PILIHAN DALAM CINTA

PILIHAN DALAM CINTA
50. Keputusan Sasha.


__ADS_3

***Rumah Sakit K.R Group***


…Sasha Yorina…


Seperti petir yang menyambar di siang bolong, aku diam terpaku akan apa yang aku dengar di balik pintu yang ada di hadapanku? Aku dapat mendengar, dua orang pria yang sedang berselisih paham di dalam ruang perawatan sebuah rumah sakit.


Aku mendengar jelas jika itu adalah suara Kenan dan Rion, dua pria bersaudara yang kini sedang berdebat, dan itu berkaitan dengan diriku. Mereka menyebut tentang kehamilan dan bayi yang kini sedang aku kandung.


'aku hamil…!' itulah pertanyaan yang ada di dalam hatiku saat ini.


Aku sendiri yang mencegah nyonya Kania yang mengaku sebagai mama dari Kenan dan Rion untuk masuk ke dalam ruang perawatan itu. Suara perdebatan mereka yang menyebutkan namaku, membuat tanganku repleks untuk mencegah pergerakkan yang ingin di lakukan oleh nyonya Kania.


Aku masih dapat mendengar jelas bagaimana pembelaan dan kepercayaan Rion terhadapku? aku juga dapat mendengar bagaimana keraguan Kenan saat ini kepada bayi yang sedang aku kandung? Kenan jelas ragu jika bayi yang aku kandung, bukanlah anak dari benih yang dia tanamkan beberapa bulan yang lalu pada rahimku.


Kecewa, sudah pasti aku kecewa. Sedih sudah pasti aku sedih. Marah, sudah pasti aku marah. Namun aku hanya bisa diam dan menerima semuanya dengan tenang. Ini semua sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur dan tidak akan bisa menjadi nasi kembali.


Aku masih diam dengan setia mendengarkan semua perdebatan mereka berdua. Nyonya Kania, asisten Leon dan asisten Kris yang ada bersamaku juga dapat mendengar semua perdebatan mereka. Mereka bertiga melihat ke arahku yang hanya memandang lurus ke depan pintu yang tertutup rapat di hadapanku.


Tidak satu orangpun dari mereka bertiga yang berani bersuara. Namun aku juga tetap diam tanpa pergerakan apapun? keraguan Kenan membuat aku tidak dapat berbuat apapun? keraguan Kenan membuktikan semua ucapannya beberapa bulan saat kami berdua sadar dari perbuatan kami yang seharusnya tidak kami lakukan.


Ingatan itu berputar kembali di dalam kepalaku, tanpa bisa aku cegah.


Flashback on…


"kenapa kau diam dan malah menangis? apa kau pikir aku sudi tidur dengan wanita seperti dirimu? akupun terpaksa melakukannya agar otakmu ini tidak menjadi gila." ucapan Kenan yang terlintas di dalam kepalaku pada saat ini.


Ingatan demi ingatan tentang apa yang di lontarkan oleh Kenan pada saat itu? kini kembali lagi berputar begitu saja.


Pada saat itu aku hanya bisa menunduk malu, aku sudah seperti seorang wanita murahan di hadapan Kenan. Air mataku terus mengalir karena semua ucapan Kenan yang menusuk hatiku. Sakit rasanya hatiku pada saat itu, ucapan Kenan yang seolah menganggapku wanita kotor dan murahan sangat menusuk hatiku.


"maaf." hanya kata itu yang dapat aku ucapkan di hadapan Kenan.


"jangan pernah kau mengharapkan sesuatu padaku lagi, aku yang seharusnya rugi karena melakukan hubungan itu bersama dirimu ini." ucap Kenan kembali.


Kenan meraih sesuatu dari dalam laci nakas yang ada di samping ranjang. Dia menuliskan sesuatu di sana.


"ini ada cek kosong, kau bisa menulis berapapun nominal yang kau minta? jangan pernah kejadian ini di ketahui oleh orang lain. Bila tidak, kau dan keluargamu akan aku hancurkan." ancaman Kenan menatap tajam ke arahku.


Mimik wajah datar dan dinginnya mendominasi pada saat itu, semua ucapan Kenan benar-benar menempatkan aku pada sebuah tempat seperti wanita murahan dan wanita ****** yang tidak tahu diri. Aku seketika menatap cek yang ada di atas kasur, lalu beralih menatap Kenan yang berdiri di samping ranjang.


"jangan pernah mengharapkan apapun dariku? ingat dengan jelas, kau bukanlah tipe wanita yang aku inginkan, dan satu lagi…!" ucapnya dengan nada ketus.

__ADS_1


"jika kau hamil, pastikan dulu itu anakku atau anak pria lain." ucapnya, yang membuatku semakin tidak percaya.


Sikap sombong dan arogan kenan sudah sangat keterlaluan menghina diriku. Aku seketika tertawa mengejek ke arah Kenan. Aku berterima kasih, karena Kenan sudah mau membantuku pada malam itu, tetapi rasa terima kasihku aku tarik kembali. Kenan tidak pantas menerima ucapan terima kasih dariku akan semua ucapannya.


"anda tenang saja tuan…jika aku hamil, aku pastikan dia bukanlah anakmu. Lagi pula, percaya diri sekali anda tuan…dengan sekali main, apa anda pikir sudah bisa membuat aku hamil? jangan terlalu percaya diri tuan, belum tentu barangmu itu bisa cepat membuat aku hamil dengan sekali main." ucapku dengan senekan setiap kata-kataku, untuk membalas perkataan Kenan padaku, sembari sengaja melirik ke arah celana boxer Kenan.


Aku benar-benar kesal dan tersinggung akan ucapan yang di lontarkan oleh Kenan. Perdebatan demi perdebatan terjadi pada kami berdua.


"lancang sekali bicaramu menghina punyaku."


"memang kenyataannya begitu kan tuan…"


"wanita seperti dirimu dengan mudah aku dapatkan, bahkan lebih cantik dan seksi dari dirimu, kau ingat itu…!!" tunjuk geram Kenan ke arahku.


"jadi bila kau sudah selesai, cepat keluar dari sini…! kamarku sudah tercemar akan kehadiran mu di sini. Aku harus segera berangkat ke kantor." ucapnya mengusirku.


Kepalan kedua tanganku kuat hingga buku-buku jariku memutih menahan amarahku. Aku sakit hati dan benar-benar marah akan semua perkataan Kenan padaku.


"ingat kau itu pelayanku di dalam kontrak perjanjian, sudah seharusnya kau melayaniku, bukan begitu nona Sasha…?" ucap Kenan lagi-lagi melukai hatiku.


Aku menarik dan menghembuskan nafasku perlahan sebelum menjawab. Aku berusaha bersikap tenang megahadapi kesombongan dan keangkuhan Kenan padaku.


"ingat tuan, jangan pernah anda menjilat ludah anda sendiri, jangan pernah menarik dan mengkhianati semua ucapan anda ini, saya berharap dan berdoa anda bisa mendapatkan wanita seperti yang anda inginkan, tapi ingat satu hal tuan…!!" ucapku tegas, untuk membalas Kenan.


Kenan terdiam dengan kepalan tangannya kuat menahan rasa kesalnya, akan ucapanku. Terlebih lagi sikap tenang dan tatapan teduhku membuat dirinya merasakan sesuatu.


Aku bergegas turun dari atas ranjang, dengan menahan tubuh yang terasa remuk dan pegal. Aku menggunakan kembali gaun yang semalam aku pakai, yang aku inginkan pada saat itu adalah kembali ke rumah, karena malam itu aku tidak pulang tanpa izin pada mama dan Ryota. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir padaku. Aku pergi tanpa membawa cek yang di berikan oleh Kenan kepadaku.


Bila aku menerima cek itu, harga diriku akan terinjak-injak. Walaupun aku hidup susah dan miskin, tetapi aku bukanlah wanita murahan atau wanita ****** yang menjual diriku sendiri, seperti yang di tuduhkan oleh Kenan padaku. Perdebatan dan penghinaan yang akan selalu aku ingat sampai kapanpun? Kini berputar sempurna di dalam kepalaku.


Flashback off…


Berbekal dari ingatan yang pahit untukku, aku ingin menyelesaikan masalah ini. Aku yang mengalaminya langsung, tidak ingin melibatkan siapapun? Aku tidak ingin meminta pertanggung jawaban pada siapapun? Akan aku jalani sendiri hidupku seperti biasanya.


Kehamilanku yang menjadi masalah mereka, tidak akan membuat mereka terus larut di dalam masalah yang akan aku bawa dan selesaikan sendiri. Sudah cukup Kenan akan keraguannya terhadap bayi yang aku kandung, walaupun bayi ini adalah anaknya.


Kenan tidak berhak lagi atas bayi yang aku kandung, ini adalah anakku sendiri. Aku sendiri yang akan merawatnya, bayi ini tidak butuh seorang papa yang ragu akan kehadirannya, bayi ini hanya akan bersama mama yang selalu menyayangi dan melindunginya.


Perlahan gerakkan tanganku menyentuh gagang pintu, semua memandangku dengan intens. Bahkan panggillan dari nyonya Kania aku abaikan. Hatiku saat ini terlalu sakit, kecewa dan marah atas keraguan dan ingatan akan semua perkataan Kenan kepadaku.


Pintu itupun terbuka dengan tatapan ketiga pria yang ada di dalam ruang perawatan tersebut melihat ke arahku. Tatapan datarku masih setia pada wajahku, air mata kesedihan masih bisa aku tahan. Melihat wajah Kenan membuat hatiku semakin marah.

__ADS_1


"nona Sasha." panggil Rion menatapku intens.


Tatapanku beralih padanya, sedangkan Kenan turun dari ranjangnya dan berdiri menatapku dengan tatapan yang tidak dapat di baca oleh siapapun? Kenan melangkah ingin mendekatiku.


"tetap di sana tuan." ucapku pada akhirnya, aku tidak ingin terlalu dekat dengan pria yang membuat aku kecewa, marah dan sedih secara bersamaan.


"Sasha." panggil Kenan sembari menghentikan langkahnya.


"cukup, ingat semua yang kau ucapkan padaku pada saat itu. Jangan pernah menjilat ludahmu sendiri dan mengkhianati semua ucapanmu. Tuan Kenan Diandra." ucapku dengan tegas.


Aku benar-benar menahan amarah dan air mata yang ingin keluar dari pelupuk mataku.


Kenan tahu dan mengingat jelas apa yang aku maksudkan kepadanya? Kenan diam terpaku dengan tatapan nanar melihat ke arahku. Aku tidak terpengaruh sama sekali, aku tetap pada pilihanku saat ini.


"aku tahu maksudmu, tetapi jawab pertanyaanku. Apakah bayi itu anakku?" tanya Kenan langsung pada intinya.


Aku tersenyum tidak percaya pada pertanyaannya. Sudah aku duga dia sendiri ragu tentang bayinya, bagaimana bisa dia di sebut sebagai seorang papa?


"bukan. Ini anakku sendiri." ucapku tegas.


Semua orang tahu ucapanku tersirat akan kekecewaan akan keraguan Kenan pada bayinya sendiri. Apalagi nyonya Kania yang yakin, jika bayi yang aku kandung adalah cucunya. Keturunan selanjutnya dari keluarga Diandra.


"nona Sasha, kita bisa bicarakan semua ini dengan baik dan tenang." bujuk nyonya Kania sembari memegang lembut lengan kananku.


Aku melihat ke arah nyonya Kania, dengan tenang dan lembut pula aku melepaskan pegangan tangannya dari lenganku.


"maaf nyonya, ini semua sudah jelas. Jadi tidak ada lagi yang bisa di bicarakan." ucapku sembari menggelengkan kepalaku.


"tidak nona Sasha, jangan kau dengarkan putraku yang bodoh itu." ucap nyonya Kania masih setia pada pendiriannya. Dia sangat yakin jika bayi yang ada di dalam kandunganku adalah cucunya. Terlihat dari sikapku dan Kenan yang aneh, serta semua yang sudah terjadi membuktikan segalanya.


"cukup nyonya. Tolong hargai keputusanku. Sudah cukup sampai di sini, lagi pula aku dan putra anda tidak memiliki hubungan apapun?" jawabku mencoba memberikan pengertian.


Aku melangkah mundur dengan di iringi oleh gelengan kepala dari nyonya Kania, dia terlihat tidak rela jika aku ingin pergi dari tempat itu.


Namun keputusanku sudah bulat, aku tidak ingin memiliki hubungan apapun terhadap keluarga Diandra. Aku akan menjalaninya sendiri, apapun yang akan terjadi di masa depan?


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2