
Lizzy tersenyum membaca secarik kertas yang baru saja di berikan Fitto padanya dari Sebastian.
Sejak surat pertama, keduanya kerap saling berkomunikasi melalui secarik kertas.
Pasca terjadinya kecelakaan tiga minggu yang lalu, Lizzy dan Sebastian belum pernah bertemu lagi karena harus istirahat total. Keduanya tidak dibolehkan banyak bergerak yang bisa mengakibatkan cindera lainnya.
Sekarang wajah cantik Lizzy nampak merona. Bibirnya mengulas senyuman manis. Gadis itu terlihat jauh lebih baik.
"Maria tolong ambilkan perlengkapan makeup ku. Hm...bisakah kau membantu ku, sekalian mengambilkan cermin itu?".
"Tentu saja", jawab Maria beranjak dari tempat duduknya. Mengambil peralatan makeup serta cermin, langsung memberikan nya pada Lizzy.
"Kemudian bantu aku ke kamar Sebastian. Aku sudah di perbolehkan bertemu Tian", ucap Lizzy terlihat begitu bahagia.
Maria tersenyum melihat tingkah Lizzy yang mulai menyapukan perona bibir.
"Sepertinya nona sangat merindukan tuan Sebastian ya?"
__ADS_1
Seketika senyum di wajah Lizzy hilang. Gadis itu tertegun mendengar perkataan Maria. "Aku hanya mengkuatirkan keadaan Sebastian saja Maria. Tidak lebih–"
"Kau yakin Liz, tidak merindukan Sebastian? Kalau kamu tidak kangen padanya kenapa kau butuh riasan itu?"
Seketika Lizzy menatap kearah pintu yang ternyata sudah berdiri Ivana dengan wajah menahan tawa menatapnya.
"Nona Ivana...kapan nona datang?"
"Maaf saya tidak menyadarinya", ujar Lizzy.
"Santai saja. Kalau kau sudah menghias wajah mu, aku akan mengantar mu ke kamar Tian. Sebastian memintaku mengajak mu ke kamarnya", jawab Ivana dengan senyum di bibir menggoda asistennya itu.
"Huh, nona jangan meledek saya seperti itu. Tuan Sebastian sudah memiliki kekasih. Lagi pula tuan Sebastian pasti memiliki banyak pengagum wanita diluar sana. Ia tampan dan mapan. Sangat berbeda dengan saya yang hanya menyibukkan diri dengan pekerjaan karena harus membantu perekonomian keluarga", ujar Lizzy menjawab Ivana.
"Bukankah laki-laki seperti itu sangat mengagumkan Liz? Hemm...apalagi kau sudah merasakan ciumannya yang menggairahkan itu", seloroh Ivana dengan kedua mata membulat sempurna.
"Oh my God nona Ivana, jangan ingatkan saya dengan ciuman itu. Sangat memalukan–"
__ADS_1
"Tenanglah Liz...aku mendukung mu jika kalian serius. Kata Jose, Sebastian itu laki-laki baik yang bertanggung jawab. Siapa tahu, kecelakaan yang menimpa kalian berdua bertujuan mendekatkan kau dan Tian. Jangan pernah menolak takdir. Ingat itu", ucap Ivana tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai kode.
Mendengar penuturan Ivana membuat Lizzy menundukkan kepalanya. Ivana bisa melihat wajah asistennya itu kian merona.
Sementara Lizzy tidak bisa menutupi debaran jantungnya yang semakin kencang.
Entah lah..
Semenjak kecelakaan yang menimpa ia dan Sebastian membuat Lizzy dekat dengan laki-laki itu. Hampir setiap hari ia menunggu secarik kertas yang di tulis Fitto dengan kata-kata Sebastian.
Sebenarnya Lizzy sudah beberapa kali meminta izin pada dokter untuk melihat Tian, namun ia belum diizinkan untuk terlalu banyak beraktivitas hingga tiga minggu pasca kecelakaan.
Pada akhirnya Lizzy menuruti perintah dokter. Bagaimanapun ia ingin cepat sembuh agar bisa memenuhi janjinya pada Sebastian untuk merawatnya.
Hal itu juga yang selalu di tagih Sebastian setiap menulis surat padanya.
...***...
__ADS_1
HAI JUMPA LAGI 😀