
"Ivana...ayo masuk sayang", ucap Inez ramah saat melihat Ivana yang datang. Wajar Inez seperti itu karena ketika Ivana dan Jose datang tadi wanita itu belum ada di sana.
Sementara Jose dan Andreas berdiri di samping tempat tidur Sebastian yang sudah membuka matanya walaupun masih kerap meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya. Namun wajah Sebastian terlihat segar tidak pucat seperti saat masih di nyatakan kritis. Beberapa alat bantu medis pun ada yang sudah di lepas dari tubuhnya.
Infus dan alat bantu pernapasan saja yang masih terpasang.
Bahkan Sebastian sudah bisa tersenyum ketika Jose meledeknya. Kata Jose, ia lemah karena lama sekali melewati masa kritisnya.
Dengan terbata-bata, Sebastian mengumpati temannya itu.
Andreas, Inez dan Ivana hanya bisa menggelengkan kepala melihat kedua sahabat karib tersebut kalau sudah seperti itu.
Beberapa menit berlalu...
"J-os... bagaimana keadaan L-izzy?", tanya Tian dengan suara pelan terdengar masih terbata-bata. Ia belum bisa menolehkan kepalanya karena menggunakan penyangga leher.
Mendengar pertanyaan Sebastian sontak membuat wajah Inez berubah. "Sayang...jangan banyak bicara dulu, kau masih sakit", ucapnya menghentikan Sebastian.
"Keadaan Lizzy baik-baik saja. Kau jangan kuatir kan dia, Tian. Makanya kau cepat sembuh agar bertemu ia. Hm...besar juga pengorbanan mu buat gadis itu, Tian", ujar Jose menggoda Sebastian.
Sebastian berusaha tertawa namun bibirnya masih terasa sakit. Laki-laki itu hanya bisa mengeluarkan suara mengeram singkat.
__ADS_1
Inez yang ada di dekat mereka memasang muka dingin. Berbanding terbalik dengan Andreas suaminya yang nampak senang melihat putranya semakin baik kondisinya sekarang.
Sedang kan Ivana tersenyum penuh makna melihat Sebastian menanyakan Lizzy. "Aku baru saja dari tempat Lizzy, Tian. Ia baik-baik saja. Ia juga menanyakan keadaan mu. Lizzy sangat menguatirkan diri mu, Tian", ujar Ivana berterus terang.
Inez semakin tidak menyukai perbincangan di antara putranya dengan Jose dan Ivana. Wanita itu memilih duduk di sofa menemani Andreas.
"Andreas...aku tidak suka wanita bernama Lizzy itu. Ia gadis pembawa sial untuk putra kita", ketus Inez pada suaminya yang sedang menyeruput teh hangat.
"Sudahlah sayang, kau jangan ikut campur urusan Sebastian. Atau kau mau ia semakin jauh dari kita. Sibuk bekerja dan tidak pernah kembali ke Cajititlan seperti waktu itu? Apa kau mau Tian tidak mengunjungi kita lagi bahkan tidak berkomunikasi dengan kita?"
"Umur Sebastian semakin bertambah. Kita ikuti saja kemauannya, Inez. Terutama wanita yang akan mendampinginya kelak. Lihatlah Jose, ia belum lama bertemu dengan istrinya tapi mereka saling mencintai. Apa kau tidak melihat kebahagiaan mereka? Itulah yang di namakan dengan takdir", ujar Andreas memberi pengertian pada istrinya.
Sepintas Inez memperhatikan Ivana. "Huhh...andai saja wanita itu seperti Ivana. Sudah cantik, kaya dan baik... aku tidak akan menghalangi", balas Inez cepat.
*
Hari semakin malam, Jose dan Ivana hendak pamit pulang pada Tian yang nampak lebih baik.
"Tian, kau harus segera pulih agar bisa mengawal kasus yang kau dan Lizzy alami. Pihak berwajib sudah menyelidiki. Rem mobil itu sengaja di rusak. Ada seseorang yang ingin mencelakai Ivana", ucap Jose sambil mengeratkan jemari tangannya.
Sebastian memberikan respon dengan acungan jempol tangannya yang tidak terluka. "T-enanglah, aku pasti cepat sembuh. D-an mengawal kasusnya".
__ADS_1
Jose menganggukkan kepalanya.
"Oh ya Tian...ada yang menitipkan pesan untuk mu. Ia sangat menguatirkan keadaan mu. Ini dari Lizzy. Sepertinya kau membutuhkan bantuan seseorang untuk membacanya", ujar Ivana memberikan kertas yang di titipkan Lizzy padanya beberapa saat yang lalu.
Ivana memberikan surat yang di ditulis Lizzy ke tangan Sebastian yang langsung menggenggamnya erat.
Tak lama Jose dan Ivana pulang, Andreas dan Inez pulang juga ke hotel tempat mereka menginap seperti permintaan Sebastian. Laki-laki itu melarang orang tuanya tidur di rumah sakit.
Di dalam kamar itu Sebastian di temani asistennya Fitto.
"Fitto...bacakan tulisan di kertas ini", perintah Sebastian yang memberi isyarat asisten nya itu mengambil kertas yang ia genggam.
"Iya tuan".
Fitto mengambil kertas itu dan segera membuka lipatannya.
*Tuan Sebastian aku sangat menguatirkan mu, semoga keadaan tuan membaik. Maafkan.. karena melindungi ku, akhirnya tuan yang harus terluka parah. Aku berhutang nyawa pada anda tuan. Aku janji setelah keadaan ku membaik aku akan membalas pengorbanan mu pada ku*
"A-pa hanya itu tulisannya Fitto?"
"Iya tuan".
__ADS_1
Nampak seulas senyum di sudut bibir Sebastian. Laki-laki itu memejamkan kedua matanya. "Aku akan menagih janji mu, L-izzy..."
...***...