
Jam di dinding sudah menyentuh angka sepuluh pagi.
Di sebuah ruangan rumah sakit di mana Lizzy di rawat terlihat dua orang perawat memeriksa memeriksa gadis itu. Lizzy terlihat lebih baik dari kemarin.
"Kondisi nona Lizzy stabil. Tensi darah juga baik. Apa nona memiliki keluhan lainnya?", tanya salah satu perawat dengan ramah.
Lizzy menggelengkan kepalanya. Namun ia terlihat ragu-ragu. Gadis itu rebahan dengan punggung dan kepala bersandar pada tempat tidur yang di tinggikan. Sementara kaki yang mengalami keretakan, setelah di lakukan Rontgen ulang pagi ini sudah menunjukkan kebaikan.
Pelan-pelan Lizzy sudah bisa menggerakkan kaki sebelah kanannya.
"Apa, kalian tahu pasien yang bersama ku kemarin?"
"Tuan Sebastian?"
Cepat-cepat Lizzy menganggukkan kepalanya. "Iya. Tuan Sebastian. Bagaimana keadaannya?"
"Tuan Sebastian masih kritis, nona. Karena mendapatkan benturan keras di kepala dan banyak kehilangan darah", jawab salah satu perawat sambil membetulkan tetesan infus Lizzy.
Lizzy terdiam. Mengetahui kondisi Sebastian masih kritis membuatnya merasa bersalah. Karena Lizzy sangat tahu kejadian yang sebenarnya. Dalam keadaan genting, Sebastian berusaha melindunginya.
__ADS_1
Beberapa saat setelah ke dua perawat itu pergi. Lizzy meminta bantuan Maria.
"Tapi...nona Lizzy belum sehat dan dokter memberi instruksi agar nona harus banyak istirahat.
"Aku baik-baik saja Maria. Jangan menguatirkan aku. Sebastian lah yang harus kita kuatir kan saat ini. Karena ialah aku tidak luka parah", ujar Lizzy.
"Kau bantu aku duduk di kursi roda itu, tutupi kaki ku dengan selimut. Jangan takut dengan pengawal di luar, aku mengenal mereka orang-orang tuan Jose. Aku yang akan bicara pada mereka", ujar Lizzy memberi pengertian pada Maria.
"B-aik nona Lizzy".
*
Andreas dan Inez sedang berbincang dengan dokter yang merawat Sebastian. Dokter Ricardo. Bersama mereka terlihat juga dokter keluarga Andreas yang sengaja di datangkan, dokter Lucas yang biasa di panggil Sebastian dengan sebutan paman Lucas.
"Kondisinya stabil karena sudah transfusi darah. Namun benturan di kepalanya sangat keras itulah yang menyebabkan pasien kritis. Sementara untuk jantungnya tidak mengalami kerusakan, kemungkinan tertahan oleh air bag yang ada di mobil putra anda".
"Apa anak ku sudah bisa di pindahkan ke rumah sakit yang lebih besar di kota untuk mendapatkan perawatan medis yang lebih baik", tanya Andreas.
"Melihat kondisi tuan Sebastian sekarang, sebaiknya di tunda dulu rencana keluarga memindahkan nya. Kondisi tuan Sebastian masih sangat lemah belum stabil. Perjalanan jarak jauh bisa mengancam ke selamatannya", ujar dokter Ricardo menjelaskan dengan rinci kondisi pasiennya.
__ADS_1
"Dokter Ricardo benar Andreas. Percayalah padanya. Kau jangan kuatir aku akan rutin mengontrol kondisi anak mu", ujar dokter Lucas menepuk bahu sahabat lamanya Andreas yang saat ini sedang bersedih karena putra satu-satunya mengalami kecelakaan maut.
Andreas menghembuskan nafasnya dalam-dalam sambil memijat kepalanya. Sementara di samping Sebastian, terlihat Inez istrinya mengusap lembut lengan putranya yang tidak terluka dan menggenggam jemari tangan Sebastian. Buliran-buliran bening tak henti menetes di wajah Inez. Wanita itu menangis pilu ketika mengetahui kondisi Sebastian separah itu.
"Bertahanlah nak, mommy akan selalu bersama mu. Segera buka matamu sayang. Mommy menyayangi mu dengan jiwa raga mommy. Kau anak yang kuat, mommy yakin kau bisa melewati masa-masa kritis ini sayang. Mommy tak henti berdoa untuk kesembuhan mu nak. Tian kesayangan mommy ayo bangun dan buka matamu sayang", ucap Inez terisak sambil mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Sebastian yang tidak memberikan respon apapun.
"Kenapa Sebastian bisa separah ini. Padahal mobil yang di kendarai nya di lengkapi keamanan tinggi. Mobil itu bukan mobil sembarangan", ujar Andreas seakan bicara pada dirinya sendiri.
"Karena anak anda melindungi teman wanita nya, tuan. Teman yang bersamanya tertolong tuan Sebastian yang melindunginya–"
"Apaa..?"
Tiba-tiba Inez berdiri dari kursinya. "Maksud mu anakku menyelamatkan orang lain dan membiarkan dirinya terluka parah seperti ini?", ketus Inez menatap tajam dokter Ricardo meminta penjelasan lebih lanjut.
"Sayang tenang kan diri mu. Sebastian sedang sakit".
"Aku ingin tahu siapa wanita itu, Andreas. Kenapa anak kita berkorban untuk nya seperti ini".
"Selamat pagi..."
__ADS_1
...***...
Masih ada 1 bab lagi. Nantikan ya. Langsung up ini. Semoga cepat lolos review plaform.