
***Rumah Sakit***
Sasha dan Ryota kini sudah berada di rumah sakit, Ryota hanya dapat duduk pada bangku yang ada di depan ruang ICU UGD. Mamanya terkena serangan jantung dan sedang dalam penanganan intensif oleh dokter spesialis jantung. Sasha melangkah mondar mandir karena gelisah dan takut, sesekali ia mengintip ke dalam ruang ICU melalui kaca kecil yang ada pada pintu.
Terlihat beberapa alat kesehatan terpasang pada tubuh sang mama, Sasha tidak bisa menahan air mata yang sejak tadi terus mengalir ke atas pipinya. Namun ia terus menghapus agar Ryota tidak terlalu khawatir melihatnya terus menangis.
Sedangkan Ryota masih duduk dengan tenang sembari mengamati sang mama. Ia yang masih kecil tidak bisa membantu banyak, berusaha untuk membujuk sang mama pun percuma karena terlihat jelas mamanya begitu khawatir akan kondisi omanya saat ini.
"Mama...!!" Panggil Ryota melihat ke arah Sasha.
"Iya sayang...!" Balas Sasha melihat ke arah putranya.
Sasha mendekat dan duduk di samping Ryota, ia tidak tega sebenarnya membawa Ryota ke rumah sakit. Namun pikirannya kalut dan tidak dapat di ajak berpikir dengan jernih. Jadi dia pun terpaksa membawa serta Ryota ikut bersama dengannya.
"Ryo ngantuk sayang...?" Tanya Sasha memeluk tubuh mungil Ryota dari arah sampingnya.
"Sedikit mama. Mama oma kenapa? Kenapa lama sekali?" Tanya balik Ryota.
"Oma sakit sayang, tunggu sebentar lagi oma pasti sembuh." Balas Sasha tidak ingin membuat putranya itu khawatir. Tetapi Sasha tidak tahu, jika Ryota mendengar dan mengerti semua yang dokter UGD katakan tadi, saat mereka baru saja tiba di UGD.
Ryota hanya diam dan mengamati saja. Keduanya terdiam saling memeluk, tanpa mereka sadari ada seseorang tengah berlari mendekati mereka.
"Apa yang terjadi?" Tanya seorang pria yang kini telah berdiri di hadapan mereka.
Sasha melihat perlahan dari ujung sepatu pria itu hingga naik dan mengenali siapa yang datang? Sasha cukup terkejut karena kedatangan pria yang tidak ingin ia temui. Kenan Diandra datang dengan nafas yang terengah-engah melihat cemas keduanya.
Sasha berdiri dari duduknya, lalu berkata. "Anda....sedang apa anda di sini?" Tanya Sasha terkejut akan kedatangan Kenan di pagi buta. Pasalnya saat itu menunjukkan pukul 2 pagi dini hari.
"Aku datang setelah mendapatkan kabar dari Ryota...!" Balasnya sembari terus mengatur nafasnya yang terengah.
Sasha melihat ke arah Ryota akan jawaban yang di berikan oleh Kenan, Kapan Ryota menghubungi Kenan untuk datang ke rumah sakit? Sasha benar-benar tidak tahu.
"Ryo pakai ponselnya oma untuk menghubungi paman Kenan, karena paman berpesan jika ada sesuatu yang terjadi aku boleh menghubunginya. Iyakan paman...?" Jawab dan tanya Ryota tahu harus bagaimana dalam menangani masalah itu.
'Iya, good job boy." Balas Kenan sembari mengelus lembut pucuk kepala Ryota.
Sasha menghembuskan nafasnya, dia tidak percaya Ryota dengan cepat menghubungi Kenan. Sedangkan dia tidak meminta Ryota melakukan itu.
"Sayang, Ryo tidak sopan seperti itu. Ryo sudah mengganggu istirahat paman Kenan." Kata Sasha menekan kalimat terakhinya saat menyebutkan nama laki-laki itu.
Ryota melihat ke arah Kenan, anak itu ingin tahu apakah ucapan Sasha benar. Apakah dia sudah mengganggu istirahatnya malam ini?
"Apa benar paman? Maaf kalau Ryo sudah mengganggu istirahat paman." Sahut sedih Ryota, anak itu tidak bermaksud seperti itu.
Ryota hanya ingin tahu dan ingin menguji, apakah Kenan peduli kepada mereka jika mendapatkan masalah seperti ini? Dan ternyata pria itu segera datang menghampiri mereka setelah mendapatkan kabar tersebut.
__ADS_1
"Tidak Ryo. Paman tidak terganggu. Apa yang Ryo lakukan sudah benar." Balas Kenan ingin membesarkan hati Ryota yang merasa bersalah, sembari merendahkan tubuhnya di hadapan Ryota.
"Paman senang karena yang Ryo hubungi adalah paman dan bukan orang lain." Ucapnya lagi.
Lagi lagi Sasha hanya menghela nafasnya melihat interaksi Kenan bersama putranya. Sasha tidak pernah membayangkan Kenan akan datang di pagi buta dan hadir di saat dirinya sedang memiliki masalah seperti itu.
"Mama....mama dengar kan, paman tidak terganggu." Ucap Ryota melihat ke arah mamanya.
Sasha memandang datar ke arah Ryota, Sasha tidak bisa untuk menyalahkan tindakan dari Ryota. Anak itu mungkin berpikir tindakannya adalah benar. Ryota hanya ingin berniat baik. Itulah yang kini ada di pikirkan Sasha. Tetapi tidak sama dengan apa yang Ryota pikirkan saat menghubungi Kenan? anak itu ingin menguji sampai di mana kepedulian Kenan terhadap keluarganya.
Ryota berhasil membuktikan jika Kenan begitu peduli terhadap keluarganya, di saat keluarganya mengalami masalah seperti sekarang ini. Diam-diam di dalam hatinya anak itu tersenyum bahagia. Satu pria yang mungkin saja cocok menjadi calon pendamping untuk mamanya dan menjadi calon papa sambungnya. Itulah tujuan Ryota saat pertama kali melihat dan berjumpa Kenan Diandra tadi siang. Ia yang sudah mengantongi semua identitas Kenan tentu setuju jika ada hubungan baik di antara Kenan dan mamanya.
"Sudah lah....apa kalian baik baik saja? Apa yang terjadi pada mama mu?" Tanya Kenan melihat ke arah Sasha yang berdiri di sampingnya. Kini pandangan mata mereka saling menatap, tetapi raut wajah Kenan terlihat biasa saja. Tidak datar ataupun dingin seperti biasanya.
Sasha masih tetap diam. Sebenarnya ia sungguh malas bertemu dengan Kenan, apa lagi berbicara dengan pria itu.
"Mama...paman tanya, jawab dong...!" Ucap Ryota tahu jika mamanya tidak suka kehadiran Kenan di sana. Anak itu akan membantu keduanya menjadi lebih dekat.
Sasha melihat malas ke arah putranya, kedatangan Kenan karena ulang anaknya yang nakal.
'Dasar anak nakal, kamu tidak tahu kalau mama tidak suka pria ini datang ke sini, dan sedang berusaha menghindarinya. Kamu malah menghubunginya untuk datang ke sini.' Gumam Sasha dalam benaknya.
"Mama saya masih dalam pemeriksaan intensif, tuan. Kata dokter mama terkena serangan jantung." Balas Sasha pada akhirnya, Sasha tidak ingin memberikan contoh yang tidak sopan kepada Ryota. Jika ada yang bertanya dengan baik-baik harus di jawab pula dengan baik-baik. Itu pun terpaksa Sasha lakukan dan meredam keegoisannya.
Kenan tahu kemarahan Sasha akan sulit untuknya redam, ia hanya akan terus berusaha. Bagaimana juga ada anak kandungnya di dalam perut Sasha saat ini, dan Kenan ingin bertanggung jawab atas itu. Apa pun akan Kenan lakukan demi bayinya, walaupun di antara dirinya dan Sasha tidak ada hubungan ataupun perasaan apa pun. Kenan tidak ingin lepas dari tanggung jawab terhadap perbuatan dan anaknya. Untungnya Ryota bisa di ajak bekerja sama dalam mendekati mamanya yang sedang marah, Kenan sungguh berterima kasih kepada Ryota.
"Belum ada kabar lagi dari dokter?" Tanya Kenan ingin tahu lebih banyak lagi.
"Belum." Gelengnya lemah sembari melihat jauh ke arah pintu ruang ICU.
Kenan ikut melihat kemana arah pandangan mata Sasha tertuju, dia tahu jika wanita di hadapannya itu kita sedang gelisah.
"Duduklah...tidak baik berdiri terlalu lama, dan tenangkan dirimu. Semua akan baik baik saja." Ucap saran Kenan, ia tidak ingin Sasha terlalu stress dan lelah karena tidak baik untuk ibu yang sedang hamil.
Sasha tidak menjawab, dia hanya menatap datar dan dingin ke arah Kenan. Hatinya masih marah dan tidak suka berinteraksi terlalu lama bersama pria itu. Pandangan matanya ia alihkan ke arah Ryota yang heran melihat mereka berdua, Sasha lalu duduk di samping putranya. Begitu juga Kenan, ia juga duduk di samping Ryota. Posisi mereka duduk mengapit Ryota, terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang lengkap dan bahagia.
Tidak lama Ryota menguam karena matanya yang memang sudah mengantuk berat. Kedua orang ada di sampingnya menoleh, tetapi Kenan yang lebih cepat berbicara.
"Ryo ngantuk?" Tanya Kenan melihat ke arah Ryota.
"Iya paman." Angguknya, matanya sangat mengantuk berat, dan mulai terpejam.
"Sini paman pangku." Katanya, tetapi mendapatkan protes dari Sasha.
"Tidak perlu, biar saya saja, tuan." balas cepat Sasha, ia tidak ingin merepotkan Kenan.
__ADS_1
Kenan tidak suka sikap protes Sasha, tatapannya kini sedikit tajam melihat wanita yang ada di hadapannya itu.
"Sebaiknya kau perhatikan dirimu sendiri, dan anak itu. Ryota aku yang akan mengurusnya." Balas tidak suka Kenan sembari ingin meraih tubuh oleng Ryota yang mengantuk berat.
"Tunggu, apa tidak salah?" Kata Sasha menahan tubuh Ryota saat Kenan ingin mengangkatnya.
"Tidak ada yang salah, dan tidak ada bantahan lagi." Sahut Kenan dengan tidak kalah tegasnya.
"Kau lebih berpengalaman, apa perlu aku mengingatkan mu lagi, jika sekarang kau tidak sendiri." Katanya lagi.
Sasha terdiam dengan merengutkan keningnya melihat dan mendengar perkataan Kenan.
'Apa maksudnya sekarang aku tidak sendiri?' Gumam Sasha di dalam benaknya. Sasha tidak mengerti dan takut jika dirinya salah mengartikan perkataan Kenan tentangnya.
"Apa maksud tuan?" Tanya Sasha langsung karena tidak ingin mengartikannya salah.
Kenan menghembuskan nafasnya, sebelum ia menjawab.
"Kau lupa kalau sekarang kau sedang hamil, dan tidak boleh terlalu lelah, stress apa lagi mengangkat sesuatu yang berat. Jika kau memangku Ryota yang berat, itu tidak baik untuk perutmu yang akan tertekan karena beban tubuh Ryota yang berat." Ucapnya dengan tatapan mata melihat intens wajah datar Sasha.
"Apa sudah mengerti?" Tanyanya. Kenan tidak ingin di bantah dan tidak akan mengizinkan Sasha membahayakan anaknya yang sedang tumbuh di dalam perut Sasha saat ini.
Kenan meraih tubuh Ryota untuk berada di dalam pangkuannya, agar anak itu dapat tidur dengan nyenyak dan nyaman. Sedangkan Sasha terdiam dengan wajah yang di tekuk karena kalah beragumen melawan Kenan.
Dalam hati Kenan tersenyum bahagia jika Sasha menurut kepadanya, walaupun terlihat wajah Sasha yang di tekuk kesal karena tidak puas. Kenan tidak masalah. Wajah merajuk Sasha malah terlihat lucu di matanya.
Diam diam Kenan tersenyum sembari mengelus lembut kepala Ryota yang tidur di dadanya yang bidang. Ada kebahagiaan tersendiri yang ia rasakan saat putra dari wanita yang akan menjadi ibu anaknya, dapat menerima dirinya dan berada di dalam pelukkannya saat ini.
Sekilas Kenan melirik ke arah perut Sasha yang terlihat masih datar, di mana ada anaknya di dalam sana.
'Tumbuh dengan sehat, kuat dan sempurna di dalam perut mama ya nak... Papa ada di sini untuk selalu menemani kalian. Jangan nakal dan membuat mama kesusahan. Papa menyayangimu nak...!' Gumam Kenan dengan perasaan yang tidak bisa di ungkapkan oleh kata-kata.
Kenan mengecup sayang pucuk kepala Ryota saat teringat pada anaknya yang mulai tumbuh. Ryota seakan sudah menjadi anaknya sendiri, ada rasa nyaman di hatinya saat bersama Ryota.
Tanpa Kenan sadari, Sasha melihat sikap lembut Kenan terhadap putranya. Ingin protes pun ia tidak bisa, dia hanya bisa diam dan duduk dengan tenang sembari memeluk perutnya dan sesekali melihat ke arah pintu ruang ICU.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1