
"Apa-apaan kau ini", ketus Jose sambil melepaskan pelukan wanita yang tidak ia kenal sama sekali tiba-tiba berlari memeluknya.
Tentu saja tindakan wanita itu membuat kaget Jose.
Beberapa saat yang lalu, sembari menunggu kuda milik nya yang sedang disiapkan Adrian, Jose berjalan menyusuri ladang. Tiba-tiba ada wanita yang langsung berlari dan memeluknya.
Tentu saja Jose marah, dan langsung menyemprot wanita itu dengan suara meninggi. Bahkan beberapa pekerja langsung menghentikan kegiatan mereka sesaat melihat apa yang terjadi dengan bos mereka.
"Ada apa tuan Jose. Kuda anda sudah siap", ujar Ellios datang bersama Adrian yang membawa kuda berbulu hitam lebat itu.
Jose langsung mendekati kudanya. Masih dengan suasana kesal.
Ellios menatap gadis yang sempat di bentak tuannya itu. Gadis itu nampak tertunduk lesu. "Siapa kamu? Kenapa ada di Almiron", tanya Ellios penuh selidik.
"S-aya Dulce t-uan. Maafkan saya. Saya tidak bermaksud apa-apa tapi begitu melihat tuan Jose Almiron saya spontan saja, entahlah... saya merasa senang dan terlindungi saja bertemu kalian di perkebunan milik keluarga Juan", ucap Dulce dengan suara terdengar lirih.
Semua yang mendengar pengakuan gadis asing itu terdiam. Tak terkecuali Jose yang sudah berada di atas panggung Brandon kuda jantan milik nya tercekat. Sorot manik hitam menatap tajam Dulce yang berdiri tidak jauh dari Brandon.
Siapapun melihat penampilan Dulce pasti beranggapan wanita itu bukanlah wanita baik-baik. Gadis itu masih mengenakan pakaian saat ia berada di club milik Gustave. Pakaian minim yang mengekspos tubuhnya. Bahkan sisa maskara luntur membuat hitam bawah matanya.
Penampilan Dulce begitu kacau dan berantakan.
"Apa mau mu bicara pada ku, hah? Bagaimana kau bisa mengenalku", ketus Jose dari atas kuda.
Dulce tampak ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan Jose. Namun beberapa saat kemudian ia membuka tas selempang kecil milik nya. Ia mengambil sesuatu di dalam dompetnya. Sebuah foto.
Dengan tangan gemetaran, gadis itu memberikannya pada Jose. "Mungkin foto ini bisa menjelaskan", ucapnya pelan.
Jose mengambilnya, dan melihat foto itu. Foto ia bersama Juan ketika masih kecil dengan background pondok Almiron yang di bangun kakek mereka untuk keduanya.
Jose membalik foto itu, membaca tulisan di belakang foto tersebut. Jose yakin itu memang tulisan tangan Juan adiknya. Terlihat raut wajah laki-laki itu berubah dingin.
__ADS_1
Jose memejamkan matanya. Sesaat kemudian mengalihkan pandangannya jauh ke depan.
"Ellios..."
"Iya tuan", jawabnya segera.
"Bawa wanita ini ke dalam. Jangan biarkan ia melarikan diri. Selesai bekeliling ladang aku akan bicara padanya", perintah Jose sebelum pergi.
"Baik tuan".
"Nona, anda ikut saya. Tuan akan bicara dengan anda setelah berkeliling perkebunan", ujar Ellios pada Dulce yang terlihat sedang melamun. Tidak ada respon apapun dari gadis itu.
"Nona Dulce?"
"Oh...iya? M-aaf–"
"Sebaiknya nona menunggu di dalam saja. Tuan akan bicara pada anda".
*
Ivana mengikat rambutnya. Wanita itu terlihat cantik dengan dress hamil selutut dengan motif bunga-bunga kecil berwarna merah muda.
Ivana menyapukan lipgloss bening di atas bibir nya. Membuat penampilan Ivana lebih segar. Meskipun tidak bisa di pungkiri, manik bening itu tidak memancar indah seperti biasanya. Kali ini nampak sendu.
"Aku akan ke bawah, apa yang terjadi di sana. Siapa wanita itu", gumamnya.
Ivana beranjak dan langsung keluar kamar.
Seorang pelayan yang melihatnya hendak menuruni tangga menegur Ivana dengan sopan.
"Maaf nona, tuan Jose melarang anda turun. Sebaiknya anda istirahat di kamar nona. Jika membutuhkan sesuatu saya akan melayani kebutuhan nona", ujar pelayan muda tersebut bernada kuatir.
__ADS_1
"Terimakasih Metti, aku bosan di kamar terus seharian. Aku dan anak ku butuh udara segar. Jangan kuatir kami tidak apa-apa. Lanjutkan saja pekerjaan mu", jawab Ivana sambil menuruni tangan perlahan.
Tiba di lantai bawah, begitu melihat Ivana, Hilda langsung menghampiri dengan wajah kuatir.
"Apa yang nona butuhkan, akan saya ambilkan. Kandungan nona belum tiga bulan, harus banyak istirahat. Nanti tuan Jose bisa marah pada saya, jika membiarkan nona naik turun tangga itu", ujar Hilda merasa bersalah.
"Bibi Hilda, aku tidak apa-apa. Aku dan anak ku baik-baik saja. Aku harus bicara pada suamiku sekarang", jawab Ivana menenangkan pelayan itu. Sembari mengusap lembut lengan Hilda.
Hilda tersenyum mendengarnya. "Nona membuat saya kuatir saja. Tapi tuan sedang berkuda di ladang. Apa perlu saya panggilkan sekarang?"
"Biarkan saja bibi. Aku menunggu Jose di ruang kerjanya saja. Bibi lanjutkan saja pekerjaan bibi. Aku ingin makan yang lezat siang ini".
Hilda tersenyum mendengarnya. "Baiklah kalau begitu bibi akan masak menu kesukaan nona dan tuan", jawab Hilda tersenyum sambil berlalu dari hadapan Ivana.
"Hughh..."
Terdengar helaan nafas Ivana. Ia menuju ruang kerja Jose yang berada paling ujung bangunan hacienda.
"Ceklek.."
Ivana terdiam di depan pintu. Kedua netra bening itu tidak bisa menutupi rasa kagetnya ketika di ruangan itu melihat sosok wanita yang di lihatnya tadi memeluk Jose.
Ivana dan Dulce saling bertukar pandang.
Ivana memperhatikan Dulce dari atas hingga bawah. Wanita muda dengan penampilan seksi meskipun terkesan acakan.
Di perhatikan seperti itu membuat Dulce serba salah. Bahkan tanpa sadar tangan nya menurunkan rok mini yang di pakainya.
"Apa yang kau lakukan di ruang kerja suami ku? Siapa kau...?"
...***...
__ADS_1