
***Perusahaan King Group***
Sasha, Ryota dan juga Serly melihat ke arah Alan, mereka menanti jawaban yang di katakan oleh Alan sebagai keputusan. Serly ingin memanggil mama kepada Sasha, hanya Alan yang akan memberikan keputusan mengizinkan nya atau tidak.
Alan menatap mereka semua secara bergantian, tatapan teduhnya lama terhadap Sasha. Namun Sasha segera memalingkan tatapan matanya ke arah lain, membuat Alan terlihat sedikit kecewa.
Diapun menghela nafasnya yang terdengar berat baginya, semua dapat mendengarkan nya. Terdengar seolah Alan memiliki beban yang sangat berat saat ini.
Sasha yakin Alan tidak akan mengizinkan sang putri memanggil Sasha dengan sebutan mama, itu akan menjadi masalah jika terdengar oleh orang lain yang tahu hubungan antara Sasha dan Serly, yang tidak memiliki hubungan antara anak dan ibu. Tentunya akan terdengar dan menjadi aneh, itulah keyakinan Sasha di dalam hatinya.
"Jika itu yang Serly inginkan itu tidak jadi masalah. Serly boleh memanggil mama kepada tante cantik." Ucap Alan menekan kata terakhirnya sembari melirik sekilas ke arah Sasha. Sasha hanya ikut melihat sejenak ke arah Alan akan jawaban yang di berikan oleh Alan kepada putrinya.
Serly terlihat senang dan bahagia, dia pun melihat ke arah Sasha yang tersenyum sejenak ke arahnya, lalu melihat ke arah Alan sang papa.
"Terima kasih papa." Balas Serly dengan senyum bahagianya. Gadis kecil itu bahagia seperti mendapatkan hadiah yang ia harapkan.
"Mama…!" Panggil Serly menatap intens Sasha dengan senyum bahagianya.
Sasha diam terpaku, entah mengapa terasa aneh? Apakah ini akan baik baik saja? Apakah tidak akan menjadi masalah? Sasha melihat ke arah Alan yang melihatnya juga. Tatapan mata mereka bertemu sejenak, lalu Sasha mengalihkan pandangan matanya ke arah Ryota yang terlihat senang.
'Mengapa malah dia setuju? Apakah ini akan baik baik saja? Seharusnya dia jangan menyetujui keinginan putrinya. Aahhh…ini pasti akan menjadi masalah baru untuk ku.' Gumam Sasha di benaknya. Dia nampak gelisah karena serba salah.
'Terlihat jelas dia tidak suka Serly memanggil nya mama.' Gumam Alan di dalam hatinya. Alan masih menatap intens wajah Sasha, dia telah salah paham. Namun Sasha melihat ke arah anak anaknya.
"Kris… bisa kau bawa anak anak makan sesuatu pada cafe yang ada di dekat kantor." Perintah Alan duduk dengan tenang pada sofa yang ada di hadapan Sasha.
Sebuah perintah yang sangat di mengerti oleh Kris. Namun tidak dengan Ryota yang memandang lekat wajah Alan.
"Aku sudah makan." Ryota yang membalas dengan segera. Alan melihat ke arahnya.
"Sebaiknya kalian berdua belilah cemilan sembari menunggu jam pulang kantor, Kris akan menemani kalian." Balas Alan dengan sikap santai dan tenangnya.
Ryota menatap sang mama yang melihatnya juga. Sasha tahu maksud dari Alan. Terlihat jelas dari raut wajahnya, ada yang ingin di bicarakan Alan dengan nya.
"Itu ide yang baik Ryo, apa bisa belikan mama cemilan yang enak." Bujuk Sasha. Ia juga ingin menyelesaikan masalah ini agar cepat selesai.
Sasha sudah tahu perang yang sebenarnya sudah di mulai, untuk menghindari sudah tidak mungkin lagi bisa ia lakukan. Menghadapi dengan tenang dan menyelesaikan segalanya adalah tindakan yang benar.
Ryota merasa mamanya kini terlihat serius, dia anak yang cukup cerdas untuk bisa membaca situasi yang terjadi di sana.
"Baiklah mama…Serly ayo kita beli cemilan." Ajak Ryota pada Serly yang sudah pasti akan mengikuti apa saran darinya?
"Ayo. Mama cantik mau cemilan apa?" Tanya Serly tersenyum manis ke arah Sasha.
"Apapun yang kalian beli? mama akan memakannya." Balas Sasha dengan senyum ramahnya.
Senyum yang tentu saja membuat tenang hati Alan saat memandangnya, senyuman yang mampu meluluhkan hatinya.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang." Ajak Kris menimpali.
"Mama Ryo dan Serly pergi dulu ya." Ucap Ryota pamit kepada mamanya.
Mereka pun pergi dan meninggalkan ruangan tersebut, kini tinggallah mereka berdua masih berada di posisi duduk pada sofa yang berseberangan.
Tatapan intimidasi Alan tentu tertuju pada Sasha yang ada di hadapannya.
"Mengapa kau sembunyikan keberadaan Ryota dariku?" Tanya Alan langsung pada inti masalahnya.
Sasha mencoba melihat ke arah Alan, rasa takut dan cemasnya ia buang sejauh mungkin. Sebelum menjawab, dengan diam diam Sasha menghela nafasnya perlahan.
"Aku bukan ingin menyembunyikan keberadaan Ryota. Tetapi Ryo hadir di saat kita sudah resmi berpisah dan kau telah memiliki pendamping hidup yang baru. Apa bisa dan aku mempunyai hak untuk mengatakan kebenaran akan hadirnya Ryota padamu?" Ungkap Sasha memberikan jawaban pada Alan, tatapan matanya tidak ada rasa takut sama sekali saat menghadapi Alan.
Alan terdiam, apa yang di katakan oleh Sasha? adalah kebenaran yang sebenarnya. Namun Alan tetap saja kecewa akan keputusan Sasha yang telah menyembunyikan kebenaran Ryota, putra kandungnya.
"Jika dulu kau jujur akan kehadirannya, mungkin saja kita masih bersama sekarang." Ungkap Alan dengan tatapan kecewa melihat Sasha.
Sasha dapat melihat raut kekecewaan dari mimik wajah Alan saat ini. Namun apa yang di katakan oleh Alan? sudah sangat terlambat. Tidak akan mungkin mereka kembali lagi, sekarang ataupun dulu. Mereka sudah di takdirkan berpisah. Itulah yang kini menjadi keyakinan Sasha.
"Tidak ada yang perlu di sesali lagi. Mungkin inilah jalan yang terbaik bagi kita semua. " Jawaban Sasha yang tidak dapat di terima oleh Alan.
"Kau begitu inginnya berpisah dariku." Tatapan tidak suka kini ada pada raut wajah Alan.
Sasha tidak habis pikir, bagaimana bisa Alan berpikir dan berkata seperti itu? Jika ingat kembali pada masa lalu, Sasha tidak memiliki niat sama sekali untuk berpisah dari Alan. Alan lah yang ingin berpisah darinya karena mendapat dukungan dan dorongan dari seluruh anggota keluarga Kendrick.
"Ingat apa yang sudah kalian lakukan padaku dulu? Alan Kendrick yang terhormat, aku lah yang tersakiti di sini." Balas tegas Sasha tidak suka akan ucapan Alan yang balik menuduhnya.
Seketika kenangan pahit di masa lalu berputar kembali pada ingatannya saat ini. Begitu banyak penderitaan dan kenangan buruk yang telah di torehkan oleh keluarga Kendrick padanya. Sasha di jatuhkan pada titik terendah. Hingga keputus asaan menghinggapi nya, tetapi berkat kehadiran Ryota di dalam rahimnya adalah penguat untuk Sasha berjuang hidup kembali.
"Kau tidak berhak untuk menyembunyikan kehadiran Ryota." Ucapnya dengan nada kecewa.
"Tidak berhak…!" Ulang Sasha dengan menekan setiap kata-katanya.
"Kau bilang aku tidak berhak. Atas dasar apa kau berkata seperti itu?" Ucap Sasha dengan tersenyum mengejek ke arah Alan.
Sasha merasa di tuduh, dialah yang bersalah di sini. Tentu saja itu tidak dapat Sasha terima begitu saja. Jika dalam kenyataannya, dialah yang menjadi korban dari ketamakkan keluarga Kendrick.
"Dia putra kandungan ku, jadi aku berhak tahu akan kehadirannya. Mengapa kau malah memilih untuk diam saja?"
Sasha terdiam dengan kepalan kuat pada kedua tangannya, luka sakit hati yang dulu ingin Sasha lupakan. Kini hadir kembali ia rasakan.
"Alan Kendrick yang terhormat, aku katakan padamu. Ryota adalah putra ku seorang, dan kau…" Tunjuknya pada Alan. Ia sudah sangat geram akan ucapan Alan yang menyalahkannya.
"Kau tidak memiliki hak untuk menyalahkan ku karena menyembunyikan kehadiran Ryota darimu. Semua yang aku lakukan adalah dorongan darimu dan keluarga Kendrick. Ingat satu hal tuan Alan…" Tekanan pada setiap kata-katanya.
"Aku tidak akan pernah lupa akan semua luka serta sakit yang kalian berikan padaku. Kau tidak pernah tahu, bagaimana caraku berjuang hidup bersama Ryota setelah kalian buang begitu saja. Jadi kau tidak mempunyai hak untuk menyalahkan aku." Ucap Sasha sembari bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Tangannya masih menunjuk ke arah Alan. Sasha marah, iya ia sangat marah akan tuduhan Alan yang menyalakan dirinya, Sasha marah akan sakit dan luka yang ia rasakan dulu dan sekarang.
Alan ikut bangkit, perlahan ia mendekati Sasha. Sikap Sasha kini sangat berani padanya. Jauh berbeda dengan yang dulu.
"Ingat satu hal Sasha Yorina. Bagaimana pun juga Ryota adalah putra kandungan ku." Tunjuk balik Alan.
Dia sedikit tidak suka akan sikap keras kepala Sasha saat ini.
"Dia putra ku seorang." Balas Sasha sedikit meninggikan nada suaranya. Dia tidak terima Alan seenaknya mengambil kesimpulan dan keputusan yang akan merugikan baginya.
Ada sedikit rasa takut pada diri Sasha, ia takut Alan akan merebut Ryota darinya. Ini yang Sasha takutkan, Alan tidak akan mudah menerima kenyataan jika putranya hanya milik Sasha seorang. Alan Kendrick tidak akan mau menerima itu semua.
Dengan gerakan dan langkah yang cepat Alan mencekal kuat kedua lengan Sasha. Jarak wajah mereka berdua hanya beberapa jengkal saja. Sedangkan Sasha yang cukup terkejut akan sikap Alan, berusah berontak untuk lepas dari cengkeraman kuat tangan Alan.
"Dengarkan aku baik baik, Sasha…" Ucap Alan menekan setiap kata-katanya.
Tatapan Alan tajam dan intens pada mata Sasha.
"Sampai kapanpun, Ryota adalah putra kandungku. Kau tidak berhak membatasinya." Ucap Alan dengan tegas.
Sasha menelan salivanya, tubuhnya yang tadi sudah lemah. Kini semakin melemah karena tekanan dari Alan.
"Lepaskan aku Alan." Ucap Sasha berusaha untuk berontak dan lepas dari cengkeraman Alan.
"Kenapa? Apa kau takut." Ancam Alan sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Sasha, hingga hampir bersentuhan.
Dengan segera Sasha memalingkan wajahnya ke arah samping, sedangkan kedua tangannya menahan dada bidang Alan dengan kuat, agar wajah mereka tidak bersentuhan.
"Cukup Alan…tolong lepaskan aku." Ucap Sasha sedikit melunak, bukan karena ia takut. Tetapi Sasha merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya saat dirinya berada dekat dengan Alan. Ia mual dan ingin muntah.
Alan menatap intens wajah pucat Sasha, kini ia baru menyadari ada yang tidak beres pada Sasha.
'Wajahnya pucat, apa dia sakit? Tidak mungkin dia menjadi pucat karena takut berdekatan denganku.' Gumam Alan di dalam benaknya.
"Apa kau sakit? Wajahmu pucat." Tanya Alan sembari melonggarkan sedikit cengkraman tangannya.
Sebenarnya Alan tidak ada niat untuk menyakiti Sasha sama sekali. Namun ia tidak suka akan sikap keras kepala Sasha, yang terlihat seperti ingin membatasi nya dengan Ryota. Alan begitu bahagia melihat kehadiran Ryota di tengah tengah mereka, Alan memiliki harapan baru jika dirinya bisa saja kembali lagi bersama Sasha.
Namun Sasha seakan membangun benteng tinggi dan kuat untuk membatasi mereka. Alan tidak suka itu, dan Alan akan terus berusaha memperjuangkan apa yang menjadi setitik harapannya saat ini? Keluarga yang utuh dan bahagia, kembali bersama lagi. Itulah harapan Alan sekarang terhadap Sasha dan juga Ryota.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.