
***Rumah Sakit***
Sasha kembali dari kamar mandi dengan wajah yang sudah bersih setelah di basuh air, wajah Sasha terlihat sedikit pucat. Walaupun Seperti itu, wanita hamil yang satu ini masih terlihat cantik dan manis alami tanpa polesan apapun di wajahnya.
Leon dan Kenan melihat kedatangannya. Sasha hanya melihat datar dua pria yang sedang duduk di tempat itu. Satu pria menggunakan setelah jas mahalnya, dan satu pria lagi hanya menggunakan kaos putih yang di padukan dengan jaket kulit dan celana jins hitam serta sepatu kets putihnya.
Dua pria tampan dengan aura dan kharisma mereka masing-masing. Hanya saja Sasha heran melihat kehadiran Leon di sana. Dia pun mengingat jika Leon pasti datang menjemput tuannya untuk pergi ke kantor pagi ini.
"Selamat pagi tuan Leon…!!" Sapa Sasha ramah kepada Leon, sedangkan Kenan di abaikan begitu saja.
"Selamat pagi nona…!" Balas Leon ramah.
"Jangan panggil nona…. panggil Sasha saja." Sahutnya tidak suka dengan panggilan nona yang di sebutkan oleh Leon.
Leon melirik sekilas sang tuan yang ada di sampingnya. Dia berpikir, apakah dia bisa memanggil Sasha hanya dengan menggunakan namanya saja? Mungkin itu adalah ide yang buruk, mengingat jika sebentar lagi Sasha akan menjadi istri dari tuannya. Yang artinya Sasha akan menjadi nyonya majikannya.
"Maaf nona, itu tidak sopan. Anda juga memanggil saya dengan sebutan tuan." Sahut Leon mencari aman.
Kenan diam mengamati. Kenan tahu Sasha masih kesal dan marah kepadanya, Kenan juga tahu jika Sasha berusaha mengabaikan dirinya.
"Terserah…!" Balas Sasha malas berdebat di pagi hari.
"Tuan, biar saya saja yang memangku Ryo. Anda harus segera ke kantor." Ucap Sasha melihat ke arah Kenan.
"Tidak perlu. Aku akan tetap di sini, setidaknya sampai mamamu mendapatkan kamar perawatan." Balas Kenan tidak mengijinkan Sasha untuk mendapatkan beban pada perutnya.
Sasha terdiam, dia yang malas berdebat hanya diam berdiri pada tempatnya. Ingin duduk, bangku besinya penuh di tempati oleh dua pria yang ada di hadapannya.
Leon tahu diri dan akhirnya diapun bangkit agar Sasha dapat duduk. Tidak baik untuk ibu hamil berdiri terlalu lama.
"Silahkan duduk nona." Ucap Leon mempersilahkan Sasha untuk duduk pada tempatnya tadi.
"Tidak perlu. Silahkan anda yang duduk tuan." Balas Sasha menolak.
"Silahkan nona, karena saya akan pergi sekarang." Sahutnya dengan senyum ramah mempersilahkan Sasha untuk duduk.
"Tuan saya permisi. Selamat pagi tuan." Pamit Leon kepada Kenan.
"Sampai jumpa nona, selamat pagi." Pamit Leon kepada Sasha yang masih berdiri pada tempatnya.
Leon segera pergi setelah mendapatkan persetujuan dari tuannya. Begitu Leon pergi, barulah Sasha duduk pada tempat kosong yang ada di samping Kenan.
"Maaf tuan, mengapa anda masih di sini? Apa anda tidak akan pergi ke kantor?" Tanya Sasha ingin tahu mengapa Kenan tidak pergi bersama Leon, dan masih bertahan berada di sana.
Kenan melihat ke arah Sasha yang juga melihat ke arahnya.
"Apa kau tidak mengerti juga dengan perkataan ku tadi. Aku akan tetap di sini, sampai mamamu mendapatkan ruang perawatan." Balas Kenan menatap datar Sasha yang terlihat jauh berbeda.
Sasha begitu ramah pada Leon, tetapi tidak ramah sama sekali kepadanya.
__ADS_1
"Saya bisa mengurus dan menyelesaikan semuanya sendiri. Saya tidak ingin merepotkan anda, tuan." Sahutnya masih dengan raut wajah yang tidak ramah.
Sasha masih kesal dan marah, dia masih belum bisa berdamai dengan Kenan atas kejadian kemarin.
"Jangan banyak membantah, duduk dengan tenang dan cukup diam saja." Bantah Kenan mulai kesal akan penolakan Sasha yang terus ia utarakan.
Sasha mengerutkan keningnya, harus ekstra bersabar untuk menghadapi Kenan. Saat Sasha ingin membalas perkataan Kenan, datang beberapa perawat dan dokter yang semalam menangani mamanya.
Sasha bangkit kemudian mendekati sang dokter, ingin bertanya bagaimana keadaan mamanya?
"Selamat pagi dokter, bagaimana keadaan mama saya?" Sapa dan tanya Sasha kepada dokter yang datang.
"Selamat pagi nona, kami akan memeriksanya kembali. Mama anda akan segera kami pindahkan ke dalam kamar perawatan." Balas sang dokter.
"Baik dokter." Pasrah Sasha tidak bisa banyak berkata-kata.
Dokter tersebut masuk ke dalam ruang ICU. Sasha hanya dapat menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan. Pandangan matanya jauh ke dalam ruang ICU, melihat sang mama dari balik kaca kecil yang ada pada daun pintu ruangan tersebut.
Semua tindakan Sasha menjadi perhatian dari Kenan yang masih setia pada duduknya memeluk tubuh Ryota. Sasha kembali duduk dan menundukkan pandangan matanya, ia merenungi semua yang telah terjadi dalam hidupnya bersama Ryota dan mamanya selama ini.
"Jangan terlalu banyak berpikir, tidak baik bagi bayi yang ada di dalam perut mu sekarang." Ucap Kenan mengingatkan.
Sasha kembali melihat ke arah Kenan. Ia tahu jika laki-laki yang ada di hadapannya ini sangat perhatian dan selalu saja mengkhawatirkan bayinya. Sasha jadi malas untuk berdebat, karena tidak ada gunanya. Hanya akan menghabiskan energinya saja, apalagi setelah ia muntah muntah pagi ini di dalam kamar mandi rumah sakit.
Sebenarnya tubuhnya sangat lemas, kepalanya sedikit pening dan rasa mual masih datang dan pergi. Namun Sasha harus menahannya sekuat yang ia bisa, mamanya dan Ryota lebih membutuhkannya saat ini.
Sasha kembali memalingkan pandangan matanya ke arah depan dan melihat lantai yang ada di depan bawahnya. Diamnya Sasha, membuat Kenan malah semakin curiga. Sasha diam bukan ingin patuh kepadanya. Sasha diam karena tidak ingin menghabiskan banyak energinya untuk berdebat melawan Kenan.
"Saya baik baik saja, tuan." Balas Sasha lemah tanpa melihat ke arah Kenan.
Terdengar jelas jika Sasha tidak bersemangat.
'Aku tahu, kau tidak sedang baik baik saja.' Gumam Kenan di dalam benaknya. Ada rasa khawatir saat melihat wajah pucat Sasha.
Dia pun meraih ponsel yang ada di saku celananya, menulis sebuah pesan dan mengirimkannya kepada seseorang. Kemudian memasukkan kembali ke dalam saku celananya.
Dokter keluar dengan membawa mama Sasha yang masih terbaring lemah pada ranjang perawatannya. Mereka akan memindahkan pasien ke dalam kamar VVIP seperti yang di inginkan oleh Kenan. Semua biaya pengobatan mama dari wanita yang akan menjadi istri Kenan telah di bayar lunas, dan mendapatkan jaminan selama perawatannya sampai pasien sembuh.
Kenan bangkit begitu juga Sasha. Mereka mengikuti kemana pasien di bawa. Tanpa banyak bertanya dan curiga, Sasha terus saja mengikuti hingga masuk ke dalam sebuah ruangan yang terlihat mewah, luas dan lengkap dengan peralatan yang di butuhkan oleh mamanya.
"Maaf dokter, apakah kamarnya tidak salah?" Tanya Sasha kepada dokter, jika di lihat dari kamarnya. Sasha tahu jika itu adalah kamar VVIP, dan Sasha tahu diri jika dia tidak bisa membayarkan biaya untuk kamar VVIP tersebut.
"Maaf nona, apakah kamarnya kurang menurut anda. Tapi ini kamar VVIP yang paling luas, mewah dan lengkap dengan semua peralatan yang di butuhkan oleh pasien." Balas dokter salah sangka. Dokter pikir jika Sasha bertanya karena merasa ada yang kurang dan tidak memuaskan menurut keluarga pasien.
Mereka berdua sama sama salah sangka. Sasha terkejut karena mamanya di tempatkan pada kamar VVIP yang tidak mampu untuk ia biayai. Sedangkan dokter berpikir jika kamar VVIP tersebut kurang menurut Sasha.
"Bukan itu maksudnya dokter. Apakah tidak ada kamar yang biasa saja?" Ungkapnya, tanpa tahu jika semua pembayaran telah selesai.
Dokter melihat intens ke arah Sasha.
__ADS_1
"Maaf nona, tapi kamar ini yang sudah di bayarkan untuk pasien tempati. Apakah anda ingin menggantinya?"
Saat Sasha ingin menjawab perkataan dokter, di saat itulah Kenan yang bersuara.
"Kamar ini sudah benar dokter. Terima kasih." Kata Kenan yang membuat Sasha dan dokter melihat ke arahnya.
Kini Sasha tahun itu pasti ulah Kenan.
"Apa ini ulah anda, tuan?" Tanya Sasha menatap tajam ke arah Kenan.
"Iya, dan aku tidak ingin ada bantahan darimu. Kesehatan mamamu lebih penting, jadi kau cukup diam dan tenang." Sahutnya dengan sikap tenang. Kenan sudah meletakkan Ryota di atas ranjang yang ada di dalam kamar VVIP itu.
Kamar VVIP tersebut di lengkapi dengan satu kamar untuk anggota keluarga yang akan menginap di sana. Memiliki kamar tamu dengan fasilitas sofa panjang dan tunggal, serta ruang makan dan kamar mandi dengan furniture dan fasilitas cukup mewah. Terasa nyaman untuk di tempati.
"Semuanya sudah selesai, dan kami permisi tuan, nona…!!" Pamit dokter dan dua perawat pergi dari ruangan tersebut.
"Apa maksud anda dengan semua ini?" Tanya Sasha dengan tatapan tajamnya kesal terhadap tindakan Kenan, yang mengambil keputusan atas perawatan sang mama tanpa persetujuan darinya.
Kenan tahu jika Sasha tidak suka akan tindakannya. Namun ia merasa berhak atas itu, karena sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai calon suami dari wanita yang kini sedang marah kepadanya.
Kenan menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan, dia harus tetap bersabar untuk menghadapi Sasha. Tidak baik membuat ibu yang sedang hamil emosi dan stress.
"Kita akan segera menikah, jadi wajar jika aku ikut bertanggung jawab atas kesehatan mamamu." Jawab Kenan dengan terus terang.
Sasha terkejut akan kata-kata menikah yang terlontar dari mulut Kenan.
"Kita akan segera menikah. Apa anda pikir, aku akan setuju dengan keputusan anda itu?" Protes Sasha tidak setuju.
Masih jelas dalam ingatan Sasha, bagaimana kerasnya Kenan menolak dirinya dan bayinya? Sekarang Kenan mengajukan sebuah pernikahan.
"Kau setuju ataupun tidak setuju. Kita berdua akan tetap menikah. Ingat, ada anakku yang sedang kau kandung. Aku tidak ingin anakku lahir dengan sebutan anak haram karena terlahir di luar ikatan pernikahan." Balas Kenan tidak ingin kalah. Keputusan untuk mereka menikah harus tetap terjadi.
Sasha tersenyum remeh. Dia seakan lucu mendengar perkataan Kenan. Kemarin Kenan mati matian menolak anaknya, sekarang Kenan mati matian menginginkan anaknya. Hingga rela mengajukan pernikahan kepadanya.
"Anda lucu tuan." Ucap Sasha tersenyum remeh ke arah Kenan.
Kenan merengutkan keningnya melihat senyum remeh yang di tampilkan oleh Sasha.
"Ingat semua perkataan anda pada saya kemarin. Anda sendiri yang menolak kehadiran anak ini, dan tidak percaya jika anak ini adalah anak kandung anda. Jadi mengapa sekarang anda mengakuinya? Jangan pernah menjilati ludah anda sendiri, tuan Kenan Diandra." Ungkap Sasha mengingatkan apa yang di ucapkan oleh Kenan padanya kemarin.
Ucapan dan penolakan Kenan yang terus terngiang di kepalanya. Tidak akan mudah untuk Sasha lupakan begitu saja, sakit di hatinya masih dapat ia rasakan. Apalagi mengingat bagaimana penghinaan Kenan padanya setelah selesai mereka melewati malam panas tersebut. Tidak mudah bagi Sasha bersikap baik dan memaafkan Kenan begitu saja. Sasha menolak keras keinginan Kenan untuk menikahinya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.