
…Kenan Diandra…
Pandangan ku tidak dapat berpaling dari wanita ini, yang kini sedang duduk di sofa tidak jauh dariku, entah mengapa? wajahnya yang terlihat pucat mengusik pikiran ku. Apa dia sakit? itu yang ada di dalam pikiran ku saat melihatnya terlihat seperti orang yang sedang sakit.
Apakah Alan tidak memperlakukan wanita ini dengan baik? mengapa dia yang terlihat pucat masih di biarkan untuk bekerja. Aku tidak dapat menghentikan pandangan mata dan pikiran ku darinya. Saat sekilas tatapan mata kami bertemu, ada rasa nyaman yang aku rasakan, sorot mata teduhnya sungguh menenangkan hatiku.
Aku hanya terusik melihat wajahnya yang terlihat pucat. Aku berusaha bersikap biasa saja dan profesional. Namun aku kalah dengan rasa penasaran yang ingin tahu ada apa dengannya? dengan tiba-tiba aku mengatakan ingin berbicara 4 mata dengannya, aku juga tidak mengerti mengapa aku berkata seperti itu?
Kini tinggal lah kami berdua. Aku dan dia.
Aku menatapnya tajam dan dingin, tatapanku seakan menatap seorang musuh yang tidak aku sukai. Aku tidak tahu apa yang sedang aku lakukan saat ini? wanita ini, Sasha Yorina. Wanita yang sudah tidak aku temui selama beberapa bulan ini.
"apa kau sakit?" tanyaku tiba-tiba karena tidak bisa menahan rasa penasaran akan wajahnya yang terlihat pucat, namun tatapan tajam dan dinginku masih melihatnya.
"tidak tuan." jawabnya sembari menggelengkan kepalanya.
"apa kau selalu terlihat berantakan dan pucat seperti ini? apa Alan tidak memperlakukan mu dengan baik?" tanyaku dengan terpaksa, aku tidak ingin terlihat sedang peduli padanya. Aku berusaha menatap remeh ke arahnya.
"maaf tuan, apa maksud anda?"
Aku tersenyum tipis, namun tatapanku tetap menatap remeh padanya. Dia terlihat tidak suka akan perkataanku. Terlihat jelas dari wajahnya yang kesal tetapi dia tahan.
"kau bekerja padanya selama ini, dan kau telah membohongi kami semua. Tentu saja wanita seperti mu akan melakukan apapun? untuk mewujudkan semua yang kau inginkan." ucapku tiba-tiba, aku tidak tahu mengapa aku berbicara seperti itu padanya?
Terlihat jelas wajahnya tidak suka akan perkataanku, Perkataanku seakan menganggapnya wanita gampangan? Ada apa dengan ku saat ini? mengapa aku berkata seperti itu padanya?
"apa maksud anda tuan Kenan?" tanyanya ingin tahu lebih jelas lagi.
"semua tujuanmu, dapat aku tebak dengan mudah. Kau mendekati Alan untuk kembali padanya." jawabku dengan tatapan yang benar-benar memandangnya remeh. Ini semua sudah terlanjur buruk.
Dia tertawa lucu mendengar tuduhan yang aku berikan untuknya. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya sekarang? aku hanya bisa melanjutkan apa yang sudah terlanjur aku lontarkan padanya.
"maaf tuan, anda tidak berhak mengatakan apapun tentang urusan pribadi saya. Jika urusan kita sudah selesai, saya pamit undur diri." jawabnya tetap dengan sikap sopan.
Sasha seakan ingin menghindariku dan tidak ingin banyak bicara lagi. Namun aku merasa tidak puas akan jawaban yang dia berikan. Aku ingin lebih, entah itu dalam segi apa? akupun tidak mengerti?
Dia segera bangkit dan berusaha menahan tubuhnya yang sedikit oleng, dapat aku lihat dengan jelas saat dia memejamkan matanya sejenak. Repleks aku menahan kuat lengan tangannya. Dia terkejut melihat apa yang aku lakukan padanya, aku memegang kuat tangannya, seakan tidak rela dia pergi dengan begitu cepat.
"maaf tuan, apa yang anda lakukan?" tanyanya sembari menarik kembali tangannya kuat.
Namun betapa terkejutnya aku, tangannya terasa panas dan suhu kulit tangannya tidak seperti suhu kulit pada umumnya, dia demam.
"badanmu panas, kau pucat. Apa Alan tidak memperlakukan mu dengan baik?" tanyaku tiba-tiba yang tentu membuatnya terkejut.
Aku bertanya seakan khawatir padanya, namun tadi aku sudah sangat meremehkan dirinya. Sasha pasti berpikir ada apa dengan sikapku kali ini? terlihat Sasha bingung akan sikap yang aku tunjukkan padanya.
__ADS_1
"itu bukan urusan anda tuan, permisi." ucapnya tegas dengan mimik wajah tidak suka. Dia bergegas melangkah untuk keluar dari ruangan ini, yang membuat aku hanya bisa diam.
Tatapan wajahnya yang tidak suka melihatku, membuat hatiku sakit. Aku diam karena tidak mengerti apa yang aku rasakan saat ini? mengapa perasaan hatiku sakit?
'bruk.' Aku mendengar sesuatu jatuh dari arah belakangku, dengan cepat aku melihat ke arah belakang. Betapa terkejutnya aku melihat Sasha jatuh pingsan di atas lantai.
Aku segera berlari lalu mengangkat tubuh Sasha yang terasa panas dengan keringat dingin yang terlihat di wajahnya. Aku berteriak meminta bantuan dari orang yang ada di luar. Leon dan juga asisten Kris datang masuk karena mendengar suara teriakkan dariku.
"ada apa dengan nona Sasha, tuan…?" tanya khawatir asisten Kris duduk bersimpuh di hadapanku.
"aku tidak tahu, badannya panas dan dia tiba-tiba jatuh pingsan." jawabku apa adanya.
"dari tadi aku sudah curiga, wajah nona Sasha terlihat pucat." jawabnya, dan aku hanya diam melihat wajah pucat Sasha.
Ada rasa ibaku melihatnya terkapar tidak berdaya seperti itu.
"biar saya yang membawa nona Sasha ke rumah sakit." ungkap asisten Kris ingin mengambil alih tubuh Sasha.
"tidak, biar aku yang mengangkat tubuhnya."ucapku tiba-tiba, aku merasa tidak rela asisten Kris menyentuh tubuh Sasha.
"jangan tuan, apa nanti pandangan semua karyawan anda. Biarkan, ini menjadi tanggung jawab saya sebagai rekan kerjanya." ungkapnya lagi.
Baru saja aku ingin protes, tapi aku di cegah oleh Leon. Dia menggelengkan kepalanya, tanda melarangku untuk mencegah Kris mengambil alih tubuh Sasha. Aku hanya bisa diam, dan melihat asisten Kris mengangkat tubuh Sasha ala bridal. Aku berdiri dan hanya bisa memandang kepergiannya.
"tuan, apa tuan tidak akan ikut mengantar nona Sasha ke rumah sakit? bagaimana juga nona Sasha pingsan di kantor ini, jadi tunjukkan lah kepedulian anda." ucap Leon memberikan aku alasan untuk mengikuti Sasha.
Tanpa pikir panjang aku dan Leon menyusul Sasha dari arah belakang, kami memutuskan untuk memakai satu mobil, dan mobilkulah yang kami kendarai. Dengan alasan untuk bertanggung jawab karena Sasha pingsan di dalam kantorku. Asisten Kris tidak dapat melawan, dia juga nampak khawatir, entah karena apa? akupun tidak tahu.
Kami kini telah berada di UGD salah satu rumah sakit milik keluarga ku. Aku membawanya ke sana untuk menanggung semua biayanya.
Dokter segera menangani Sasha dengan teliti dan cepat, atas perintah dariku. Sedangkan kami bertiga menunggu di luar UGD tanpa bicara sama sekali. Kami larut dalam pikiran kami masing-masing. Hingga suara seorang dokter mengejutkan kami bertiga.
"Siapa suaminya?" tanya dokter dengan tiba-tiba yang membuat kami bertiga saling memandang.
"suaminya tidak ada dokter." jawab asisten Kris.
"ada apa dokter?" tanyaku dengan cukup tenang.
"ini harus di sampaikan langsung pada suaminya, ada pemeriksaan khusus yang harus kami lakukan, tuan Kenan." jawab dokter tersebut melihat ke arahku.
"maaf dokter, nona Sasha tidak memiliki seorang suami." jawab asisten Kris apa adanya.
Dokter nampak mengerutkan alisnya melihat kami bertiga secara bergantian.
"ada apa dokter?" tanyaku ingin tahu kegelisahan dokter itu.
__ADS_1
"maaf tuan, tapi kami harus melakukan pemeriksaan yang pasti dulu. Agar semuanya jelas." jawab dokter itu.
"ada apa sebenarnya dokter? apa sakit nona Sasha parah?" tanya asisten Kris khawatir.
"tidak, dugaan kami nona ini tidak sakit parah. Tetapi ada sesuatu yang harus kami pastikan terlebih dahulu."
"baiklah, lakukan apapun yang terbaik?" ucapku memberikan keputusan. Aku tidak ingin terjadi apapun pada Sasha. Aku tidak ingin di salahkan.
Setelah aku mengatakan itu, tubuh ku tiba-tiba juga lemas. Sebenarnya dari tadi aku menahan gejolak perutku yang mulai mual saat baru masuk ke dalam rumah sakit ini. Aku tidak tahan lagi menahan aroma lain yang menusuk indra penciumanku. Aku oleng karena lamas.
"anda tidak apa-apa tuan?" tanya Leon dengan sigap menahan tubuhku, sehingga tidak sampai terjatuh.
Aku segera menutup mulut dan hidungku lagi. Aku benar-benar tidak tahan mencium aroma lain selain aroma vanilla segar, aroma parfum yang aku dapatkan dari parfum Sasha beberapa hari yang lalu. Hanya itu aroma yang dapat aku cium dan membuat aku tenang dan nyaman.
"Leon, aku tidak tahan lagi. Perutku mual." jawabku dan Leon mengerti maksud ku.
"Dokter bisa siapkan satu ruangan untuk tuan kenan !!" perintah Leon kepada dokter yang ada di hadapan kami, dokter tersebut juga nampak khawatir melihat kondisi diriku.
"baik tuan." jawabnya segera.
Dokter tersebut segera berlari dan memerintahkan seorang perawat wanita menyiapkan kamar VVIP untukku, dan satu perawat pria membawakan kursi roda untukku.
"dokter, laporkan dulu kepadaku hasil pemeriksaan dari wanita itu, sebelum kau mengatakannya kepada temannya itu, kau mengerti !" perintahku dengan suara pelan sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
"baik tuan Kenan, saya mengerti." jawab dokter tersebut sembari menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Leon segera membawaku ke dalam kamar VVIP yang sudah di siapkan untuk ku, aku segera menyemprotkan parfum yang beraroma vanila segar yang di berikan oleh Sasha dua hari yang lalu. Parfum yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi, sungguh lucu bagiku. Namun itulah kenyataan yang aku alami.
Hanya aroma parfum ini yang bisa aku cium dengan nyaman, hanya aroma ini yang dapat membuat pusing kepala serta mual perutku mereda dan hilang. Hanya parfum ini yang dapat menyembuhkan aku dari penyakit yang sudah satu bulan lebih aku derita.
Aku benar-benar tidak mengerti dan sangat menderita akan penyakit ini. Bahkan dokter tidak mengerti dengan penyakit yang aku derita, dokter hanya menganjurkan aku untuk istirahat tidur yang cukup, tidak boleh terlambat makan dan meminum obat serta vitamin yang dia berikan. Namun semua itu tidak ada gunanya, karena kondisiku masih tetap sama tidak berubah sama sekali.
Hidungku tetap tidak dapat mencium aroma yang lainnya selain aroma parfum vanilla segar, perutku tetap akan merasakan mual jika mencium aroma yang tidak membuatku nyaman. Aku masih tidak bisa tertidur pulas jika tidak mencium aroma parfum vanilla segar terlebih dahulu. Sungguh ini seperti tidak masuk akan dan lelucon bagiku, tetapi ini nyata.
Sebenarnya ada apa dengan ku?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya
__ADS_1