PILIHAN DALAM CINTA

PILIHAN DALAM CINTA
38. Satu Ruangan.


__ADS_3

***Perusahaan KING Group***


Sasha tidak tahu apa yang sedang di rencanakan oleh Alan Kendrick saat ini? Tanpa berbicara apapun, Alan memberikannya setumpuk berkas yang harus dia teliti dan perbaiki. Penjelasan tentang pertanyaannya saja, tidak di jawab sama sekali oleh Alan.


Dalam hati Sasha dongkol sekali, namun dia tidak bisa banyak melawan. Bagaimana juga Alan adalah atasannya, atasan yang harus Sasha patuhi. Tanpa banyak bicara dan bertanya lagi, Sasha hanya diam mengerjakan apa yang di tugaskan untuknya? bahkan meja untuknya saja sudah di siapkan. Mereka berada di satu ruangan, tidak jauh di samping meja kerja Alan.


Dengan serius Sasha mengerjakan pekerjaannya, Sasha memang memiliki IQ yang tinggi di atas rata-rata. Sasha yang tenggelam akan pekerjaannya saat ini, tidak mengetahui jika Alan sedang memperhatikannya. Dari meja kerjanya yang tidak jauh dari meja kerja Sasha, Alan dapat melihat Sasha tengah asik dengan pekerjaannya.


Sudah lama sekali Alan tidak melihat Sasha seperti itu, tanpa sadar Alan tersenyum melihat Sasha. Di dalam hatinya tidak dapat untuk di pungkiri, jika Sasha dulu adalah wanita yang pernah mengisi hati dan hari-hari dalam hidupnya selama 4 tahun lebih. Mereka saling mencintai dan mengerti satu sama lainnya.


Mereka terpaksa harus berpisah karena paksaan dari keluarga Alan, alasan karena Sasha tidak dapat memberikan keturunan untuk keluarga Alan Kendrick, adalah pemicu utama mereka di paksa untuk berpisah. Cinta Sasha dan Alan yang menjadi korbannya. Tanpa Alan ketahui korban yang sesungguhnya adalah Sasha.


Raut wajah Sasha yang nampak serius, sangat menggemaskan di mata Alan. Apalagi saat Sasha harus berpikir keras sembari menghentak-hentakan penanya di atas meja. Alan sungguh menikmati pemandangan tersebut, sungguh dapat memperbaiki moodnya yang tadi pagi rusak saat bertengkar dengan Bella.


Ya beberapa hari ini, Alan dan Bella sering sekali bertengkar hanya karena masalah sepele, dan itu selalu di mulai oleh Bella. Seperti pagi ini, ketika Bella mengatakan jika hari ini dirinya akan pergi ke luar kota lagi untuk urusan cabang butik yang baru. Padahal baru dua hari yang lalu Bella pulang dari luar kota, Alan hanya meminta Bella dapat meluangkan waktu untuk putrinya.


flashback on…


"apa kau tidak bisa untuk meluangkan waktu mu untuk putri kita?" tanya Alan dengan nada yang setenang mungkin.


"apa maksudmu?" tanya Bella menatap selidik ke arah Alan.


"baru dua hari yang lalu kau pulang dari luar kota, hari ini kau akan pergi lagi. Apa kau tidak bisa meluangkan waktu untuk Serly sehari saja? Kasihan dia selalu menanyakan dirimu." ucap Alan masih dengan sikap lembut dan tenang.


Alan berusaha untuk menjadi suami dan papa bagi keluarga kecilnya. Walaupun di hatinya sudah tidak ada cinta lagi untuk Bella. Itu semua semata Alan lakukan untuk sang putri yang sangat ia cintai dan sayangi.


"Alan kau tahu kalau aku sedang membuka cabang baru di luar kota, ini adalah kesempatan ku untuk berkembang. Mengapa kau tidak bisa mengerti dan mendukung ku?" tanya Bella sedikit ketus dengan mimik muka yang terlihat kesal.


"kapan aku tidak pernah mendukung mu? selama ini aku selalu mendukungmu. Aku hanya minta luangkan waktumu sehari saja untuk putri kita." ucap Alan masih dengan tenang.


Bahkan Alan harus memasang dasinya sendiri, Bella tidak pernah sekalipun memasangkan Alan dasi lagi sejak Bella sibuk dengan bisnis butiknya.


"Alan jangan mulai lagi untuk kita bertengkar." ucap Bella sembari menyisir rambut.


Alan menghentikan pergerakan tangannya saat memasang dasi. "mulai bertengkar katamu?" ucap Alan menekan kata-katanya.


"iya…kalau bukan itu, apalagi? Serly hanyalah alasan mu kan untuk menahanku agar tidak berkembang dalam bisnis yang sedang aku kerjakan." jawab Bella dengan menatap Alan dari pantulan cermin meja riasnya.


"sampai kapan kau bisa mengerti jika putri kita membutuhkan perhatian darimu, mamanya."


"alah…itu hanya alasan mu saja, kalau untuk perhatian sudah cukup Serly mendapatkan dari baby sisternya. Itulah gunanya kita memperkejakan seorang baby sister, agar putrimu ada yang memperhatikan." ungkap Bella dengan santainya.


Alan menatap Bella tidak suka akan perkataan yang baru saja Bella ucapkan.


"apa kau sadar Bella dengan ucapanmu itu? kau mamanya."


"yang bilang aku bukan mamanya siapa?"


"Bella…" bentak Alan marah sudah pada puncaknya.


"sudah lah Alan, aku buru-buru nanti ketinggalan pesawat." jawab Bella tanpa merasa bersalah sama sekali akan perkataannya.


Alan menggertakkan giginya dengan berkacak pinggang melihat kepergian Bella. Dasi yang tadi ingin Alan gunakan, dia hempaskan ke lantai karena rasa kesalnya pada Bella.


flashback off…

__ADS_1


Saat Alan sibuk dengan lamunannya sembari melihat ke arah Sasha, Alan tidak sadar jika Sasha melihatnya juga. Sasha mengerutkan alisnya, mengapa Alan melihatnya seperti itu? itulah pertanyaan yang ada di pikirannya.


"tuan…!" panggil Sasha, tetapi yang di panggil masih diam melamun.


"tuan…tuan…" panggil Sasha terus menaikkan volume suaranya.


Alan tersadar seketika dari lamunannya, Alan yang telah ketahuan sedang menatap Sasha, berusaha bersikap setenang mungkin.


"ada apa?" tanya Alan dengan wajah datar dan dinginnya.


"tuan melamun ya?" ucap Sasha, dia sangat mengenal Alan. Sasha tahu jika Alan tadi tengah melamun.


"sok tahu kamu, cepat selesaikan pekerjaanmu." ucap ketus Alan sembari kembali melihat berkas yang ada di hadapannya.


"apa mau saya buatkan kopi, tuan?" tanya Sasha, bagaimana juga dia saat ini adalah asisten pribadi dari Alan Kendrick. Sudah tugasnya untuk melayani semua yang di butuhkan oleh Alan Kendrick.


"tidak perlu." jawab ketus Alan tanpa melihat ke arah Sasha.


Tanpa menjawab Sasha kembali lagi pada pekerjaannya, sesekali dia mencuri-curi pandang ke arah Alan. Benar saja Alan juga mencuri-curi pandang ke arahnya. Sasha hanya geleng-geleng kepala akan kelakuan Alan saat ini. Dengan segera Sasha beranjak dari tempatnya.


"mau kemana kamu?" tanya Alan tiba-tiba saat melihat Sasha bangkit dari kursinya.


"mau ke toilet tuan." jawab Sasha apa adanya.


Alan terdiam, Sasha dengan cepat melangkah ingin keluar dan ke toilet, namun belum mendekati pintu Alan bertanya kembali.


"mau kemana kamu?" tanya Alan kembali.


"saya mau ke toilet tuan."


"tidak tuan, saya pakai toilet karyawan saja."


"pakai yang itu, dan cepat selesaikan tugasmu." ucap Alan tegas dengan sedikit penekanan pada setiap kata-katanya.


Sasha menghela nafasnya perlahan, dia tahu percuma untuk membantah ucapan Alan. Dengan terpaksa Sasha menggunakan toilet yang ada di dalam ruangan tersebut.


'bagus, kamu harus tetap patuh akan setiap perintah ku Sasha, kamu harus aku berikan hukuman akibat kejadian beberapa minggu yang lalu.' gumam Alan di dalam benaknya sembari tersenyum tipis karena senang melihat Sasha patuh padanya.


Beberapa menit kemudian, Sasha keluar dari dalam toilet. Meja Alan kini kosong.


'kemana dia?' gumam Sasha.


Tanpa pikir panjang Sasha melangkah kesebuah mesin kopi, membuat secangkir kopi pahit untuk Alan. Sasha tahu Alan membutuhkan kopi saat ini, itulah kebiasaan Alan yang tidak akan pernah berubah sampai saat ini, Sasha tahu itu.


Alan kembali masuk ke dalam ruangan, dia melihat secangkir kopi di atas mejanya masih mengepulkan asap panasnya. Alan melihat ke arah Sasha yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Lalu dia beralih kembali ke arah jam tangannya.


"sudah waktunya jam istirahat." ucap Alan tanpa melihat ke arah Sasha.


Sasha melihat kepada Alan, 'apa dia berbicara padaku?' itulah yang ada di dalam benaknya.


"maaf tuan, anda berbicara pada saya?" tanya Sasha ingin tahu jelas.


"memangnya ada orang lain lagi selain dirimu di ruangan ini?" ucap Alan tanpa melihat ke arah Sasha.


"maaf tuan, bagaimana saya bisa istirahat siang, sedangkan anda masih di sini untuk bekerja." ucap Sasha yang tahu aturan seorang asisten pribadi.

__ADS_1


Bagaimana mungkin seorang asisten pribadi meninggalkan tuannya untuk makan siang? sedangkan tuannya saja masih sibuk pada pekerjaannya. Alan tahu itu !!


"kau boleh istirahat makan siang, dan bawakan makan siang ku ke sini." perintahnya tegas tanpa melihat Sasha sama sekali.


Tanpa banyak bertanya yang akan membuatnya dalam masalah, Sasha segera beranjak. "baik tuan." jawab singkat Sasha sembari bangkit dari duduknya.


"tuan mau makan siang apa?" tanya Sasha.


"kau tentunya tahu makanan apa yang aku sukai?" jawab Alan dengan tatapan anehnya.


Perasaan Sasha tiba-tiba tidak nyaman dengan ini. Sasha sangat tahu makanan kesukaan Alan? Jangan bilang Alan ingin Sasha memasak makan siang untuknya, karena dulu saat mereka masih suami istri, Alan selalu suka di masakin steak tenderloin dengan mushroom sauce dan tumis sayuran dengan mes poteto.


"maaf tuan. Permintaan anda bukan yang seperti saya pikirkan bukan?" tanya curiga Sasha melihat Alan yang tersenyum miring padanya.


"apa pikiran mu?" tanya Alan selidik.


"tidak ada tuan." jawab Sasha cepat. "saya akan bawakan makan siang anda." ucapnya sembari bergegas keluar dari ruangan yang sangat menyesakkan bagi Sasha.


Saat Sasha memegang handle pintu, Alan berkata dengan sangat jelas.


"Ingat tenderloinnya medium weldan." ucap Alan yang sukses membuat langkah Sasha terhenti.


"dan kau yang harus memasaknya sendiri." lanjut Alan kembali.


Sasha terkejut hingga melototkan matanya.


"saya yang masak tuan, tapi di mana?" tanya Sasha bingung.


"di perusahaan ini kan ada cafe kecilnya, kau beli bahan-bahannya dan masak di sana. Aku harap tenderloinnya tidak akan dingin saat aku makan." ucapnya kembali dengan santai.


Sasha masih terkejut dengan matanya yang membulat, sungguh pemandangan yang sangat lucu bagi Alan saat ini. Mengerjai Sasha seperti sekarang adalah pekerjaan yang menyenangkan.


"cepat, apalagi yang kau tunggu. Waktunya tidak boleh lebih dari satu jam dari sekarang." ucap Alan tegas sembari melihat ke arah jam tangannya.


"apa, mana bisa cukup waktunya tuan, mall dari kantor ini jauh. Memasak juga perlu waktu tuan." jawab Sasha sedikit keberatan.


"aku tidak mau tahu. Cepat lakukan yang aku perintahkan, sekarang…!!" perintahnya dengan tegas.


"jika kau terlambat sedetik saja, gajimu ku potong." ancamnya dengan santai.


"tapi tuan."


"membantah lagi, gajimu ku potong."


"tidak tuan, baiklah." jawab Sasha cepat. Percuma melawan Alan, itu tidak ada gunanya.


Inilah hukuman Alan yang sudah dia mulai. Sasha akan terus mendapatkan kesusahan mulai hari ini hingga ke depannya oleh ulah Alan. Ancaman potong gaji sangat ampuh agar Sasha menurut. Alan suka saat melihat Sasha kebingungan dan takut jika gajinya di potong.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2