
***Rumah Lisa***
Mereka berkumpul di rumah Lisa, kedua orang tua Lisa tahu apa yang sekarang sedang di alami oleh Sasha dan keluarganya. Kedua orang tua Lisa sudah menganggap keluarga Sasha sebagai keluarga sendiri.
"Jika kalian belum mendapatkan tempat tinggal saat ini, tinggallah di sini untuk sementara waktu. Kami memiliki satu kamar kosong yang di tinggalkan Lano setelah dia menikah dan memiliki rumah sendiri. Kalian bisa menggunakan kamar itu." Kata papa Lisa, Hendra Hartanto.
"Itu benar. Kalian sementara tinggal bersama kami saja, sampai mendapatkan tempat tinggal yang baru." Imbuh dari mama Lisa, Lani Hartanto.
Sasha dan sang mama saling memandang, keluarga Lisa begitu baik kepada mereka. Sejak Sasha datang ke kota itu, hanya Lisa dan keluarganya yang ringan tangan menerima mereka dengan ketulusan hati. Sasha sungguh beruntung memiliki seorang sahabat seperti Lisa.
"Terima kasih tante, om dan Lisa...Kalian selalu baik kepada kami, kami selalu saja merepotkan kalian sekeluarga." Balas Sasha dengan perasaan haru dan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Merepotkan bagaimana? Kalian sudah kami anggap seperti keluarga sendiri. Tante sudah menganggapmu sebagai putri tante dan Ryo seperti cucu tante sendiri. Jadi jangan ada rasa sungkan, tante tidak suka kamu seperti itu." Sahut Lani dengan senyum yang begitu tulus, ia begitu menyayangi Sasha dan juga Ryota.
"Terima kasih tante...kami sungguh beruntung memiliki keluarga seperti kalian." Balas Sasha.
"Yakinlah Sha...semuanya akan berlalu dan kalian bisa bahagia dengan hidup yang saling menyayangi." Kata tulus Lani melihat ke arah Sasha dan mamanya secara bergantian.
"Oya mbak...wajah mbak pucat sekali, apa mbak tidak enak badan?" Tanya Lani melihat khawatir kepada wajah mama Sasha yang terlihat pucat tidak seperti biasanya.
Mama Sasha segera memegangi pipi di wajahnya, dengan pandangan mata semua orang melihat ke arahnya. Benar saja wajah wanita yang telah melahirkan Sasha itu begitu pucat.
"Benar mama....mama baik baik saja?" Tanya Sasha terlihat khawatir akan wajah mamanya yang pucat.
"Mama baik sayang...mungkin hanya kelelahan saja." Balas mama Sasha dengan senyum yang di paksakan.
Sebenarnya beberapa hari ini, wanita paruh baya itu merasakan ada yang tidak beres pada kondisi tubuhnya yang sering lemas dan dadanya yang berdebar dengan di iringi sakit beberapa kali. Ia tidak mengatakannya kepada Sasha karena tidak ingin membuat putrinya itu khawatir di saat begitu banyaknya beban pikiran yang Sasha miliki.
"Kalau begitu ayo kita pulang agar mama bisa istirahat lebih awal." Sahut Sasha.
"Tante, om, Lisa...kami pamit pulang dulu!!" Pamit Sasha sembari bangkit dari duduknya.
"Terima kasih untuk hari ini." Ucapnya lagi.
"Hati-hati di jalan ya...!" Balas Lani.
Lisa dan kedua orang tuanya mengantarkan Sasha sampai ke depan gerbang. Sasha pulang dengan segera agar mamanya dapar beristirahat lebih awal. Ia sungguh khawatir akan wajah pucat mamanya, tidak seperti biasanya yang selalu cerah dan cantik.
.......................................................................
***Rumah Sewa Sasha***
Mereka sampai di rumah beberapa menit kemudian, jarak antara rumah sewa Sasha dan rumah Lisa tidaklah terlalu jauh jika mengendarai motor maticnya.
__ADS_1
"Mama istirahatlah lebih awal." Ucap Sasha memberikan sebuah saran untuk mamanya.
"Baiklah...mama akan bangun pagi pagi sekali besok untuk melanjutkan berkemas." Setuju sang mama yang memang merasa sedikit lemah dan tidak memiliki tenaga lebih lagi.
"Tidak perlu ma...Sisanya akan Sasha bereskan. Mama istirahatlah yang cukup. Aku ingin mama selalu sehat, itu saja...!!" Balas Sasha sembari memeluk tubuh sang mama.
Wanita yang hampir tua itu begitu terharu dan merasa iba dengan nasib sang putri. Begitu malang nasib Sasha sejak lahir hingga tumbuh dewasa tidak pernah hidup bahagia, selalu ada beban yang menemaninya. Hidup Sasha sejak bayi selalu penuh akan perjuangan. Wanita itu merasa bersalah terhadap putri malangnya yang tidak pernah mengenal sososk seorang papa di dalam hidupnya.
"Maafkan mama Sha...karena hidup bersama mama, hidupmu tidak pernah tenang dan bahagia." Ucap sang mama yang tidak dapat menahan kesedihannya lagi.
"Mama...apa yang mama katakan...?" Sahut Sasha mendengar kesedihan dari suara mamanya.
Sasha memandang wajah sang mama yang penuh akan air mata kesedihan. Sasha tahu jika mamanya tidak baik baiak saja, Sasha tahu jika mamanya sangat memikirkan nasibnya dan merasa bersalah akan hidup yang mereka jalani saat ini. Sasha tidak ingin melihat kesedihan itu.
"Mama...ini semua bukan kesalahan mama, aku bahagia hidup bersama mama yang selalu ada untukku sejak kecil hingga aku tumbuh dewasa. Mama selalu mendampingiku dalam suka dan duka. Aku sungguh beruntung terlahir dari rahim mama dan menjadi putrimu, jadi jangan berkata seperti itu lagi." Ungkap Sasha dengan tatapan yang begitu mengasihi mamanya yang terlihat begitu rapuh dan merasa bersalah.
"Ini sudah takdir hidup yang kita jalani, dan aku tidak menyesal menjadi putrimu ma...Mama adalah satu-satunya orang tua yang hebat, kuat, dan luar biasa untuk Sasha." Kata lembut Sasha ingin membesarkan hati sang mama.
"Terima kasih nak...mama bahagia kamu lahir dari rahim mama...Terima kasih telah menemani mama sepanjang hidup mama." Balas sang mama dengan senyum sedihnya.
Dalam hatinya masih merasa bersalah kepada putrinya tersebut, tetapi dia harus kuat sebagai orang tua tunggal menemani Sasha yang sedang berjuang hidup bersama putra semata wayangnya.
Wanita paruh baya itu pamit untuk masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya terasa semakin lemah, terkadang ada rasa nyeri yang ia rasakan pada dadanya yang sebelah kiri.
Sasha hanya dapat melihat punggung wanita yang sangat berharga dalam hidupnya menghilang di balik pintu kamarnya yang tertutup. Sasha tahu jika mamanya sedang tidak baik baik saja melihat dirinya yang sedang ada masalah. Sasha pun mengingat semua masalah yang sedang ia hadapi saat ini, belum lagi masalah kehamilan yang baru saja ia ketahui.
"sayang...maafkan mama, kamu hadir di saat kami sedang ada masalah, tetapi mama bahagia jika kamu di dalam perut mama sehat dan tumbuh dengan sempurna tanpa kekurangan apa pun. Mari kita berjuang bersama, mama akan selalu melindungimu jika papa mu tidak menginginkan dirimu nak..." Gumamnya pelan sembari mengingat penolakan Kenan tadi siang. Kenan menolak keras jika bayi yang ia kandung bukanlah anaknya.
Sasha akan menerima bayinya, melahirkan, dan membesarkannya sebagai orang tua tunggal seperti dirinya yang membesarkan Ryota.
"Kenan Diandra...kau pikir siapa dirimu...? Kau pikir aku wanita murahan dan kotor yang dengan mudahnya akan tidur dengan banyak pria." Gumam Sasha mengingat kemarahannya kepada Kenan atas penolakan pria itu terhadap bayi yang ia kandung saat ini.
"Kau pikir aku tidak akan bisa hidup dan membesarkan anakku seorang diri. Kau akan menyesal atas penolakanmu ini. Aku berharap tidak akan bertemu dengan pria brengsek seperti dirimu." Katanya dengan kepalan kuat tangannya untuk meredam amarah yang Sasha rasakan.
Sasha begitu sakit hati akan penolakan Kenan terhadap bayinya, Sasha berharap tidak akan bertemu kembali dengan Kenan, dan tidak ingin berhubungan apa pun bersama pria yang di anggapnya pria brengsek tidak bertanggung jawab. Semua perkataan Kenan sejak kejadian malam naas itu terniang terus di kepalanya.
Sasha sadar jika kini dirinya tidak boleh terlalu stress agar tidak mempengaruhi bayi yang ada di dalam perutnya sekarang. Sasha mencoba mengatur nafasnya agar perasaan hatinya lebih baik lagi.
Malam semakin larut, beberapa barang sudah selesai untuk Sasha kemas dan ia pun mulai mengantuk. Sasha mulai melangkah masuk ke dalam kamarnya. Namun belum sempat ia menutup pintu kamarnya, terdengar suara barang jatuh dan pecah dari arah dalam kamar sang mama. Sasha mencoba untuk melihat ke sana.
Betapa terkejutnya Sasha saat masuk dan melihat sang mama sudah jatuh ke atas lantai dengan mata yang tertutup dan di sekitar tubuhnya pecahan gelas yang tadi ia dengar terjatuh.
"Mama....!!" Panggil Sasha berlari ke arah tubuh mamanya yang sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Sasha mengangkat tubuh atas mamanya sembari terus memanggil dan menepuk-nepuk pipi pucat wanita paruh baya itu. Sasha tahu jika itu hanya sia-sia saja, ia pun meletakkan tubuh sang mama secara perlahan. Sasha segera meraih ponsel yang ada di dalam kamarnya untuk menghubungi nomer darurat ambulan.
Begitu selesai menghubungi ambulan, Sasha perlahan kembali ke dalam kamar sang mama dan meraih tubuh mamanya. Air matanya tidak dapat ia tahan lagi, ia kalut dan takut akan terjadi hal yang tidak ia inginkan.
"Mama...aku mohon bertahanlah....mama maafkan aku yang tidak bisa menjadi anak yang membahagiakan mama." Tangisnya pecah sembari memeluk tubuh lemas sang mama.
"Aku mohon mama....bertahanlah....jangan tinggalkan aku....Ya Tuhan tolong mama hamba, jangan biarkan terjadi sesuatu padanya, hamba mohon...!!" Doanya dengan linangan air matanya.
"Mama...!!" Panggil Ryota, anak itu terbangun saat Sasha mengambil ponselnya dengan terburu-buru.
"Oma kenapa mama, kenapa mama menangis?" Tanya Ryota sembari duduk di samping mama dan omanya.
"Sayang, kenapa kamu bangun? Mama mengganggu tidurmu?" Tanya Sasha membelai pipi gembul sang putra.
"Iya mama." Angguknya jujur, ia terbangun karena mamanya yang tergesa-gesa tadi.
"Maafkan mama sayang...!" Kata Sasha merasa bersalah.
"Tidak apa apa mama...oma kenapa tidur di lantai?" Tanyanya lagi karena melihat omanya ada di lantai.
"Oma pingsan sayang, dan kita harus membawa oma ke rumah sakit."
Ryota mengerti apa yang di katakan oleh mamanya.
"Apa mama sudah menghubungi taksi?" Tanyanya polos.
"Mama sudah menghubungi ambulan, dan akan segera datang ke sini."
"Bisakah Ryo membantu mama sayang?" Tanya Sasha ingin Ryo membantunya mengmabil tas dan dompet yang ada di dalam kamarnya. Sasha tidak tega membaringkan tubuh mamanya ke atas lantai yang dingin. Untuk mengangkat tubuh sang mama pun ia tidak sanggup.
"Iya mama." Angguknya.
Ryota bangkit dan segera berlari menuju ke dalam kamar untuk mendapatkan apa yang ia cari.
Saat keluar dari kamar, ia melihat ada ponsel omanya di atas meja ruang tamu yang ia lalui. Dalam kepalanya kini terlintas ide yang mungkin saja dapat membantu mereka saat ini. Ryota meraih ponsel tersebut dan segera menghubungi seseorang, setelah itu akan kembali lagi ke dalam kamar omanya.
Hari itu adalah hari yang berat bagi Sasha. Begitu banyak cobaan yang datang dalam satu hari.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.