PERNIKAHAN PALSU IVANA

PERNIKAHAN PALSU IVANA
PENOLAKAN INEZ


__ADS_3

"Selamat pagi..."


Inez, Andreas, Lucas dan dokter Ricardo menatap ke arah pintu. Lizzy di bantu Maria duduk di kursi roda berada di depan pintu kaca yang terhubung dengan ruang di mana Sebastian di rawat.


Inez menatap tajam gadis itu. Ia langsung paham, setelah memperhatikan keadaan Lizzy dan infus yang terkait di tiang kursi roda.


"Apa kau wanita yang bersama dengan anak ku, yang menyebabkannya kritis seperti ini?", cecar Inez emosi.


"Sayang...pelan kan suaramu. Anak kita sedang sakit", ujar Andreas menyadarkan istrinya.


"Tidak. Karena wanita ini Sebastian hampir kehilangan nyawanya. Siapa dia Andreas, membuat anak ku seperti ini. Aku tidak mau kehilangan putra ku satu-satunya Andreas", Isak Inez menyandarkan wajahnya pada dada suaminya.


Andreas mendekapnya erat. Mengusap-usap punggung Inez.


Lizzy tidak perduli dengan perkataan Inez, ia melihat Sebastian terbaring lemah di atas tempat tidur pasien, hatinya teriris. "Maafkan aku tuan Sebastian. Kejadian ini bukan keinginan ku", ucap Lizzy pelan. Namun ucapan Lizzy di dengar jelas oleh Inez.


Wanita itu kembali menatap tajam wajah Lizzy yang terlihat lebam di keningnya.


"Jadi kau wanita itu. Yang membuat anakku kritis seperti ini", teriak Inez.


Ia ingin mendekati Lizzy namun Andreas mencegahnya. "Sudahlah tenangkan dirimu Inez. Fokus saja pada kesembuhan anak kita".


"Kau pergi dari sini! Jangan coba-coba mendekati anakku lagi. Kau wanita pembawa sial!", ucap Inez mengebu-gebu. Ia benar-benar menunjukkan rasa bencinya pada Lizzy yang terdiam.


"Maafkan saya nyonya–"

__ADS_1


"Simpan saja kata-kata maaf mu itu. Keluar! Anakku tidak membutuhkan mu di sini. Kau wanita pembawa sial!"


Lizzy tak bergeming mendengar tuduhan Inez. Namun sungguh hatinya menangis mendengar amarah Inez yang di tujukan untuk nya.


"Sebaiknya kau pergi, nak. Kami sedang membahas kondisi putraku dengan dokter", ucap Andreas bijak.


"Iya tuan. Sekali lagi saya minta maaf. Semoga tuan Sebastian cepat pulih", ucap Lizzy dengan wajah tertunduk. Wajah nya tampak pucat pasi.


Lizzy langsung mengajak Maria kembali ke kamarnya. Namun mereka bertemu Ivana dan Jose yang baru saja tiba di rumah sakit.


"Liz...kau sudah baikan? kenapa tidak beristirahat saja di kamar mu?"


"N-on... Lizzy–"


"Saya dari melihat tuan Sebastian nona", jawab Lizzy cepat. Ia tidak mau sampai Maria memberi tahu Ivana apa yang terjadi sebenarnya.


"Iya. Liz aku dan suamiku melihat Sebastian dulu, nanti aku menemui lagi".


"Baik nona", jawab Lizzy singkat.


Setelah Ivana dan Jose berlalu. Lizzy dan Maria menuju ke kamarnya.


"Maria, aku minta pada mu jangan cerita apapun pada nona Ivana tentang apa yang di katakan orang tua Sebastian"


"Baik nona. Maafkan saya hampir saja ke ceplosan".

__ADS_1


"Iya tidak apa-apa. Nanti sore temani aku melihat Sebastian lagi. Mungkin keadaannya sudah berbeda".


"Iya nona".


*


Menjelang senja Lizzy ditemani Maria kembali menjenguk Sebastian.


Secara diam-diam langsung menuju ruang Intensive Care Unit. Namun Sebastian tidak ada di sana lagi menurut perawat Sebastian sudah dipindahkan pihak keluarga keruangan Intensive Care Unit khusus.


Tiba-tiba perasaan Lizzy tidak enak. "Apa kondisi Tian, memburuk?", batinnya.


Lizzy hendak masuk kedalam ruangan Intensive Care Unit khusus yang dimaksud, namun ia harus tertahan diluar. Para petugas keamanan yang berpakaian lengkap melarangnya masuk.


Lizzy tidak diizinkan masuk karena ruangan harus steril dan tidak sembarang orang bisa masuk sesuai permintaan keluarga Sebastian.


Lizzy memohon untuk sebentar saja melihat Sebastian, hanya sesaat saja. Namun tetap tidak diizinkan oleh keamanan dan perawat yang berjaga. Lizzy di minta melihat pasien dari kaca jendela pembatas. Namun untuk saat ini masih tertutup sesuai permintaan keluarga, untuk menghindari pengambilan gambar oleh paparazi yang memburu berita tentang kondisi Sebastian.


Suatu hal yang bisa di mengerti mengingat Sebastian seorang pengacara terkenal. Kecelakaan yang di alaminya pun cepat tersebar.


"Oh Tuhan, selamatkan Tian. Aku ingin menyampaikan permintaan maaf kepadanya", ucap Lizzy dengan suara bergetar.


Lizzy mengajak Maria pergi dari tempat itu. Ia tahu sekuat apapun ingin menemui Tian pasti tidak akan diizinkan. Lizzy mengusap wajahnya yang tiba-tiba basah oleh air mata yang menetes dengan sendirinya.


"Tian, aku pergi. Semoga kau cepat pulih, aku akan selalu mendoakan mu."

__ADS_1


...***...


__ADS_2