
***Rumah Sakit***
Rasa kantuk yang teramat kini menyerang Sasha. Tidak tertahankan lagi, ia mampu tertidur sembari duduk pada bangku besi yang ada di depan ruang ICU rumah sakit. Beberapa kali kepalanya oleng ke depan, ke kanan, dan ke kiri.
Kenan yang duduk tepat di samping Sasha melihat tingkahnya. Perlahan ia menggeser duduknya mendekat pada Sasha. Begitu tubuh mereka saling bersentuhan, begitu juga kepala Sasha rebah tertidur pada pundak Kenan.
Kenan melihat ke arah pundaknya, di mana ada kepala Sasha yang sedang bersandar tidur di sana. Senyumnya tiba-tiba terbit melihat kedekatan mereka yang terlihat bagaikan sebuah keluarga yang lengkap dan bahagia.
Istri yang bersandar pada pundak suaminya, dan ada anak yang tertidur pulas pada pangkuannya. Kenan merasakan kehangatan dan kebahagiaan sebuah keluarga saat itu juga.
"Wanita ini. Sungguh membuat ku berubah dengan sangat cepat, apa yang sebenarnya sudah terjadi padaku?" Gumamnya pelan.
Kenan bukanlah tipe pria yang akan suka dengan situasi mereka saat ini. Apalagi jika di ingat dirinya yang tidak memiliki perasaan apapun kepada Sasha. Namun hatinya tenang berada pada situasi seperti sekarang. Apakah ini pengaruh karena ada anaknya di dalam perut Sasha hingga ia nyaman berada dekat bersama mereka berdua.
Waktu telah menunjukkan pukul 6 pagi, mereka bertiga tidur sembari masih duduk pada bangku besi rumah sakit. Beberapa orang terlihat lalu lalang pada lorong tersebut, mereka tersenyum melihat satu keluarga tertidur dan begitu terlihat saling melindungi serta menyayangi.
Posisi Kenan duduk sembari memangku dan memeluk tubuh Ryota yang tertidur dengan posisi kepala bersandar pada dadanya yang bidang. Kepala Sasha berada di atas pundak Kenan, sedangkan kepala Kenan bersandar pada dinding dan sedikit bersentuhan pada kepala Sasha. Pemandangan yang sungguh terlihat nyaman untuk di pandang mata.
Seorang pria berdiri di hadapan mereka, melihat heran dan tidak percaya akan apa yang sedang ada di hadapannya. Seorang Kenan yang biasanya angkuh dan dingin, kini terlihat seperti seorang ayah yang sedang menjaga dan menemani keluarga kecilnya.
Perlahan pria itu pun tersenyum dan mengeluarkan ponselnya. Sungguh pemandangan yang sangat bagus dan langka baginya untuk di abadikan sebagai kenangan. Beberapa gambar di ambil oleh pria yang datang ingin menjemput Kenan setelah membaca pesan dari atasannya tersebut. Pria itu adalah asisten Leon.
"Mmmm…tuan…!" Sapa Leon berusaha membangunkan Kenan dari tidurnya secara perlahan.
Perlahan Kenan merasakan sentuhan Leon dan mendengar panggilan dari pria itu. Matanya terbuka sembari meluruskan kepalanya, dapat ia rasakan jika tubuhnya sedang tertindih oleh sesuatu. Ia pun melihat wajah Ryota masih tertidur pada pangkuannya. Saat melihat ke arah pundaknya, kepala Sasha masih tertidur di sana.
Kenan melihat ke arah Leon yang sudah rapi di hadapannya. Matanya seakan mengatakan jika dia tidak dapat banyak bergerak karena posisi itu.
"Tuan…apa harus aku bangunkan nona Sasha?" Tanya Leon melihat ke arah Sasha, kemudian beralih kembali ke arah Kenan.
"Jangan…Biarkan saja." Gelengnya tidak setuju. Ia tidak tega mengganggu tidur nyenyak Sasha. Wanita itu baru tertidur di saat pukul 3 dini hari.
"Dia baru tertidur jam 3 dini hari." Ucapnya pelan agar suaranya tidak mengganggu tidur dua orang yang masih nyaman pada tempatnya.
"Sebaiknya kau selesai pembayaran rumah sakit, dan berikan kamar VVIP khusus pada mama Sasha." Ucapnya memberikan perintah.
Leon mengerti akan perintah tersebut hanya menganggukkan kepalanya, lalu bergegas pergi melakukan semuanya.
Sedangkan Kenan melihat ke arah pucuk kepala Sasha yang masih betah berada pada pundaknya. Sejujurnya pundaknya sudah mati rasa, akan tetapi ia berusaha bertahan. Pergerakan kecil akhirnya ada pada kepala Sasha, perlahan Sasha yang membuka matanya merasa jika kepalanya sedang bersandar pada pundak seseorang.
Sasha meluruskan tubuhnya dan melihat ke arah Kenan yang ada tepat di sampingnya. Kenan diam terpaku melihat wajah Sasha yang baru saja terbangun dari tidurnya, tetap cantik dan terlihat lucu di matanya.
__ADS_1
"Maaf…aku ketiduran." Ucap Sasha merasa tidak nyaman karena telah menyulitkan Kenan semalam penuh.
"Ryota biar aku yang pangku, tuan pasti lelah." Ucapnya lagi sembari ingin meraih tubuh Ryota.
"Biarkan. Aku tidak lelah sama sekali. Biarkan Ryo tidur sebentar lagi." Balasnya mencegah Sasha meraih Ryota. Kenan masih ingat jika Sasha tidak boleh mengangkat beban yang terlalu berat karena sedang hamil anaknya.
Sasha memandang Kenan sejenak, kemudian berdehem dan duduk menghadap ke depan agar tidak lagi memandang wajah Kenan yang terus melihatnya dengan tatapan aneh menurutnya.
Sasha lalu teringat jika dia baru saja bangun dari tidurnya. Apakah ada air liur yang tertinggal di wajahnya sekarang? Sasha seketika memegangi wajahnya dengan gugup, lalu berdiri dan membelakangi Kenan.
Kenan melihat dengan aneh sikap Sasha yang tiba-tiba berdiri tidak jelas. Ada apa dengan wanita ini? Itulah yang ada di pikiran Kenan sekarang.
"Tuan. Maaf saya ingin ke kamar mandi sebentar. Tolong jaga Ryota untuk saya sebentar." Ucap Sasha tanpa melihat ke arah Kenan sama sekali. Ia takut jika wajahnya yang baru bangun terlihat memalukan.
"Tentu. Iya…!" Balas Kenan singkat.
Sasha setengah berlari meninggalkan Kenan dan mencari kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Dengan sedikit menunduk dan menyembunyikan wajahnya Sasha terus melangkah cepat pada lorong rumah sakit. Tanpa sadar jika ia berpapasan dengan Leon yang baru kembali mengurus segalanya.
"Ada apa dengannya, tuan?" Tanya Leon melihat Sasha yang bersikap aneh.
"Tidak tahu. Sejak bangun ia sudah seperti itu?" Sahut Kenan sembari mengedikkan kedua pundaknya tanda tidak mengerti.
Leon merengutkan alisnya. Diapun melihat ke arah Ryota yang masih tertidur nyenyak di dalam pangkuan dan pelukkan Kenan.
"Tidak perlu." Tolak Kenan dengan cepat. Ia masih suka pada posisi mereka berdua.
Leon melihat heran akan sikap tuannya yang tidak biasa. Kris mengerti dan duduk di samping Kenan untuk menemani tuannya.
"Apa semua sudah di selesaikan?" Tanya Kenan.
"Sudah tuan. Mereka masih menyiapkan kamar untuk pasien." Balas Leon tanpa melihat ke arah tuannya.
"Apa kau juga menyelesaikan yang semalam aku bicarakan?"
"Sudah tuan. Apartemen sudah siap, dan pagi ini juga semua barang yang ada di rumah kontrakkan nona Sasha akan di pindahkan sementara waktu ke gudang yang ada di mansion. Seperti yang anda perintahkan." Balas Leon tahu harus bekerja dengan cepat.
Kenan mendapatkan informasi itu dari pesan yang kemarin sore Ryota kirim.
"Paman Kenan. Ini aku Ryo, kami sedang dalam masalah. Kami harus pindah dari rumah sewaan dan batas waktunya sampai besok. Kami belum mendapatkan rumah atau kamar yang bisa kami sewa untuk tempat tinggal. Apakah paman bisa membantu kami?" Itulah pesan yang berhasil Ryota kirim ke nomer Kenan yang di berikannya kemarin saat mereka bertemu.
Kenan ingin Sasha dan keluarganya tinggal di apartemen pribadinya untuk sementara waktu. Kenan juga telah memikirkan masalahnya bersama Sasha, dan juga pembicaraannya bersama sang mama yang menginginkan Kenan bertanggung jawab atas anak yang Sasha kandung.
__ADS_1
Kenan memutuskan untuk menikahi Sasha demi anak yang kini sudah hadir di dalam perut Sasha. Ia memutuskan akan menerima Sasha beserta putranya Ryota untuk menjadi anggota keluarganya. Kenan berpikir jika Ryota bisa menjadi anak sambungnya secara hukum.
Kenan sadar jika Ryota memiliki papa kandung yang juga kaya raya. Kenan tidak akan menyerah pada Alan Kendrick, dia akan mempertahankan Ryota untuk Sasha. Ia tahu Sasha tidak akan rela melepaskan Ryota kepada Alan Kendrick.
"Baiklah. Selanjutnya urus semua berkas untuk pernikahan ku dan Sasha. Serta berkas yang di butuhkan untuk menjadikan Ryota putraku bersama Sasha. Aku tidak ingin menyerahkan Ryota kepada Alan, karena aku tahu Sasha tidak akan rela putranya di rampas oleh Alan Kendrick." Ungkap rencana yang sudah matang ia pikirkan.
Leon tentunya terkejut, namun ia dapat mengerti situasi dan masalah yang sedang di hadapi oleh tuannya. Tuannya harus bertanggung jawab kepada wanita yang kini mengandung anaknya, sekaligus harus bertanggung jawab pada putra yang di miliki oleh wanita tersebut.
Leon salut kepada tuannya yang mampu berbesar hati untuk menerima putra dari wanita yang akan ia jadikan istrinya di masa depan. Tentunya Kris akan selalu mendukung tuannya tersebut, dan akan berusaha melakukan semua usaha yang mungkin akan mendapatkan rintangan dari Alan Kendrick sebagai papa kandung Ryota.
"Baik tuan, akan segera saya siapkan semuanya." Balas Leon menerima perintah Kenan.
"Alan Kendrick bukanlah lawan yang mudah untuk kita hadapi. Selesaikan semuanya dengan cepat, sebelum Alan bertindak dan menghalangi jalan kita." Ucap Kenan melihat ke arah wajah Ryota yang masih tertidur.
"Menerima ibunya, aku juga harus menerima putranya. Bagaimana juga anak anak ini tidak bersalah, dan mereka akan menjadi milikku. Walaupun aku dan mama mereka tidak memiliki perasaan apapun." Ucapnya terdengar tenang.
Leon masih diam dan setia mendengarkan apa yang di katakan oleh Kenan.
"Apakah tuan dan nyonya besar akan bisa menerima Ryota?" Tanya Leon melihat ke arah tuannya itu.
"Mereka harus bisa menerima keputusan ku ini. Bagaimana juga ini pilihan yang akan aku jalani." Balas Kenan melihat ke arah Leon.
"Bagaimana kalau nyonya dan tuan keberatan atas keputusan anda menjadikan Ryota anak sambung anda?"
Kenan melihat ke arah Leon dengan tatapan matanya yang datar.
"Hidupku aku yang menjalaninya. Keputusan yang aku telah ambil adalah tanggung jawabku. Jadi ada persetujuan ataupun tidak dari mereka, akan tetap berjalan seperti yang aku inginkan." Teguhnya. Ia merasa mulai menyayangi Ryota seperti putranya sendiri.
Ryota seakan menarik dirinya untuk selalu berada di dekat mereka. Ryota seakan memiliki daya tarik yang tidak dapat Kenan abaikan.
"Lakukan semua yang aku perintahkan. Sisanya aku yang akan menyelesaikannya. Aku berharap mama dan papa bisa menerima keputusan ku ini. Jika mereka menginginkan aku bertanggung jawab kepada Sasha, mereka juga harus menerima jika aku juga bertanggung jawab kepada putra calon istriku." Ungkapnya keluar begitu saja dari mulutnya.
Leon terdiam, dia mengerti dan akan mendukung niat baik sang tuan. Semoga semuanya berjalan tanpa hambatan sama sekali. Bukan kedua orang tua Kenan yang menjadi lawan berat mereka, tetapi Alan Kendrick lah lawan terberat mereka untuk masalah Ryota.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.