PILIHAN DALAM CINTA

PILIHAN DALAM CINTA
15. Bertemu Miranda.


__ADS_3

***Perusahaan K.R Group***


…Sasha Yorina…


Hari ini benar-benar hari yang berat bagiku, bagaimana tidak? gara-gara aku tidak tahu harus berbuat apa untuk tuan Rion, dia malah menyuruhku membantu sekretarisnya untuk mempersiapkan bahan-bahan untuk meetingnya hari ini. Aku di perintahkan memphoto copy semua bahan meeting hari ini.


Aku melakukannya dengan pengawasan dari sekretaris seksi tuan Rion, dia terus melihat apa yang aku lakukan, setelah itu dia memerintahkan aku melakukan hal yang lainnya, seakan dia bosnya saat ini. Aku hanya pasrah dan mengikutinya saja, tidak mau mencari masalah baru lagi.


Bagaimana juga sekretaris itu sudah dapat mandat dari atasannya, mana berani aku membantah.


'sabar dan semangat Sasha, semua pasti berlalu.' gumam Sasha dalam hati.


Kini aku sudah selesai menyediakan sebotol air mineral dan gelas di meja ruang meeting, benar-benar aku menjadi CS di Perusahaan ini. Peduli amat, itu sudah tugasku sehari-hari. Jadi dengan senang hati aku melakukannya.


"ngapain dia ada di sini?" tanya bisik sekretaris tuan Kenan pada sekertaris tuan Rion yang heran melihatku ada di sana.


Bisikkan yang masih bisa aku dengar, itu mah…bukan bisikkan namanya, aku cuek dan dengan cepat menyelesaikan tugasku.


"tuan Rion yang suruh." balas sekretaris tuan Rion.


"emang ngk ada yang lain apa? di sini kan banyak? dia kan bukan karyawan di sini?" ungkap tanya heran sekretaris tuan Kenan.


"mana aku tahu." balas sekretaris tuan Rion.


'hai nona-nona aku masih bisa dengar, kalian pikir aku patung atau tuli apa?' gumamku dalam hati, melihat sekilas kedua sekretaris yang sedang membicarakan ku.


Mereka pun menyadari lirikkan ku pada mereka, dengan segera sekretaris tuan Rion menegurku dan mengusir ku keluar dari ruangan tersebut. Dengan patuh juga aku keluar tanpa perlawanan sama sekali, saat ini aku hanya bisa duduk menunggu perintah selanjutnya, pada kursi tunggu yang kebetulan ada di dekat ruang meeting tersebut.


Aku tidak tahu sampai kapan hidupku akan begini? dan tidak ada perubahan sama sekali, aku sangat beruntung memiliki alasan untuk aku menjalani kehidupan ini lebih kuat lagi. Ryota dan mama adalah alasan terkuat ku untuk terus berusaha kuat menjalani hidup ini.


Saat aku menundukkan kepala merenungi nasibku, aku tidak sadar bila para pejabat tinggi perusahaan ini sudah mulai berdatangan, mereka yang tidak mengenalku heran melihatku ada di sana. Aku langsung berdiri dan menundukkan kepala ku.


"Sasha…" sapa seorang wanita padaku.


Aku mengangkat kepalaku, dan terkejut melihat wanita yang sudah menyapaku.


"Sasha…kamu Sasha kan…? akhirnya aku menemukan mu, aku senang kita bisa bertemu lagi." ungkap wanita itu langsung memelukku.


"Miranda…!" ucap Sasha pelan.


"iya ini aku Miranda…aku mencarimu kemana-mana, setelah tahu apa yang terjadi padamu dulu. Aku sangat merindukanmu Sasha…!!" ungkap Miranda memelukku lagi.


Miranda adalah teman yang pernah aku bantu dulu, perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut aku suntikkan dana besar, dengan uang yang aku miliki sendiri. Dan aku membantunya dengan ikhlas, dan berharap Miranda bisa menjalani hidupnya dengan lebih baik lagi, sebenarnya aku dan Miranda tidaklah teman dekat, hanya teman yang bertemu saat masih sama-sama membantu dan belajar menjalankan suatu perusahaan.


Aku tidak mengira Miranda ingat padaku, padahal sama sekali aku tidak ingat padanya bila tidak bertemu hari ini, karena aku tidak ingin mengingat semua kenangan masa laluku. Aku ingin melupakan semua kenangan masa laluku, dan apapun yang berhubungan dengan masa lalu ku?


"Miranda…bisakah kamu tidak menyebutkan siapa aku yang dulu? aku tidak mau mengingatnya lagi." ucapku dengan mimik wajah yang memelas pada Miranda.


"aku mohon…hanya tahu aku yang sekarang saja…" ucapku memohon padanya.

__ADS_1


Bisa gawat kalau Miranda membuka rahasiaku yang dulu, kalau sebenarnya aku adalah mantan istri pengusaha ternama, yang tepatnya pengusaha muda Alan Kendrick. Aku takut mereka tahu siapa aku yang sebenarnya? dan keluarga Alan Kendrick tahu dimana aku?


"baiklah, tapi kamu hutang penjelasan padaku, dan aku tidak mau kamu menghilang lagi dari pandangan ku." ungkap Miranda setuju dengan apa yang aku inginkan.


"baiklah. terima kasih."


"tidak…jangan berterima kasih, seharusnya aku yang berterima kasih padamu."


Aku hanya tersenyum pada Miranda yang selalu ramah dan baik hati, karena sikap dan sifatnya ini lah aku berani nekat membantunya dengan tulus tanpa meminta balasan sama sekali.


"berikan ponselmu, agar kamu tidak kabur lagi dan aku bisa dengan mudah menghubungi mu." ucap Miranda, dengan patuh aku memberikan ponselku padanya.


Miranda mengetikkan nomernya pada ponselku, dan melakukan panggilan pada ponselnya. Kami saling bertukar nomer telpon. Miranda pun mengembalikan ponsel ku.


"sekarang kamu tidak bisa kabur lagi dariku." ungkapnya tersenyum senang ke arahku.


"ada apa nona Miranda, apa Sasha melakukan kesalahan pada anda?" tanya tuan Rion yang tiba-tiba datang.


Aku dan Miranda langsung melihat pada tuan Rion dan tuan kenan yang datang.


"tidak…Sasha adalah teman baik yang sudah lama saya cari tuan Rion." balas Miranda sembari melihat ke arah ku.


"teman baik anda?" tanya tuan Rion dengan alis yang mengerut heran melihat padaku dan Miranda.


"iya Sasha adalah teman baik saya, tepatnya teman seperjuangan yang banyak membantu saya, sehingga bisa jadi seperti sekarang ini. Tanpa bantuan dari Sasha, saya bukanlah siapa-siapa sekarang." ungkap Miranda melihat padaku.


Tetapi ke 5 pria yang ada, nampak heran melihat tidak percaya padaku dan lebihnya tidak percaya akan ucapan Miranda.


"apa tuan tahu, Sasha adalah panutan bagi saya, Sasha adalah wanita yang cerdas bahkan termasuk jenius…" ungkap Miranda terpotong karena aku menarik lengan Miranda.


"sudah cukup Miranda." ucapku saat Miranda melihat padaku, aku tidak mau Miranda banyak bicara tentang ku lagi.


Miranda yang mengerti maksudku langsung terdiam, dan tersenyum melihat ku.


"oya…tuan Rion kenal Sasha…?" tanya Miranda ingin tahu kenapa aku ada disini?


"tentu saja saya mengenalnya, karena dia adalah pelayan pribadi saya, nona Miranda." ungkap tuan Rion, yang membuat Miranda mengerutkan keningnya melihat ke arah ku.


"pelayan pribadi…" ungkapnya bingung.


"oooo…maksud anda asisten pribadi anda?"


"bukan…hanya pelayan pribadi…bukan asisten pribadi." balas tegas tuan Rion.


"tidak mungkin tuan Rion, anda pasti bercanda.…" balas Miranda tidak percaya dengan gelengan kepalanya.


"itu benar Miranda." aku yang akhirnya menjawab yang membuat Miranda melihat padaku.


Miranda melihat pada mataku, dan dia percaya aku tidak berbohong, diapun menarik dan menghembuskan nafasnya yang berat.

__ADS_1


"baiklah…kamu hutang penjelasan padaku." tunjuk Miranda padaku, dan aku hanya bisa diam saja.


"Oya tuan Kenan, saya rasa sudah menemukan asisten yang bisa anda pinjamkan pada saya saat ini." ungkap Miranda melihat pada tuan Kenan.


"tentu saja, silahkan pilih nona Miranda." balas tuan Kenan dengan wajah tenangnya.


"saya mau Sasha menjadi asisten saya saat ini, bisa tuan Kenan?" tanya Miranda yang membuat aku dan ke 5 pria di sana terkejut tidak menduganya.


"bagaimana bisa, dia hanya pelayan dan CS nona Miranda." balas tuan Rion.


"maaf tuan Rion, jangan pernah memandang orang dari luarnya saja, tapi lihat kualitas di dalamnya, saya yakin memilih Sasha karena saya sangat tahu dan mengenal baik bagaimana Sasha?" ungkap Miranda membelaku, dan terlihat marah akan ucapan tuan Rion yang mengatakan aku hanya seorang pelayan dan CS saja.


"kalau tuan Kenan tidak mengizinkan, mari kita tunda meeting ini sampai asisten pribadi saya ada, karena saya tidak bisa bekerja sendiri, apalagi ini menyangkut kontrak yang sangat besar dan penting." ucap Miranda dengan berdiri angkuh menyilangkan lengannya di depan dada.


Nampak tuan Kenan berpikir sejenak, dan melihat ke arahku.


"apa anda yakin mau memilih Sasha menjadi asisten anda saat ini? apa dia bisa dengan cepat tahu dengan apa yang harus dia lakukan, ini kontrak besar nona Miranda." tanya tuan Kenan melihatku dan Miranda secara bergantian.


"yakin. Aku sangat yakin tuan Kenan, karena aku lebih tahu Sasha dari siapapun." balas tegas Miranda tanpa keraguan sama sekali.


"Miranda jangan main-main." balas ku, karena Aku tidak mau membuat masalah.


"kenapa Sasha? aku yakin padamu kamu pasti bisa, dan aku akan memberikan waktu setengah jam untuk kamu pelajari semua berkas ini." ungkapnya memberikan semua berkas yang Miranda ambil dari tangan sekretarisnya.


"apapun keputusan mu akan aku dengarkan, hari ini kamu bukan saja menjadi asisten ku saat ini, kamu lah Presdirku saat ini, keputusan apapun yang kamu berikan akan aku dengarkan, walaupun aku harus merugi besar."


"Kamu gila miranda…" balas ku tidak percaya karena ucapan Miranda.


"kamu tahu Sasha, aku tidak berhak atas perusahaan ini, karena yang lebih berhak adalah kamu yang menjadi pemiliknya sejak awal, sejak kamu membantu perusahaanku. Aku hanya menjaga dan menjalaninya untukmu." ungkap Miranda yang membuat ke 5 pria di sana terkejut akan pengakuan Miranda.


"apa-apaan kamu Miranda, uruslah urusan mu sendiri. Maaf tuan saya permisi." pamit ku pada tuan Rion dan tuan Kenan, yang sudah malas meladeni apapun yang di ucapkan Miranda. Aku pergi setelah memberikan semua berkas yang ada di tanganku pada Miranda.


"tunggu Sasha…" cegah Miranda padaku, aku diam tanpa menoleh kebelakang sama sekali.


"tuan Kenan, maaf…karena Sasha menolaknya, jadi saya juga membatalkan kerjasama ini, saya minta maaf yang sebesar-besarnya tuan Kenan." ungkap Miranda yang membuat ke 5 pria yang ada di sana sangat terkejut tidak percaya.


Begitu juga dengan ku, aku langsung melihat pada Miranda yang memberikan isyarat padaku, dengan menaikkan kedua bahunya masa bodoh. Miranda memang keras kepala dan tidak pernah berubah, tetapi keras kepalanya pada suatu yang dia yakini baik dan positif.


Tuan Kenan melihat padaku, tatapannya padaku seakan berubah, yang mengisyaratkan agar aku setuju dengan keputusan Miranda. Aku sangat tahu tuan Kenan menginginkan kontrak kerjasama ini berjalan lancar. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku heran melihat pada Miranda, aku hanya bisa menarik dan menghembuskan nafasku perlahan.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2