PERNIKAHAN PALSU IVANA

PERNIKAHAN PALSU IVANA
MENEMUKAN IVANA


__ADS_3

"Kau ingin mengatakan sesuatu Ivana? Katakanlah, sebelum aku membawa mu pergi jauh dari sini, suami mu itu tidak akan menemukan tempat terpencil ini. Jangan berharap".


"Bahkan saat mereka mengetahui tempat ini, kau sudah berada di neraka!", ucap Arciela sarkas sambil melototkan kedua matanya dan menjentikkan jarinya di hadapan Ivana.


Tidak kata yang keluar dari bibir Ivana. Sebisa mungkin ia untuk tenang. Jangan sampai memancing Arciela dan laki-laki bernama Gustave lebih menggila, menyakiti ia dan bayi yang di kandungnya.


Ivana menggelengkan kepalanya, terlihat lemah. Tertunduk lesu.


"Kenapa kau diam Ivana tidak seperti malam itu ketika kau melihatku dan Marco. Apa kau merasakan nyawa mu sudah di ujung tanduk, lantas kau menyerah sekarang?".


Lagi-lagi Ivana di diam.


"Katakan sekarang apa yang ingin kau ucapkan, aku memberi mu kesempatan terakhir!", ketus Arciela seraya menjambak rambut Ivana agar wanita itu menatapnya.


"Hei Arciela, jangan berlebihan. Siapkan tenaga mu untuk nanti. Kau jangan menyakiti wanita itu, kau tahu ia bisa kita gunakan sebagai sandera kalau-kalau ada yang mengejar kita". Gustave mengingatkan Arciela, sambil menghisap cerutu.


Sementara Lupe tertawa bahagia melihat perbuatan Arciela pada Ivana. "Aku puas. Dendam ku pada Jose Almiron dan kakeknya terbayar tunai sekarang", batin Lupe bersorak gembira. "Setelah semua keluarga itu mati, aku akan merebut perkebunan itu. Selangkah lagi keinginan ku terwujud. Hector akan menjadi pemilik perkebunan agave terbesar".


"Akhirnya keberuntungan ada di pihak ku".


Terlihat salah satu anak buah Gustave membisikkan sesuatu ke telinga bos-nya.


Nampak jelas raut wajah Gustave berubah total.


"Bodoh! Jadi tidak ada satupun orang-orang kita yang lolos, Ramirez? Dan mereka gagal mengeksekusi Jose Almiron?"


"Hanya Nacho yang berhasil kabur, bos. Yang lainnya tewas. Sebagian terluka parah dan di tangkap polisi", jawab laki-laki berperawakan tinggi besar di panggil Ramirez.


Ivana menarik nafas dalam-dalam. "Ya Tuhan terimakasih telah menyelamatkan Jose. Semoga yang lainnya juga selamat", batin Ivana mengucap syukur.


"Sebaiknya kita pergi sekar–"


"Dorr..


"Dorrr...


Suara tembakan bersahutan. Terdengar juga sirine polisi mendekati lokasi mereka.


"Bos, mereka menemukan kita. Seperti nya persembunyian kita terlacak", ucap salah satu anak buah Gustave.


"Sial. Periksa tubuh wanita itu!", perintah Gustave dengan suara menggelegar.


"Dasar kau ivana, ja*ang! Kau mau bermain dengan ku, hah?!"


"Lepaskan aku", teriak Ivana sekuat tenaga memberontak.


"Nona Angel, aku menemukan handphone. Seperti nya mereka melacak keberadaan kita melalui sinyal", ucap Lupe memperlihatkan handphone Ivana.


"Plakkk..."


"Plakkk..."

__ADS_1


"Akh–"


Dua kali tamparan keras Arciela mendarat di wajah Ivana. Kali ini benar-benar terasa sakit dan perih. Tepat mengenai luka yang baru saja di berikan Arciela.


"Ckck Ivana...ternyata kau sedang hamil? Kebetulan sekali dua nyawa sekaligus, hahaha", ucap Arciela menggebu-gebu sambil menekan kuat-kuat perut Ivana dengan heels yang di pakainya.


"Akh–"


"Aku mohon Arciela, jangan sakiti anak ku..."


Lupe yang melihat kejamnya wanita itu hanya bisa diam mematung.


"Memohon lah Ivana. Memohon lah pada ku!", teriak Arciela semakin kuat menekan perut Ivana".


Ivana menahan sakitnya. Sekuat tenaga ia berusaha melindungi kandungan nya dengan menggerakkan tubuh nya. Tapi tetap saja tidak bisa. Tangannya terikat. Begitu juga kedua kalinya terikat kuat.


Peluh membasahi wajah Ivana yang meringis kesakitan. Wajahnya memutih semakin pucat pasi.


"T-olong aku–"


Gustave dan Ramirez yang sedang bersiaga dengan senjata menolehkan kepalanya, melihat apa yang di lakukan Arciela. Ramirez segera menarik keras tubuh Arciela.


"Apa yang kau lakukan, hah? Bodoh! Ingat Arciela, kau jangan melangkahi perintah ku. Ini bukan urusan pribadi antara kau dan wanita ini. Kau cam kan itu. Atau aku kirim kau ke neraka saat ini juga", hardik Gustave mengacungkan pistol nya pada Arciela.


Gustave benar-benar naik pitam melihat anak didik nya itu gegabah. Yang bisa merugikan dirinya.


"Ahh... brengsek!!


"Tidak. Aku yang menentukan semuanya. Kalian berdua paham!"


"Wanita ini aku jadikan senjata perisai, jika kita terdesak nantinya".


*


Sementara di luar gedung, orang-orang Jose baku hantam dengan orang Gustave yang memang ditugaskan bos mereka untuk menghalangi Jose dan orangnya menyelamatkan Ivana.


Perlahan Adrian dan Hector maju mendekati pintu gedung tua itu setelah melumpuhkan beberapa anak buah Gustave.


Sementara Jose dengan ke ahlian bela diri yang mumpuni dengan mudah melumpuhkan orang yang beringas menghalau pergerakan nya untuk masuk ke dalam gedung.


Jose memiting seorang penjahat, memaksa ia berbicara. "Dimana istri ku? Cepat katakan!"


Jose menekan kuat tangan laki-laki itu hinggap menjerit kesakitan.


Polisi menghampiri Jose, meminta Jose untuk menyerahkan laki-laki yang sudah terdesak itu pada mereka supaya di proses sesuai hukum yang berlaku.


Jose mengeraskan rahangnya. Saat ini orang-orang Gustave terdesak.


"Gustave, diharapkan menyerahkan diri tempat ini sudah terkepung". Petugas kepolisian memberikan peringatan kepada Gustave agar keluar secara sukarela menyerahkan diri. Mereka yakin Gustave dan anak buahnya masih berada di dalam gedung menyandera Ivana.


*

__ADS_1


"Bos... kita terdesak. Orang-orang kita sudah berhasil dilumpuhkan. Apa yang akan kita lakukan?", tanya Ramirez yang selalu ada disamping Gustave.


"Bawa kemari wanita itu!", perintah Gustave pada Arciela dan Lupe.


Lupe segera melepaskan tali yang mengikat tangan Ivana pada kursi. Arciela menarik paksa tangan Ivana menghampiri Gustave.


Ivana berjalan dengan tertatih-tatih mengikuti langkah cepat Arciela.


Brakkk...


Orang-orang Jose mendobrak pintu gedung tua yang menjadi tempat penyekapan ivana.


Gustave dan orang nya yang tersisa kaget dengan serangan itu.


"Dorrr...


Ramirez menghujani tembakan kearah pintu yang berhasil di dobrak.


"Lepaskan istriku Gustave", teriak Jose.


"Hahahaaaa...kau menginginkan istri mu Jose Almiron?", tantang Gustave.


José melangkahkan kakinya secara perlahan mendekati Ivana yang berdiri didepan Gustave. Tubuhnya dijadikan tameng supaya tidak tertembak. Sementara orang-orang Gustave tersisa lima orang saja di dalam gedung itu dengan mengacungkan pistol kepada Jose yang semakin mendekat.


"Berhenti disana, atau peluru panas milikku menembus kepala wanita ini", teriak Gustave sambil mengancam.


Sementara Gustave Perlahan-lahan melangkah mundur, Jose dan orang-orangnya semakin maju mendekati Ivana.


Jose bisa melihat wajah istrinya pucat pasi. Wajahnya pun lebam di beberapa sisi. "Ivana... bertahan lah".


Wajah Ivana seperti tidak ada aliran darah, wajah itu semakin memutih pucat pasi.


Setelah diambang pintu bagian belakang gedung, Gustave hendak melarikan diri. Tubuh Ivana yang sudah tampak begitu lemah didorong kuat kesamping oleh Gustave. Secara spontan Jose hendak menangkap tubuh istrinya yang terhuyung.


Jose tidak memikirkan apapun lagi, yang ada dipikirannya menyelamatkan Ivana dan janin yang dikandungnya.


"Dorr..


"Ahh.." teriak Jose


Letusan timah panas milik Arciela mengenai dada Jose.


"Tidakkk. Josee..."


Jose memeluk Ivana melindungi dengan tubuhnya.


Jose tersungkur ke lantai yang kotor itu sementara Ivana menindih tubuhnya.


"S-ayang maafkan aku", ucap Jose dengan suara lemah, sambil memeluk tubuh istri nya. Kemudian tangan itu terkulai.


"Oh Jose...bangun!", teriak Ivana histeris".

__ADS_1


...***...


__ADS_2