
"Baik aku akan menemui bos sekarang. Jangan kuatir rahasia kita masih aman dan terkendali. Tapi, sudah beberapa hari ini Oscar dan Osvaldo sangat sulit di hubungi. Aku juga sudah mencari mereka, namun jejak keduanya hilang sama sekali"
*Sebaiknya kau jelaskan saja semuanya pada bos, Lupe. Segera kemari, bos menunggu laporan mu!*
"Iya aku segera kesana".
Lupe menutup panggilan telpon itu. Sejenak terdiam sambil mengetuk-ngetuk ponselnya. "Sial. Apa yang harus aku laporkan pada bos, sementara dua bajingan itu tidak dapat di hubungi. Kemana Oscar dan Osvaldo–"
"Mereka sudah mati!!"
Lupe begitu kaget mendengar suara Hector tepat di belakangnya. Wanita itu membalikkan badan menghadap putranya yang berdiri sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Sorot mata Hector menghunus tajam menatap Lupe.
"Hector, kapan kau datang. Mama merindukan mu, nak. Sudah lama sekali kau tidak mengunjungi mama", ucap Lupe tersenyum hendak memeluk tubuh anaknya namun Hector menghindar.
"Sampai kapan mama masih berhubungan dengan orang jahat itu mama! Sampai kapan?!", teriak Hector dengan suara keras.
Seketika senyum di wajah Lupe lenyap, berganti dengan amarah. Wanita bertubuh besar itu melenguh tidak suka menerima pertanyaan Hector.
"Sampai Jose Luis Miguel ditempatkan pada tempat yang semestinya", balas Lupe dengan amarah yang memuncak.
"Mama hentikan kegilaan mu! Sadarlah ma, tuan Jose bukanlah pria jahat seperti yang sering engkau katakan. Ia orang baik. Bahkan ia masih memberikan kepercayaan pada ku setelah apa yang kita lakukan dulu padanya. Sekarang pun begitu, ia dan istrinya baik kepada ku mama, meskipun tahu keterlibatan mu pada beberapa kasus yang terjadi di perkebunan Nasviell mereka masih memberikan tempat untuk ku", ujar Hector dengan pasti meyakinkan sang mama.
Mendengar perkataan Hector membuat Lupe terdiam. Keduanya berdiri berhadapan di kamar Lupe.
Kedua tangan Hector memegang bahu Lupe, sedikit mengguncangnya.
"Aku mohon lupakan masalahmu pada keluarga Almiron, ma. Aku mohon sekali ini saja dengarkan aku. Aku tidak mau kehilangan mu. Satu-satunya keluarga yang aku punya".
__ADS_1
Mendengar penuturan Hector kali ini, membuat wanita itu terduduk di tepi tempat tidur. Sesaat merenungi kata-kata Hector barusan. Kemudian mengusap wajah dan tertunduk.
"Maafkan aku. Aku terlibat terlalu jauh–"
Hector berjongkok di hadapan lupe. Menggenggam erat kedua tangannya. "Mama harus menemui tuan Jose dan nona Ivana. Katakan yang sebenarnya, yang mama tahu. Katakan siapa orang yang membayar mama dan komplotan mama itu. Hanya itu yang bisa membuat tuan Jose dan nona Ivana memaafkan mu", ucap Hector dengan lembut meyakinkan Lupe.
Perlahan Lupe menatap Hector. Mengusap lembut wajah putranya itu. "Maafkan mama Hector, melibatkan mu dalam masalah mama".
"Tidak ada kata terlambat untuk memulai berbuat baik ma. Setelah semuanya bisa kita lalui, aku ingin mama pergi dari sini memulai kehidupan baru".
"Tapi itu sulit nak. Mama terlibat dengan orang-orang yang sangat berbahaya. Mereka jahat, bahkan mereka mengancam akan menghabisi mu jika mama mengkhianati mereka Hector".
Hector terdiam mendengar itu. Detik berikutnya ia memeluk Lupe dengan erat.
"Jangan pikirkan aku, aku bisa menjaga diri. Yang aku kuatirkan justru keselamatan mu mama", kata Hector sembari mengurai pelukannya menatap lekat wajah Lupe. Sama halnya Lupe menatap intens wajah putra satu-satunya itu.
"Sekarang katakan pada ku siapa orang yang mama panggil bos besar itu? Katakan dengan jujur jangan ada kebohongan lagi".
"Mama tidak tahu siapa dia sebenarnya, Hector. Ia di panggil Angel. Mama yakin itu bukan nama sebenarnya", Jawab Lupe pelan.
"Angel?", ujar Hector mengulangi ucapan Lupe.
"Iya. Ia wanita muda yang sangat cantik tetapi sangat jahat. Wanita itu sangat membenci Ivana, ia ingin menghabisi nona Ivana–
"Brakkk..."
Lupe dan Hector di kagetkan suara dobrakan pintu di luar. "Lupeee.."
Terdengar suara laki-laki berteriak kencang.
__ADS_1
"Mama.."
Sontak Lupe berdiri dan menarik tangan Hector.
"Sebaiknya kau pergi sekarang nak. Cepat. Selamat kan diri mu. Mereka pasti orang-orang Angel. Jika mereka melihat mama bersama mu, mereka akan menghabisi kita berdua", ucap Lupe panik.
"Tidak. Kita pergi bersama".
Lupe membingkai wajah Hector. "Pergilah Hector. Ingatkan bos mu akan ancaman keselamatan mereka", bisik Lupe sambil mendorong tubuh putranya keluar dari pintu yang langsung terhubung keluar.
"Tapi mama–"
Lupe tidak menghiraukan ucapan Hector, ia segera menutup pintunya dan berlari ke kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari tempatnya sekarang.
Tanpa pikir panjang wanita itu menghidupkan shower dan menanggalkan pakaiannya.
"Aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti putra ku", batin Lupe bertepatan dengan dobrakan pintu kamar kamar mandi yang cukup keras.
"Hei...Apa yang kalian lakukan? Apa kalian tidak lihat aku sedang mandi!", teriak Lupe dengan kesal melilitkan handuk ke tubuhnya.
"Di mana anak mu Lupe, kau sembunyikan di mana ia? Kau jangan coba-coba bermain-main", bentak salah satu dari empat orang pria yang berdiri di depan pintu.
"Apa kau tidak lihat aku sendirian, hah? Silahkan geledah rumah ini kalau kau tidak percaya. Sudah lama Hector tidak kemari", seru Lupe begitu meyakinkan.
Tapi aku melihatnya tadi kemari, kau tidak bisa membohongi ku", ucap salah satu orang lagi.
"Nyatanya bagaimana? Apa kau melihatnya hah? Bisa jadi kau salah lihat", ketus Lupe sembari menatap tajam laki-laki itu.
Terlihat dua orang menghampiri. "Ia berkata jujur, tidak ada Hector di rumah ini", ujar salah satunya.
__ADS_1
"Apa kau percaya sekarang, Ramirez? Aku harus mandi sebelum bertemu nona Angel. Kalian keluar dari kamar ku, aku harus memakai baju", hardik Lupe mengusir keempat pria yang tiba-tiba menerobos rumahnya dengan paksa. Namun senyum kemenangan tersirat di ujung bibirnya.
...***...