
***Rumah Sakit***
Kenan, Sasha, dan Ryota sarapan bersama di dalam ruang perawatan mama Sasha.
Mereka hanya diam dengan sikap yang tenang dengan pikiran mereka masing-masing. Hanya sesekali Ryota yang berceloteh bertanya beberapa pertanyaan kepada Kenan dan Sasha, dan di jawab dengan baik oleh dua orang dewasa yang menemaninya saat ini.
Sarapan pun selesai, bersamaan dengan suara dering ponsel Sasha yang memiliki sebuah panggilan. Panggilan dari Asisten pribadi Alan Kendrick, Kris.
"Hallo tuan Kris…!" Sapa Sasha sopan. Wanita itu berdiri tidak jauh dari Kenan dan Ryota berada.
"Anda di mana? Kenapa belum ada di kantor?" Tanya Kris dari seberang telepon. Pasalnya di kantor, Alan begitu marah karena tidak mendapati Sasha di sana dan lelah menunggu kedatangan wanita itu.
"Maaf tuan, saya lupa memberikan kabar. Maafkan saya tuan Kris, hari ini saya tidak bisa masuk kerja. Mama saya semalam terkena serangan jantung dan harus di larikan ke rumah sakit, jadi saya masih berada di rumah sakit untuk menjaganya hari ini." Jelas Sasha jujur dengan apa yang terjadi padanya.
"Tolong sampaikan ijin saya ini kepada tuan Alan." Ungkap permohonan Sasha. Bagaimana juga dia masih menjadi karyawan di perusahaan Alan Kendrick, dan masih terikat kontrak kerja yang tidak dapat Sasha lawan begitu saja.
"Di rumah sakit mana, nona?" Tanya Kris.
"Di rumah sakit dekat rumah, tuan." Jelas Sasha sengaja tidak menyebutkan nama rumah sakitnya.
"Baiklah, akan saya sampaikan ijin anda kepada tuan Alan." Balas Kris.
"Terima kasih atas bantuan anda tuan Kris." Balas tulus Sasha atas bantuan Kris kepadanya.
Sambungan telepon mereka pun terputus. Sasha melangkah perlahan ke arah meja makan, dan duduk kembali pada tempatnya. Di sana masih ada Kenan dan Ryota yang sibuk bermain sesuatu pada layar ponsel di tangan mereka masing-masing.
"Apa kamu tidak bisa berhenti bekerja dari perusahaan Alan?" Tanya tiba-tiba Kenan sembari melihat serius ke arah Sasha yang duduk tidak jauh di sampingnya.
Sasha melihat Kenan dengan serius, dia tahu arah pertanyaan Kenan.
"Tidak bisa tuan. Saya terikat kontrak kerja yang tidak dapat saya langgar." Balas Sasha bersikap tenang. Dia sadar masih ada Ryota di sana. Tidak baik berdebat di hadapan anak kecil.
"Berapa yang harus kamu bayar untuk memutuskan kontrak kerja itu?" Tanya Kenan yang tahu bagaimana aturan sebuah kontrak kerja.
Kembali Sasha melihat ke arah Kenan. Bukan masalah bayaran yang menjadi masalah dalam kontrak kerja itu, tetapi ada pasal hukum yang memiliki hukuman penjara selama satu tahun yang tidak dapat ia abaikan, jika nekat untuk memutuskan kontrak kerja itu secara sepihak.
"Ada pasal hukum yang tidak bisa saya abaikan. Jika memutuskan kontrak kerja secara sepihak, ada hukuman penjara selama satu tahun yang harus saya terima." Balas Sasha masih tetap tenang.
Diam diam Ryota yang termasuk anak jenius, mengerti arah perbincangan mereka.
"Pria itu begitu licik." Gumam Kenan terdengar kesal akan aturan kontrak kerja yang Alan buat.
"Berapa lama lagi kontrak kerja itu selesai?" Tanya Kenan benar benar ingin tahu.
Kembali Sasha melihat ke arah Kenan. Ia menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Kenan.
"Sembilan bulan lagi tuan." Balasnya tanpa melihat ke arah Kenan.
Sasha sibuk membersihkan meja makan. Semua pergerakan Sasha menjadi perhatian oleh Kenan.
Kenan mengerti posisi sulit yang Sasha hadapi.
"Apakah Alan selalu menyulitkanmu?" Tanya Kenan mengingat bagaimana Sasha yang masih datang bekerja dengan kondisi yang sedang sakit.
Sasha kembali melihat sejenak ke arah Kenan. Dia cukup risih ketika harus menjawab semua pertanyaan Kenan. Hatinya masih belum dapat bersikap baik terhadap Kenan.
"Tidak." Balas Sasha singkat.
Sasha segera memalingkan wajahnya ke arah ponselnya yang kembali berdering. Panggilan itu berasal dari Lisa, wanita hamil itu segera meraih ponselnya dan menerima penggilan tersebut.
"Halo Lisa…!" Sapa Sasha.
"Halo Sha…kamu di mana sekarang?" Tanya Lisa dari seberang telepon.
__ADS_1
"Aku ada di rumah sakit, semalam mama mendapatkan serangan jantung." Balasnya.
"Rumah sakit mana?"
"Rumah sakit yang berada di dekat rumah."
"Baiklah…! Sha…!" Ucapnya terdengar ragu. Sasha tahu itu.
"Ada apa Lisa?"
"Kamu membawa semua barangmu pindah ke mana?"
"Pindah?" Herannya. Pasalnya dia belum memiliki rencana seperti itu.
"Iya. Di sini semua barang barang mu sudah selesai di pindahkan oleh beberapa orang."
"Apa…!" Terkejut Sasha yang tidak tahu tentang hal itu, dan dia juga tidak pernah memerintahkan seseorang untuk memindahkan semua barang barangnya.
"Siapa yang melakukan itu? Aku tidak pernah menyewa seseorang untuk pindahan." Ucapnya. Namun tatapan mata Sasha bertemu dengan tatapan mata Kenan.
Sasha segera terdiam dengan pikirannya saat ini.
"Sha…tapi mereka mengatakan jika semuanya atas perintah dari mu…"
Sasha terdiam tidak menjawab, pandangan matanya masih tertuju pada Kenan yang juga melihat ke arahnya tanpa berpaling sedikitpun.
Ada yang Sasha curigai saat ini tentang kepindahan barang barangnya.
'Apakah ini ulahnya lagi? Sama seperti dia yang memberikan semua fasilitas kepada mama tadi pagi.' Gumam Sasha di dalam benaknya curiga jika itu semua ulah Kenan lagi.
"Sha…Kamu masih di sana…Sha…kenapa diam saja…?" Tanya Lisa karena Sasha hanya diam saja saat di ajak bicara.
"Iya aku masih di sini. Terima kasih Lisa, kamu sudah memberitahukan itu padaku. Sepertinya aku sudah mengerti situasinya. Baiklah aku tutup dulu sambungan ini." Ungkap Sasha tanpa melepaskan pandangan matanya dari arah Kenan.
"Baiklah!" Balas Lisa. Sambungan mereka pun terputus.
Sasha meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Tatapan matanya curiga melihat ke arah Kenan.
"Apakah ini ulah anda lagi, tuan?" Tanya Sasha langsung pada intinya.
Kenan yang mengerti maksud Sasha terdiam sejenak. Dia cukup tahu arah pembicaraan antara Lisa dan Sasha.
"Iya." Balasnya jujur secara singkat.
Sasha tidak percaya akan hal itu. Bagaimana bisa Kenan melakukannya dengan cepat? Bagaimana bisa Kenan tahu jika dia berniat untuk pindah rumah.
Sasha kembali teringat akan kedatangan Kenan ke rumah sakit semalam, setelah pemberitahuan dari Ryota. Apakah ini ulah anaknya lagi yang mengadu masalah mereka kepada Kenan.
Wanita itu melihat ke arah Ryota yang juga melihat ke arahnya sekilas. Sejujurnya Ryota juga tahu maksud dari tatapan mata Sasha kepadanya. Namun Ryota berpura-pura untuk fokus pada permainan di ponselnya.
"Tapi tenang saja, semua barangmu di pindahkan ke tempat yang aman. Kapanpun kamu bisa mengambilnya." Balas Kenan dengan cepat.
Sasha kembali melihat ke arah Kenan, lalu beralih melihat ke arah Ryota secara bergantian.
"Apa itu ulah anak ini juga yang mengadu kepada anda?" Tanya Sasha ingin tahu.
"Dia tidak mengadu, dia hanya memberikan sebuah informasi penting padaku." Bela Kenan tidak ingin Sasha menyalahkan Ryota.
Sasha tersenyum heran dan tidak percaya akan apa yang terjadi sekarang. Bagaimana bisa anaknya mudah sekali mengadu sesuatu kepada orang yang baru saja ia kenal.
Ryota tidak seperti biasanya yang tidak akan mudah untuk bekerja sama dengan orang asing seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya?
"Kalian berdua…!" Tunjuk Sasha terlihat kesal pada Ryota dan Kenan. Namun kembali ia berpikir, tidak ada gunanya ia marah sekarang. Semua telah terjadi.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kalian bekerja sama seperti ini?" Gerutu Sasha masih dapat terdengar oleh Kenan dan Ryota.
Kedua laki-laki berbeda usia itu melihat ke arah Sasha yang sedang kesal sembari memasukkan sampah makan mereka ke dalam plastik bekas.
Ryota dan Kenan saling memandang sejenak dengan raut wajahnya yang tenang. Tanpa Sasha sadari jika di bawah meja, kedua tangan Ryota dan Kenan saling bertepuk senang karena rencana mereka berhasil.
"Mulai sekarang, kau dan Ryota akan tinggal di apartemen yang sudah aku persiapkan untuk kalian." Ungkap Kenan yang sukses membuat pergerakan tangan Sasha terhenti.
"Apa maksud tuan?" Tanya Sasha dengan kerutan keningnya tidak mengerti maksud perkataan Kenan.
"Mulai sekarang kau dan Ryota adalah tanggung jawab ku. Jadi kau dan Ryota akan tinggal di dalam apartemen yang sudah aku persiapkan." Jelasnya dengan tenang.
Sasha kembali terkejut tidak percaya akan ide konyol Kenan menurutnya.
"Tidak bisa. Aku tidak mau…" Tolak Sasha tegas.
"Tidak ada bantahan." Balas Kenan juga tidak ingin ada bantahan dan penolakan dari Sasha.
"Anda tidak berhak untuk mengatur hidup saya, tuan."
"Aku berhak, karena mulai saat ini kalian adalah tanggung jawab ku."
"Mana bisa seperti itu. Siapa anda harus bertanggung jawab kepada kami?" Sengit Sasha tidak ingin kalah dari Kenan.
"Apa kau lupa apa yang telah mengikat kita?" Tanya Kenan dengan tatapan matanya yang terlihat serius.
"Apa perlu aku katakan di depan Ryota?" Tantang Kenan.
Sasha tahu maksud perkataan Kenan. Wanita itu tentu saja tidak ingin putranya terkejut akan sebuah kenyataan yang belum tentu dapat di terima oleh Ryota.
"Tidak. Jangan katakan apapun…" Larang Sasha dengan cepat.
Dia harus mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini dari hati ke hati kepada Ryota. Agar putranya dapat menerima sebuah kenyataan baru, jika sebentar lagi dia akan menjadi seorang kakak dan memiliki seorang adik baru.
"Lalu…Bagaimana…?" Tanya Kenan dengan satu alis yang terangkat sembari menghentak-hentakkan jarinya ke atas meja. Dia menunggu keputusan dari Sasha.
Ryota melihat ke arah Kenan dan Sasha secara bergantian. Keputusan itu cukup sulit untuk Sasha terima, tapi kembali ia berpikir. Kalau dia dan Ryota belum memiliki tempat untuk tinggal sementara waktu ini.
'Apa tidak masalah aku tinggal di apartemennya?' Gumam Sasha bimbang dalam hatinya.
Ryota tahu jika sang mama sedang bingung dalam mengambil keputusan. Dia ingin mencoba membantu sebisanya. Menurutnya ini adalah kesempatan untuk membuat Kenan dan sang mama menjadi lebih dekat dan saling mengenal lagi.
"Mama, apa kita tidak bisa tinggal di tempat paman untuk sementara waktu?" Ucap Ryota memberikan pendapatnya.
Kenan melihat ke arah Ryota. Pria itu senang di dalam hatinya, Ryota bisa di ajak bekerja sama dalam hal ini.
Sasha masih diam dan berpikir untuk mengambil keputusan yang tepat baginya. Tatapan matanya melihat ke arah Kenan dan Ryota secara bergantian.
"Lagi pula ini untuk sementara waktu, mama. Nanti kalau mama sudah mendapatkan tempat tinggal baru, kita akan pindah dari sana." Bujuk Ryota masih berusaha meyakinkan sang mama.
Menurut Ryota itu adalah kesempatan bagus untuk mereka saling mengenal dan lebih dekat lagi. Tinggal di apartemen Kenan, tidak akan menutup kemungkinan jika Kenan pasti akan sering datang untuk mengunjungi mereka.
Inilah bujuk rayu Ryota untuk mendekatkan sang mama dan Kenan. Apakah Ryota akan berhasil?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1