
***Perusahaan King Group***
Sasha mendorong Alan dengan kekuatan yang tersisa pada tubuhnya yang saat ini sedikit melemah. Ia menahan gejolak yang mengaduk dalam perutnya, ia ingin memuntahkan semua isi di dalam perutnya.
Sasha berlari ke dalam toilet yang ada di dalam ruangan tersebut, ia tidak peduli lagi jika kamar mandi itu adalah khusus untuk presdir perusahaan King Group, yaitu Alan Kendrick.
Begitu ada di dalam kamar mandi, ia segera memuntahkan semua isi perutnya. Sasha sudah tidak tahan menahan rasa mual di dalam perutnya. Sedangkan Alan terdiam berdiri di tempatnya, dia tidak tahu jika Sasha sedang tidak enak badan. Diapun melangkah mendekati pintu kamar mandi dan mendengarkan dengan jelas suara Sasha yang sedang memuntahkan semua isi di dalam perutnya.
'Tok Tok Tok.' Suara pintu di ketuk oleh Alan karena merasa khawatir, namun ia tidak mau masuk ke dalam secara tiba-tiba. Takut di sangka tidak sopan pada seorang wanita.
"Sasha, apa kau baik-baik saja?" Tanya Alan terdengar khawatir.
Tidak ada jawaban dari Sasha, hanya suara mulutnya yang sedang muntah berkali-kali.
"Sasha apa kau baik-baik saja, apa boleh aku masuk untuk melihat mu sebentar?" Tanya Alan terus merasa khawatir.
"Tidak. Tidak, jangan masuk. Aku baik-baik saja." Balas Sasha secara cepat dengan suara yang terdengar lemah.
Sasha tidak ingin Alan melihat dirinya yang sedang tidak baik seperti sekarang ini. Sasha berusaha meredam semua gejolak di dalam perutnya, sembari membelai lembut perutnya yang masih rata.
"Nak tolong, jangan seperti ini. Tolonglah mama, jadi anak yang baik." Gumam Sasha perlahan setara dengan sebuah bisikan. Sasha membelai lembut perutnya yang masih rata.
"Mama mohon, anak baiknya mama. Tolong buat semuanya menjadi baik dan nyaman di dalam perut mama, ya sayang." Gumam pelan Sasha.
Beberapa kali belaian lembut yang Sasha lakukan sembari berbincang pada calon bayinya, ternyata si cabang bayi mendengarkan apa yang Sasha katakan? Terbukti dari meredanya gejolak yang ada di dalam perutnya.
"Terima kasih sayang." Gumaman pelan. Sasha mengungkapkan rasa syukur dan sayangnya kepada calon buah hatinya.
Calon buah hati yang di tolak kehadirannya oleh papa kandung sang bayi, Kenan Diandra. Seorang pria angkuh, sombong, kejam dan dingin kepada Sasha dan juga orang lain yang tidak ia sukai.
Begitu perutnya merasa lebih baik, Sasha segera membasuh wajahnya dengan air dingin agar terlihat segar dan bersih kembali. Walaupun masih terlihat sedikit pucat, namun masih terlihat manis dan cantik.
Sasha keluar dari kamar mandi tersebut, dan saat membuka pintu kamar mandi dia bertemu dengan Alan yang masih berdiri di depan pintu. Tatapan mata mereka berdua bertemu sejenak, walaupun hanya sebentar namun mampu membuat keduanya salah tingkah karena merasa gugup.
'Wajahnya pucat sekali, apa dia sakit?' Gumam Alan di dalam hatinya melihat intens wajah Sasha yang telah berpaling ke arah lainnya.
"Apa kau sakit?" Tanya Alan pada akhirnya, karena di rundung oleh rasa penasaran yang tinggi.
__ADS_1
"Tidak. Hanya telat makan saja." Balas Sasha dengan gelengan kepalanya.
"Kau belum makan siang." Ucapnya dengan nada yang sedikit tinggi, karena ia tahu Sasha memiliki riwayat asam lambung akut jika telat makan atau salah makan.
"Belum untuk siang ini, tadi tidak sempat." Balasnya sembari melangkah ke arah meja kerjanya.
Sasha tahu jika pembicaraan mereka tadi belumlah selesai, namun kepalanya cukup pening untuk membahas pembicaraan mereka mengenai kelahiran Ryota yang Sasha sembunyikan dari Alan Kendrick.
Dia merasa cukup sampai di sana pembahasan yang mereka bicarakan. Cukup Sasha yang mengandung, melahirkan, dan mengasuh Ryota selama ini. Alan hanya sebatas papa kandung Ryota saja.
Namun tidak dengan Alan, yang berpikir jika Ryota adalah putra kandung yang menjadi tanggung jawabnya sekarang. Sedangkan untuk Sasha, Alan berpikir lain tentang hubungan mereka selanjutnya.
"Bagaimana bisa kau tidak makan siang?" Tanya Alan sedikit marah karena keteledoran Sasha.
Bukan keteledoran, namun ada sesuatu yang terjadi tadi siang sehingga makan siang Sasha tertunda sampai saat ini. Sasha cukup pusing untuk berdebat dengan Alan, dia pun mencoba untuk mengalah kali ini.
Sasha duduk pada kursi kerjanya, lalu menatap ke arah Alan.
"Bisakah kita lupakan ini sejenak, dan anda silahkan kembali lagi ke meja anda. Saya akan makan siang nanti, setidaknya saya masih memiliki ini." Ucap Sasha sembari menunjukkan sebungkus roti isi coklat yang ia keluarkan dari dalam tasnya, Sasha hanya ingin Alan berlalu dari hadapannya dan memberikan ruang tenang baginya.
"Bagaimana bisa itu cukup sebagai makan siangmu?" Protes Alan merasa Sasha hanya menyiksa dirinya sendiri dengan mekan siang hanya menggunakan sebungkus roti saja.
Selama Sasha bekerja menjadi sekretaris sekaligus asisten pribadi Alan, tidak banyak waktu baginya untuk makan siang. Terkadang ia seperti di kejar-kejar oleh waktu, sampai tidak sempat untuk makan dengan benar. Sebungkus roti dan biskuit adalah senjata andalannya di saat dirinya sibuk, sebagai pengganjal perut yang lapar sampai mendapatkan waktu untuk makan dengan benar.
Alan tidak tahu itu, Alan selalu berpikir jika Sasha akan pandai mengatur waktunya di saat sibuk. Pada saat dirinya meminta makan siang yang harus di siapkan oleh Sasha, dia berpikir jika Sasha juga menyiapkan makanan yang sama seperti dirinya untuk di makan.
Namun pada kenyataannya Sasha hanya menyiapkan makanan untuk Alan saja, dan Alan tidak tahu itu. Hanya asisten Kris yang mengetahui bagaimana sibuknya Sasha hingga tidak mempunyai waktu makan dengan benar. Kris selalu melihat Sasha hanya memakan sebungkus roti atau biskuit yang dia bawa di dalam tasnya untuk di makan kapan saja Sasha merasa lapar.
Alan mengerutkan keningnya melihat ke arah Sasha, Alan seperti tidak ingin mempercayai ucapan Sasha.
"Apa kau coba menyebut aku adalah bos yang kejam padamu? Sehingga tidak memberikan kau jam makan siang dengan benar." Tanya Alan tidak terima akan tuduhan Sasha.
Sasha menatap intens wajah Alan, untuk apa dia mencoba membuat-buat perkataan yang memang sebenarnya terjadi? Tatapan Sasha yang terlihat jujur kembali menampar keras hati Alan, dia tidak percaya jika dia sudah bersikap kejam kepada Sasha.
"Coba anda pikirkan, kapan saya bisa mempunyai waktu makan siang dengan benar. Jika saya tidak pernah meninggalkan ruangan ini. Menyiapkan makan siang anda setiap hari, apa anda pikir saya akan mempunyai waktu untuk makan siang juga. Mengerjakan tugas luar dari pagi hingga siang melewati jam makan siang, apa bisa saya makan siang dengan benar?" Ungkap Sasha dengan nada terdengar biasa namun perkataannya yang sangat tajam.
"Jika anda tidak percaya juga tidak masalah, lagi pula tidak penting bagi anda mengetahui kapan saya harus makan siang." Ungkap Sasha kembali menampar hati Alan.
__ADS_1
Perkataan Sasha seakan meremas hatinya yang terasa perih. Kembali ia mengingat jika dia tidak pernah melihat Sasha keluar ruangan jika tidak ada tugas di luar kantor bersama Kris atas perintahnya. Alan juga tidak pernah melihat Sasha keluar ruangan pada saat makan siang, kecuali menyiapkan makan siang untuknya.
"Tapi aku selalu memerintahkan mu untuk menyiapkan makan siang untuk ku sekaligus untuk mu juga." Balas Alan tidak ingin di salahkan.
"Apa anda pernah mengatakan, jika makan siang anda juga makan siang untuk saya, tuan Alan?" Tanya balik Sasha ingin Alan sadar sekaligus mengingatkan jika dia sudah menyiksa dirinya selama bekerja bersama Alan.
Alan terdiam, dia mengingat jelas jika perintah untuk makan siangnya. Tidak ada perintah sama sekali untuk makan siang juga bagi Sasha, dia selalu makan siang sendiri di dalam ruangannya. Selesai Sasha menyiapkan makan siang untuknya Sasha selalu kembali duduk ke meja kerjanya yang ada di dalam ruangan tersebut hingga Alan selesai makan.
Alan hanya berpikir jika Sasha tidak ingin makan siang bersama dengannya, sehingga menyiapkan makan siang untuk dirinya saja. Sedangkan Sasha mungkin sudah makan siang terlebih dahulu sebelum dirinya, sehingga Sasha tidak keluar ruangan lagi setelah selesai menyiapkan makanan untuknya. Itulah pikiran Alan selama ini.
"Aku pikir kau sudah makan terlebih dahulu, aku pikir kau tidak mau makan siang bersama dengan ku, sehingga menyiapkan makanan untuk ku saja dan tidak untuk mu juga." Ucap Alan ingin membela dirinya.
Sasha melihat Alan intens. Tidak akan ada habisnya membahas ini, dia tahu Alan tidak ingin di salahkan, jadi percuma untuk berdebat panjang lebar. Dia hanya menghela nafasnya perlahan.
"Sudahlah tuan. Lupakan itu. Intinya saya baik baik saja selama ini." Ungkap Sasha malas berdebat lagi.
"Mana bisa seperti itu, kau telah menuduhku sebagai bos yang kejam pada bawahannya." Ucap Alan masih tidak terima tuduhan Sasha.
Sasha tahu ini tidak akan berakhir. Jadi lebih baik dia mengalah, dan kembali bekerja karena masih banyak pekerjaan yang belum selesai.
"Baiklah tuan, saya minta maaf jika anda tersinggung dan marah akan semua perkataan saya. Saya minta maaf tuan." Ucap Sasha mengalah dengan menekan setiap kata-katanya.
Alan masih tidak puas, ada sesuatu yang tidak nyaman di dalam hatinya. Namun ia tidak tahu apa itu? Yang ia tahu, ia hanya ingin Sasha mendapatkan kenyamanan, yang terbaik dan di perlakukan baik. Memang Alan tidak sadar diri, beranggapan jika dirinya adalah bos yang selalu baik pada bawahannya.
"Maaf tuan, saya tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Sasha kembali karena Alan hanya diam dengan tatapan sedikit tajam ke arahnya.
'Sial, apa ini? Mengapa hatiku tidak nyaman seperti ini? Hatiku merasa sakit melihatnya seperti ini, ada apa ini?' Gumam Alan di dalam hatinya.
Tanpa membalas Sasha sama sekali, Alan pun berlalu dari hadapan Sasha dan keluar ruangan. Sasha yang bingung melihat tingkah laku Alan, hanya diam sembari menggerakkan kedua bahunya ke atas dan segera duduk sembari memakan rotinya untuk mengganjal perut yang terasa lapar, tidak ada waktu untuk dirinya makan karena sudah lewat jam makan siangnya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.