PILIHAN DALAM CINTA

PILIHAN DALAM CINTA
11. Mengingat Kenangan Pahit.


__ADS_3

***Perusahaan K.R Group***


Rion bangkit dari duduknya dengan mimik wajah kesalnya, membuat Kenan dan ke 3 temannya melihat, apa yang ingin di lakukan oleh Rion?


"mau kemana kau?" tanya Kevin ikut berdiri, dia sangat tahu mimik wajah temannya yang sedang marah.


"akan aku hajar security itu, dia sudah bertindak kasar sama Sasha." ucap Rion dengan wajah dingin dan garangnya.


"itukan salahmu, kau kan yang mau menghukum Sasha karena mengabaikan telepon darimu, dan Sasha telat datang ke sini." ucap Kenan mengingatkan sang adik.


"tapi bukan hukuman seperti ini kak…"


"itu sudah tugas dari security untuk mengamankan setiap tamu yang datang, dan bisa bertindak tegas juga." balas Kenan melihat sang adik yang masih nampak kesal.


"tapi ini keterlaluan kak, dia kan wanita."


"ahhh…Rion itu salahmu sendiri, dan sudah resiko untuk dia seperti itu." balas Kenan seraya menepuk pundak sang adik, dan melangkah ke meja kebesarannya.


"Leon ikut denganku!" ajak Rion.


"mau kemana kau?" tanya Kevin.


"aku mau mencari Sasha, mau lihat ke adaannya." balas Rion dan berlalu dari sana.


Leon melihat pada Kenan, untuk meminta pendapatnya.


"ikuti dia, aku takut dia bertindak kasar pada security, karena mainan barunya di perlakukan kasar." perintah Kenan melihat pada Leon, dan Leon berlalu juga dari sana.


"mainan…?" ungkap Kevin melihat ke arah Kenan. Sedangkan Cristian hanya tersenyum mendengar Kenan mengatakan Sasha adalah mainan baru Rion.


"kenapa…? memang benar kan Sasha adalah mainan baru Rion." ungkap Kenan melihat pada Kevin.


"hahaha…kau bisa saja." balas Kevin.


"tapi ingat, wanita itu sudah menikah, awas suaminya mengamuk." ucap Cristian mengingatkan.


Kenan dan Kevin yang lupa akan kenyataan tersebut, melihat pada Cristian. Mereka baru menyadari dan mengingat ucapan dari Bella Lastona, kalau Sasha lebih pantas di panggil dengan sebutan nyonya, karena statusnya yang sudah menikah.


"kau benar Cristian…aku lupa kalau wanita itu sudah menikah, bisa gawat kalau suaminya tahu Rion telah memperlakukan kasar istrinya." balas Kevin melihat pada kedua temannya secara bergantian.


Tanpa pikir panjang Kenan menghubungi ponsel Rion, tetapi tidak di angkat oleh Rion.


"ada apa?" tanya Kevin.


"tidak di angkat sama Rion." balas Kenan, yang masih terus menghubungi nomer Rion.


"coba kau hubungi Leon, beritahukan padanya." ucap Kevin mengingatkan.


Kenan pun melakukan apa yang di katakan oleh Kevin. Untuk menghubungi nomer ponsel Leon.


"hallo tuan." sapa Leon dari seberang telepon.


"dimana kalian?" tanya cepat Kenan.


"kami masih di lobby depan tuan."

__ADS_1


"ingatkan pada Rion, kalau Sasha sudah menikah dan mempunyai suami, jangan sampai Rion mendapatkan masalah dengan suaminya."


"baik tuan."


Sambungan telponpun terputus. Mereka hanya saling memandang.


......................


Sementara di lobby depan, Rion menghampiri security yang telah mendorong Sasha hingga jatuh. Tanpa bicara dan aba-aba Rion dengan cepat dan keras memberikan tinjunya pada perut security tersebut, yang membuat semua orang yang melihatnya terkejut atas tindakan bos kedua perusahaan tersebut.


"kau tahu apa yang sudah kau lakukan?" tanya Rion dengan tatapan tajamnya, pada security yang masih memegang perutnya yang sakit.


"maaf tuan apa salah saya?" tanya security yang memang tidak tahu.


"kau tanya apa salahmu? apa kau ingin aku pecat?" bentak Rion pada security tersebut yang membuat security dan para karyawan lainnya takut dan terkejut.


"maafkan saya tuan, kalau saya ada salah, tolong jangan pecat saya, kasihan anak dan istri saya di rumah." jawab security dengan mimik wajah takutnya, dan masih tidak mengerti apa salahnya.


"apa kau masih ingat, ada seorang wanita yang datang kesini mengantar makanan untuk ku?" ungkap Rion, membuat security tersebut langsung ingat pada Sasha yang sudah dia usir.


"iya tuan ingat, maafkan saya tuan, karena tidak ada pesan dari anda, jadi saya pikir dia hanya ingin menipu saja tuan." jawab security yang sudah mulai mengerti apa kesalahannya.


"kau tunggu keputusan dariku." ucap Rion menunjuk ke arah security tersebut, karena mobil yang di bawa oleh Leon sudah datang di depan lobby.


Dengan wajah dingin dan garangnya, Rion pergi meninggalkan security dan orang-orang yang melihatnya, Rion dengan cepat masuk kedalam mobil yang di kendarai oleh Leon. Rion segera memerintahkan Leon untuk pergi kerumah Sasha, karena dia tahu Leon yang semalam mengantar Sasha pulang, setidaknya Leon tahu alamat rumah Sasha.


Dengan segera Leon melajukan mobilnya dan pergi menuju alamat rumah Sasha, tidak lupa Leon memberitahukan pesan Kenan pada Rion. Rion hanya menjawab seadanya, dia hanya diam dengan pikirannya sendiri.


......................


Sasha sudah pulang dan baru saja masuk ke dalam rumah, rumah sepi karena mamanya pergi bersama Ryota ke rumah Lisa untuk berkunjung, menjenguk mamanya Lisa yang sedang sakit.


Perlahan Sasha membuka jaketnya, karena siku kanannya yang terkilir masih terasa sakit. Sasha melihat sikunya membiru dan sedikit membengkak.


Sasha duduk di kursi yang ada di ruang tamu, Sasha menarik dan menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Dengan kesunyian yang Sasha rasakan di dalam rumahnya, diapun mengingat kembali ucapan dan hinaan security tadi padanya, Sasha pun jadi mengingat semua hal-hal yang terjadi dalam hidupnya selama ini.


Perlahan mata Sasha terasa panas, dan air mata yang dia coba tahan selama ini agar tidak terlihat oleh mama dan putranya pun, luruh jatuh ke pipinya. Sasha kalah akan perasaan sedihnya yang selama ini dia tahan. Sasha menangis tersedu karena mengingat bagaimana dia, mama dan putranya bisa bertahan hidup.


Hidup terkadang keras dan kejam padanya, dari masalah perceraian, penghinaan yang di lakukan oleh mantan papa mertua dan nenek mertunya, masih membekas di hati dan ingatannya.


Penghinaan kalau dia adalah wanita pembawa sial di dalam keluarga Kendrick, wanita yang hanya bisa membuat malu dan menguras uang keluarga Kendrick, dan wanita mandul miskin yang tidak mempunyai seorang papa.


Sasha menangis sejadi-jadinya mengingat kenangan pahit, tentang semua penghinaan dari keluarga Kendrick padanya. Hatinya kembali sakit mengingat semua perkataan dan hinaan tersebut. Bahkan semua yang di miliki oleh Sasha di ambil begitu saja oleh papa dan nenek Alan.


Dari ijazah kuliahnya, uang yang dia hasilkan sendiri saat ikut bekerja membantu Alan, sampai perhiasan dan rumah hadiah dari Alan, serta uang tunjangan perceraian yang di berikan Alan untuknya pun, di ambil oleh papa Alan, karena Sasha tidak pantas menerima itu semua. Karena tuduhan mereka pada Sasha adalah, Sasha sudah cukup banyak menghabiskan uang keluarga Kendrick yang tidak bisa memberikan balasan apapun, dan tidak bisa memberikan mereka keturunan.


Sasha menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua kesedihan yang selama ini dia tahan, Sasha adalah wanita biasa, yang juga bisa sedih dan butuh tempat untuk bersandar. Tetapi hidup tidak pernah berjalan baik untuknya. Kekuatannya saat ini adalah putra semata wayangnya dan juga mamanya.


Saat Sasha mengingat wajah tampan putranya, Sasha memiliki kekuatan untuk hatinya, agar bisa menjalani hidup yang berat saat ini, perlahan Sasha menghapus air matanya, dan mengatur nafasnya agar tenang.


Sasha ingat kalau sebentar lagi putra tampannya pulang, dan dia tidak ingin Ryota melihat matanya yang habis menangis. Dengan segera Sasha masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya agar terlihat segar.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan dari arah pintu rumah. Sasha pun heran…!! siapa yang datang, kalau mama dan Ryota yang pulang tidak mungkin akan mengetuk pintu.


Sasha pun memutuskan untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang, karena suara ketukan yang terus terdengar dari arah pintu.

__ADS_1


Saat Sasha membuka pintu dan tahu siapa yang datang, dia hanya memasang wajah datar dan dinginnya melihat Rion dan Leon di depan pintu.


"selamat siang Sasha…hai…!" sapa Rion dengan senyum manisnya. Tapi tidak berpengaruh pada Sasha sama sekali.


Rion melihat jelas mata sembab Sasha, seperti baru saja menangis, sedangkan Leon hanya diam saja di belakang Rion.


"mau apa anda datang ke sini?" tanya ketus Sasha.


"aku mau lihat keadaan mu dan aku juga tahu apa yang sudah terjadi padamu, maafkan aku !!" ungkap Rion dengan wajah yang menyesal.


"untuk apa anda minta maaf, itu sudah resiko saya."


"bolehkah aku masuk dulu?" tanya Rion dengan masih memasang wajah memelasnya.


"untuk apa masuk, kalau tidak ada keperluan lain lagi, silahkan pergi." usir Sasha, karena dia lagi malas menerima tamu, apalagi hati Sasha saat ini lagi tidak enak.


Rion tahu Sasha sangat marah padanya saat ini. Diapun memutar otak mencari akal supaya bisa mencari alasan yang tepat, dan dia teringat akan kontrak mereka.


"aku minta maaf secara tulus dan datang baik-baik, apa kau masih ingat kalau kita masih terikat kontrak, dan saat ini kan waktumu masih belum selesai."


"lalu…anda mau apa sekarang?"


"aku lapar, belum makan siang. Jadi aku mau makan siang di sini, sekarang juga." ungkap Rion mutlak.


"tidak bisa, sebentar lagi anak dan mama saya pulang, jadi lebih baik anda pergi, makan siang di tempat lain." usir Sasha yang benar-benar tidak ingin menerima Rion saat ini.


Sasha tidak ingin menyembunyikan kalau dia sudah punya anak, lagi pula Bella sudah terang-terangan mengatakan kalau Sasha sudah pernah menikah.


"anak…? kamu sudah punya anak?" tanya terkejut Rion begitu juga Leon yang ada di belakangnya.


"iya…wajar kan kalau seorang wanita yang sudah menikah memiliki seorang anak." ungkap Sasha, berharap dengan alasan itu Rion bisa pergi dari rumahnya.


Rion hanya melihat intens Sasha.


"ada apa? anda tidak percaya?" tanya Sasha melihat Rion nampak tidak percaya padanya.


"kalau begitu, mana suamimu? aku mau bicara, apakah dia tahu kalau kamu melakukan sebuah perjanjian kontrak denganku? aku tidak ingin nanti dia tiba-tiba menuntut ku." tanya Rion ingin memperjelas semuanya.


"dia tidak akan bisa menuntut mu, tenang saja."


"kenapa? aku tidak percaya, aku perlu memastikannya." ungkap Rion dengan pandangan matanya ke arah dalam rumah, seperti mencari seseorang.


"di dalam tidak ada siapa-siapa?" balas Sasha tahu siapa yang di cari Rion saat ini.


Rion dan Leon heran melihat Sasha, mengapa rumahnya sepi dan tidak ada siapa-siapa? khususnya Rion masih penasaran dengan sosok suami Sasha, yang hanya diam saja istrinya melakukan perjanjian kontrak dengan seorang pria, dan tadi malam juga pulang sampai larut malam, apa suaminya tidak marah? apakah suaminya tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya? itulah pertanyaan yang ada di dalam pikiran Rion saat ini.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2