PERNIKAHAN PALSU IVANA

PERNIKAHAN PALSU IVANA
BERDEBAR


__ADS_3

Rumah sakit di kota Guadalajara..


"Sekarang sudah sore, baiknya kami pulang ke perkebunan. Kau juga sudah ada yang menemani", ujar Jose pada Sebastian yang terlihat semakin membaik kondisinya. Apalagi beberapa saat yang lalu Lizzy datang bersama Ivana.


"Pria ini akan lebih cepat pulih setelah kedatangan mu, Lizzy. Tapi hati-hati saja dengan modusnya pura-pura sakit karena minta perhatian lebih", seloroh Jose meledek Sebastian yang hanya bisa bersandar di atas tempat tidur pasien.


"Brengsek kau. Sudah pergi sana! Seperti tidak pernah saja yang aku alami. Asal kau tahu Ivana, suami mu ini adalah laki-laki posesif yang cemburuan. Kau harus hati-hati padanya", balas Sebastian.


"Oh ya? Benarkah sayang kau cemburuan? Hem...aku sih tidak masalah kau cemburuan asalkan hanya pada ku saja bukan pada wanita lain", seru Ivana memeluk erat pinggang Jose.


Jose mengusap tengkuknya sambil tersenyum penuh arti menatap mesra istrinya. "Aku tidak akan membiarkan milik ku dekat dengan laki-laki manapun kecuali anak ku dan keluarga saja".


"Hhhaaaa. Tentu saja Jose Miguel Almiron seperti itu. Begitu lah ia yang sebenarnya", ujar Sebastian sembari berdecak tertawa.


"Ternyata yang di katakan Tian benar, kamu sangat berlebihan sekali sayang", ujar Ivana melototkan kedua matanya kian mengeratkan pelukannya.


Sebastian terpingkal menertawakan temannya karena berhasil membuatnya tidak bisa berkutik lagi jika di dekat Ivana. Tian tahu temannya itu sangat mencintai istrinya.


Lizzy pun hanya bisa tersipu-sipu melihat pemandangan seperti itu, terlebih iapun tak luput di sangkut pautkan dengan Sebastian oleh suami bos-nya.


*


"Tubuh ku rasanya tidak enak dengan posisi begini. Lizzy kau harus membantu ku menggeser tubuh ku ke sebelah kiri", ucap Sebastian menatap lekat wajah gadis yang sedari tadi berdiri di samping tempat tidurnya.


Ivana dan Jose sudah keluar dari kamar. Keduanya meninggalkan Lizzy dan Sebastian di kamar itu.

__ADS_1


Berdua saja di sana tentu membuat Lizzy gugup, meskipun Tian hanya berdiam di atas tempat tidur dengan menyandarkan punggungnya. Kondisi Sebastian memang lebih parah dari Lizzy.


"Hello...kau mendengar ku? Lizzy..."


"Eh...hm...iya tuan?"


"Kau melamun rupanya. Tolong bantu aku merubah posisi tubuh ku. Aku tidak nyaman seperti ini", ucap Sebastian.


"O-oh...iya"


Lizzy membungkukkan badannya hendak menurunkan sandaran punggung tempat tidur Tian.


"Apa yang kau lakukan, biarkan seperti itu. Aku ingin kau membantuku menggeser tubuh ku. Kemari lah bantu aku, bukankah kau sudah berjanji akan merawat ku", ujar Sebastian pada Lizzy yang hanya tertegun nampak kebingungan.


"I-ya saya tidak lupa", jawab Lizzy pelan. Ia mendekati Sebastian yang terus menatapnya. Tatapan itu membuat Lizzy semakin gugup. Namun ia berusaha sekuat tenaga mengatasinya.


"M-aaf saya harus menyentuh anda tuan Sebastian–"


"Ya ampun Lizzy, kamu lamban sekali. Cepatlah tubuh ku terasa semakin tidak nyaman. Apa kau tidak melihat tangan kiri ku masih menggunakan Arm sling begini?", ketus Sebastian mulai kesal sambil menatap lengannya yang menggunakan penyangga tangan.


"Oh iya tuan Sebastian, maafkan".


Tanpa pikir-pikir lagi, Lizzy segera memeluk bahu Sebastian membantunya bergeser. Meskipun detak jantung nya kian cepat tapi gadis itu bisa menutupi rasa canggung yang tiba-tiba melingkupinya.


Lizzy bisa merasakan hembusan nafas Sebastian, begitupun sebaliknya.

__ADS_1


"Yaa begini lebih enak".


Suara serak Sebastian terdengar begitu dekat ditelinga Lizzy. Seketika membuat Lizzy tersadar, cepat-cepat hendak menjauh. Namun tangan kanan Sebastian menahannya.


Manik bening Lizzy menggerjap-ngerjap menatap Sebastian. "T-uan.."


"Aku tidak suka kau masih memanggil ku seperti itu. Panggil nama ku", ucap Sebastian terdengar begitu lembut di telinga Lizzy.


Keduanya bertatapan lekat dengan pikiran masing-masing. Namun sorot mata Sebastian seperti magnet yang membius Lizzy. Lizzy tidak berdaya membalasnya. Spontan membuatnya menundukkan kepala. Namun jari telunjuk Sebastian menahan dagu Lizzy agar tetap menatapnya.


"Aku merindukanmu Liz. Aku senang kau tidak kenapa-napa. Aku senang melihat mu sudah membaik", ucap Sebastian dengan lembut. Jemari laki-laki itu menjumput anak rambut Lizzy kebelakang telinganya.


Semburat merah nampak di wajah Lizzy. Lizzy mengerjapkan kelopak matanya. Tindakan Sebastian membuat jantung nya seakan berhenti berdetak. Sementara Liz bisa merasakan kupu-kupu begitu banyak berterbangan di perutnya.


Mata indah Lizzy mengerjap menatap wajah tampan Sebastian. Posisi tubuh keduanya tanpa jarak. Liz memejamkan matanya ketika merasakan jemari tangan Tian menarik pelan tengkuknya.


Lizzy bisa merasakan bibir Sebastian menyentuh bibirnya dengan lembut. Lagi-lagi Liz tidak bisa menolak dan menghentikan nya.


Ceklek ..


"Honeyyy–"


"Tian...apa yang kalian lakukan!"


...***...

__ADS_1


2 bab dulu ya


__ADS_2