
"Ed, ada apa say–"
"Ah bukan apa-apa sayang. Kebiasaan sekali pelayan itu meletakkan gelas kopi di tepi meja, akibatnya tersenggol lenganku", jawab Eduardo menatap istrinya dan Ivana yang bergegas masuk untuk melihat apa yang terjadi di dalam ruangan tersebut.
"Sekakmat!"
Eduardo menatap bidak catur miliknya yang sudah tidak bisa berpindah tempat kemana pun lagi, menandakan mati langkah.
"Tidak mungkin kau bisa mengalahkan aku, anak muda. Kita ulang lagi permainan ini!"
"Tidak bisa begitu, paman harus sportif dengan janji paman. Jika aku berhasil mengalahkan mu dalam satu pertandingan, paman akan memberikan restu pernikahan kami".
Mendengar itu, membuat Ivana dan Regina saling bertukar pandang sembari menggelengkan kepala mereka.
Eduardo menghisap dalam-dalam cerutunya. Masih menatap papan catur.
"Baiklah. Aku merestui pernikahan mu dengan keponakan ku. Tapi jangan pernah kau menyakiti perasaan nya. Siapapun dirimu aku tidak segan mengahadapi mu. Kau ingat kata-kata ku anak muda!", ucap Eduardo sambil kembali menyusun bidak-bidak di tempatnya.
"Aku tidak akan menyakiti istri ku, paman. Karena aku sangat mencintai keponakan mu", janji Jose bersungguh-sungguh.
"Aku pegang janjimu".
Ivana dan Regina mendekati keduanya. Ivana memeluk leher Eduardo dan memberi sebuah kecupan sayang pada laki-laki paru baya itu.
"Terimakasih paman".
Eduardo mengusap lembut lengan Ivana. "Paman hanya ingin melihat mu bahagia dengan laki-laki pilihan mu, nak. Kau tahu seperti apa paman. Paman tidak pernah melihat status sosial seseorang sebagai pendamping mu. Yang paling penting kau bahagia, suami mu bisa menjaga dan melindungi mu", ucap Eduardo dengan bijak.
"Aku sangat menyayangimu paman Eduardo", ucap Ivana tersenyum sambil menyandarkan dagunya pada bahu laki-laki itu.
Begitu juga Regina tersenyum bahagia. Pemandangan itu memang selalu di lihat Regina sejak dulu. Suaminya dan Ivana begitu kompak dan saling menyayangi.
__ADS_1
Tak sedikitpun Regina iri melihat kedekatan Eduardo dan keponakannya itu. Regina tulus menerimanya karena ia tahu bagaimana dekatnya Eduardo dengan kakaknya yang merupakan ayah Ivana. Begitu juga dengan Molly ibu Ivana. Mereka berempat sangat dekat. Jadi wajar rasanya jika Leo dan Ivana tanpa batas menceritakan apapun pada Eduardo dan Regina yang mereka anggap sebagai pengganti orang tua mereka.
"Ada lagi yang paman minta dari kalian berdua. Jangan menunda kehamilan. Segera buat istri mu hamil dan berikan kami banyak cucu yang banyak, Jose. Sudah lama sekali aku dan istriku menginginkan anak–"
"Ah tenang saja masalah itu paman, aku pastikan sebentar lagi kau akan segera mendengar kabar istriku hamil dan memberikan cucu untuk mu", jawab Jose cepat.
Jelas jawaban Jose di sambut baik oleh Eduardo dan Regina. Sementara Ivana melebarkan kedua matanya, jujur hal itu belum terpikirkan olehnya.
Tok..
Tok..
"Sepertinya itu pelayan yang memberi tahu makan malam sudah siap. Sebaiknya kita makan bersama", ucap Regina.
.
Malam semakin larut...
Bahkan Ivana dan Jose menikmati makan bersama bersama Eduardo dan Regina dalam suasana hangat dan akrab meskipun mereka baru pertama kali bertemu Jose.
Jose juga dengan cepat beradaptasi, ia menyukai keluarga Ivana. Nampak jelas sangat menyayangi istrinya. Wajar jika Ivana begitu menyayangi Eduardo dan Regina selama ini.
Jose mengusap rambutnya yang masih basah, bahkan tetesan air masih jatuh dari ujung rambutnya.
"Sayang..."
Jose memanggil Ivana yang tak nampak di kamarnya itu. Laki-laki itu membuka pintu kamar nya dan berdiri di pagar besi mencondongkan tubuhnya melihat ke bawah. Namun tak melihat istrinya.
Jose kembali masuk ke kamarnya dan ujung netranya melihat pintu kaca balkon terbuka, tirai berwarna putih terbang tertiup angin malam yang cukup kencang.
Senyuman langsung terpatri di wajahnya, melihat Ivana berdiri di balkon masih menggunakan bathrobe untuk menutupi tubuhnya, sementara rambut sebahunya terurai terlihat sedikit acak-acakan karena tertiup angin.
__ADS_1
"Kenapa kau berdiribdi balkon, hem? Udara malam tidak baik untuk mu".
Suara dan harum shampo Jose menyeruak memenuhi indera pendengaran dan penciuman Ivana. Terlebih Jose memeluknya dari belakang sambil menciumi lehernya begitu mesra.
"Suasana malam dari penthouse mu ini sangat indah, Jos", jawab Ivana memiringkan kepalanya karena Jose terus menyusuri tempat itu.
"Apa kau menyukai nya, hem?"
"Tentu saja aku sangat menyukainya, Jos", jawab Ivana sambil membalikkan tubuhnya menghadap Jose.
Jemari Jose menurunkan sedikit bathrobe Ivana, mengecup bahu putih mulus wanita yang telah memenuhi relung hatinya selama seminggu ini dengan perasaan mendalam.
Jose menghimpit tubuh Ivana hingga bersandar pada pagar balkon dengan view pemandangan kota Mexico di waktu malam hari. Ivana melebarkan kedua tangannya, terentang di atas pagar besi yang begitu kokoh.
Bibirnya mengeluarkan suara dessahan ketika jemari Jose dengan liarnya menyelusup masuk meremas dadanya. Sementara tangan satunya mengusap paha bagian dalam Ivana. Membuat tubuh wanita itu seketika berubah menjadi panas.
"Akh...J-ose"
Ivana membuka matanya ketika Jos tiba-tiba menggendong tubuhnya ala bridal style.
Tubuh seksi Ivana sudah setengah telanjang karena perbuatan Jose, namun bathrobe masih melekat di tubuh itu.
"S-ayang..."
Ivana menatap sayu wajah tampan Jose yang begitu dekat dengannya. Bahkan Ivana bisa mendengar dan merasakan helaan nafas suaminya itu.
"Aku harus menepati janji pada pamanmu, untuk segera memberinya cucu. Kita harus lebih intens lagi melakukannya, sayang..."
Ivana tersenyum mendengarnya dan melingkarkan tangannya pada leher Jose.
...***...
__ADS_1
Jika ada typo nanti author revisi ya. Harap maklum curi² waktu di sela kerja 🙏