PILIHAN DALAM CINTA

PILIHAN DALAM CINTA
61. Masalah Baru.


__ADS_3

***Rumah Sederhana Sasha***


Mereka tiba di depan pintu rumah sederhana yang Sasha sewa dan tempati selama beberapa tahun ini. Begitu langkah mereka memasuki halaman rumah, Sasha heran melihat pintu rumah yang terbuka lebar. Tidak seperti biasanya yang selalu tertutup, pintu itu akan terbuka ketika ada seorang tamu yang datang berkunjung.


Apakah hari ini ada tamu yang sedang datang berkunjung, Sasha bertanya di dalam hatinya. Namun langkah kakinya terus ke arah teras rumah dan ingin mengetahui siapakah tamunya siang ini?


"Selamat siang Oma! Ryo pulang…" Sapa Ryota yang masih berdiri di depan teras, ia melangkah lebih dulu.


"Ryo, Sasha…!" Ucap sang oma bangkit dari duduknya.


Dari kejauhan kini Sasha dapat melihat siapa yang menjadi tamunya hari ini? Dia adalah pemilik rumah yang mereka sewa. Sasha heran melihat pemilik rumah datang berkunjung tidak seperti biasanya. Apakah ada hal penting yang membawanya datang, karena Sasha tahu sendiri sang pemilik rumah tidak datang untuk menagih uang sewa rumah, sebab Sasha sudah membayarkan uang sewanya selama 3 tahun ke depan. Jadi apa alasan kedatangannya?


Sasha dapat melihat wajah sang mama nampak cemas melihat ke arahnya. Wanita paruh baya itu mendekati putrinya setelah mencium sayang pipi gembul cucu tersayang.


"Sasha…!" Ucap sang mama melihat cemas ke arah Sasha.


"Ada apa ma…?" Tanya Sasha melihat ada yang tidak beres pada wajah mamanya.


Sekilas Sasha juga dapat melihat ke arah pemilik rumah yang bangkit dari duduknya begitu melihat kedatangan Sasha.


Di dalam hatinya, kini merasakan hal yang tidak nyaman. Apakah akan ada sesuatu yang terjadi?


"Mbak Sasha…!" Panggil pemilik rumah sembari melangkah mendekati Sasha yang masih berdiri di depan teras rumah.


Sasha pun melihat ke arah pemilik rumah yang datang mendekat dengan wajah seriusnya. Sasha masih hanya diam saja.


"Apakah bisa kita bicara sebentar?" Tanya pemilik rumah begitu ada di hadapan Sasha.


"Tentu saja Bu…mari silahkan." Mempersilahkan pemilik rumah untuk masuk ke ruang tengah kembali.


Kemudian Sasha melihat ke arah Kenan yang masih ada di belakangnya. Dia masih sadar jika Kenan mengikuti mereka hingga ke depan rumah. Sasha merasa pasti ada hal yang penting untuk di bicarakan oleh pemilik rumah kepadanya, jadi dia tidak nyaman untuk mengabaikan Kenan.


"Maaf tuan Kenan, sepertinya anda harus kembali, seperti yang anda lihat sendiri. Hari ini ada tamu yang sedang berkunjung. Saya merasa tidak nyaman jika membuat anda menunggu." Ucap Sasha dengan terpaksa.


Kenan melihat Sasha dengan tatapan datar, dia mengerti jika Sasha tidak nyaman bila ada dirinya di saat sedang menerima tamu di rumahnya.


Walaupun sedikit kecewa, Kenan bisa mengerti dan tidak akan ambil pusing akan hal tersebut.


"Baiklah, aku akan kembali lagi." Balas Kenan dengan pandangan mata yang terlihat teduh dan sedikit kecewa harus segera pergi meninggalkan Sasha tanpa mereka dapat bicara.


"Terima kasih tuan atas pengertian anda."


"Tentu." Balas singkat Kenan dengan anggukkan kepalanya tanda mengerti maksud Sasha.


"Saya pamit Bu." Ucap ramah dan sopan Kenan Kepada mama Sasha yang juga melihat kehadirannya.


"Iya nak…!" Balas singkat mama Sasha dengan anggukkan kepalanya.


Kenan mendekati Ryota dan duduk berjongkok untuk mensejajarkan tinggi mereka.

__ADS_1


"Ryo…Paman pulang dulu. Lain waktu paman akan datang berkunjung lagi dan membawakan Ryo mainan agar kita bisa bermain bersama. Apakah boleh seperti itu?" Tanya Kenan berharap Ryota menerima pendekatan dirinya.


Ryota tidak langsung menjawab, dia masih melihat intens ke arah mata Kenan yang terlihat teduh dan tidak ada kebohongan di dalam sorot matanya.


"Tentu paman, Ryo akan tunggu. Paman janji akan datang membawakan mainan untuk kita main bersama?" Tanya balik Ryota dengan harapan yang pasti.


"Tentu, mainan yang Ryo suka. Ryo bisa minta mainan apapun, Ryo tahu harus menghubungi paman di mana. Paman janji akan datang lagi." Balas Kenan dengan senyum yang terlihat iklhas sembari mengelus sayang pucuk kepala Ryota.


"Tentu paman, Ryo akan menghubungi paman."


"Bagus, anak yang pintar." Senyum Kenan masih mengembang. Ia sungguh nyaman bersama Ryota yang terlihat patuh dan pandai.


Ryota tiba-tiba memeluk tubuh Kenan, hingga Sasha dan sang oma terkejut akan sikap akrab Ryota terhadap Kenan yang baru saja anak itu kenal hari ini. Tidak seperti biasanya, Ryota terlihat dekat dan akrab bersama Kenan. Namun Sasha dan sang mama hanya dapat diam dan menyaksikan kedekatan tersebut.


"Hati-hati di jalan ya paman, sampai jumpa lagi." Ucap Ryota di sela-sela peluknya bersama Kenan.


Awalnya Kenan terkejut akan sikap ramah dan pelukkan Ryota yang secara tiba-tiba kepadanya, namun memang itu yang ia harapkan dari putra wanita yang juga kini mengandung anaknya. Kenan tentu bahagia atas penerimaan Ryota terhadapnya. Kenan dengan senang hati membalas pelukan yang terasa hangat dari bocah tampan yang akan menjadi bagian dari hidupnya di masa depan.


"Terima kasih Ryo, jadi anak yang pintar dengan menjaga mama dan oma, oke…!" Balas Kenan di sela-sela pelukkan mereka.


"Iya paman." Balas patuh Ryo setelah melepaskan pelukkannya.


Kenan masih tersenyum sembari bangkit dari jongkoknya.


"Baiklah paman pergi dulu, bye Ryo…!!" Pamit Kenan kepada Ryo yang juga melambaikan tangannya.


"Aku pamit." Ucap Kenan lalu pergi setelah ada anggukkan kepada dari Sasha.


Walaupun berat pergi dari tempat itu, tetapi Kenan harus dapat mengerti keadaan mereka. Kenan putuskan tidak ingin lagi membuat Sasha kecewa terhadapnya.


Begitu Kenan pergi, Sasha masuk bersama dengan mama dan putranya. Ia ingin tahu apa yang ingin dibicarakan oleh pemilik rumah, karena terlihat serius dari raut wajahnya.


"Ma…tolong temani Ryo di kamar." Ucap Sasha sebelum duduk pada sofa yang ada di ruang tengah, di mana tamunya tengah duduk dengan tenang melihat semua interaksi mereka.


"Iya sayang." Balas sang mama.


"Ayo Ryo…kita ke kamar ganti pakaian dulu." Ajak sang Oma kepada Ryo.


"Iya Oma." Balas Ryo dengan patuh dan melangkah bersama Oma masuk ke dalam kamarnya.


Sasha segera duduk dengan pandangan mata terus melihat ke arah pemilik rumah yang ada di hadapannya.


"Apa kabar mbak Sasha?" Tanya ramah wanita tersebut sebagai basa basi di antara mereka.


"Kabar saya baik bu…" Balas Sasha berusaha ramah. Diapun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Begini mbak, saya datang ke sini. Ada yang ingin saya sampaikan kepada mbak Sasha…" Ucapnya, dan Sasha masih diam untuk mendengarkan.


"Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya." Ungkapnya sembari meletakkan sebuah amplop tebal di atas meja dan amplop tersebut ia dorong ke hadapan Sasha.

__ADS_1


Sasha melihat ke arah amplop putih tebal tersebut. Entah mengapa hatinya merasa tidak nyaman akan hal tersebut.


"Apa ini buk…?" Tanya Sasha dengan wajah serius.


Terlihat ibu pemilik rumah menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan sebelum menjawab pertanyaan Sasha.


"Ini uang sewa rumah milik mbak Sasha selama 4 tahun. Maaf mbak Sasha, rumah ini sudah saya jual dan pemilik barunya ingin segera merenovasi rumahnya." Ungkap pemilik rumah yang membuat Sasha benar-benar terdiam tidak dapat bicara lagi.


"Rumahnya di jual bu…" Ucap Sasha memastikan.


"Iya mbak. Maaf sebelumnya, ibu membutuhkan banyak uang untuk membiayai kuliah anak ibu yang ada di luar negeri, sehingga dengan terpaksa ibu menjual semua rumah yang ibu sewakan. Kebetulan ada yang berani menawar dengan harga yang cukup baik bagi ibu. Jadi ibu jual. Sekali lagi maaf ya mbak Sasha, ibu terpaksa menjual rumah ini." Ungkapnya dengan raut wajah yang terlihat menyesal.


Sasha tahu dirinya hanya sekedar menyewa rumah itupun hanya dapat diam. Tidak ada yang bisa ia ucapkan. Suka tidak suka Sasha harus menerima keputusan sang pemilik rumah.


"Iya bu…Tidak apa apa. Kapan saya harus keluar dari rumah ini?" Tanya Sasha meminta waktu untuk mencari tempat tinggal yang baru dan mengemasi semua barangnya.


"Maaf mbak Sasha, kalau bisa besok mbak sudah harus keluar. Pemilik rumah yang baru mengatakan seperti itu, dan dia tidak mau tahu. Maaf mbak Sasha, saya juga bingung dan tidak bisa banyak bicara atau membantah keputusannya." Balas ibu pemilik rumah dengan raut yang terlihat menyesal.


"Besok buk…" Ucap terkejut Sasha.


"Iya, besok…" Angguk sang pemilik rumah.


"Ini ibu sudah kembalikan uang sewanya sedikit lebih banyak, sebagai ganti rugi dan sebagai tanda maaf dari ibu untuk mbak Sasha. Semoga mbak juga bisa mengerti keadaan ibu." Ucapnya kembali sembari melihat ke arah amplop putih tebal yang ada di hadapan Sasha.


Sasha hanya dapat diam dan melihat juga ke arah amplop putih tebal yang ada di hadapannya. Tidak banyak yang bisa ia katakan, ini terlalu tiba-tiba. Bagaimana mungkin dia bisa mencari tempat tinggal yang baru dalam satu hari.


"Mbak, sebaiknya cepat berkemas dan jangan banyak berpikir. Pemilik yang baru terlihat sangat arogan dan kejam, jangan melawan mereka kalau besok mereka datang ke sini untuk melihat." Ucap Ibu pemilik rumah sekedar mengingatkan Sasha.


"Iya saya mengerti bu…" Hanya itu jawaban yang bisa Sasha ucapkan.


Pikirannya sekarang bingung harus ke mana, di mana Sasha bisa mendapatkan tempat tinggal yang baru dalam satu hari?


"Kalau begitu ibu permisi, karena urusan kita sudah selesai." Ucap ibu pemilik rumah sembari bangkit dari duduknya.


Sasha ikut bangkit karena tidak ada yang bisa ia bicarakan lagi. Sasha hanya menganggukkan kepalanya mengantar kepergian ibu pemilik rumah. Tatapannya menerawang jauh melihat punggung wanita yang sekarang menjadi mantan tuan rumahnya, karena rumah tersebut sudah di jual, dan memiliki pemilik yang baru.


Masih lekat dalam ingatan Sasha jika ingin ibu tersebut memberitahukannya jika pemilik yang baru memiliki sikap arogan dan kejam. Jadi tidak memungkinkan bagi Sasha untuk meminta keringanan waktu, agar tidak memiliki masalah dengan mereka.


Dia harus cepat dalam mencari tempat tinggal, dia tidak ingin memiliki masalah. Sasha luruh terduduk kembali dengan pandangan matanya ke arah amplop putih tebal yang ada di atas meja. Begitu banyak cobaan terus menghampiri dirinya dalam hidup, dan kali ini dia harus cepat dalam bertindak untuk mendapatkan tempat tinggal yang baru dan mengepak semua barang-barang di dalam rumahnya dalam satu hari. Inilah masalah baru yang harus di hadapi oleh Sasha.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2