PERNIKAHAN PALSU IVANA

PERNIKAHAN PALSU IVANA
SEBASTIAN - LIZZY


__ADS_3



"Honeyyy–"


"Tian...apa yang kalian lakukan!"


Mendengar pintu terbuka dan teriakan kencang seorang wanita membuat Lizzy terkejut. Cepat-cepat ia menjauh dari Sebastian.


Lizzy melihat Inez datang bersama seorang wanita seksi berambut pirang yang segera berlari memeluk Sebastian. Bahkan wanita itu menubruk bahu Lizzy ketika ia berdiri di samping tempat tidur Tian.


Sekilas Lizzy menatap Inez, menundukkan kepala untuk memberikan hormat pada wanita paruh baya itu. Namun Inez membalasnya dengan tatapan penuh kebencian. Bahkan wanita itu menatap sinis padanya. Lizzy tak bergeming sedikitpun dari tempatnya ketika menerima tatapan tajam Inez.


"Honey... bagaimana keadaan mu? Maafkan aku baru bisa pulang sekarang karena terkendala dengan kontrak ku. Kau tahu semenjak aku terpilih menjadi ambassador parfum mahal itu, semakin banyak yang mengontrak ku dan menawarkan kerja sama dengan ku".


"Akh...Apa yang kau lakukan, kau menyakiti ku!"


"Oh, maafkan aku sayang–"


"Lizzy...bantu aku duduk!", pinta Sebastian menatap Lizzy dengan wajah nampak meringis menahan sakit.


"I-ya tuan", jawab gadis itu cepat. Tubuhnya segera mendekati Sebastian, namun Rubi mendahului Lizzy.


"Biar aku saja sayang, aku akan membantumu".


Namun jelas Sebastian menolaknya, laki-laki itu menepis tangan Rubi agar tidak menyentuhnya.

__ADS_1


Bersamaan dengan Inez mendekati Lizzy.


"Sebaiknya kau pergi dari kamar anak ku! Karena aku dan tunangan anak ku akan berbicara serius. Kamu bukan siapa-siapa bagi keluarga kami!", ketus Inez dengan tegas di hadapan semua.


"Huhhh .."


Sebastian menghembuskan nafasnya. Tampak jengah mendengar perkataan Inez yang memaksakan kehendaknya. "Lizzy tidak akan pergi kemana-mana. Ia bersama ku di sini. Sebaiknya yang pergi itu kalian berdua, karena aku membutuhkan istirahat", tegas Sebastian sembari menghunuskan tatapan tajam pada Inez dan Rubi bergantian.


"Lizzy...apa kau dengar ku, aku meminta mu membantuku? Bantu aku sekarang!", teriak Sebastian dengan suara tinggi.


"Hm...baik t-uan", jawab Lizzy segera membantu laki-laki itu.


"Aku melarang mu memanggil ku tuan. Panggil nama ku saja", ucap Sebastian menatap lekat wajah cantik gadis yang saat ini berada tanpa jarak darinya itu.


Seketika wajah Lizzy pucat pasi. Jantungnya kian berdetak kencang. Jujur situasi yang sangat tidak nyaman untuk nya. Apalagi Inez dan wanita bernama Rubi terus menatapnya tajam penuh kebencian.


Perbuatan Sebastian sontak saja membuat Lizzy serba salah. Tubuhnya gemetaran dengan debaran jantung yang berdegup kencang.


"Aku pastikan Lizzy tetap di sini bersama ku, tidak ada yang bisa menentang ku", tegas Sebastian kian mengeratkan pelukannya pada perut rata Lizzy. Seakan memberikan perlindungan pada gadis yang sudah ia sukai saat ini.


Rubi dan Inez melototkan kedua matanya, melihat Sebastian memperlakukan Lizzy seperti itu.


"Sayang kau ini apa-apaan. Rubi sudah ada, ia datang jauh dari Milan menemui mu, sayang. Kau menyakiti perasaan tunangan mu, Sebastian.."


"Rubi sayang...maafkan Sebastian. Kaulah yang mama inginkan mendampingi anakku", ujar Inez penuh kasih sayang pada Rubi yang terisak di tempatnya berdiri. Inez mengusap lembut lengan gadis itu sembari memeluk bahu Rubi sebagai bentuk memberikan dukungannya.


Situasi yang benar-benar membuat Lizzy serba salah. Ia bisa melihat Inez begitu bersedih.

__ADS_1


"Sebaiknya saya kembali ke kamar saya tuan Sebastian. Kalian perlu bicara pribadi. Saya janji tetap akan merawat tuan sampai sembuh, bentuk terimakasih saya pada tuan kerena sudah menyelamatkan hidup saya", ucap Lizzy pelan menolehkan wajahnya pada Sebastian.


Gadis itu hendak berdiri, namun Sebastian justru menarik tengkuk Lizzy. Menyatukan bibirnya dengan bibir Lizzy yang terasa begitu dingin dan bergetar hebat.


Lizzy hanya bisa terpaku, tidak memberikan respon apapun karena tindakan spontan Sebastian. Rasa kaget jelas nampak di wajah Lizzy yang membulatkan kedua matanya. Namun Sebastian tidak perduli, laki-laki itu semakin memperdalam ciumannya pada bibir ranum Lizzy yang sudah terbuka.


Sontak saja perbuatan Sebastian memicu amarah Inez dan Rubi yang seketika meluap.


"Aku datang menemui mu agar hubungan kita kembali membaik, Sebastian. Aku masih mencintaimu..."


Rubi membalikkan tubuhnya, berlari keluar kamar dengan isakan.


Perlahan Lizzy mendorong dada Sebastian agar berhenti menciumnya. Ia benar-benar merasa tidak enak, apalagi setelah mendengar perkataan Rubi barusan.


"Kalian puas sekarang, melukai perasaan gadis itu hah? Sampai kapan pun mama tidak akan merestui gadis ini, Sebastian!", hardik Inez sembari menunjuk wajah Lizzy dengan amarah.


"Nyonya jangan kuatir saya dan tuan Sebastian tidak ada hubungan apapun. Saya hanya ingin membantu putra anda agar cepat pulih. Saya berhutang nyawa pada tuan Sebastian karena melindungi saya pada saat kecelakaan itu, nyonya", ucap Lizzy beralasan.


Inez menyipitkan matanya, menatap Lizzy dengan penuh tanda tanya.


"Aku mencintai Lizzy. Aku tekankan, aku tidak mengkhianati Rubi. Karena seminggu sebelum kecelakaan menimpa ku, aku sudah memutuskan hubungan kami. Rubi sangat tahu kenapa aku memutuskan hubungan dengan nya. Lizzy tidak ada kaitannya dengan keputusan yang aku ambil", tegas Sebastian.


Pengakuan Sebastian membuat Lizzy tersadar dari lamunannya. Gadis itu menatap tak percaya Sebastian. Secara tiba-tiba tubuhnya melonjak berdiri.


...***...


WALAUPUN SLOW UPDATE, PPI TETAP AKAN LANJUT SAMPAI TAMAT.

__ADS_1


__ADS_2