan menyandarkan kepalanya pada paha Regina yang mengusap lembut ubun-ubun Ivana. Membuat Ivana lebih tenang sekarang.
Rasanya sudah lama sekali, tidak mendapatkan usapan lembut wanita yang sudah Ivana anggap sebagai pengganti Molly mommy-nya.
"Bagaimana ceritanya kalian sudah menikah, apa yang terjadi sebenarnya?", Tanya Regina pelan.
Ivana menceritakan semuanya, awal pertemuan hingga terjadi pernikahan dengan Jose.
Regina tersenyum mendengar cerita Ivana. Ia bisa merasakan keponakan itu benar-benar jatuh cinta bahkan secara mendalam melebihi kisah cinta ia dan Marco.
Saat bersama Marco Ivana nampak biasa-biasa saja, bahkan ia kuat dan tidak pernah mengeluh berhubungan jarak jauh dalam waktu yang lama. Tapi sekarang sepertinya sangat enggan berpisah sebentar saja dari Jose.
"Bibi tahu kau sangat mencintai Jose sayang. Bibi bisa melihatnya dari sikap mu".
Regina menjeda ucapannya, sambil mengusap rambut Ivana. "Justru itulah paman mu harus bicara pada suami mu. Paman mu tidak akan membiarkan perasaan mu sakit untuk kedua kalinya karena cinta"–
"Prankkk...."
Ivana langsung berdiri.
"Bibi...Apa yang terjadi di dalam. A-ku tidak mau ada apa-apa dengan mereka". Sontak membuat Ivana panik ketika mendengar benda pecah dari ruang kerja Eduardo.
...***...
Kira2 dapat restu nggak dari Eduardo?
__ADS_1